
Rupanya butiran pasir tanah dan batu yang kini membeku di sekitar Pemuda itu.
Bisa dia manfaatkan untuk memecahkan es yang mengurung dirinya.
Dia terjatuh berlutut diatas tanah dengan nafas memburu dari berkata,
"Mainan mu tidak bisa mengurungku jadi meski kamu berusaha dengan cara apapun akan percuma."
Kemudian dia segera mengatupkan kedua tangannya jari tengah dan jari manis ditekuk, haha jari jempol telunjuk dan kelingking tetap berdiri.
Tak lam kemudian muncul sesosok manusia tanah raksasa setinggi 50 meter, bergerak menyerang Lu Sun dengan telapak tangannya yang besar.
Lu Sun sedikit terkejut dan kagum dengan kemampuan Pemuda tersebut melepaskan diri dari perangkap es nya.
Lu Sun bergerak menghindar dari serangan raksasa tanah buatan Pemuda Tersebut.
Sambil berkata,
"Anak muda diantara kita tidak ada dendam, aku anjurkan pada mu, menyerahlah, bila tidak aku terpaksa harus memusnahkan mu."
"Ha..ha..ha..ha..! jangan bicara besar buktikan saja bila mampu.!"
ucap pemuda itu sambil tertawa.
"Dasar keras kepala, kamu ini tidak bertemu peti mati tidak menangis."
ucap Lu Sun kesal.
Kemudian dia mengaktifkan pukulan angin puyuh miliknya dalam skala lebih besar lagi.
Sebuah angin puyuh seperti badai tornado yang tingginya mencapai 100 meter menjulang tinggi keatas langit.
Menggulung tubuh raksasa tanah yang kemudian hilang Tek berbekas tertelan pusaran.
Tubuh Pemuda itu juga otomatis ikut tersedot kedalam pusaran.
Lalu Lu Sun menambahkan pukulan Api Abadi untuk mendukung pusaran angin tersebut.
Sehingga di pusaran tersebut kini terselimuti cahaya api biru yang membara,. berputar-putar membakar apapun yang berada dalam pusaran hingga menjadi debu.
Ketika Lu Sun menarik kekuatan pukulan angin puyuh yang baru berhasil dia ciptakan.
Tubuh pemuda itu tidak terlihat lagi hanya ada tanah debu dan pasir jatuh berhamburan keatas tanah dalam keadaan gosong semua.
Lu Sun menghela nafas dan berkata,
"Aku sudah memperingati mu, sayangnya, kamu terlalu keras kepala sulit di atur.
__ADS_1
Dengan terpaksa semua harus berakhir seperti ini.
Lu Sun kemudian berjalan meninggalkan tempat itu sambil menggendong kedua tangannya di belakang.
Lu Sun terlihat melayang di atas tanah terbang meninggalkan area tanah hitam tersebut.
Area tersebut cukup luas terbang hampir setengah jam Lu Sun baru berhasil melewati area tersebut dan kembali menemukan dataran tertutup rumput pendek yang sangat luas.
Sejauh mata memandang hanya terlihat dataran berwarna hijau.
Lu Sun mendarat ringan di atas rumput dan berjalan ringan di atas rumput tersebut sambil mengamati keadaan disekitarnya.
Lu Sun melihat ada suatu fenomena di depannya, dimana terlihat ada satu titik yang sedang mengambang di udara.
Lu Sun memusatkan penglihatannya agar bisa melihat dengan lebih jelas benda apa yang sedang melayang tersebut.
Mata Lu Sun sedikit terbelalak melihat nya, setelah mulai bisa melihat dengan jelas apa yang sedang melayang tersebut.
Ternyata yang di lihat Lu Sun adalah seorang biksu muda sedang tidur melayang di udara.
Apa-apaan ini pikir Lu Sun, kelihatannya aku akan kembali berhadapan dengan manusia sakti lagi.
Orang yang bisa tidur diudara seperti itu, termasuk langka dan bila dia sanggup melakukannya.
Kemampuannya pasti berselisih tidak terlalu jauh dari Lu Sun dan Jack yang pernah jadi lawannya itu.
"Biksu muda maaf menganggu tidur mu, nama ku Lu Sun."
