
Lu Sun nmenoleh kebelakang menatap Xue Yen dengan tatapan tak percaya.
Xue Yen ketakutan wajahnya pucat tangannya yang memegang ganggang Pedang Xuan Yuan gemetaran.
Bibirnya yang mungil terus bergumam dengan suara kecil,
"Maaf...maaf...maaf... Sun ke ke maaf... aku..aku.."
Xue Yen tidak dapat melanjutkan kata-katanya dia hanya terpana ketakutan menatap kedua tangannya yang berlumuran darah.
Dengan tatapan tak percaya, dia masih tidak mempercayai apa yang barusan dia lakukan pada Lu Sun, pria yang pernah sangat di cintai nya.
Sesaat kemudian dari bibir Lu Sun memuntahkan darah segar, dia terbatuk beberapa kali.
Lu Sun memejamkan matanya sejenak, menstabilkan emosi nya, baru dia melanjutkan kata-katanya,
"Aku mengerti sekarang...aku yang terlalu naif.."
"Aku memang pantas menerimanya..."
"Aku selalu membuatmu kecewa dan sedih...."
"Maafkan aku..."
"Xue Yen, jaga dirimu baik-baik..."
"Selamat tinggal..."
ucap Lu Sun tangannya yang terjulur ingin menyentuh wajah Xue Yen, belum sampai sudah terkulai ke bawah.
Begitu juga dengan kepala nya ikut terkulai kebawah dua titik air mata jatuh dari sudut matanya.
Senjata Dewa Legendaris terlepas dari pegangannya jatuh kebawah.
Sebelum tubuh Lu Sun dan senjata legendaris nya jatuh keatas tanah, Giok Lan berkelebat dengan cepat merangkul Lu Sun dan menyambar senjata Dewa Legendaris.
kemudian mendorong bahu Xue Yen mundur menjauh dan berkata,
"Kamu suatu hari akan menyesali pilihan mu hari ini."
Lalu Giok Lan berkelebat pergi, melayang meninggalkan tempat tersebut.
Giok Lan sebenarnya bersembunyi tidak jauh dari sana, melihat Lu Sun yang memenangkan pertempuran.
Giok Lan pun lega, dan terus bersembunyi, tidak ingin menunjukkan kehadirannya yang bisa menjadi pengganggu.
Tapi yang tidak di sangka-sangka adalah tindakan Xue Yen yang begitu tega, dan cepat telah menikam Lu Sun dari belakang.
Dari jarak yang begitu dekat, semua terjadi begitu cepat sehingga dia tidak sempat mencegahnya.
Sesaat dia juga dibuat terpana tak percaya dengan apa yang terjadi didepan matanya.
Baru saat Lu Sun terkulai, dia menjadi sadar dan cepat muncul menggendongnya pergi dari situ.
__ADS_1
Jack yang juga tidak menyangka akan kejadian ini, juga sempat kaget, tapi kemudian dia tersenyum puas.
dia yang tadinya sudah memejamkan matanya menunggu ajal yang tidak kunjung datang.
Kini malah menyaksikan hal tak terduga yang terpampang di depan matanya.
Jack perlahan-lahan mengumpulkan tenaga nya, lalu dia mendekati Xue Xue yang terduduk bersimpuh dengan lemas.
Tatapan matanya kosong, hanya airmatanya yang mengucur deras membasahi pipinya.
Bibirnya gemetar dan terus menggumamkan kata maaf berulang-ulang.
Jack memeluknya dari mencium Kepalanya dan berkata,
"Sudahlah jangan terlalu di pikirkan dan menyalahkan diri sendiri."
"Yang sudah terjadi, biarlah terjadi.."
"Jaga kesehatan mu, ingat dengan kesehatan anak kita, jangan terlalu bersedih berlebihan."
Xue Yen membalas pelukan Jack dan menangis tersedu-sedu sambil menganggukkan kepalanya.
Sementara itu di tempat lain Giok Lan yang kembali ke bandara, langsung menggendong Lu Sun yang berlumuran darah.
Masuk kedalam pesawat Jet pribadi nya, dia tidak memperdulikan tatapan keheranan pramugari dan pilot nya.
Meski heran pramugari yang berpengalaman dengan sigap membawa semua keperluan P3K.
Menaruhnya didekat Giok Lan dan berusaha membantu Giok Lan menghentikan pendarahan Lu Sun.
Kemudian dia mendudukan Lu Sun diatas lantai pesawat.
Lalu Giok Lan memanggil pedang Xuan Yuan miliknya menjadi kecil sebesar jari kelingking.
Baru mencabutnya dari luka Lu Sun.
