
Mereka tidak begitu mudah menyesuaikan diri.
"Koki Wei kemarilah lihat ini,.. apa..?"
"Lain kali bila ikannya masih ada ini nya, lebih baik kamu tidak usah sajikan saja.."
ucap Lu Dan kesal sambil menunjukkan beberapa duri ikan di atas piringnya.
Koki Wei berdiri diam dengan wajah merah padam, bagaimanapun dia adalah mantan kepala koki restoran besar.
Koki Wei menahan diri, dengan wajah merah dia berkata,
"Baik tuan muda, aku akan lebih berhati-hati kedepan nya.."
Lu Dan lalu membungkusnya dengan tissue, dia juga mengambil bagian Lu Fei adiknya, lalu membungkusnya jadi satu.
Lu Sun menatap Lu Dan dengan heran, dan berkata,
"Dan er kamu mau apain kian itu, sampai di bungkus dengan tissue segala ?"
"Buat Siau Yu syah, sayang di buang.."
ucap Lu Dan santai.
Lu Sun mengangguk dan berkata,
"Boleh saja, tapi minta Siau Yu, makannya di luar kolam, agar tidak mengotori, air kolam yang murni air nya."
"Siap ayah.!"
ucap Lu Dan cepat.
"Koki Wei maaf ya, anak anak terlalu di manja oleh masakan mendiang ibunya, yang selalu membersihkan tulang duri cangkang atau apapun.
Sehingga mereka sudah terbiasa tinggal makan tanpa perlu mengupasnya sendiri."
"Tolong jangan di ambil hati.."
ucap Lu Sun sopan.
Koki Wei tersenyum malu dan berkata,
"Aku yang kurang teliti, tuan tak perlu minta maaf, lain kali aku akan lebih teliti lagi.."
Lu Sun mengangguk dan berkata,
"Terimakasih atas pengertian mu koki Wei.."
"Semoga betah bekerja di sini.."
Selesai berbicara dengan koki Wei, Lu Sun menoleh kearah Afei, dan berkata.
__ADS_1
"Afei beberapa hari kedepan ayah dan ibu akan pergi ketempat jauh, kamu tolong bantu jaga adik adik mu dengan baik ya.."
"Baik guru, guru pergilah dengan tenang dan berhati hatilah di jalan.."
jawab Afei cepat.
Lu Sun kemudian menoleh kearah Lu San dan berkata,
"Nak rajinlah berlatih, jadilah orang berguna dan bertanggung jawab, jangan bikin onar.."
"Bila setelah ayah kembali mendengar kamu berbuat onar, kamu jangan menyesal dengan hukuman yang lebih berat dari kemaren."
"Baik ayah, San er mengerti.."
ucap Lu San singkat.
Lu Sun mengangguk puas, lalu menoleh kearah kedua istrinya dan berkata,
"Kalian sudah siap,? ayo kita berangkat..."
Ying Ying dan Giok Lan mengangguk, lalu mereka berdua membelai kepala Lu Dan dan Lu Fei kemudian berkata,
"Kalian berdua jangan nakal ya, selama ibu dan ayah pergi harus nurut sama kedua kakak mu, kalian mengerti."
Kedua anak kecil itu mengangguk cepat tanpa berkata apa-apa.
Lu Sun Ying Ying dan Giok Lan meninggalkan ruang makan, menuju halaman samping rumah yang sepi.
Dia pun bergerak terbang keatas...
"Nan Thian Men,..!
ucap Lu Sun memberikan tujuan yang dia inginkan.
Jin Tou Yun seperti mengerti, dia melesat dengan sangat cepat kearah selatan, dia menembus lapisan langit satu persatu.
Hingga Akhirnya tiba di surga tingkat ke dua,di depan gerbang Nan Thian Men, gerbang yang akan mengantar mereka bertiga menuju Ling Xiao Bao Tian. ( Istana kaisar langit bertahta.
Di Nan Tian Men mereka di hadang oleh Se Ta Thian Wang ( 4 raja langit ) tapi saat melihat Lu Sun terutama Giok Lan.
