KEMBALINYA SANG LEGENDA

KEMBALINYA SANG LEGENDA
BEKAL SARAPAN DARI DEBORAH


__ADS_3

Giok Lan dan Ying Ying yang tidak berani mengganggu Lu Sun yang sedang serius menangani Lu San.


Mereka berdua hanya bisa berpelukan sambil terus menerus bercucuran air mata.


Begitu pula dengan Alicia dan Deborah kedua gadis itu yang ikut berlutut di dekat Lu San juga ikut menangis, tanpa suara.


Karena mereka menutup mulut mereka agar jangan sampai keluar suara yang akan mengganggu konsentrasi Lu Sun.


Sesaat kemudian Lu Sun mengeluarkan HP nya dari saku celana nya, dan melakukan panggilan.


"Halo ayah, ini saya,.. ayah saya mau minta tolong kirimkan mobil ambulance ke sekolah Kuang Ming sekarang bisa..?"


ucap Lu Sun begitu telponnya tersambung.


"Ya,..ya..bisa...bisa..ada apa sebenarnya...?"


tanya Prof Billy Teng mertua Lu Sun dengan cemas.


Lu Sun menghela nafas panjang dan berkata,


"Nanti akan saya ceritakan saat bertemu di rumah sakit.."


"Baik..baik..ayah akan uruskan semuanya, kamu tenang saja.."


ucap Prof Billy buru buru setelah itu dia langsung mematikan panggilan Lu Sun.


Lu Sun menyimpan HP nya lalu menoleh kearah kedua istrinya dan berkata,


"Kita harus menunggu di halaman depan sekolah, agar saat ambulance tiba San er bisa langsung di bawa kerumah sakit untuk di tangani.."


"Ba..Ba.. bagaimana kondisi San er..Sun ke ke..?"


tanya Giok Lan dengan sedih.


Lu Sun menggelengkan kepalanya sambil menghela nafas panjang, dia berkata.


"Bisa tertolong atau tidak, kita serahkan pada semangat hidupnya sendiri dan takdirnya."


"Aahhh...!"


keluh kedua istri Lu Sun langsung terduduk lemas, meledak lah suara tangisan sedih kedua ibu tersebut, yang dari tadi mereka tahan tahan.


Lu Sun memejamkan matanya, airmata juga turun menetes dari kedua sudut matanya.


Kedua tangannya terkepal wajahnya mengeras aura Naga mulai muncul mengelilingi tubuhnya.


"Wu Sin,..aku tahu ini ulah mu, aku bersumpah akan segera menghabisi mu dan semua pengikut mu ."


gumam Lu Sun penuh kemarahan.

__ADS_1


Sesaat kemudian Lu Sun sudah kembali tentang, dia membuka kembali matanya, menatap kearah Pak Ma yang masih berdiri kebingungan di tempatnya.


"Pak Ma, dan para guru lainnya, cepat kalian bantu aku menyadarkan para murid-murid yang pingsan."


ucap Lu Sun sambil memberi contoh cara mengurut untuk menyadarkan semua murid SMA yang ada di sana.


Setelah selesai, Lu Sun baru dengan hati-hati menggendong tubuh Lu San yang lunglai, menuju halaman depan sekolah di iringi oleh kedua istrinya.


Deborah dan Alicia sambil menangis sedih, juga ikut mengiringi di belakang Giok Lan dan Ying Ying.


Saat tiba di halaman depan sekolah, Lu San mulai siuman dan bisa membuka matanya.


Tapi saat menyadari seluruh kekuatan Im Yang Sen Kung nya sudah musnah tanpa sisa.


Kedua kaki dan tangannya tidak ada yang bisa di gerakkan dia pun tersenyum pahit.


Dia sangat tahu kondisinya saat ini, lebih dari siapapun.


Lu San menatap kearah wajah ayahnya yang sedang duduk memangku dirinya di halaman depan sekolah.


Dia melihat ayahnya sedang melamun sedih, sedangkan kedua ibunya menangis sedih tanpa henti.


Selain itu dia juga melihat Alicia dan Deborah juga sedang terisak menahan tangis, tapi melihat mereka berdua baik baik saja.


Lu San pun tersenyum lega, setidaknya pengorbanan nya kali ini tidak sia sia.


