
Bryan yang sedang mengawasi dari atap gedung diseberang jalan dengan teropong militernya.
Kehilangan pandangannya yang menjadi hijau semua di layar lensa teropongnya.
Akibat cahaya ledakan dari helikopter Apache miliknya yang jatuh.
Dia langsung membanting teropongnya keatas lantai dan memaki dengan kata,
"SHIT...!!"
"Mahluk apa dia sebenarnya..?"
ucap nya sambil menoleh kearah Mark sepupunya itu.
Tapi Mark terlihat gemetaran melihat kearah nya dengan wajah pucat dan keringat bercucuran, bibirnya gemetaran seperti akan mengucapkan sesuatu tapi tidak bisa keluar.
Bryan menatapnya dengan heran dan bertanya,
"Kamu kenapa Mark.?"
"Apa kabar teman ? hebat juga kamu bersembunyi di sini ? sudah cukup menonton keramaian ?"
Suara Lu Sun yang muncul dari belakang nya, seperti suara hantu yang muncul tiba-tiba membuat Bryan benar-benar terkejut dan ngeri.
Dia buru-buru melihat ke belakang, meski dia tidak mengerti ucapan Lu Sun tapi dia paham ini pasti bukan hal baik.
Dengan ketakutan dia segera mengangkat kedua tangannya keatas dan berkata,
"Hai Bro, santai..santai.. ada hal apa kita bisa rundingkan baik-baik.."
"Mau Harta .. wanita... kekuasaan... semua akan kuberikan.. asal lepaskan saya..ok.?"
Lu Sun tersenyum dingin menanggapi nya, meski dia tidak mengerti tapi dia paham Bryan pasti ketakutan dan sedang tawar menawar dengan nya.
Lu Sun pun berkata,
"Apa kamu pernah berpikir akan ada hari seperti ini..?"
"Bagaimana dengan korban-korban mu yang pernah kamu celakai dan nodai, apakah anda pernah mengampuni mereka ?"
Lu Sun tanpa banyak cakap lagi usai berkata, dia langsung mendorong bahu Bryan hingga terjengkang kebelakang.
Sebelum tubuhnya mendarat di atas lantai, terlihat Lu Sun menebaskan tangannya beberapa kali di udara.
Bryan langsung menjerit histeris, saat tubuhnya mendarat diatas tanah, Bryan telah kehilangan kesadarannya.
Hanya terlihat dari bagian bawah perutnya darah mengalir deras, selain itu kedua lengan bawah sebatas siku dan kedua kaki sebatas lutut telah terpotong dan mengucurkan darah.
__ADS_1
Si Mark menjatuhkan diri berlutut sambil menangis dan terkencing-kencing melihat potongan kaki dan tangan serta Tongkat kejantanan Bryan tergeletak didepan nya.
"Dimana letak gedung kantor walikota ?"
tanya Lu Sun dengan suara dingin.
Mark yang sudah sangat ketakutan dengan tangan gemetar sambil menangis ketakutan.
Dia menunjuk ke satu arah di mana terlihat sebuah bangunan megah dengan halaman taman dan kolam air mancur yang indah.
Letaknya kebetulan tidak terlalu jauh dari tempat mereka berada saat ini.
Suara sirene mobil polisi mulai terdengar mendekati tempat tersebut.
Lu Sun dengan gerakan cepat memotong kedua daun telinga dan Tongkat kejantanan Mark.
Lalu dia menenteng kerah baju Mark dan Bryan terbang menuju depan gedung kantor walikota yang sepi.
Lu Sun kemudian menggantung dua sosok yang pingsan tidak sadarkan diri, di depan pintu masuk kedalam kantor walikota.
Kemudian dia menggunakan darah kedua orang yang menetes di lantai untuk menulis di pintu balai kota,
"Akibat hukum yang buta, keadilan yang telah mati.."
Setelah itu Lu Sun melesat meninggalkan tempat itu kembali ke lokasi di mana Paman Hogan dan Jennifer sedang menunggunya.
Sekitar area parkir kini telah di jaga ketat oleh mobil polisi dan di pasangi polisi lime berwarna kuning.
