
Setelah acara pemakaman yang berlangsung dengan penuh rasa haru.
Yang membuat Lu Sun terus bercucuran air mata sambil merangkul Giok Lan yang menangis sedih dalam pelukan Lu Sun.
Di akhir acara Lu Sun sekalian menyampaikan keputusan untuk pamit kepada Pak Ma para guru dan siswa disekolah Kuang Ming.
Pesan yang sedianya mau Lu Sun sampaikan kesekolah Kuang Ming, kini berubah tempat karena kejadian kematian tragis Xue Yen.
Pak Ma dan semua guru serta murid di Kuang Ming tentu sangat terkejut, dan menyayangkan keputusan Lu Sun.
Tapi mereka tidak bisa apa-apa selain menghormati keputusan Lu Sun, dan mencoba memahami dan mengerti posisi Lu Sun saat ini.
Di antara para guru, guru Ciu juga terlihat hadir di sana, Dia memilih diam dan tidak berkata apa-apa.
Hanya secara diam-diam, dia terus menatap kearah Lu Sun dengan tatapan penuh simpati.
Setelah semua orang bubar dan kembali ke rumah masing-masing, kini di ruangan tengah yang luas hanya tersisa Lu Sun yang duduk di temani Giok Lan dan Nenek Lu yang kian hari terlihat kian muda dan bersinar sinar wajahnya.
"Dulu ruangan ini selalu ramai dalam sekejap berubah jadi begini sepi.."
ucap Lu Sun sambil melihat ke sekitar ruangan yang terlihat sepi dan lega.
"Sungguh tidak menyangka kejadian yang begitu bertubi-tubi terjadi dengan begitu cepat bagaikan sebuah mimpi buruk yang sulit di terima.."
Cin Bao semua ini adalah siklus kehidupan,
"Hidup dan Mati semua sudah di atur, sama seperti siang dan malam, terang dan gelap."
"Semua akan datang secara alami, kamu harus belajar menerima dan merelakan kepergian mereka."
"Mungkin bagi yang hidup ini adalah suatu duka, tapi bagi yang pergi ini adalah salah satu cara pelepasan dari kehidupan dunia yang penuh suka dan duka yang datang silih berganti."
ucap nenek Lu tenang dan sabar.
"Yang sudah pergi biarlah pergi, cukup di kenang saja, tapi jangan menjadikan nya sebagai beban pikiran, yang hanya akan merusak kehidupan mu di masa mendatang."
ucap nenek lu mengingatkan.
Lu Sun mengangguk dan berkata,
"Nenek benar,...nek aku permisi mau menyimpan abu ini di taman rahasia.."
"Aku juga nek.."
ucap Giok Lan yang tidak mau berpisah dari Lu Sun yang dia tahu hati suaminya pasti sedang terluka dan berdarah karena kepergian Xue Yen yang begitu tiba-tiba.
__ADS_1
"Pergilah .."
ucap nenek Lu ringan.
Lu Sun membawa sebuah guci antik, berjalan masuki taman rahasia di temani oleh Giok Lan.
Lu Sun meletakkan guci antik berisi abu Xue Yen persis di sebelah peti mati Ying Ying.
Setelah itu Lu Sun berlutut di hadapan peti dan guci ditemani oleh Giok Lan.
"Sayang mengapa kalian berdua harus pergi dengan cara yang tidak wajar seperti ini.."
"Aku sungguh tak berguna, tidak bisa menjaga kalian dengan baik, maafkan aku sayang.."
gumam Lu Sun dalam hati.
Beberapa saat kemudian Lu Sun keluar dari kamar rahasia bersama Giok Lan, mereka berdua bergandengan tangan berjalan menuju taman.
Di mana makam Xue Yen yang baru di buat bersebelahan dengan makam Ying Ying.
Lu Sun dan Giok Lan duduk di gazebo yang dibangun tidak jauh dari kedua makam tersebut.
"Sun ke ke waktu sebelum terjadi ledakan, bukan nya, penjahat itu sudah Sun ke ke lumpuhkan."
