KEMBALINYA SANG LEGENDA

KEMBALINYA SANG LEGENDA
KESEDIHAN DAN RASA TAK BERDAYA


__ADS_3

Melihat keadaan Takeshi Lim yang menjadi lawannya, Afei menjadi tidak tega, dia melepaskan sedotannya dan meretur ya kembali sambil mendorong dada Takeshi Lim menjauhinya.


Tapi sepasang mata Afei membelalak kaget, saat merasakan sepasang tangannya yang di gunakan untuk mendorong Takeshi Lim menjauhinya.


Malah menyentuh sepasang daging kenyal dan lembut di sana.


Afei hanya bisa berkata,


"Kau...!!"


Takeshi Lim bersalto Indah mundur menjauhi Afei dia tahu bila saat ini memaksakan diri, dia pasti akan menjadi bulan bulanan lelucon buat Afei.


Kemampuan mereka masih berbanding jauh, saat ini dia masih bukan tandingan Afei, bila ingin balas dendam, dia harus kembali ke rumah dan berlatih lebih giat.


Baru nanti kembali mencari Afei untuk balas dendam, atas perlakuan Afei yang melecehkan dirinya.


Berpikir sampai di situ, sambil mengigit bibir bawahnya sendiri hingga berdarah menahan kesal, dengan wajah merah padam.


Dia berkata sambil membanting kaki kirinya keatas tanah melampiaskan kekesalannya.


"Hari ini aku mengaku kalah, karena ketidak mampuan ku sendiri."


"Tapi ingat suatu hari aku akan kembali mencari mu.."


"Untuk membayar apa yang sudah kamu lakukan pada ku, dasar bajingan kamu ingat itu baik baik,...! urusan kita belum selesai..!"


Selesai berucap, gadis itu melemparkan sesuatu keatas lantai yang mengeluarkan asap putih.


Setelah asap menghilang terbawa angin Takeshi Lim sudah tidak terlihat lagi berada di sana.


Afei berdiri bengong di tempat, menanggapi kata kata penuh ancaman yang di lontarkan oleh Takeshi Lim yang misterius itu padanya.


Afei merasa sedikit bersalah, tapi semua sudah terjadi, dan dia melakukannya tanpa sengaja.


Sambil menghela nafas panjang.


Afei pun mengalihkan perhatian nya kesekitarnya, lalu dia berkata kepada wasit dan para juri baik juri San Da maupun juri Tao Lu, yang semuanya kini sedang berkumpul di sana.


"Kepada ketua panitia Pak Ma, para wasit dan juri serta para guru besar yang terhormat."


"Kejadian barusan yang merusak arena San Da, dan mengacaukan seluruh aturan acara pertandingan San Da."

__ADS_1


"Aku Afei bersedia bertanggung jawab, dan menerima hukuman apapun yang di putuskan nantinya.."


"Aku siap menerima segala konsekwensinya, termasuk di diskualifikasi dari acara ini, ataupun terkena skorsing apapun aku akan menerimanya.."


ucap Afei tegas sambil memberi hormat dengan menundukkan kepalanya dalam dalam kebawah sebagai permintaan maaf..


Suara sahutan tidak puas yang pro kepada Afei mulai di lontarkan oleh seluruh penonton, yang mendukung Afei sebagai kandidat tunggal juara umum luar biasa.


Mereka mulai meneriakkan nama Afei sebagai juara umum tak terkalahkan seluruh cabang yang di pertandingkan.


Para wasit dan juri dan para panitia terlihat berembuk dengan serius, bahkan mereka melibatkan paman Mao sebagai ketua Dewan pembinaan olahraga Wu Su dan seni beladiri China, di dalam rapat dadakan tersebut.


Setelah berembuk beberapa saat, akhirnya Paman Mao keluar sebagai juru bicara dan berkata,


"Para hadirin sekalian dari hasil rapat yang kami lakukan kami telah mengambil keputusan bahwa untuk Acara pertandingan kali ini."


"Juara umum tunggal nya adalah Afei..."


"Tapi untuk kerusakan dan seluruh kekacauan di arena ini, semua biaya perbaikan akan di tanggung oleh saudara Afei, yang nanti di potong dari bonus kemenangan nya.."


