KEMBALINYA SANG LEGENDA

KEMBALINYA SANG LEGENDA
MENUJU KOTA HOTAN


__ADS_3

Karena jarak nya yang cukup jauh, juga tidak ada Taxi yang bersedia mengantar Lu Sun kesana.


Rental mobil juga tidak ada, pilihan Lu Sun hanya ada dua satu naik taxi ke terminal bis,


Kemudian dari sana menggunakan bis umum menuju PahataikeliXiang.


Atau pilihan kedua adalah menggunakan Chi nya berubah menjadi seekor burung rajawali terbang menuju daerah itu.


Dengan pertimbangan penghematan waktu, Lu Sun akhirnya memilih menggunakan Chi nya berubah menjadi seekor Rajawali dan langsung terbang menuju PahataikeliXiang.


Lu Sun terbang dengan kecepatan penuh menuju ke arah barat.


Dari udara Lu Sun melakukan pemantauan keadaan kota kecil di ujung perbatasan dengan negara Kirgistan tersebut.


Kehidupan masyarakat di sana termasuk miskin dan cukup susah, hal ini bisa terlihat dari bangunan rumah mereka yang di buat seadanya.


Cenderung kumuh, hanya terbuat dari kayu dan semen plester kasar, atapnya pun kebanyakan masih menggunakan atap dedaunan bercampur seng bekas yang terlihat sangat sederhana.


Tapi di antara semua penduduk yang bertempat tinggal sederhana ada sebuah lokasi yang sedikit terpisah, dengan di kelilingi tembok pagar tinggi dan halaman yang luas.


Di tengah-tengah halaman yang luas ada sebuah bangunan yang cukup mewah dengan atap berbentuk kubah.


Di sekitar 4 sudut halaman yang luas terdapat 4 buah menara pemantauan.


Di setiap menara di isi oleh dua orang penjaga bersenjata lengkap.


Dari pakaian yang mereka kenakan Lu Sun bisa menebak mereka inilah penduduk lokal yang menjadi bagian kelompok tersebut.


Lu Sun terbang berputar-putar sebentar di atas lokasi tersebut melakukan pengamatan.


Kemudian Lu Sun muncul di posisi tengah tengah dengan wujud aslinya.


Dan langsung melesatkan Wu Xiang Cien Chi ke empat arah.


Tanpa sempat bersuara atau pun melakukan tembakan, ke 8 penjaga langsung rubuh dengan tubuh tanpa kepala.


Lalu Lu Sun dengan ringan mendarat tepat di halaman depan bangunan yang cukup besar tersebut.


Begitu Lu Sun mendarat sekitar sepuluh orang yang berjaga di depan gedung tersebut segera melepaskan tembakan kearah Lu Sun.

__ADS_1


Suara tembakan mereka mengundang datangnya orang' dari samping kiri kanan bangunan berdatangan dengan senjata di tangan.


Begitu pula dari dalam gedung berhamburan keluar orang orang yang memegang senjata api ditangan mereka.


Di sini Lu Sun melihat mereka yang ada di sini, sebagian besar bersenjatakan HK 416 dan MK 48, seperti yang pernah Lu Sun temukan di atap gedung yang diserangnya beberapa waktu yang lalu.


Begitu melihat Lu Sun mereka langsung melepaskan tembakan dari berbagai arah ke Lu Sun.


Tapi tidak ada satupun tembakan dari mereka yang bisa menyentuh tubuh Lu Sun.


Sebaliknya saat Lu Sun kembali melepaskan aura Naga dan tebasan Wu Xiang Cien Chi.


Satu persatu tubuh para pengepungnya bertumbangan dengan tubuh tanpa kepala.


Dari balik gedung Lu Sun melihat seorang pria berjanggut panjang menggunakan sorban putih, yang di kenali wajahnya lewat data yang diperoleh dari Al Fatah.


Dialah pimpinan tertinggi kelompok ini bernama Muhamad Zein.


Tanpa banyak basa-basi Lu Sun menebaskan energi Golok Maut yang mengeluarkan sinar kebiruan, membelah tubuh orang itu menjadi dua.


Baru Lu Sun kembali melanjutkan serangan Wu Xiang Cien Chi menghabisi satu persatu pengepungnya hingga tanpa sisa.