"Dia bahkan sudah kehilangan kedua tangannya, bagaimana cara dia mengaktifkan bom yang begitu dahsyat.?"
Lu Sun termenung kemudian berkata,
"Aku tidak tahu pasti, menurut dugaan ku, di dadanya ada mungkin ada tombol untuk mengaktifkan bom bunuh diri itu."
"Saat tubuhnya menabrak Xue Yen itulah tombol itu tertekan dan bomnya langsung aktif."
"Bom itu menjadi semakin dahsyat karena ke 4 orang penjahat lain juga ikut mengaktifkan bom di tubuh mereka."
ucap Lu Sun mengemukakan pendapat nya.
"Bila di lihat dari cara kerjanya, kelihatannya kelompok perampok itu ada sindikatnya.."
"Mereka ada kemungkinan adalah bagian dari kelompok radikal, yang bertugas mencari dana, untuk kegiatan dan aksi mereka yang lebih besar lagi.."
"Aku sudah meminta Peter Ho dan Victor melacaknya, tidak mudah memang untuk memberantas kelompok yang berani mati dan tidak sayang nyawa seperti itu.."
ucap Lu Sun sambil menatap kosong kearah taman bunga.
"Sun ke ke bila kamu menanam bibit permusuhan dengan kelompok seperti itu, apa kamu tidak khawatir mereka akan dengan nekad menyerbu kemari, atau menargetkan gedung dan kantor group Lu..?"
__ADS_1
tanya Giok Lan cemas.
Lu Sun tersenyum pahit dan berkata,
"Tentu aku takut sayang, bahkan aku benar-benar sangat takut."
"Karena kini aku hanya memiliki kamu nenek dan anak-anak yang menemani hidupku."
"Tapi setelah kejadian di mall De Ji, di mana aksi mereka jadi berantakan karena kehadiran ku, aku yakin tanpa aku mencari mereka."
"Mereka juga akan mencari kita untuk balas dendam, jadi sebelum mereka bergerak lebih baik kita bergerak lebih dahulu."
"Di saat aku tidak ada sekalipun, di rumah ada Aliu Afei dan nenek, mereka tidak akan semudah itu bila ingin bikin onar di sini."
"Yang aku takutkan justru sekolah Kuang Ming dan semua kantor cabang kita."
ucap Lu Sun dengan alis berkerut.
"Semoga saja aku bisa segera memberantas kelompok ini, sebelum mereka sempat bergerak.."
ucap Lu Sun yang terlihat cemas.
Lu Sun sendiri sadar memberantas kelompok yang bergerak karena ideologi dan kepercayaan, itu sangat tidak mudah.
Ada kemungkinan bisa terjadi pembantaian masal kelompok atau suku tertentu.
Untuk urusan itu, Lu Sun akan menyerahkan sepenuhnya pada presiden Xi, Lu Sun sendiri hanya akan memberantas ketua dan orang orang penting di dalam kelompok itu.
Sedangkan para anggotanya,. Lu Sun akan sebisa mungkin membiarkan pemerintah yang mengurusnya.
Tadi saat presiden Xi datang menghadiri acara pemakaman, Lu Sun sudah menyampaikan jalan pemikiran nya.
Presiden Xi menanggapi dengan sangat positif, pemikiran yang Lu Sun utarakan.
Dia sudah berjanji akan memberikan dukungan penuh atas aksi yang akan Lu Sun lakukan.
Tiba-tiba HP Lu Sun berbunyi, Lu Sun mengeluarkannya dari saku, melihat yang memanggil nya adalah Viktor.
Lu Sun dengan sedikit agak buru-buru mengangkatnya dan berkata,
"Ya gimana Vik perkembangannya ? udah ketemu. ?"
"Ya bos sudah ketemu, di Nan Jing sendiri ada 5 markas yang menjadi pusat operasi nya."
"Di Beijing lebih banyak, markas mereka di Beijing mencapai 10 . tempat, yang terpisah-pisah."
__ADS_1
"Yang terbesar terletak di pusat kota Xin Jiang, di sana menjadi markas utama aliran mereka, "
ucap Viktor memberikan laporan.