Juga terlihat beberapa mobil pemadam kebakaran stand by di sana, beberapa petugas pemadam kebakaran terlihat sibuk memadamkan api, akibat tembakan rudal dan ledakan helikopter.
Lu Sun cuma melihat sekilas semua hal itu, dia sudah berada di sebelah truk langsung segera naik keatas mobil truk menunggu kedatangan Paman Hogan dan Jennifer.
Begitu kedua orang itu muncul dan masuk kedalam truk.
Mereka melihat Lu Sun dengan kaget dan bertanya,
"Apa yang terjadi ?"
Lu Sun hanya menanggapinya dengan senyum dan berkata,
"Ayo kita jalan ke bandara sekarang.."
"Besok pagi kalian juga akan tahu dari surat kabar."
Jennifer yang tahu Lu Sun pasti penyebab semua nya, tanpa banyak tanya lagi dia segera menjalankan mobilnya meninggalkan tempat tersebut.
Sepanjang perjalanan mereka beberapa kali berpapasan dengan mobil polisi dan mobil ambulance yang memasang sirene dan lampu sirene yang berisik dan menyilaukan mata.
__ADS_1
Tapi Jennifer tidak memperdulikan nya, dia tetap melaju dengan santai menuju bandara Calgary.
Mobil Truk besar tidak boleh memasuki bandara, terpaksa Jennifer menurunkan Lu Sun di pinggir jalan masuk menuju bandara.
Setelah berpelukan dan bersalaman sambil saling mengucapkan terimakasih, sejenak kemudian, Lu Sun pun turun dari mobil truk.
Melambaikan tangan sebagai salam perpisahan dengan paman Hogan dan Jennifer sambil tersenyum melepas kepergian truk panjang itu.
Setelah bayangan mobil tidak terlihat lagi, Lu Sun baru berjalan sambil menunggu taksi lewat yang sedang menuju bandara.
Tapi karena Lu Sun berjalan melalui pintu masuk sedangkan taksi yang melalui pintu masuk kebanyakan sudah ada penumpangnya.
Akhirnya Lu Sun harus terus berjalan kaki, memasuki bandara tanpa ada taksi yang bersedia berhenti dan mengangkutnya.
Tapi mungkin Lu Sun masih bernasib cukup baik sebuah bis umum menuju bandara, tiba-tiba berhenti di depan nya dan pintu bis pun terbuka otomatis.
Tanpa buang waktu lagi Lu Sun langsung berlari menghampiri bis tersebut kemudian naik kedalam bis.
Karena tempat duduk penuh Lu Sun terpaksa berdiri bergelantungan di dalam bis.
Lu Sun berpesan kepada supir bis agar diturunkan di area lapangan terbang private.
Meski tidak mengerti bahasa Lu Sun, tapi mendengar kata lapangan terbang private.
Supir bis pun mengangguk mengerti, dan Lu Sun langsung di turunkan di tepi jalan yang memasuki area lapangan parkir pesawat terbang pribadi.
Lu Sun tidak memiliki uang koin untuk bayar bis yang dia tumpangi, dia menyelipkan selembar duit kertas kedalam kantong supir bis, lalu bergerak turun dari mobil bus itu.
Supir bis yang melihat Uang yang di selipkan oleh Lu Sun sangat terkejut, segera berteriak memanggil Lu Sun.
Tapi Lu Sun tidak memperdulikan panggilan tersebut dia hanya melambaikan tangannya, sambil mengeluarkan ponselnya menelpon Giok Lan.
Begitu tersambung Giok Lan langsung mengangkatnya dan bertanya,
"Sayang kamu di mana ? biar ku kirim George menjemput mu ."
"Tidak usah sayang ini aku sudah dekat dengan pos masuk, cuma aku tidak punya kartu pass untuk masuk."
ucap Lu Sun sambil tersenyum hangat.
"Kamu tunggu sebentar aku akan kesana."
Lu Sun mengangguk dan berkata,
"Baiklah, cuaca di luar agak dingin, jangan lupa pakai baju yang tebal bila kesini."
Mendengar pesan Lu Sun yang penuh perhatian, Giok Lan langsung tersenyum manis dan berkata,
__ADS_1
"Makasih sayang.."