
Lu Sun menahan langkahnya, saat mendengar suara sedu sedan tertahan Nenek Lu.
Akhirnya dia memutar badannya berjalan kembali, lalu menjatuhkan diri nya berlutut di depan nenek Lu dan berkata.
"Nenek maafkan aku yang telah membuat mu bersedih.."
"Nenek aku bukan penerus group Lu yang baik, semoga kelak di antara San er Dan er dan Fei er ada yang bisa meneruskan kejayaan Group Lu."
"Kalau nenek merasa keputusan ku salah, nenek boleh bantu melepaskan ku pergi dari dunia ini.."
"Aku juga lelah...aku sangat lelah nek..?"
ucap Lu Sun sambil mengangkat wajahnya menatap nenek Lu dengan putus asa.
Nenek Lu gemetaran di tempat, akhirnya dia berjongkok dan memeluk Lu Sun dan berkata,
"Tidak cucu ku, kamu bisa hidup kembali ke sisi nenek itu pun sebuah anugerah tidak terhingga."
"Bagaimana mungkin nenek tega.. Baiklah nenek akan ijinkan kamu pergi ngajar."
"Tapi berjanji lah pada nenek, kamu harus relakan kepergiannya, bangkitlah, hadapi hidup ini dengan bahagia.."
Lu Sun mengangguk dan berkata,
"Terimakasih nek... terimakasih pengertiannya.. aku janji aku akan berusaha.."
Melihat Lu Sun dan Nenek Lu , akhirnya bisa mengatasi ketegangan di antara mereka.
Giok Lan buru-buru maju membantu nenek berdiri, sedangkan Xue Yen membantu Lu Sun.
Setelah berdiri tanpa berkata apa-apa, hanya dengan tatapan penuh permohonan maaf.
Lu Sun berjalan meninggalkan ruang makan, menuju garasi di samping rumah.
Tak lama kemudian sebuah mobil Wrangler, menunggu di halaman depan, menunggu kedatangan Afei Lu San dan Lu Dan.
Mereka bertiga terlihat sudah berpakaian rapi dengan seragam dan tas sekolah mereka
Lu Sun tersenyum, melihat ketiga anak itu terlihat sangat akur, sambil tertawa dan bercanda mereka bertiga masuk kedalam mobil Lu Sun.
"Kalian bertiga sudah siap, tidak ada yang ketinggalan kan ?"
tanya Lu Sun sebelum berangkat.
Ketiga anak itu dengan kompak berkata,
"Kami sudah siap ayah..!"
"Baik kalau begitu, kita jalan sekarang.."
ucap Lu Sun sambil tersenyum menjalankan mobilnya menuju sekolah anaknya.
Di kediaman Lu Sun sendiri, setelah nenek kembali keruang rahasia.
Kini hanya ada Giok Lan dan Xue Yen yang duduk santai di taman sambil memperhatikan Lu Fei yang bermain dengan gembira, ditemani kedua pengasuh nya.
__ADS_1
"Lan Mei menurut mu apa yang sedang di pikiran Sun ke ke, ada begitu banyak bisnis tidak urus.."
"Malah pergi kesekolah, jadi guru.."
ucap Xue Yen yang terlihat bingung.
Giok Lan diam sejenak, kemudian berkata,
"Di hati Sun ke ke ada satu simpul rasa bersalah yang tidak pernah bisa dia memaafkan dirinya sendiri.."
"Kita bisa lihat bagaimana over protektifnya dia terhadap kita, contoh mudahnya saja."
"Peter yang cuma melakukan satu kali kesalahan karena lalai menjaga kita."
"Sun ke ke langsung menggantikannya dengan Aliu, bahkan kini kemampuan Aliu jauh melampaui Peter."
"Untungnya Aliu sangat rendah hati, tidak suka pamer, sehingga Peter pun tidak tahu kesaktian Aliu dan Afei sudah jauh melampauinya.."
"Kita juga bisa melihat bagaimana Sun ke ke mempersiapkan Afei, seolah-olah bila suatu hari dia pergi pun.."
"Ada yang menggantikan dirinya menjaga keluarga ini.."
"Soal dia memilih mengajar ku rasa, karena ingin menjaga dan melindungi anak-anak nya setiap saat."
