
Si muka kuda tiba-tiba batuk kecil dan berdehem, kemudian dia meludahkan dahak hijau kental kekuningan menempel di permukaan sepatunya dan berkata,
"Nah itu jilat sampai bersih, bila tidak kamu akan tahu akibat nya...!"
Sepasang mata Lu San mengeluarkan sinar berkobar-kobar, bila matanya bisa mengeluarkan api, pasti ke 4 orang itu akan di bakarnya hidup hidup.
Lu San memejamkan matanya sejenak menenangkan dirinya, lalu dia membuka kembali sepasang matanya yang kini berubah menjadi sangat tenang.
Lu San meneruskan kepalanya menunduk lebih dalam sambil menahan nafas dan memicingkan matanya, dia menjilati dan menyeruput dahak itu sampai bersih lalu menelannya dengan wajah aneh dan mata merah.
Setelah itu, Lu San harus berkali-kali menahan diri yang ingin muntah.
Si muka kuda mengacungkan jempol nya didepan wajah Lu San sambil tertawa dia berkata,
"Aku salut padamu, ternyata keluarga Lu yang terkenal bisa menelurkan sampah tak berguna seperti mu.."
Hebat...hebat...luar biasa konyol kamu...!"
ucap nya sambil menepuk-nepuk pipi Lu San.
Lu San hanya memejamkan matanya, berusaha menahan diri, atas semua hinaan yang harus dia terima.
tiba-tiba seekor kucing melintas dengan santai di hadapan Lu San, sambil mengeong ngeong , dia lalu mencium cium lantai di hadapan Lu San.
Setelah berputar putar dan mencakar cakar lantai lalu dia tiba-tiba menonggeng kan pantatnya setengah berjongkok.
Lalu dia dengan sopan nya tanpa dosa dia buang hajat di sana sesuka hati.
Setelah itu dengan tanpa dosa dia mengais-ngais lantai beberapa kali lalu berlalu dari sana.
Sejak awal kucing itu datang mengeong ngeong di hadapannya, Lu San sudah berkali-kali mengusir'nya dengan mulut
"Hush...hush...hush...hush...!"
Karena dia paling tidak suka dengan mahluk satu ini, bila dalam keadaan normal pasti sudah di tendang atau di hajarnya kucing itu agar menjauh darinya.
Tapi kini dalam kondisi seperti ini, dia tidak bisa berbuat apa-apa, selain mengusir'nya dengan cara berhust just ria.
Saat melihat tingkah kucing itu, Lu San pun menyadari kesialan nya hari ini belum habis.
Kelihatannya kucing ini memang di kirim untuk melengkapi karmanya.
Benar saja sesuai dugaan nya kucing sialan itu malah buang hajat di sana, kali ini dia pasti mampus, di kerjain orang berwajah hitam yang merupakan orang ke 3 dari keempat orang itu.
Sambil tertawa terbahak bahak keempat orang itu menunjuk kearah kotoran kucing itu dan si muka hitam sambil tertawa berkata,
__ADS_1
"Kamu lihat kamu ini begitu populer, hingga kucing pun ingin berpartisipasi merayakan kekonyolan mu.."
"Ayo kamu habiskan kotoran kucing ini, maka kamu boleh ku loloskan..ha...ha...ha...!"
ucap nya sambil ngakak memegangi perutnya sendiri.
Orang keempat yang berwajah bulat dan selalu tersenyum mirip Buddha Maitreya, menggelengkan kepalanya menatap Lu San dengan kasihan dan berkata,
"Kakak ke 3 kamu jangan kelewatan, sudahlah lupakan saja,..ok..?"
"Kamu ini apa apaan,... dasar bego..kamu pikir kamu Buddha karena wajah mu mirip..!"
"Ingat berbaik hati pada musuh, sama saja bertindak kejam pada diri sendiri..dasar bego..!"
ucap Si muka hitam sambil melotot kan matanya yang besar dan menjitak kepala si muka bulat.
"Aduh...!"
jerit si muka bulat tanpa berani melawan, dia hanya bisa meringis menahan sakit.
