
"Nak lalu yang lain nya pada kemana sekarang..?"
tanya Lu Sun setelah lebih tenang.
"Kak Peter kak Aliu ada di depan, nenek seperti biasa kembali bersembunyi di kamar rahasia.."
"Kak Cherry sedang bermain dengan Adik Fei di kamar.."
"Afei kemana nak ?"
tanya Lu Sun penasaran.
"Gak tahu ayah, dia pagi-pagi dah pergi dengan Michiko.."
"Sampai sekarang pun belum pulang.."
ucap Afei apa adanya.
"Ya sudah kamu baik baik jaga rumah ya, kalau ada apa-apa dirumah, tolong kabari ayah ibu.."
ucap Lu Sun sambil tersenyum.
"Ya ayah.."
"Dan er kamu jangan nakal ya, jaga diri baik-baik ibu sayang kamu.."
"Pulang nanti ibu pasti akan belikan permen coklat dan mainan kesukaan mu.."
ucap Giok Lan dengan lembut.
"Ya ma.."
ucap Lu Dan singkat lalu menutup telponnya.
"Orang bilang anak wanita bila sudah besar menjadi milik orang, aku lihat Afei kok malah jadi seperti itu ya..?"
ucap Lu Sun sambil tersenyum.
"Itu namanya ada guru ada murid, bukan nya dia cuma mencontoh dari mu.."
ucap Giok Lan sambil tersenyum sinis.
"Untung ada San er, tak percuma aku menyayangi nya dari kecil.."
"Hari ini bila tidak ada dia entah jadi seperti apa rumah kita.."
"Musuh ini sungguh licik dan pandai baca situasi.."
ucap Giok Lan sambil menatap Lu Sun dan Ying Ying.
Ying Ying tersenyum dan berkata,
"Bila dia benar reinkarnasi Lu Fan, kedepannya kamu tidak akan ada lagi hari tenang.."
"Kamu tenang saja, secepatnya aku akan kirim dia ke London, untuk sekolah di sana bersama gadis yang pandai masak itu.."
ucap Lu Sun sambil tersenyum.
Karena asyik mengobrol kan Lu Fan tak terasa mereka telah tiba di areal pemakaman paman Clooney.
Setelah memarkirkan mobilnya dengan rapi, George pun berkata,
__ADS_1
"Tuan,.. nyonya..maaf menganggu,..kita sudah sampai..."
"Ok makasih George,.. kami turun dulu kalau begitu.."
ucap Lu Sun sambil menepuk bahu George.
Setelah itu dia pun membuka pintu mobil melangkah turun, kemudian membantu istrinya satu persatu keluar dari mobil.
Posisi tempat pemakaman berada di atas Bukit, Lu Sun menggandeng Ying Ying dan Giok Lan berjalan menaiki tangga menuju atas bukit.
Saat mendekati lokasi Lu Sun melihat jalannya di tutup oleh beberapa body guard bertubuh tinggi besar berkacamata hitam.
"Maaf permisi,.. tolong beri jalan kami ingin keatas.."
ucap Lu Sun sopan.
"Maaf hari ini tempat ini di tutup, silahkan anda kembali lagi Minggu depan.."
ucap salah satu bodyguard berkepala botak sambil menggunakan tangan nya memberi kode agar Lu Sun segera pergi.
Lu Sun tidak beranjak, dia kembali berkata,
"Maaf keluarga kami sedang ada acara pemakaman di atas kami haru kesana, tolong beri jalan.."
Teman si botak yang berwajah lonjong langsung berkata dari samping.
"Kamu ini si China penyakitan dari Asia timur, berani banyak bicara di sini mau cari mampus kamu..!!?"
"Tinggalkan dua wanita itu disini, kamu boleh segera pergi..!"
ucap nya sambil memegang dagunya dan tersenyum cabul menatap Giok Lan dan Ying Ying.
Tidak terlihat apa yang di lakukan oleh Lu Sun tahu tahu terdengar suara .
sebanyak 4 kali.
Yang tiga jatuh terguling ke bawah bukit, sedangkan si muka lonjong, jatuh menghantam lantai wajahnya.
Hidungnya patah, wajah nya bengkak lebam, mulutnya penuh darah karena semua giginya telah copot dari posisinya.
