KEMBALINYA SANG LEGENDA

KEMBALINYA SANG LEGENDA
SERANGAN MICHIKO


__ADS_3

"Tuh di sana duduk sama Donnie kan bisa..."


ucap Deborah tanpa dosa.


"Maaf aku sedang tidak berbicara dengan mu, lebih baik kamu menyingkir dari sini.."


ucap Michiko yang mulai kesal.


Afei yang mendengar nada Michiko mulai berubah, dia buru-buru berdiri dari kursinya dan berkata,


"Alicia nanti kita lanjutkan saat jam istirahat aja ya, sebentar lagi guru Ciu akan tiba."


"Lebih baik kalian berdua kembali ketempat duduk kalian saja."


Alicia melihat kearah jam tangannya dan berkata,


"Masih jam 7 kurang kok, guru Ciu biasanya datang jam 7,45 masih ada waktu tenang aja."


Deborah tersenyum mengejek dan berkata,


"Kalau aku tidak mau kamu mau apa,.dasar Bagero.., kembali sana ke negeri mu."


"Jangan sok di sini, era penjajahan mu sudah berakhir."


ucap Deborah sinis.


"Cari mampus rasakan,...!"


ucap Michiko menampar dan melempar tubuh Deborah seperti melempar sampah.


"Plastik,! Brass..!"


"Aihhhh..."


Afei posisinya terhalang oleh Alicia sehingga tidak sempat mencegah ataupun menolong Deborah yang tubuhnya sudah terlempar kedepan menuju papan tulis.


Bila sampai terbanting, Deborah pasti akan mengalami cedera yang tidak ringan.


Deborah sendiri hanya bisa berteriak kaget dengan wajah pucat.


Dia tidak menyangka, Michiko ternyata begitu kuat, saat ini mau nyesal juga sudah terlambat.


Dia hanya bisa memejamkan matanya, menunggu tubuhnya menabrak tembok didepan kelas.


Alicia juga terkejut, dia melongo sambil menutupi mulutnya yang setengah terbuka, melihat tubuh sahabatnya melayang kearah papan tulis.


Tapi disaat tubuh Deborah hampir menabrak papan tulis, kepalanya di tahan dengan lembut oleh sebuah telapak tangan, pinggang nya juga ditahan oleh sebuah lengan yang kuat.


Deborah yang merasa dirinya tidak apa-apa segera membuka sepasang matanya menatap kearah penolong nya.


Begitu melihat siapa penolongnya, Deborah langsung terpaku ditempat.


ternyata yang menolong dirinya adalah Lu San, kakak Afei.


"Te... terimakasih.."


ucap Deborah gugup dengan wajah tersipu malu.

__ADS_1


Lu San hanya mengangguk kecil dan berkata,


"Tidak apa-apa, hanya kebetulan saja.."


"Kamu tidak apa-apa kan,..?"


tanya Lu San.


Di tanya begitu, Deborah baru tersadar pipinya terasa sangat tebal dan sakit akibat di tampar oleh Michiko tadi.


Sambil bersungut-sungut dan berusaha menahan airmata nya yang hampir runtuh dia menggelengkan kepalanya.


Lu San bisa melihat dengan jelas bekas telapak 5 jari Michiko yang membekas di wajah Deborah.


Saat pas Lu San lewat didepan kelas Afei, dia hanya melihat ada sesosok tubuh yang melayang hampir menabrak papan tulis.


Tanpa berpikir panjang, dia secara reflek menggunakan Wu Ying 72 Pian PU, sehingga dengan cepat bisa tiba tepat waktu menolong Deborah.


Tapi dia tidak melihat sama sekali Deborah di tampar Michiko.


Melihat bekas di wajah Deborah, Lu San pun bertanya,


"Siapa pelakunya,..?"


Deborah dengan takut takut berlindung di belakang Lu San sambil menunjuk kearah Michiko.


Lu San kini mengalihkan pandangannya kearah yang di tunjuk oleh Deborah, Lu San sempat melihat Alicia duduk di sebelah Afei hatinya menjadi panas


Tapi hanya sesaat, kini dia mengalihkan perhatiannya pada Michiko.


Kemaren sudah di lepaskan oleh ayahnya, kini masih berani datang kembali kesekolah nya, diam diam Lu San harus akui nyali gadis ini cukup besar.