Lu Sun berjongkok di depan mereka dan berkata,


"Aku tidak tahu kalian mengerti atau tidak bahasa ku, kedatangan ku kemari hanya ingin memberantas kelompok yang mencari keuntungan dengan alasan ideologi dan kepercayaan.."


"Ini ada sejumlah uang dan emas kalian pergi dengan baik untuk kehidupan yang damai.."


"Ingat jauhi kekerasan atau kalian kelak akan bernasib sama seperti mereka.."


ucap Lu Sun sebelum meninggalkan mereka.


Lu Sun masuk kedalam ruang kerja Muhamad Zein setelah mengumpulkan semua data terkait pergerakan kelompok mereka.


Kemudian Lu terbang di udara mengitari seluruh rumah penduduk di sana melemparkan sepotong emas dan uang yang dia peroleh dari brangkas nya Muhamad Zein.


Setelah tugasnya beres, Lu Sun pun kembali berubah menjadi seekor rajawali terbang menuju kota Kashgar, di mana pesawat jetnya sedang menanti dirinya disana.


Dari udara Lu Sun bisa mendengar teriakkan dan tangisan para penduduk yang bersuka cita, setidaknya dalam 1 bulan kedepan kehidupan mereka akan lebih baik.

__ADS_1


Di dalam hati Lu Sun berjanji, setelah kembali ke Nanjing selain memberikan data ke pemerintah.


Dia juga akan meminta Jimmy Huang untuk berfokus melakukan investasi perusahaan mereka di Sin Jiang.


Menggunakan segala sumberdaya yang mereka miliki, untuk membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat di perbatasan ini.


Lu Sun berpikir bila mereka hidup sejahtera, maka mereka pasti akan berpikir dua kali untuk mengikuti kegiatan kelompok teror itu.


Selain itu Lu Sun akan bekerjasama dengan pemerintah, mengirim para ahli untuk menggarap sumber daya gas alam, yang terkandung di Sin Jiang, Yang nantinya sepenuhnya akan di gunakan untuk meningkatkan kesejahteraan penduduk setempat dalam jangka waktu panjang.


Kesetaraan kehidupan yang layak mungkin akan membuat mereka berpikir ulang untuk ikut dalam berbagai tawaran pemberontakan.


Setelah menempuh satu jam perjalanan, Lu Sun pun akhirnya kembali kedalam pesawat nya,


Melanjutkan perjalanan menuju kota Hotan, kota terakhir wilayah kedaulatan China yang berbatasan dengan Afghanistan.


Kota Kale Tamaili, adalah kota yang akan menjadi target Lu Sun berikutnya, sebelum menuju danau Kanas yang berdekatan dengan gunung Altai.


Lu Sun memanfaatkan waktunya saat dalam perjalanan, sepenuhnya di gunakan untuk bermeditasi seorang diri di dalam kamar pribadi di dalam pesawat nya.


Sebelum masuk kedalam kamar Lu Sun berpesan pada kedua pramugari nya.


"Kalian berdua tolong sebelum pesawat mendarat di Hotan, jangan pernah masuk kedalam kamar menggangu saya.."


ucap Lu Sun berpesan dengan serius.


Kedua pramugari itu mengangguk patuh dan berkata,


"Siap pak.."


Setelah masuk kedalam kamar, Lu Sun mulai berlatih energi Bei Ming Sen Kung yang di terimanya dari Tan Sim Houw tapi belum pernah di latihnya secara maximal.


Dalam dua pertarungan terakhir, Lu Sun dapat merasakan kekuatan ilmu golok maut itu bila bisa di latih dengan sempurna.


Bahkan jauh lebih dahsyat dari semua ilmu yang dia kuasai saat ini.


Kecuali tentu saja masih di bawah kekuatan ilmu Pedang Naga Siluman Semesta yang sangat berbahaya dan sudah kembali di segel oleh dewa Agung.


Lu Sun akhir-akhir ini selalu merasa tidak tenang, seperti berfirasat sesuatu yang besar dan sangat kuat akan menghampiri dirinya tidak lama lagi.

__ADS_1


Firasat ini sama dengan firasat saat dia menghadapi monster hijau di jaman sebelumnya.


__ADS_2