
Ikeda berdiri tenang saat melihat Peter sudah melepaskan pukulannya, dengan sembarangan tanpa kuda kuda, dia mengibaskan tangannya kearah Peter Ho.
Dua ekor Phoenix biru melesat menyambut Naga Mas Peter Ho.
Benturan dahsyat terjadi di udara, tanah di sekitar berguncang hebat.
Tapi seiring getaran guncangan mereda dua bayangan Naga Mas ciptaan energi pukulan Peter Ho sirna.
Sebaliknya dua ekor Phoenix biru, berteriak nyaring melesat kearah Peter Ho bagaikan kilatan cahaya biru, menyambar kearah Peter Ho.
Peter Ho sebisa mungkin membentuk perisai pelindung dengan cahaya naga mas melingkari tubuhnya.
Kedua tangannya di silangkan di depan dada untuk berjaga-jaga, matanya sedikit terpejam, untuk mengurangi cahaya silau yang masuk ke matanya.
Benturan kembali terjadi, Peter Ho sekali ini terlempar ke belakang puluhan meter, setelah cahaya naga mas yang mengelilingi tubuhnya hancur di terjang Phoenix biru.
Peter Ho ingin berusaha bangkit, tapi tubuhnya tidak kuat, setelah memumtahkan beberapa teguk darah,
Tubuhnya kembali terkapar di atas lantai.
Melihat hal ini, kini Aliu lah yang maju menggantikan Peter Ho, dia mengeluarkan raungan dahsyat seperti raungan naga marah kearah Ikeda.
Dari mulutnya keluar Cahaya lingkaran lingkaran merah , yang semakin lama semakin besar berlapis lapis di tujukan kearah Ikeda, sebagai bentuk serangan suaranya.
Setelah itu Aliu menyusul dengan serangan cakarnya yang bergerak gerak memainkan jurus ke 14 Shi Cheng Liu lung.
Bayangan enam ekor naga mas, melesat keluar dari sepasang cakarnya, melesat kearah Ikeda.
Ikeda membalasnya dengan suara tertawa menggetarkan, kemudian kedua tangannya membentuk golok hitam raksasa' yang di tebaskan menyambut serangan Aliu.
Sebuah golok hitam raksasa bergerak menebas dengan ganas, membelah dan menebas enam ekor Naga Mas yang sedang bergerak kearah nya.
Setiap terkena Tebasan cahaya Golok Hitam, cahaya naga emas akan langsung sirna, satu persatu enam ekor naga mas sirna terkena tebasan golok.
Tebasan itu belum berhenti, dia masih melesat kearah Aliu, Aliu membentuk tameng Perisai merah biru yang membentuk sebuah kubah cahaya untuk melindungi diri, dari serangan Ikeda.
Sambil berteriak keras menambah tenaganya, hal ini membuat kubah pelindung Aliu yang sedikit retak, pada benturan pertama, akhirnya hancur berkeping-keping, tidak kuat menyambut serangan yang dilepaskan oleh Ikeda.
Tubuh' Aliu juga ikut terpental kebelakang terkapar di lantai, memuntahkan darah segar, menyusul Peter Ho terbaring di atas lantai sambil memegang dadanya yang terluka oleh sabetan energi golok.
Lukanya memanjang dari bahu melewati dada secara menyilang hingga perut, terus mengucurkan darah dengan deras.
Nenek melesat mendekati Aliu memberikan beberapa totokkan untuk menghentikan pendarahannya.
Sementara itu Afei yang sudah tiba di supermarket, melihat Michiko yang berdiri sambil merangkul kedua tangannya sendiri, dengan rambut dan baju basah kuyup.
__ADS_1
Menjadi sangat iba dan kasihan dengan kondisi Michiko, dia buru-buru turun dari mobil, membawa payung berlari kecil mendekat kearah Michiko.
Melihat kedatangan Afei Michiko pun tersenyum gembira.
Afei buru buru mendekati Michiko, lalu dengan Handuk kering ditangannya, Afei mencoba mengeringkan rambut Michiko yang basah.
Setelah itu Afei melepaskan jasnya untuk menutupi pakaian Michiko yang basah dan agak tembus pandang.
Afei kemudian menggunakan payung memeluk Michiko dalam rangkulannya, membimbingnya masuk kedalam mobil Afei.
