KEMBALINYA SANG LEGENDA

KEMBALINYA SANG LEGENDA
USAHA GIOK LAN


__ADS_3

Begitu pintu kamar ruangan VVIP di dorong dari luar hingga terbuka lebar.


Giok Lan yang datang sambil menggandeng tangan Lu San berjalan masuk kedalam ruangan tersebut.


Dia melihat Lu Sun terduduk termenung di kursi ruang tamu seorang diri.


Sedangkan Prof Billy ayah Xue Yen berdiri di dekat jendela terlihat sedang berbicara dengan seseorang lewat telpon.


Giok Lan dan Lu San buru-buru menghampiri Lu Sun, kemudian duduk di sisinya.


Giok Lan dengan lembut menyentuh bahu Lu Sun dan bertanya,


"Sun ke ke apa yang terjadi di mana kak Ying Ying ?"


Lu Sun menoleh menatap Giok Lan dengan tatapan mata kosong, airmata kembali bercucuran membasahi pipinya.


Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun Lu Sun perlahan-lahan mengangkat tangannya menunjuk kearah kamar bagian dalam.


"Ayah mana ibu..? kenapa ayah menangis ?"


tanya Lu San dengan tatapan mata polos.


Lu Sun kini menatap anaknya, lalu dia mengulurkan tangannya yang bisa memanjang menggendong Lu San kedalam pangkuannya.


Sambil merangkul anaknya yang mengingatkan dirinya akan Ying Ying, Lu Sun berkata dengan suara terbata-bata,


"Ibu...ibu.. telah pergi nak..."


"Apa maksud ayah ? ibu pergi kemana, ayah..?"


tanya Lu San bingung melihat sikap ayahnya.


Sambil memeluk dan membelai kepala anaknya dengan lembut dengan suara sedikit bergetar Lu Sun berkata,


"Ibu..sudah ..pergi.. ketempat.. yang tenang..di atas sana.."


"Di atas mana, ? ayah.."


tanya Lu San masih bingung.


Lu Sun menunjuk kearah jendela, kearah awan yang sedang berarak di langit lalu berkata,


"Di atas sana nak... diatas langit..di suatu tempat yang tenang..dan damai.."


"Bukan kah ayah bisa terbang ? ayo ayah bawa San er menemui ibu di atas sana, Dan er ingin bertemu dengan ibu.."


ucap Lu San sambil menatap ayahnya dengan penuh harap.


Lu Sun menghela nafas panjang kemudian menggelengkan kepalanya dan berkata,


"Tidak bisa San er,..Ibu ada di tempat yang sangat jauh... yang tidak bisa di jangkau. oleh ayah atau siapapun.."

__ADS_1


"Saat ini ayah hanya bisa..membawa mu melihat jasad ibu mu saja, yang sedang tertidur pulas.."


ucap Lu Sun sambil menggendong Lu San masuk kedalam kamar.


Di mana di sana terlihat Giok Lan sedang berlutut di samping sisi ranjang memegang tangan Ying Ying sambil menangis tersedu-sedu sambil terus memanggil nama Ying Ying.


Melihat tubuh ibunya yang sedang terbaring kaku di atas ranjang dengan mata tertutup, Lu San langsung meronta dari gendongan ayah nya dan berteriak sambil menangis.


"Ibu...! ibu...! ibu...! aku mau ibu..! ayah lepaskan San er...ibu...!"


Lu Sun menurunkan San er dari gendongan nya, dan melepaskan anaknya pergi menghampiri jasad Ying Ying.


Lu San sambil menangis berlari menghampiri ibunya, sambil menggoyang goyang lengan ibunya.


Dengan wajah basah airmata, Lu San berteriak.


"Ibu...! Ibu ..! Ibu...! bangun ibu..! jangan tinggalkan San er...! ayo bangun ibu...!"


"Ibu lihat lah ini San er ibu...!"


"San er janji tidak akan nakal lagi...! bangunlah ibu..ayo bangun ibu...!"


"San er janji tidak akan minta di belikan mainan lagi..! ibu bangunlah jangan tinggalkan San er..!


hu..hu..hu..hu..hu..! ibu...ibu..ibu...hu..hu..hu..!"