Lu San menatap tajam kearah Michiko dan berkata,


"Kemaren ayah ku sudah melepaskan mu pergi, nyali mu besar sekali berani kembali datang dan bikin onar di sini.?!"


Kak San,.. tenanglah, ini bukan yang seperti kamu lihat,.. biar aku jelaskan.."


ucap Afei mencoba maju menengahi


Lu San mengalihkan perhatian ke Afei dan berkata,


"Kamu ini,.. yang di gigit burung mu, kenapa otak mu yang jadi rusak..?"


"Dia jelas jelas datang kemari berbuat onar, kamu masih membela nya."


"Bila aku tadi tidak kebetulan lewat, tidak tahu jadi apa Deborah, lihat wajahnya sampai kini masih bengkak."


Teguran Lu San membuat Afei sulit menjawab, selain itu dia juga sangat malu hingga wajahnya menjadi merah padam.


Alicia menatap kearah Afei dengan wajah pucat dan tatapan penuh kekecewaan.


Sedangkan Deborah terus menatap Lu San dengan penuh kagum dan berterimakasih.


Sedangkan Michiko bersikap tenang, dia malah sambil tersenyum mengejek berkata,


"Ayah nya Singa, sayang nya anaknya cuma seekor anjing yang pintar menggonggong dan bersembunyi di balik nama besar ayahnya.."

__ADS_1


Ucapan Michiko ini menghujam kedalam sanubari Lu San dengan sangat dalam.


Dia sangat sensitif terhadap gal ini, bahkan dirinya sendiri pun sulit menerimanya.


Kini hal itu di katakan oleh Michiko di depan umum tentu saja Lu San sangat marah emosi dan tidak bisa menerimanya.


Sepasang matanya berkilat menakutkan, tapi bibirnya tersenyum tenang dan berkata,


"Jangan lupa seekor anjing juga bisa berbalik mengigit bila terdesak.."


"Jaga mulut mu, atau kamu akan menyesal.."


ucap Lu San dingin.


"Ha...ha...ha...! takut ihhh,..! ngeri anjing marah mau gigit orang.."


ucap Michiko sambil tertawa mengejek.


"Hei kamu dengar baik-baik, bila bukan memandang wajahnya, hari ini juga aku akan mematahkan kaki mu, agar kamu menjadi anjing pincang seumur hidup."


"Siapa yang mematahkan kaki siapa masih belum tahu, jangan keburu senang dan ambil keputusan.."


"Aku menantang mu di halaman belakang bila berani datang lah kesana, buktikan ucapan mu.."


ucap Lu San dingin dan berusaha menahan sabar.


Lu San tidak bodoh, dia tidak akan terpancing dan kehilangan ketenangan, itu adalah perilaku bodoh yang merugikan diri sendiri."


Setelah berkata, dengan tenang Lu San melangkah meninggalkan ruangan kelas, berjalan menuju halaman belakang sekolah.


Hampir seluruh murid di kelas itu, ikut dengan Lu San pergi ke halaman belakang.


kecuali ketua kelas, dia memutuskan tetap diam kelas, menunggu kedatangan guru Ciu dan memberi penjelasan atas apa yang terjadi di kelas mereka.


Lu San berdiri tenang di tengah lapangan halaman belakang yang luas.


Afei juga hadir di sana dan berusaha membujuk Lu San agar membatalkan perkelahian tidak perlu itu.


"Afei,.. apa kamu ingin melihat ku menjadi seekor anjing tak berguna kamu baru puas..?"


tanya Lu San sambil menatap Afei.


Afei buru buru menggelengkan kepalanya dan dia tidak berani bicara lagi.


Takut semakin bicara akan semakin menyakiti perasaan kakak nya.


Michiko tiba di hadapan Lu San dan berkata,


"Ayo majulah tunggu apalagi, atau kamu sekarang berubah pikiran ingin berlindung di belakang adik mu ?"


Lu San tertawa dan berkata,


"Kamu wanita, aku akan mengalah pada mu majulah.!"


Michiko tersenyum sinis, dia langsung mengambil ancang-ancang, terus langsung melesat kearah Lu San melancarkan serangan


18 Tapak Penahluk burung Hong

__ADS_1


__ADS_2