Setelah menutup pintu mobil, Afei baru berlari memutar kesisi lain, masuk kedalam mobilnya.
Afei menyalakan mobilnya, hendak membawa Michiko kembali ke kediaman nya di atas bukit.
Tapi baru saja Afei hendak memutar mobilnya meninggalkan supermarket, Michiko menahan tangan Afei dan berkata,
"Sayang kita jangan kembali ke rumah mu ya, aku tidak enak dengan Lu San.."
"Dia sampai seperti itu, semua adalah gara gara sifat ku yang tidak mau kalah.."
Afei tersenyum lembut menyentuh tangan Deborah dan berkata,
"Sudahlah kakak San tidak akan menyalahkan mu, dia bisa menerima kenyataan dan tidak menyalahkan mu.."
"Lagi pula kakak San sedang tidak berada di rumah, jadi kamu tidak perlu khawatir, yang lainnya tidak ada yang mengenali mu.."
"Sebentar aja please gak kan lama ."
Afei menghela nafas panjang dan berkata,
"Michiko sayang, aku sebenarnya dalam tugas menjaga rumah tidak boleh pergi kemana mana."
"Tapi karena kasihan dengan mu, aku sudah melanggar peraturan datang kesini."
"Aku tidak bisa pergi jauh jauh, kamu tolong mengerti."
"Soal pakaian kamu jangan khawatir, di rumah ada pakaian ibu ku kamu boleh pilih sesuka mu, mana yang kamu suka.."
Michiko mengangguk kemudian berkata "baiklah, tapi sebaiknya temani aku makan bentar boleh di sebelah sana ada kedai mie, kita makan sebentar ya di sana.."
Afei sebenarnya ingin menolak dan membawa Michiko untuk makan di rumahnya saja, karena di rumahnya juga tidak kekurangan bahan makanan .
Tapi belum sempat dia berkata,. Michiko sudah maju mencium pipinya dan berkata,
"Makasih ya sayang, aku tahu kamu yang terbaik.."
__ADS_1
Lalu dia segera membuka pintu mobil, berlari menuju kedai mi yang tidak jauh dari sana, sambil menerobos hujan gerimis.
Panggilan Afei di belakangnya, tidak berhasil menghentikan laju langkah kaki gadis tersebut.
Afei sambil menghela nafas panjang, terpaksa mematikan mesin mobilnya, mengeluarkan payung lalu berlari kecil menyusul Michiko ke kedai Mie.
Michiko menunggu hingga Afei tiba dia baru memesan mie Ramen daging sapi.
"Sayang kamu mau pesan mie apa ?""
tanya Michiko sambil menyodorkan daftar menunya ke Afei..
Afei tersenyum pahit dan berkata,
"Samakan saja dengan pesanan mu.."
Michiko melambaikan tangannya, memanggil pelayan restoran, kemudian dia pun memesan dua mangkuk mie ramen daging sapi dan dua botol sake.
Tapi Afei buru buru menyelanya dan berkata,
"Aku pesan teh panas saja.."
Michiko hanya melirik kearah Afei sekilas, tapi tidak berkata apa-apa.
Tapi setelah pesanan mereka tiba, Michiko tetap menuang sake ke gelas, kemudian memberikan ke Afei dan berkata,
"Minumlah sedikit, cuaca sedang dingin, minum sedikit bisa menghangatkan badan."
Afei menyentuh tangan Michiko dengan lembut dan berkata,
"Aku dalam tugas, tidak boleh minum itu aturan ayah ku."
"Kamu saja yang minum, aku minum teh saja."
"Segelas aja ciciplah,..please.."
ucap Michiko dengan tatapan penuh harap.
Afei akhirnya menerimanya dan berkata,
"Baiklah tapi janji hanya segelas ini ok.."
Michiko mengangguk gembira, sambil bertepuk tangan saat Afei menghabiskan sake yang ada dalam gelasnya.
Lalu mereka pun mulai makan mie bersama, tapi baru dua suap Afei merasa kepalanya sangat pusing dan berputar-putar.
__ADS_1
Afei buru buru diam diam mengerahkan Liu Mai Sen Cien mengeluarkan racun memabukkan lewat ujung jarinya, dia yakin racun ini berasal dari sake yang dia minum barusan.