"Dia tidak ingin ada kejadian kehilangan orang yang di sayangi nya untuk kedua kalinya."
"Terutama San er, satu satunya peninggalan kak Ying Ying untuk nya."
"Bukannya aku iri, coba kamu perhatikan bagaimana tatapan mata Sun ke ke saat melihat San er.."
ucap Xue Yen kurang percaya.
Giok Lan tertawa kecil dan berkata,
"Sekarang saya tanya ke kakak, pernah kah kakak melihat Dan dan Fei er permintaan mereka ditolak oleh Sun ke ke ?"
Xue Yen mengerutkan alisnya mengingat ingat, kemudian berkata,
"Pernah, meski jarang tapi pernah.."
ucap Xue Yen yakin.
"Lalu bagaimana dengan San er..?"
tanya Giok Lan sambil tersenyum simpul
Xue Yen kembali mencoba mengingat-ingat, akhirnya dia menggeleng kan kepalanya dan berkata,
"Rasanya tidak pernah,..sebentar memang tidak pernah, ya tidak pernah."
Giok Lan tersenyum dan berkata,
"Sekarang kamu paham kan maksudku.."
Xue Yen mengangguk dan berkata,
__ADS_1
"Lan Mei kamu sangat jeli dan cerdas, pantes saja Sun ke ke selalu lebih menyayangi mu."
Giok Lan menggelengkan kepalanya dan berkata,
"Tidak kakak Yen, kamu salah lagi."
"Sun ke ke menyayangi kita bertiga sama rata.."
"Sekarang dia terlihat lebih memperhatikan ku, Karena dia selalu merasa berhutang pada ku.."
"Karena aku menggantikan posisi kak Ying Ying merawat dan menjaga San er dengan baik.."
"Itu saja tidak lebih.."
"Malah sebenarnya bila tidak ada San er, Sun ke ke justru sangat menyayangi kakak melebihi aku.."
"Karena masakan kakak tidak akan pernah bisa tergantikan oleh siapa pun, termasuk aku dan kak Ying Ying sekalipun.."ucap Giok Lan memberi penilaian.
Xue Yen tersenyum malu dan berkata,
"Mulut kecil mu itu paling bisa aja bikin orang senang.."
"Sepertinya yang tinggal di langit sana, pasti di bekali ilmu kalau bicara selalu membuat hati orang senang ya..?"
ucap Xue Yen menggoda Giok Lan.
Giok Lan tertawa dan berkata,
"Bukan kah kakak juga berasal dari istana, istana pulau es, pantes saja pintar meledek orang.."
"Haisss kamu berani ya...awas lihat bagaimana aku membereskan mu.."
Giok Lan langsung tertawa dan melarikan diri dari Xue Yen yang mengejarnya ingin menggelitikinya.
Mereka berdua terlihat bersenda gurau dengan akrab.
Sementara itu setelah mengantar ketiga anaknya masuk kedalam kelas.
Lu Sun langsung pergi ke ruangan kepala sekolah, melihat kedatangan Lu Sun.
Sekretaris kepala sekolah buru-buru mempersilahkan Lu Sun mengikuti nya, menuju ruang pertemuan.
Ruangan ini khusus di sediakan oleh kepala sekolah, untuk menemui tamu-tamu penting yang ingin bertemu dengan nya.
Lu Sun duduk santai dan memperhatikan sekeliling ruangan yang di tata dengan rapi.
Di tengah ruangan, di mana Lu Sun duduk, ditata dengan rapi sebuah meja tamu dan kursi sofa yang melingkari meja tamu.
Sedangkan di sekeliling ruangan di hiasi dengan deretan lemari kaca yang di isi dengan piagam penghargaan foto-foto dan berbagai bentuk ukuran piala dan medali.
Yang semuanya adalah hasil dari kemenangan perlombaan yang di ikuti oleh anak didik mereka.
Di saat Lu Sun sedang asyik melihat lihat sekeliling ruangan, dari arah pintu masuk seorang pria berpakaian sangat rapi dan berkacamata.
Dia segera menghampiri Lu Sun dan mengulurkan tangannya sambil berkata,
__ADS_1
"Senang bertemu dengan anda Tuan Lu.."