
Saat Hei Pai Suang Kui mendaratkan senjata bulan sabit nya, saat itulah kubah perisai energi ciptaan Lu San hancur pecah berantakan.
Dua pasang senjata bulan sabit hitam dan putih, kini melesat kencang kearah Lu San.
"Trang...Tring..Trang..Tring..!"
Saat keempat senjata bulan sabit mendarat di tubuh Lu San, dua di bagian dada dua lagi di bagian punggung .
Bunga api berpijar saat kedua senjata itu menghantam dan menggores dada dan punggung Lu San.
Kedua orang itu sangat terkejut, saat menyadari serangan mereka seperti membentur logam.
"Baju pelindung...!!"
teriak kedua orang itu kaget setengah mati.
Mereka kini sadar nyawa mereka berdua dalam bahaya, ini adalah jebakan yang di siapkan oleh Lu San untuk mereka berdua.
Secepat mungkin mereka berdua membuang diri menjauhi Lu San sambil melemparkan bola hitam putih yang bila meledak akan mengeluarkan asap seperti tempo hari.
Terdengar suara tawa Lu San dan dia berkata,
"Ini bukan baju pelindung, tapi ini adalah Cing Kang Pu Huai Ce Sen."
"Senjata apapun tidak akan bisa menembusnya..ha.ha..ha..ha..!"
"Rasakan ini ..!"
ucap Lu San melepaskan pukulan Tapak Penahluk Naga Semesta.
Dari arah Lu San meluncur dua kepala Naga hijau raksasa yang membentang kan mulut mereka lebar lebar seolah olah akan menelan Hei Pai Suang Kui yang sedang bergulingan menjauh.
Dia bola hitam putih yang dilemparkan oleh Hei Pai Suang Kui, sekali ini tidak meledak, kedua bola itu di sambut dengan lembut dalam genggaman sepasang telapak tangan Lu San.
Lu San menggunakan Qian Kun Ta Lo Ih Sin Fa, untuk menyambut kedua bola itu, lalu dia alihkan ke atas, kedua bola hitam putih berbenturan di udara di ketinggian sana.
Meledak mengeluarkan asap hitam putih diatas langit.
Tubuh Hei Pai Suang Kui terpental, akibat terkena ledakan energi' Naga Siluman Semesta yang membentur aspal di sebelah mereka.
Aspal jalan raya yang terkena pukulan Lu San langsung berlubang besar membentuk sebuah kawah yang tidak lebar tapi sangat dalam.
Ini menunjukkan pukulan Lu San sangat fokus pengumpulan kekuatannya.
__ADS_1
Bila sampai terkena pukulan tersebut bisa di pastikan tubuh Hei Pai Suang Kui pasti akan bolong di buatnya.
Kedua kakek kembar itu saat berusaha mencoba untuk berdiri, tubuh mereka berdua langsung kembali jatuh berlutut dan memuntahkan darah segar dari mulut mereka.
Belum sempat mereka berdua bisa bangun, Lu San sudah muncul berdiri di hadapan mereka.
Sepasang tangan Lu San langsung mencengkram batok kepala mereka, Hei Pai Suang Kui berpikir mampus kami kali ini.
Sekali ini nyawa mereka berdua tidak akan bisa tertolong lagi.
Dengan wajah pucat kedua kakek hitam putih itu, menatap Lu San dengan tatapan ngeri.
Mereka berdua sudah hidup begitu lama, dan sering menghadapi pertempuran mati hidup.
Tapi baru kali ini, mereka merasa nyali mereka menciut saat bertemu dengan senyum Lu San yang lembut dan polos.
Tapi terasa sangat menyeramkan seluruh bulu kuduk di tubuh mereka langsung meremang melihat senyum Lu San.
"Kalian berdua sungguh bernyali besar, berani ingin melukai keluarga ku, bahkan diam diam menghadang di sini dan membuat keributan seperti ini..?"
"Anak muda, kini nyawa kami ada di tangan mu, mau potong mau belah terserah pada mu, kami tidak bisa berkata apa-apa lagi.."
ucap si kakek hitam, berusaha tampil seberani mungkin..