"Dan satu hal lagi, setelah acara berakhir, harap saudara Afei membawa kedua orang tua nya menemui pak presiden Xi yang terhormat.."


"Sekian terimakasih semuanya..."


ucap Paman Mao sebagai ucapan penutup, kemudian menyerahkan mig pengeras suara kepada panitia, lalu dia berjalan menuruni mimbar.


Sorakan kegembiraan terdengar di mana-mana, mereka terus meneriakkan nama Afei.


Afei hanya tersipu malu, dia menoleh kearah gurunya menatap gurunya dengan penuh haru.


Tanpa bimbingan dan kasih sayang yang di berikan oleh gurunya.


Dia tidak mungkin bisa meraih prestasi seperti hari ini.


Tanpa gurunya, saat ini dia bahkan mungkin masih berkeliaran di pasar sebagai penjual kantong belanjaan.


Budi besar ini sampai matipun Afei akan selalu mengingatnya dan dia tidak akan pernah bisa membayar hutang Budi ini untuk seumur hidupnya.


Afei berjalan menghampiri gurunya dan ingin menjatuhkan diri berlutut di depan Lu Sun,


Tapi bahunya keburu di tahan oleh Lu Sun yang menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.

__ADS_1


Memberi isyarat agar Afei tak perlu melakukan hal seperti itu.


Sebelum Afei melakukan hal itu, Lu Sun sudah membaca Afei pasti akan melakukan hal seperti itu.


Lu Sun tidak mau dirinya menjadi pusat perhatian, jadi dia melarang Afei melakukan hal itu.


Tapi tindakan Afei yang melangkah mendekat ke Lu Sun, sudah mengundang banyak pasang mata menatap kearah dirinya.


Di antaranya adalah presiden Xi paman Mao, para master beladiri wasit juri, ketua panitia Pak Ma, hingga para guru di sekolah Kuang Ming.


Di antaranya pembawa acara guru Ciu juga melihat kehadiran Lu Sun di sana, sambil tersenyum bahagia dengan airmata yang jatuh bergulir di pipinya.


Dia bergumam sendiri, di dalam hati


"Kakak Sun, tahu kah kamu betapa aku ingin menatap wajah mu untuk terakhir kalinya, agar aku bisa mengenang.."


"Pernah ada seorang pria yang sangat luar biasa, memberikan dan mengisi kenangan yang terindah di dalam hati ku."


"Meski akhirnya kita tidak bisa bersama sama, tap ijinkanlah aku mengenang mu untuk selamanya.."


"Berpisah dari mu, membuat hati ku sungguh sakit dan perih, tapi aku tahu tidak ada yang bisa kulakukan selain melepaskan mu pergi."


"Semoga kamu selalu hidup dalam keadaan baik-baik dan berbahagia, biarlah semua ini menjadi kenangan terakhir kita, dan aku akan menyimpan nya sebagai impian ku saja."


ucap Guru Ciu dalam hati dengan mata berkaca-kaca.


Untuk menghindari ketahuan oleh Lu Sun dan orang di sekitarnya, guru Ciu buru buru menengadah kan wajahnya menatap kearah langit.


Dimana bunga salju yang dingin mulai turun dari atas sana.


Guru Ciu pura-pura menghapus bunga salju yang menempel di wajahnya, sekaligus menghapus airmatanya yang runtuh tak tertahankan.


Karena hatinya sangat perih, bisa melihat membayangkan tanpa bisa meraihnya untuk menemaninya melewati hari hari yang sepi dan merana.


Lu Sun bukannya tidak menyadari yang terjadi pada guru Ciu, hanya saja dia sama sekali tidak punya keberanian untuk menatap kearah nya.


Apalagi pergi menghampiri dan menghiburnya, dia tidak mungkin bisa lakukan hal itu, hal yang akan menyakiti perasaan kedua orang pendamping hidupnya ini.


Sehingga dia hanya bisa memilih diam diam menghela nafas panjang, sambil berharap guru Ciu segera melupakan dirinya.


Dan segera menemukan seorang pendamping yang tepat, untuk menggantikan dirinya.

__ADS_1


__ADS_2