KEMBALINYA SANG LEGENDA

KEMBALINYA SANG LEGENDA
PERUBAHAN LU SUN


__ADS_3

Semua bunga ini adalah bunga-bunga kesayangan Ying Ying.


Ying Ying lah yang membeli menanam dan merawat bunga-bunga ini, hingga tubuh indah seperti ini.


Lu Sun sudah merencanakan akan membuat sebuah makam untuk mengenang Ying Ying ditempat ini.


Makanya dia memesan dua peti mati yang berpenutup kaca akan di gunakan untuk menyimpan jasad Ying Ying diruang rahasia.


Yang pengunjungnya sangat terbatas.


Sedangkan yang berpenutup full kayu, akan di gunakan mengisi barang-barang peninggalan Ying Ying dan di sinilah peti itu akan di kubur dan di buat sebuah pusara untuk mengenang Ying Ying.


Dan di sini pengunjungnya lebih bebas dan bersifat umum.


Siapa pun yang ingin berjiarah kemari, tidak akan di larang berlaku bebas.


Tepat di samping taman bunga ada sebuah lapangan kecil yang terletak di pinggir kolam ikan.


Di sanalah peti pesanan Lu Sun di letakkan, bahkan sebuah lubang dan tenda untuk pemakaman sudah di siapkan.


Lu Sun memasukkan kedua tas Ying Ying kedalam peti mati tersebut.


Setelah itu dia langsung menutup kembali peti mati tersebut.


Lu Sun memaku sendiri peti mati tersebut dengan menggunakan telapak tangannya yang keras seperti baja.


Hanya sekali hantam paku langsung melesak masuk kedalam papan kayu seperti melesak kedalam potongan tahu.


Padahal kayu kayu itu sangat keras dan sulit di paku dengan menggunakan palu sekalipun.


Setelah memakunya hingga selesai Lu Sun berdiri di hadapan peti tersebut menghela nafas panjang.


Sesaat kemudian dia memutar badannya lalu kembali ke kamarnya lewat balkon.


Lu Sun tak ingin keluar masuk rumah menganggu penghuni lain.


Jadi dia memilih terbang ke balkon dan masuk ke kamarnya lewat sana.


Setiba di dalam kamar yang sepi dan hening, Lu Sun membuka korden jendela lebar-lebar, pintu balkon pun di biarkan terbuka lebar.


Lu Sun duduk ditepi ranjang yang luas dan sepi seorang diri.


Angin dingin dari luar berhembus menerpa dirinya, dia duduk termenung ditemani cahaya bulan.


"Bulan yang indah, angin yang dingin."


"Sayang nya kini hanya ada mereka yang menemani ku."


"Di kamar yang sepi dan lenggang ini."

__ADS_1


"Aku bahkan tidak tahu apakah ini nyata atau cuma mimpi.."


"Yang jelas adalah hati dan perasaan ku begitu sepi, setelah kamu pergi.."


"Sayang apakah kamu ditempat lain, yang jauh di sana, mendengar jeritan ia hati ku ini.."


gumam Lu Sun seorang diri.


Kemudian dia memperbaiki posisi duduknya menjadi bersila, sambil memejamkan matanya.


Tidak ada lagi airmata yang mengalir di matanya, sesuai janjinya dengan Ying Ying.


Kini airmata darah hanya akan mengalir di hatinya yang terus berdarah, karena luka yang ditorehkan begitu mendalam dan membekas di sana.


Tidak tahu berapa lama Lu Sun dalam kondisi seperti itu, diam mematung bersila di atas ranjang.


Hingga matahari pagi masuk menyinari seluruh tubuhnya.


Rambutnya yang tadinya hitam tercukur dengan rapi, kini memanjang hingga menutupi punggungnya.


Saat tertimpa sinar matahari rambut Lu Sun seperti perak berkilauan Indah.


Sambil menghela nafas panjang, Lu Sun membuka matanya yang bersinar mencorong menakutkan.


Dia berjalan menuju balkon menghirup nafas dalam dalam sambil memejamkan matanya menikmati udara segar pagi memenuhi rongga dadanya.


