
"Apa...apa maksud mu.. hantu dan manusia berbeda alam menjauh lah dari ku...!"
teriak pak Wang ketakutan..
"Pak Wang kenapa kamu begitu kejam ? apa kamu sudah lupa bagaimana dulu kamu begitu menyukai ku ?"
"Hingga kamu dengan tega mengancam tidak akan membiarkan ku naik kelas, bila aku tidak melayani bapak.."
"Aku tidak pernah melupakan ekspresi wajah bapak saat menikmatinya pertama kali, aku sangat merindukan nya."
"Apa bapak sudah tidak ingat lagi...?"
tanya gadis itu dengan sikap manja.
Pak Wang seperti termenung, kemudian dia berkata,
"Itu dulu semua sudah berlalu, untuk apa kamu mengingatnya lagi, manusia dan hantu tidak bisa bersama.."
"Kamu pergilah menjauh lah dari ku."
"Pak Wang kenapa kamu begitu tega, setelah puas menikmati nya, kamu menyerahkan ku pada para bajingan seperti pak Ken dan muridnya kenapa..?"
"Apa salahku, kenapa kamu tidak mempertanggungjawabkan bayi milik mu ini, kamu malah dengan tega membunuh ku..? kenapa..!?"
tanya gadis itu mulai setengah membentak pak Wang
"Mengenai pak Ken aku minta maaf pada mu, aku juga di bawah ancaman kamu juga tahu itu.."
"Tapi mengenai kematian mu, kamu sendiri yang cari penyakit, mengapa kamu justru menuntut ku bertanggung jawab, ?"
"Padahal yang tidur dengan mu, begitu banyak mengapa kamu tidak mencari yang lain nya, malah berani mengancam akan lapor polisi segala, itu sudah nasib mu, pilihan mu jangan salahkan aku..'
ucap Pak Wang berusaha membela diri.
Gadis itu menatap pak Wang dengan wajah dingin dan berkata,
"Nyawa di bayar nyawa darah di bayar darah."
"Hari ini bila kamu tidak meminta maaf dan mengakui semua perbuatan mu.."
"Jangan salahkan aku, bila aku akan membawa mu menemani ku di sekolah ini.."
"Omong kosong siapa takut, ini terimalah agar kamu tidak menggangguku lagi.."
ucap pak Wang sambil melemparkan jimatnya kearah gadis itu.
"Aduhh...ahh...sakit..."
jerit arwah itu.
Pak Wang pun tertawa keras, dan berkata,
__ADS_1
"Rasakan dasar, di beri arak kehormatan tidak mau, malah minta arak hukuman sekarang rasakan..ha....ha...ha...ha...!!"
"Hi...hi...hi...hi...! pak Wang kamu tertawa apa ? Jumat mu hanya geli geli, gak da fungsinya."
"Aku tadi hanya berpura-pura, nah sekarang rasakan..pembalasan ku...!"
teriak gadis itu.
Lalu tangan nya terulur kedepan mencekik leher pak Wang.
Pak Wang yang ketakutan, langsung menjatuhkan diri berlutut dan menangis seperti anak kecil meminta ampun..
"Pak Wang, kamu tahu akan berakhir seperti ini., buat apa waktu itu.masih melakukannya."
"Sekarang minta maaf dan akui semua kesalahan mu, mungkin aku akan mengasihani mu.."
ucap gadis itu dingin.
"Baik baik aku akan mengakuinya sekarang juga, tapi ingat setelah ini kamu tidak boleh muncul di hadapan ku lagi.!"
ucap pak Wang gembira.
Pak Wang sambil berlutut menceritakan semuanya dari awal hingga akhir, tanpa ada yang di tutupi sedikitpun.
"Nah sudah selesai, sekarang kamu sudah puas kan ? pergi lah aku masih banyak pekerjaan yang belum terselesaikan jangan mengganggu pekerjaan dan waktu ku lagi."
ucap Pak Wang sambil bangkit berdiri.
"Baiklah aku pergi, Pak Wang banyak banyak lah berbuat baik..!"
Setelah gadis itu menghilang, pak Wang pun bernafas lega dan kembali duduk di kursinya.