Kemudian Giok Lan dengan sigap dibantu dua orang pramugari nya, menggunting baju Lu Sun untuk melepaskan bajunya.
Giok Lan menotok beberapa jalan darah di dada Lu Sun.
Untuk membantunya menghentikan pendarahan dari lukanya, yang terus mengucurkan darah.
Kemudian Giok Lan baru menggunakan handuk bersih membersihkan luka Lu Sun, menaburkan obat penghenti pendarahan, dan bubuk obat luka.
Kemudian memperban luka Lu Sun, setelah itu dia membaringkan Lu Sun duduk di kursi Pesawat.
Giok Lan menatap pramugari di sampingnya dan berkata,
"Beri tahu Andrew segera berangkat ke Utara menuju istana rahasia."
Pramugari tersebut menganggukkan kepalanya, kemudian bergegas memberitahu pilot.
Sesaat kemudian pesawat pun meninggalkan landasan terbang menuju Istana rahasia.
__ADS_1
Istana Rahasia keluarga Giok Lan terletak di sebuah pulau terapung di kutub Utara.
Tempatnya sangat terpencil dan di kelilingi oleh lautan es tipis, tempat tersebut di gunakan oleh Ayah Giok Lan sebagai tempat rahasia melakukan berbagai macam riset rahasia.
Termasuk Riset persenjataan militer dan riset berbagai macam obat-obatan dan racun kimia.
Pesawat mendarat diatas sebuah pulau kosong yang seluruh pulau di selimuti es.
Pesawat berhenti tepat di depan sebuah tebing es yang tinggi.
Giok Lan terlihat berjalan turun dari pesawat dengan buru-buru, dia berjalan menghampiri tebing tersebut.
Giok Lan menekan dinding tebing, sehingga sebuah papan besi muncul di hadapannya.
Di atas papan terlihat sederetan angka.
Giok Lan menekan beberapa angka sandi diatas papan tersebut, kemudian menutup papan tersebut kembali ke di dinding tebing.
Perlahan-lahan dinding tebing mulai berderak-derak, es yang menyelimuti dinding tebing mulai runtuh kebawah.
Ternyata di balik dinding tebing adalah sebuah gerbang pintu raksasa yang dapat bergeser ke kiri dan ke kanan terbuka dan tertutup secara otomatis.
Setelah tebing terbuka, pesawat Jet pun bergerak masuk kedalam gerbang tebing yang terbuka.
Setelah pesawat masuk kedalam, dinding e secara otomatis menutup sendiri.
Giok Lan menaiki sebuah kendaraan bermotor yang khusus berjalan di atas tumpukan salju.
Menuju Hanggar pesawat.
Di mana pesawat jetnya terparkir di sana, lalu Giok Lan menaiki tangga pintu pesawat yang terbuka.
Masuk kedalam pesawat mendorong sebuah kursi roda turun dari pesawat, dimana Lu Sun di dudukkan di atas kursi roda tersebut
Giok Lan mendorong kursi roda melewati beberapa pintu otomatis, yang baru bisa terbuka setelah dia menempelkan sidik jari dan Scan bola mata miliknya.
Lalu mereka menggunakan sebuah lift yang bergerak turun kebawah.
Saat pintu lift terbuka mereka kembali di hadapkan dengan sebuah pintu otomatis, yang memerlukan Scan bola mata Giok Lan dan sidik jarinya.
Setelah itu pintu baru bisa terbuka, di dalam nya adalah sebuah kamar yang sangat mewah.
Mirip sebuah apartemen mewah, melewati ruang tamu dan ruang tengah, Giok Lan mendorong Lu Sun memasuki sebuah kamar yang sangat elegan dan mewah.
Giok Lan membantu membaringkan Lu Sun diatas sebuah ranjang batu giok putih yang terlihat sederhana dan kuno.
Berbeda dengan ranjang besar ditengah kamar yang mewah dan modern, ranjang giok putih kuno ini terletak di pojok ruangan sedikit terpisah sendirian.
Giok Lan menatap wajah Lu Sun sejenak, kemudian berkata,
"Maafkan aku Sun ke ke, aku terpaksa harus melakukan hal ini padamu, bila tidak nyawa mu tidak akan bisa tertolong."
Giok Lan membantu Lu Sun melepaskan semua pakaiannya hingga Lu Sun terlihat polos.
__ADS_1
Kemudian Giok Lan dengan wajah merah padam menahan malu, dia juga melepaskan seluruh pakaiannya sendiri.
Hingga terlihat polos, kemudian dia ikut naik keatas ranjang batu giok putih, berbaring di atas tubuh Lu Sun.