Teriak Lu San sambil terus mengguncang-guncang lengan ibunya.


"Ibu Giok...ibu giok.. beritahukan pada ibu...San er janji tidak akan nakal lagi...asalkan ibu bangun kembali..dan tidak pergi meninggalkan San er...San er pasti akan menuruti semua kata-kata ibu.."


Giok Lan tidak tahu mau berkata apa, sambil memejamkan matanya menahan air mata yang bercucuran.


Dia mempererat rangkulannya pada Lu San sambil terus membelai kepala anak itu penuh kasih sayang.


"San er anak ku yang baik..jangan menangis...jangan menangis..ibu giok akan selalu menyayangi mu... tenanglah sayang.."


"Jangan menangis lagi tidurlah... tidurlah.."


bisik Giok Lan pelan sambil mendendangkan lagu tidur yang biasa dia dendang kan untuk Lu San bila menemani anak itu tidur.


"Di dunia ini hanya mama lah yang terbaik.."


"Ada mama punya anak seperti sebuah harta.."


"Berada dalam pelukan mama.."


"Kebahagiaan seperti tiada habisnya.."


"Tidak ada mama adalah hal paling menyedihkan.."


"Tidak ada mama punya anak seperti rumput liar.."

__ADS_1


"Meninggalkan pelukan mama.."


"Kemana lagi harus mencari kebahagiaan.."


(Se Sang Ce You MaMa Hau)


Giok Lan terus mendendangkan lagu. tersebut sambil memangku dan memeluk Lu San.


Akhirnya Lu San yang terus menangis karena kelelahan, tertidur dalam pelukan Giok Lan.


Bagaimana pun San er baru berusia 10 tahun, dia masih anak-anak yang sangat haus kasih sayang ibunya.


Untungnya ada Giok Lan sangat paham perasaan anak tirinya itu, hubungan mereka berdua juga sangat dekat, sehingga tidak sulit bagi Giok Lan untuk menenangkan anak tersebut sementara waktu.


Butuh waktu agar bisa membuat Lu San yang masih kecil menyesuaikan diri, tapi Giok Lan yakin dengan perhatian dan kasih sayang yang tulus.


Suatu hari perlahan-lahan Lu San pasti akan mengerti dan merelakan kepergian ibunya.


"Anak yang malang.."


gumam Giok Lan sedih, sambil menatap Lu San yang bernasib malang.


Saat ini yang bisa Giok Lan lakukan adalah fokus menjaga dan menemani Lu San yang masih kecil.


Sedangkan untuk suaminya, meski hatinya ingin.


Sementara waktu Giok Lan hanya berharap Xue Yen cepat datang dan membantunya menghibur Lu Sun.


Lu Sun yang tidak kuat melihat situasi di dalam ruangan dimana Ying Ying terbaring di tangisi oleh Lu San putranya.


Setelah melepaskan Lu San dari gendongan nya, dia memilih keluar dari kamar berdiri didepan jendela.


Menatap kearah langit dengan tatapan mata kosong, penuh kesedihan mendalam yang sulit diungkapkan.


Lu Sun terlihat terus menghela nafas panjang berulang kali melepaskan beban perasaannya yang terasa sangat berat.


Tiba-tiba pintu ruangan rawat inap VVIP kembali terbuka dari luar.


Kini yang melangkah masuk adalah Kevin Liu yang datang dengan terburu-buru dan nafas sedikit terengah-engah.


"Mantu ku apa yang sebenarnya telah terjadi..?"


tanya Kevin Liu cemas, sambil menatap Lu Sun lekat-lekat menanti penjelasan.


Lu Sun dengan bercucuran air mata berjalan menghampiri Kevin Liu kemudian menjatuhkan diri berlutut di depan ayah mertuanya.


Semua keangkuhan dan rasa percaya diri nya saat ini hilang tidak berbekas.


Yang ada saat ini adalah rasa menyesal dan bersalah.


"Ayah maaf..aku tidak berguna...aku telah menyia-nyiakan kepercayaan mu untuk menjaga Ying Ying dengan baik.."

__ADS_1


ucap Lu Sun dengan kepala tertunduk lesu.


__ADS_2