Kalaupun harus pergi dia akan pergi dengan lebih tenang.


ucap Lu San pelan.


Tapi semua orang dapat mendengarnya dengan jelas, mereka buru-buru menoleh kearah Lu San.


Ying Ying dan Giok Lan langsung menghentikan tangisnya, mereka mendekati Lu San dan membelai wajahnya dengan tangan gemetar dan berkata,


"Anak ku,..kamu sudah sadar syukur lah.."


Ibu,..kalian berdua jangan menangis lagi,.. bila San er harus pergi.. San er tidak ingin kalian mengantar San Er dengan tangisan.."


"San er ingin kalian tersenyum dan merelakan kepergian San er, anak nakal yang selalu membuat kalian susah.."


"Terutama mama Giok,.. maafkanlah San er ma.."


ucap Lu San pelan sambil tersenyum pahit.


Lu Sun yang mendengarkan ucapan Lu San, kembali memejamkan matanya sambil mengangguk kecil dan mengigit bibir bawahnya sendiri yang sedikit gemetaran.


"Tidak San er, kamu tidak boleh bicara begitu, kamu harus bertahan..!"


"Dengarkan mama San er, mama tidak pernah meminta dan memaksa mu melakukan sesuatu."

__ADS_1


"Tapi sekali ini mama tidak bisa penuhi permintaan mu..!"


"Kamu harus dengarkan mama,..nak berjuanglah untuk terus hidup demi mama nak, hu...hu...hu..hu..!"


ucap Giok Lan meneriaki Lu San dan akhirnya dia menangis tersedu-sedu bersandar di bahu suaminya.


Sedangkan Ying Ying juga sangat bersedih, hingga tidak bisa berkata apapun.


Selain terus menitikberatkan airmata sambil membelai kepala putranya dengan lembut.


Putra yang dengan susah payah dia kandung dari lahirkan sendiri, serta mengurusnya sendiri.


Hingga sebesar ini, kini harus berakhir seperti ini, hatinya benar-benar seperti sedang di sayat sayat dan di taburi garam.


Lu San berusaha tersenyum sambil menahan rasa nyeri, dia kembali berkata,


"Baiklah mama,.. San er berjanji pada mu, San er akan berusaha.."


Lalu Lu San menoleh ke arah Deborah dan Alicia sambil tersenyum lembut dia berkata,


"Kalian berdua jangan menangis, aku..aku sangat gembira kalian berdua..baik baik saja ."


"Terimakasih.. Deborah...bekal mu.. bekal mu..mana..aku...aku..ingin menyicipi nya."


"Tadi sebelum pingsan,...bekal itu ada di dekat ku.."


ucap Lu San mulai terputus putus, karena rasa nyeri semakin lama semakin hebat


Alicia buru buru mengeluarkan sebuah kotak bekal dari dalam tasnya.


Tadi saat di lokasi, dia yang menyimpan nya tadinya mau dia bawa pulang untuk di teliti isinya.


Karena dia penasaran dengan apa yang Deborah siapkan untuk Lu San, sehingga Lu San sekarang bisa berpaling darinya.


Tapi karena kini, Lu San, memintanya, dia pun terpaksa mengeluarkannya, karena tidak enak hati bila tidak memenuhi permintaan Lu San yang lagi kritis.


Melihat kotak bekal itu, Lu San langsung tersenyum penuh semangat dan berkata,


"Terimakasih Alicia, kamu sudah membantu menyimpankannya.."


"Deborah,..tolong bantu suapin aku boleh.?"


ucap Lu San penuh harap.


Deborah menganggukkan kepalanya sambil bercucuran air mata, dia menerima kotak itu dari Alicia.


Deborah membuka penutup bekal yang rapat dan rapi itu.


Begitu terbuka wangi semerbak kue Coy Pan dengan taburan bawang putih goreng langsung merebak menggugah selera.

__ADS_1


Lu San menelan air liurnya sendiri, menatap bekal sarapan yang di siapkan Deborah khusus untuk nya.


Deborah membuka pembungkus sumpit kecil lalu menyumpit sepotong kue Coy Pan dengan tangan gemetar dan cucuran air mata dia menyuapi Lu San.


__ADS_2