Sesaat kemudian dia kembali menatap Lu San dan berkata,
"Kalau kamu berhasil menyelesaikan permintaan kakak ke 3 ku, anggap saja, kamu sudah lolos dari ku.."
Lalu sambil memutar badannya menghadap ke tempat lain si muka bulat memilih tidak menatap kearah Lu San.
Tapi sesaat kemudian dia tersentak kaget, saat si muka hitam menendang wajahnya, hingga dia jatuh dan wajahnya hampir menempel di dekat kotoran kucing yang ada di hadapannya tadi.
Lu San tidak dapat menahan diri lagi untuk muntah muntah saat mencium bau kotoran kucing tersebut yang begitu dekat dengan hidungnya.
Tapi berhubung dia berangkat pagi-pagi sekali dan belum sempat makan apapun, sehingga dia hanya muntah angin saja.
Tadi dia sewaktu di ajak oleh Alicia, dia sengaja berbohong untuk menolak ajakan Alicia.
Karena di hatinya kini hanya ada Deborah.
Di tempat lain, saat Deborah membuka tasnya, dia baru sadar ternyata, bekal sarapan pagi yang sudah dia siapkan buat Lu San jadi lupa dia berikan.
Karena terlalu gembira melihat Lu San sudah pulih dan bersedia kembali masuk sekolah bersama dirinya.
Selain itu Lu San juga bersikap sangat perhatian dan mengantar dirinya sampai ke kelas,
Saking gembiranya dia sampai lupa memberikan bekal itu pada Lu San.
Kini begitu dia melihat kotak bekal didalam tasnya, dia baru ingat.
__ADS_1
Dengan terburu-buru dia langsung membawa kotak bekal itu, lalu berlari meninggalkan kelasnya, menuju ke gedung anak SMA, dimana kelas Lu San berada.
Di tengah jalan Debby berpapasan dengan Alicia yang baru hendak masuk kelas mereka.
Dengan heran dia bertanya,
"Kamu kenapa Debby kok terlihat buru-buru,? dan apa itu di tangan mu..?"
Deborah tersenyum malu, tapi dia tetap jawab dengan jujur ke Alicia.
"Ini sarapan yang ku siapkan buat kakak San, tapi tadi pagi aku lupa berikan pada nya.."
"Kamu temani aku yuk,.. kekelas kakak San.."
ucap Deborah sambil menggandeng tangan Alicia.
Alicia tersenyum masam, kini dia bisa menebak dalam hati kenapa Lu San tadi pagi menolak dirinya.
Padahal selama ini, Lu San sangat penasaran dan selalu mengejar ngejar dirinya.
Dengan langkah agak malas, Alicia berkata,
"Ya...ya...aku temani..tapi sabar dikit kenapa..? aku jangan diseret seret gini tar jatuh kita.."
Deborah hanya menanggapinya dengan tersenyum, tapi dia tidak menghentikan langkahnya.
Sehingga Alicia sambil ngomel terpaksa mempercepat langkahnya mengikuti langkah sahabat baiknya yang kelihatannya sangat terburu-buru.
Saat mereka menuruni tangga, mereka sempat berpapasan jalan dengan Michiko dan Afei yang sedang bergandengan tangan mesra menuju kelas.
Afei sedikit canggung saat bertemu dengan Alicia dan Deborah.
Alicia pura-pura tidak melihat nya, sedangkan Deborah yang masih kesal dengan Michiko memilih membuang muka.
Tidak mau melihat kearah Afei dan Michiko, setelah melewati mereka Deborah baru berkata,
"Dasar tidak tahu balas Budi,..."
"Maksud mu..?"
tanya Alicia heran.
"Ku katakan pada mu, Afei itu adik angkatnya Lu San, ayah Lu San lah yang mengambilnya dari pasar menjadikan nya anak."
"Lalu mewariskan semua kemampuan yang saat ini Afei kuasai, termasuk semua kemewahan yang Afei gunakan.."
__ADS_1
"Tapi sekarang apa balasan nya, dia malah berpacaran dengan sundal yang mencelakai kakaknya.."
ucap Deborah tidak puas.