Mereka merasa heran, rasanya seperti pernah kenal tapi lupa, apalagi pakaian yang mereka kenakan terasa sangat asing di mata mereka berempat.
Kalian bertiga ini siapa mau kemana, ?"
tanya salah satu raja langit yang membawa harpa di tangannya ( sejenis alat petik mirip gitar yang di mainkan secara berdiri.).
Lu Sun segera menyadari pakaian yang di kenakan nya, dengan mutar badannya satu kali putaran, pakaian yang di kenakan nya berubah menjadi seragam Jendral Naga Hitam lengkap dengan jubahnya.
Begitu pula Giok Lan dan Ying Ying mereka juga melakukan hal yang sama seperti Lu Sun.
Giok Lan kembali ke pakaian nya sebagai putri kaisar langit lengkap dengan selendangnya.
__ADS_1
Sedangkan Ying Ying mengenakan pakaian hijau ringkas milik Siau Ching yang menonjolkan lekuk tubuhnya yang indah.
Keempat raja langit tidak ingat dengan Ying Ying, yang mengenakan pakaian Siau Ching, tapi saat melihat pedang ular hijau di tangannya mereka mulai ingat.
Tapi terhadap Lu Sun dan Giok Lan mereka jelas ingat, Lu Sun pernah mengalahkan mereka bahkan kaisar langit pun sangat hormat dengan nya.
Dan yang membuat mereka tidak bakal bisa lupa adalah Lu Sun muridnya si kera sakti yang kini telah menjadi salah satu Buddha perang di surga barat sana.
Tapi saat mengenali Giok Lan mereka langsung menunjuk Giok Lan dengan marah dan berkata,
"Putri murtad berani kamu datang kemari, ?! hari ini kami akan menangkap mu untuk di serahkan ke Yu Di..(Kaisar Langit).!"
Giok Lan mundur setindak menanggapi respon kemarahan keempat paman nya, yang biasanya sangat memanjakan diri nya.
"Paman tahan emosi kalian, hari ini kedatangan ku, ada membawa hal.penting untuk di bicarakan dengan Ayah ku.."
Lu Sun mengerutkan alisnya dia menghadang di depan keempat raja langit dan berkata,
"Harap keempat jendral, sementara waktu lupakan dulu masalah lama."
"Tolong laporkan kedatangan ku, ke Yu Di, katakan padanya aku mohon menghadap."
"Biar Yu Di yang memutuskannya..."
"Mereka berdua ini adalah istri ku sekarang, harap jangan mempersulitnya.."
Ucapan Lu Sun membuat keempat raja langit meragu, mereka jelas tahu kesaktian Lu Sun tidak boleh di buat main main.
Bahkan atasan mereka Er Lang Sen pun menyeganinya, saat mereka sedang berada dalam keraguan, mereka berempat saling pandang tapi tidak berani ambil keputusan.
Dari dalam gerbang Nan Thian Men, melesat keluar sebuah kakek tua berjanggut panjang dan berjubah putih.
Dia lah Dewa bintang,. asisten kepercayaan kaisar langit.
Melihat kedatangan dewa tersebut keempat jendral penjaga pintu Nan Thian Men pun bisa bernafas lega.
Begitu tiba di sana, Dewa bintang pun berkata,
"Empat raja langit, maaf saya mendapat perintah dari Yu Di, untuk membawa mereka ke Ling Siao Bao Tian."
"Sesuai dengan perintah dari Yu Di, mohon emat raja langit Sudi memberi jalan, agar mereka bisa melewati Nan Thian Men."
"Ohh tentu...tentu... Silahkan saja.."
jawab keempat raja langit dengan cepat.
Dengan adanya kemunculan Dewa bintang, bagaikan dewa penolong yang membebaskan mereka dari dilema.
Tentu saja mereka merasa gembira dan lega, beban berat yang harus mereka pikul tadi kini telah terlepas dari pundak mereka.
Mereka buru-buru menyingkir membiarkan Lu Sun dan kedua istrinya lewat, meski mencium ada bau hawa siluman di tubuh Ying Ying.
__ADS_1