"Ayo sayang kita keatas,.. "
ucap Lu Sun santai tanpa memperdulikan rintihan si muka lonjong yang kesakitan.
Saat Lu Sun dan kedua Istrinya mulai melangkah keatas, tiba tiba terdengar bunyi tembakan senjata dari bawah bukit.
Yang melepaskan tembakan adalah ke 3 orang yang Lu Sun lempar ke bawah bukit.
Mereka bertiga menembakkan pistol mereka kearah Lu Sun, dan kedua Istrinya, sambil berlari keatas.
"Door...Door..Door..Door..!"
suara tembakan
"Trang..Tring.. Trang..Tringg..!"
suara tangkisan pedang.
Terlihat Giok Lan sudah memegang pedang Xuan Yuan melakukan tangkisan terhadap peluru yang datang.
Lalu pedang pun melesat dengan cepat meninggalkan tangan Xue Yen.
__ADS_1
"Argghh...Argghh... Argghh..!!"
terdengar jeritan kesakitan.
Sesaat kemudian terlihat keempat orang itu sedang memegangi pergelangan tangan mereka yang bercucuran darah.
Pistol berikut telapak tangan mereka menggeletak diatas tanah, didepan kaki mereka.
Pedang Xuan Yuan kembali ketangan Giok Lan kemudian tidak terlihat lagi, sudah di simpan kembali oleh Giok Lan.
Tanpa menghiraukan keempat orang itu yang menatap dengan wajah pucat kearah Lu Sun dan Giok Lan.
Ketiga orang itu dengan Santai, bergandengan tangan berjalan menaiki tangga menuju keatas bukit.
Sampai di atas Bukit, mereka melihat pemandangan yang tak lazim.
Semua pengunjung acara pemakaman di kelilingi oleh orang orang berpakaian jas hitam dengan kacamata hitam.
Orang berjas hitam itu tidak terlihat sebagai bodyguard keluarga yang sedang berkabung.
Mereka justru terlihat seperti sedang mengintimidasi pihak keluarga yang sedang berkabung.
Keadaan di perjelas dengan beberapa orang bule yang berbadan tinggi besar, terkapar tertelungkup diatas tanah.
Dengan kedua tangan diatas kepala mereka, bila di lihat dari keadaan saat ini, mereka inilah sebenarnya bodyguard keluarga yang sedang berkabung.
Selain melihat kondisi ini, Lu Sun dan kedua Istrinya juga melihat, sepupu Giok Lan, terlihat sedih dan ketakutan dalam pelukan suaminya John.
Mereka berdua terlihat hadir di dalam rombongan keluarga tersebut.
Selain rombongan keluarga masih ada seorang pria bermata sipit beralis tebal, wajahnya terlihat dingin.
Dia berdiri di samping peti mati paman Clooney memberi penghormatan sambil tersenyum mengejek dan berkata,
"Semasa hidup mu selalu menantang Group Nagoya, kini aku mau lihat apa yang bisa kamu lakukan bila sudah begini..?"
"Mengapa kamu tidak terima saja tawaran kerja sama dengan ku,..sayang..sungguh sayang.."
"Kasihan cucu mu lahir tanpa kakek.."
ucap nya sambil pura-pura menghapus airmata dengan sapu tangan nya.
"Penghormatan pihak keluarga terhadap tamu..!"
teriak orang berjas itu, sambil menodongkan pistol di kepala pihak keluarga yang sedang berkabung.
Di bawah ancaman senjata, mereka semua terpaksa membungkukkan badannya memberi hormat kepada Pria bermata sipit beralis tebal tersebut.
"Satu kali..!!"
"Dua kali..!!"
"Tiga kali..!!"
ucap salah satu pria berjas hitam berkacamata hitam itu berteriak nyaring.
Setelah memberikan penghormatan sebanyak 3 kali, pistol yang di arahkan ke kepala pihak keluarga baru di tarik kembali.
Giok Kan tentu sangat marah dan ingin langsung mencabut pedangnya, tapi gerakan nya di tahan oleh Lu Sun sambil memberi kode dengan menggelengkan kepalanya.
Giok Lan terpaksa membatalkan niatnya, untuk bergerak menyerang orang itu.
__ADS_1
Si kakek bermata sipit beralis tebal sedikit terkejut, saat melihat kehadiran Lu Sun Giok Lan dan Ying Ying di sana.