Tapi baru saja dia duduk, pak Ma masuk kedalam ruangan bersama Wong KAI kepala reserse kriminal dan asistennya, guru Ciu dan Guru Lin juga ikut hadir di sana dibelakang Ma.
Kedua guru itu menatap pak Wang dengan penuh kebencian, seolah olah ingin memakannya.
Pak Wang sangat terkejut dan berkata,
"Apa yang terjadi ? kenapa sampai ramai ramai kemari.?"
Tanpa banyak bicara Pak Wong Kai, memberi kode agar asistennya pergi memborgol kedua tangan pak Wang.
Setelah itu Wong Kai pun berkata,
"Pak Wang kamu kami tangkap atas tuduhan pelecehan perkosaan hingga pembunuhan terencana.."
"Kamu punya hak untuk diam, semua kata kata mu saat ini bisa menjadi bukti di persidangan nanti.."
"Ayo jalan,...! ikut dengan kami.!"
ucap asisten Wong Kai setengah menyeret dan mendorong pak Wang meninggalkan ruangan tersebut.
__ADS_1
Setelah asisten nya pergi, Wong Kai malam itu juga bersama beberapa petugas bawahannya, melakukan penggalian.
Kemudian mereka menggunakan kantong mayat memindahkan jasad gadis malang yang kini hanya tersisa tulang belulang dan rambutnya saja.
Setelah petugas membawa pergi semua barang bukti, Reserse Wang pun pamit sambil menyalami semua orang yang ada di sana sambil mengucapkan terima kasih.
Terutama terhadap Rombongan Lu Sun, pak Wang terus mengucapkan terima kasih secara berulang-ulang, karena dalam kasus ini tanpa bantuan Lu Sun dan kedua Istrinya, mustahil bisa di pecahkan dengan begitu mudah.
Setelah rombongan kepolisian pergi, Lu Sun beserta rombongannya pun berpamit pada pak Ma guru Ciu dan Guru Lin.
Saat Lu Sun menyalami Guru Ciu, dia bisa melihat ada kesedihan dan ketidak relaan di mata Guru Ciu yang sedikit basah saat melepas kepergian nya.
Tapi Lu Sun mengeraskan hati nya dan tersenyum lembut sambil berkata
"Jaga dirimu baik-baik, percayalah hari esok akan lebih indah, jangan terpaku dengan masa lalu.."
Setelah itu Lu Sun pun melepaskan tangannya dan berlalu dari hadapan Guru Ciu dan yang lainnya.
Sambil merangkul bahu kedua istrinya, mereka berjalan beriringan meninggalkan sekolah Kuang Ming.
Tapi baru mereka hendak berjalan menuju mobil mereka, tiba-tiba ada suara yang memanggilnya dari arah kegelapan.
"Harap tunggu sebentar...!"
teriak sebuah suara merdu dan nyaring.
Perlahan-lahan dari kegelapan muncul 5 orang, 4 pria dan satu gadis kecil yang mungkin seusia dengan atau malah lebih kecil dari Afei.
"Hei kamu, aku kemari untuk memenuhi ucapan ku tadi siang.."
"Ayo majulah, tua lawan tua muda lawan muda...!"
"Paman jangan sungkan dengan mereka, terutama yang berambut putih itu, berhati hati lah.."
ucap Michiko berpesan pada keempat pamannya.
"Kakak biarkan aku menjajal kemampuan si rambut putih itu.."
ucap Ikeda penuh semangat.
Dia adalah saudara termuda mereka, sifatnya tidak sabaran dan gampang emosi.
Tapi dia memiliki bakat besar.
Dan merupakan salah satu murid yang paling di sayang oleh ketua organisasi mereka.
Afei tidak berani bergerak, dia diam di tempat menunggu respon dari gurunya.
"Maaf siapa kalian..? rasanya di antara kita tidak ada permasalahan sebaiknya kita sama sama menahan diri, agar tidak menimbulkan kesalahpahaman yang semakin dalam."
tanya Lu Sun sabar.
__ADS_1
"Tidak usah banyak bicara, nama ku Ikeda dengarkan baik-baik, jangan sampai lupa dan salah melaporkannya di neraka sana."
ucap nya sambil tertawa mengejek.