KEMBALINYA SANG LEGENDA

KEMBALINYA SANG LEGENDA
HARI PERTAMA MENGAJAR DI SEKOLAH


__ADS_3

"Gak usah sudah pergi sana.."


ucap Xue Yen sambil tertawa, dan mendorong tubuh besar Lu Sun menjauhinya.


"Ya sudah kalau gak mau, aku pergi cari Lan er aja.."


ucap Lu Sun sambil tertawa.


Xue Yen buru-buru menahan tangan Lu Sun, dengan bibir cemberut dia berkata,


"Berani ya ? awas kalau nanti malam gak Nemani, besok aku pulang ke rumah ayah saja."


Lu Sun tersenyum sambil merangkapkan kedua tangannya di depan dada dia berkata.


"Maaf... maafkan aku sayang,. aku cuma bercanda saja kok.."


Melihat gaya Lu Sun, Xue Yen menahan senyum dan berkata,


"Ya udah sana cepat panggil mereka, aku mau mandi.."


Lu Sun buru-buru pergi ke ruang rahasia memanggil nenek tanpa berani banyak bersuara.


Tak lama kemudian semua orang sudah berkumpul di ruang makan, makan bersama dalam suasana gembira.


Selesai makan mereka melanjutkan obrolan sambil makan buah dan nonton di ruang tengah, hanya nenek dan anak-anak tidak ikut.


Nenek dan Afei kembali keruang rahasia melanjutkan latihan, sedangkan San er dan Dan er kembali ke kamar mereka untuk bikin PR dari sekolah.


Sedangkan Fei er yang masih kecil, ikut dengan kedua pengasuhnya, kembali ke kamar.


Afei sendiri PR nya sudah di selesaikan di sekolah, sewaktu menunggu kelas San er bubar.


Afei dan Dan er memang pulang lebih cepat, jam 12 kelas mereka sudah bubar, sedangkan San er kelasnya baru bubar setelah jam 2 siang.


Lu Sun Giok Lan dan Xue Yen ngobrol sampai jam 9 an, saat Giok Lan memutuskan kembali ke kamarnya.


Lu Sun pun menemani Xue Yen kembali ke kamarnya.


Keesokan paginya setelah Lu Sun setelah mengantar ketiga anak nya sampai di sekolah.


Lu Sun pun memulai aktivitas kerja hari pertamanya, berhubung masih pagi, dan kelas belum di mulai.


Lu Sun berjalan menuju ruang kantor guru, sampai di sana, melihat kantor guru masih sepi hanya ada OB yang sedang bersih-bersih.


Lu Sun pun menyapa OB tersebut dengan ramah sambil berjalan menuju mejanya yang terletak di sebelah jendela.


"Selamat pagi.."


ucap Lu Sun sambil tersenyum ramah kepada OB sekolah tersebut.


OB itu menghentikan pekerjaannya sejenak menatap Lu Sun dan berkata,

__ADS_1


"Anak muda, siapa nama mu ? guru baru ya ?"


Lu Sun tersenyum ramah dan berkata,


"Benar paman, hari ini adalah hari pertama ku bekerja, Nama ku Lu Sun."


"Ohh guru Lu ya,...maaf bila sikap ku kurang sopan barusan.."


ucap OB itu tersenyum ramah.


Lu Sun menganggukkan kepalanya dan berkata,


"Tidak perlu sungkan Paman, dan tidak perlu minta maaf segala, paman tidak melakukan kesalahan apapun pada ku."


"Paman siapa nama mu,? bagaimana aku memanggil mu ?"


tanya Lu Sun.


"Panggil saja aku Paman Lau, sama seperti yang lainnya' biasa memanggil ku."


ucap Paman Lau sambil membereskan isi tempat sampah ke sebuah kantong plastik hitam berukuran besar.


"Guru Lu anda adalah orang baik, sebagai orang lama paman mau menasehati mu sedikit."


ucap Paman Lau sambil menoleh menatap Lu Sun dengan tatapan aneh.


Setelah itu dia melanjutkan berkata,


"Paman Lau tunggu..! apa maksud mu..?!"


tanya Lu Sun heran.


Tapi paman Lau tidak menjawabnya, dan terus melangkah menuju kearah pintu, sambil menyeret kantong plastik hitam berukuran besar di tangannya.