"Nah ini hukuman mu, karena kamu terlihat gagah berani.."
ucap Lu San sambil mengerahkan Xi Xing Ta Fa, menyedot Chi sekaligus tenaga sakti kakek baju hitam.
Sepasang mata kakek baju hitam langsung terbelalak lebar, tubuhnya secara reflek langsung meronta ronta seperti seekor nyamuk yang terjebak di sarang laba laba.
Semakin meronta tubuhnya semakin lemas, hingga akhirnya terdiam berubah menjadi seonggok tulang berbalut kulit.
Lu San bersendawa nikmat, dan berkata "lumayan juga, kekuatan si hitam ini.."
Si putih kini menatap sedih kearah saudara kembarnya yang berubah menjadi seonggok tulang berbalut kulit.
"Kamu,.. kamu... sungguh kejam, aku akan beradu nyawa dengan mu..!"
teriaknya sambil menyarangkan sepasang cakarnya kearah perut Lu San.
Lu San hanya tersenyum dingin dan berkata,
"Beradu nyawa itu keinginan mu, tapi aku tidak ingin.."
__ADS_1
"Jadi kamu sajalah yang adu nyawa, aku tidak.."
ucap Lu San sambil mengerahkan Wu Xiang Sen Kung.
Tubuhnya menipis seperti kertas, sehingga sepasang cakar kakek itu menemui tempat kosong.
Lalu sepasang tangan itu sedikit tersentak kemudian terkulai ke bawah, saat Lu San mulai mengerahkan Xi Xing Ta Fa menyedot energinya.
Seluruh energinya dalam sekejap berpindah ke tubuh Lu San, tubuhnya menyusul si hitam berubah menjadi seonggok kulit berbalut tulang.
Setelah menghabisi Hei Pai Suang Kui, Lu San melesat keudara, menggunakan Jin Tou Yun meninggalkan tempat tersebut.
Dia melakukan pemantauan dari udara, dengan menggunakan mata langitnya, dia mencari cari keberadaan Deborah dan kedua orang tuanya.
Lu San akhirnya bisa tersenyum lega, saat melihat Deborah dan kedua orang tua nya dalam keadaan baik-baik saja dan sedang dievakuasi menuju bandara.
Lu San sekali ini, tidak mau gegabah lagi, Lu San mengikuti mereka hingga mereka tiba di bandara.
Lalu Lu San merubah dirinya menjadi seekor Anjing putih yang berbulu lebat dan lucu, bentuknya pun sangat imut-imut.
Lu San langsung berlari mendekati Deborah, mengigit dan menarik-narik ujung celana Deborah.
Deborah melihat ke bawah dan dia langsung menjerit terkejut, dengan reflek dia memberikan sebuah tendangan kungfu kearah moncong anjing itu hingga terpental berguling-guling.
Ternyata Lu San salah, dia berpikir Deborah akan senang merangkul dirinya kedalam pelukannya.
Seperti cerita ayah ibunya, saat ayahnya berubah menjadi seekor anjing kecil.
Semua itu di luar prediksi, Deborah ternyata sangat tidak menyukai binatang seperti anjing dan kucing yang suka menjilat jilat dengan air liur menetes kemana mana.
Menimbulkan rasa jijiknya, Deborah tidak puas berhenti di sana, dia mengejar menjejak dan menendang Lu San hingga terkaing kaing .
Dasar sial pikir Lu San dalam hati, bukannya di sayang malah di injak injak.
Lu San buru buru berlari menjauh sambil mengeluarkan suara berkaing kaing, larinya pun terpincang pincang.
Karena salah satu tangan nya tadi diinjak oleh Deborah dengan keras dan tanpa ampun.
"Aduh Debby udah udah.. kenapa kamu begitu kejam sih sama binatang lucu itu..?"
tegur ibu Deborah sambil menarik tangan anaknya, untuk menghentikan aksinya mengejar dan menyiksa anjing kecil jelmaan Lu San.
"Ini gara gara ibu, dirumah London pasti penuh dengan mahluk tak berguna itu, yang hanya bisa menjilat jilat sungguh menjijikkan..!"
__ADS_1
ucap Deborah tidak mau kalah..