Baru perlahan-lahan dia menghembuskan nya keluar lagi.


Setelah melakukan berulang kali, sambil tersenyum sedih Lu Sun melayang turun ke arah taman samping rumah.


Lalu dia berjalan pelan menuju tempat pemakaman yang terlihat masih sepi, hanya terlihat beberapa petugas pemakaman duduk santai di sana sambil ngobrol merokok dan ngopi.


Melihat kedatangan Lu Sun, mereka sedikit terkejut, buru-buru berdiri memberi hormat kearah Lu Sun.


Lu Sun menganggukkan kepalanya dan memberi kode agar mereka santai dan silahkan melanjutkan kegiatan mereka.


Lu Sun memilih duduk santai bersandarkan tiang di sebuah pondok peristirahatan yang di bangun di atas kolam ikan.


Saat Lu Sun menunduk melihat rambutnya yang panjang terurai tertiup angin.


Dia hanya tersenyum pahit melihat rambutnya yang kini tiba-tiba kembali memanjang dan semua berwarna putih seperti benang perak.


Tak lama kemudian terlihat Giok Lan datang bersama Lu San ketempat tersebut.


Tapi Giok Lan sedikit ragu melihat kearah pondok peristirahatan di mana dalam posisi memunggungi nya.


Terlihat seorang pria berambut putih dan panjang sedang duduk di sana.


Bila dari bayangan punggung nya, sepertinya dia mengenalinya, tapi siapa dan di mana dia mengenal pria berambut putih itu, dia sama sekali tidak ingat.

__ADS_1


Selain pria itu juga ada beberapa petugas pemakaman yang sedang duduk santai di sana.


Melihat kedatangan Giok Lan mereka kembali buru-buru berdiri dan memberi hormat.


Giok Lan hanya mengangguk kecil menanggapi mereka, dia lebih penasaran dengan pria berambut putih yang duduk memunggunginya di pondok peristirahatan.


Giok Lan sambil menggandeng Lu San berjalan menghampirinya.


Tapi begitu sampai di pondok sebelum pria itu menoleh, Lu San melepaskan pegangan tangan Giok Lan dia langsung berlari menuju pria tersebut sambil berteriak,


"Ayah...Ayah...ayah...!"


"San er tunggu...jangan San er...!"


teriak Giok Lan kaget melihat reaksi Lu San yang tiba-tiba itu.


Mendengar suara teriakan anaknya, Lu Sun yang sedang duduk termenung pun menoleh kebelakang sambil tersenyum lembut.


Dia memutar tubuhnya berjongkok memeluk dan menggendong anak tersebut.


"Ayah...ayah...Ibu...ibu...Ayah ibu telah pergi ayah..San er mau ibu...hu..hu..hu..hu..!"


"San er anak baik...jangan nangis sayang...jangan nangis Ya.."


"Ada ayah dan mama giok disini yang akan selalu menemani San er.."


"San er sudah besar..anak pintar tidak boleh menangis.."


"Mulai sekarang ayah janji..ayah yang akan gantikan ibu menemani San er kesekolah..jadi San er jangan nangis lagi ok.."


ucap Lu Sun sambil membelai rambut anaknya.


"San er rindu sama ibu..ayah.."


"San er ingin bertemu ibu.."


"Setelah pemakaman selesai, ayah janji akan membawa San er menemui ibu.."


"Tapi San er harus janji dengan ayah tidak boleh nakal dan selalu menuruti perkataan mama Giok ya.."


"San er mau kan ?"


Lu San mengangguk dan berkata,


"Baik ayah San er akan menurut dengan mama Giok.."


"Mama Giok San er sayang sama mama Giok.."


ucap Lu San meronta dari pelukan ayahnya kemudian berlari mendekap Giok Lan yang berdiri mematung menatap kearah Lu Sun dengan kaget.

__ADS_1


Saat Lu San mendekapnya Giok Lan baru tersadar, dia pun sedikit membungkuk mencium Lu San dan berkata,


"San er sayang jangan bersedih, mulai saat ini mama giok yang akan gantikan ibu, merawat dan menjaga mu.."


__ADS_2