"Aku mohon ijin melewati tempat ini."
ucap Lu Sun memberi hormat dengan sikap sopan.
Pemuda itu membuka matanya kemudian dia bangkit duduk diudara dan berkata,
"Kamu mampu sampai ketempat ini berarti kemampuan mu sangat tinggi."
"Namaku Gandhi, bila kamu bisa mengalahkan ku, kamu baru kuijinkan melewati tempat ini."
"Aku tidak bermaksud buruk dan ingin menyulitkan mu, aku melakukan ini semua demi kebaikan mu."
"Bila kamu sanggup mengalahkan ku, setidaknya, kamu sanggup menghadapi penguasa berikutnya yang terkenal sangat kejam dan ganas."
"Selagi masih sanggup mencegah mu kesana, aku akan berusaha menahan langkah mu agar tidak pergi kesana."
Lu Sun memberi hormat dan berkata,
"Biksu Gandhi terimakasih atas peringatannya, aku sudah melangkah sejauh ini aku akan mencobanya. meski itu sulit."
__ADS_1
"Aku ingin tahu sebenarnya Rahasia apa yang terkandung di dimensi ini aku sangat penasaran."
Gandhi mengangguk dan tersenyum ramah dan berkata,
"Silahkan saja bila anda hendak mencobanya tuan Lu."
Tanpa basa-basi lagi Lu Sun langsung menggunakan cakar naga meradang dan cakar tengkorak putih menyerang pemuda tersebut.
Pemuda itu bergerak ringan mengikuti arah serangan Lu Sun, jadi setiap Lu Sun menyerangnya.
Dia akan tertiup mundur menjauh oleh angin serangan Lu Sun, seperti sehelai kapas ringan yang selalu akan tertiup mundur setiap angin kali ada hembusan angin yang datang.
Semakin kuat angin pukulan Lu Sun dia akan melayang mundur dengan ringan menghindari serangan yang Lu Sun lepaskan.
Puluhan jurus berlalu, dia hanya melayang-layang seperti selembar kapas tertiup angin.
Tidak terlihat ada pergerakan serangan sama sekali.
Apa ini pikir Lu Sun bila terus seperti ini sebelum menang akulah yang akan kehabisan tenaga dibuatnya.
Lu Sun kembali berpikir keras untuk memecahkan kemampuan orang didepan nya.
Lu Sun coba menggunakan Jari Matahari (It Yang Ce ) dan Pedang Sakti 6 nadi menyerang biksu muda bernama Gandhi itu.
Tapi meski tidak menimbulkan tenaga angin pukulan, totokan jari Lu Sun tetap menemui tempat kosong, karena Biksu Gandhi sudah. bergerak ringan menghindar.
Biksu Gandhi yang mulai terdesak harus berlompatan dan bergerak menghindar kesana kemari, memghindari sinar merah yang seperti laser ditembakkan kearahnya.
Dia terlihat mulai kerepotan menghadapi serangan dari Lu Sun, apalagi Lu Sun mulai menyelingi dengan Wu Xiang Cien Fa, yang tebasannya , tidak terlihat maupun menimbulkan suara dorongan angin ataupun suara.
Hanya saja setiap benda yang di lewati oleh energi yang Lu Sun lepaskan pasti akan terbelah dua seperti terkena sayatan pedang yang sangat tajam.
Baju Biksu Gandhi yang gerombyongan, mulai robek di sana-sini tersambar energi pedang Lu Sun.
"Kakak Lu ilmu simpanan mu banyak sekali dan semuanya sangat berbahaya.
Biksu itu kini tidak melompat kesana kemari menghindari serangan.
Kini dia bergerak dengan mengeser-geser langkahnya berputar-putar, tapi ajaibnya kini tidak ada serangan apapun yang bisa mengenai dirinya.
Lu Sun mencoba beberapa kali serangan dan memperhatikan langkah kaki Biksu Gandhi.
Lu Sun mulai bisa membaca langkah kaki biksu Gandhi yang mengikuti pergerakan Pat Kwa.
Tentu Lu Sun juga cukup ahli dalam permainan formasi Pat Kwa ini.
Dia sudah bisa memprediksi pergerakan lawannya yang akan muncul ditempat tertentu.
__ADS_1