Sebelum meninggalkan ruangan paman mau berhenti sejenak lalu berkata,


"Tidak tahu terlalu banyak lebih baik.. ingat ingat saja pesan ku itu.."


Setelah mengucapkan kata-kata penuh misteri, paman Lau pun berlalu dari sana.


Tinggal Lu Sun yang sesaat termenung seorang diri, menanggapi ucapan paman Lau.


"Apa pun itu, tidak usah ambil pusing."


"Aku datang kesini buat mengajar, dan mengawasi anak-anak."


"Selama tidak menganggu ku, apa pun itu bukan urusan ku."


"Kalau berani mengganggu kita lihat saja, kaisar langit dan raja neraka pun segan dengan ku, apalagi mahluk di dunia ini."


gumam Lu Sun dalam hati.

__ADS_1


Seakan-akan menjawab ucapan Lu Sun barusan, sebuah bingkai foto yang terletak di meja guru Wang tanpa sebab tiba-tiba jatuh keatas lantai.


Untungnya bingkai foto tersebut menggunakan, bingkai plastik sehingga tidak ada yang pecah.


Lu Sun mengedarkan pandangannya dengan tajam menganalisa sekitar ruangan sambil berjalan memungut bingkai foto yang jatuh tidak jauh darinya.


Setelah meletakkan bingkai foto tersebut kembali ke meja guru Wang, Lu Sun yang hendak kembali ke mejanya.


Dengan cepat mengulurkan tangannya yang memanjang menyambut bingkai foto Ying Ying yang jatuh dari mejanya.


Gerakan Lu Sun sangat cepat sehingga berhasil menyelamatkan foto dan bingkai kesayangannya itu.


Kali ini Lu Sun benar-benar marah, dia menggunakan mata Dewa yang di peroleh dari Wu Song, dengan Im Yang Sen Kung sebagai dasar Lu Sun menyapukan pandangannya melihat sekeliling ruangan.


"Aku tidak menganggu mu, kamu malah mengusik ku.."


gumam Lu Sun sambil tersenyum dingin.


Tiba-tiba Lu Sun melirik keatas kepalanya, dengan kecepatan tinggi, Liu Mai Sen Cien melesat keatas.


Sebuah bayangan merah transparan menjerit tertahan, lalu melesat menghilang dari tempat tersebut.


Sebuah lubang sebesar jari terlihat membekas pada plafon diatas kepala Lu Sun.


Lu Sun kembali mengedarkan mata Dewanya, tapi dia tidak menemukan sosok merah transparan itu lagi, di dalam ruangan.


Mungkin ini yang di maksud oleh Paman Lau tadi, pikir Lu Sun sambil tersenyum dingin.


Lu Sun kembali ketempat duduknya, setelah merapikan barangnya, dia mulai melihat jadwal ngajar nya hari ini.


Di meja Lu Sun terlihat tiga bingkai foto yang di susun berjejer di sana, tiga foto tersebut adalah foto Ying Ying, Xue Yen dan Giok Lan.


Setelah melihat jadwal ngajarnya, Lu Sun melihat 5 buku materi berbeda yang akan dia ajarkan ke muridnya.


Jam pertama Lu Sun akan mengajar anak SMA kelas 1 dengan materi basket,


Jam kedua Lu Sun mengajar anak SMA kelas 2 dengan materi lembar lembing dan cakram.


Jam ke 3 Lu Sun mengajar anak SMA kelas 3 dengan materi senam Tai Chi.


Untuk materi ke 4 dan 5 Lu Sun mengajari anak kelas 1 dan 2 SMP materi pelajaran memanah.


Lu Sun membaca buku teorinya sekilas, kepalanya langsung pusing membaca tulisan yang begitu banyak soal berbagai teori.


"Pak Ma menginginkan muridnya bisa menang dan keluar sebagai juara dalam perlombaan olahraga, bukan jagoan menghapal teori tak berguna ini ."


"Namanya juga olah raga, mengolah raga, kenapa malah jadi buku teori begini.."


"Persetan dengan teori-teori ini."


gumam Lu Sun sambil melempar buku teori keatas meja.

__ADS_1


__ADS_2