
Lu Sun dan Xue Yen berjalan keluar dari kamar langsung berjalan menuju kamar Ying Ying yang terletak bersebelahan dengan kamar mereka.
Setelah memencet bel, pintu pun terbuka dari dalam Ying Ying berdiri di samping pintu menyambut kedatangan mereka berdua sambil tersenyum dan berkata,
"Kakek Nan belum datang masuklah dulu, kita tunggu di dalam saja.."
Lu Sun membiarkan Xue Xue berjalan masuk duluan, dia mendekat kearah Ying Ying membantu menutup pintu.
Lalu dia merangkul pinggang Ying Ying,
Xue Yen merangkul lengan Lu Sun dari sisi yang lain, mereka bertiga berangkulan mesra berjalan masuk kedalam.
Di dalam kamar ternyata sudah ada Giok Lan yang sedang duduk di dekat Lu San menemani anak itu bermain.
"Aduh mesra nya yang mau pergi ke acara pelelangan, seperti mau pergi bulan madu saja."
ucap Giok Lan sambil tertawa.
Lu Sun tersenyum lebar menanggapi candaan Giok Lan yang nakal, sedangkan Xue Xue wajahnya langsung merah dan buru-buru melepaskan pelukannya.
Sedangkan Ying Ying hanya tersenyum lembut menatap Giok Lan.
Mereka bertiga kemudian duduk di sofa ngobrol sambil menunggu kedatangan kakek Nan.
Tak lama kemudian bell di pintu kembali berbunyi.
Lu Sun langsung bangkit berdiri berjalan kearah pintu dan membukanya.
"Selamat sore tuan, sudah siap tuan ? kalau sudah kita bisa langsung menuju tempat acara pelelangan."
ucap Kakek Nan dengan hormat.
Lu Sun menoleh kearah Ying Ying dan Xue Yen memberi kode agar mereka mendekat kearahnya.
Xue Yen dan Ying Ying langsung berjalan kearah Lu Sun, mereka berdua begitu melihat Kakek Nan, langsung memberikan anggukan kecil kearah kakek Nan.
"Lan Lan kami pergi dulu ya..!"
teriak Lu Sun sebelum pergi.
"Ya sayang pergilah...! hati-hati..!"
terdengar suara lembut dari dalam kamar.
Lu Sun menutup kembali pintu kamar, lalu dia bergandengan mesra dengan kedua istrinya mengikuti Kakek Nan dari belakang.
__ADS_1
Kakek Nan membawa Lu Sun menuju sebuah ruangan yang besar dan luas mirip gedung Opera.
Di mana di bagian paling depan ada sebuah mimbar yang luas dan lebar di dekor dengan sangat elegan.
Kakek Nan membawa Lu Sun melewati deretan bangku peserta lelang dari samping, kemudian menaiki anak tangga menuju lantai dua.
Kakek Nan membawa mereka ke sebuah ruangan yang kanan kirinya di sekat dengan dinding partisi kayu minimalis.
Bagian depan ruangan tersebut menghadap kearah mimbar yang ada di lantai satu.
Ruangan di lantai dua ini membentuk setengah lingkaran, sehingga antara ruangan Lu Sun dan ruangan lainnya, bisa terlihat dengan jelas bila duduk di dekat balkon.
Lu Sun dan kedua Istrinya tiba duluan, ruangan lain di lantai dua masih kosong belum ada tamu lain yang datang.
Kakek Nan pamit dari ruangan tersebut setelah memastikan Lu Sun sudah menempati ruangan yang sudah dia persiapkan sebelumnya.
Lu Sun duduk mengobrol santai dengan kedua istrinya sambil menikmati berbagai macam komplimen yang di sediakan oleh pihak panitia, untuk para tamu undangan
Perlahan-lahan tamu-tamu peserta acara lelang mulai berdatangan, tak terasa ruangan lantai satu mulai penuh.
Demikian juga dengan ruangan lantai dua, satu persatu mulai terisi dengan tamu undangan yang mulai berdatangan.
Tepat berseberangan dengan ruangan yang ditempati oleh Lu Sun dan kedua Istrinya.
Di belakang pemuda itu berdiri dua orang pria berpakaian militer dengan topi baret ungu.
Wajah mereka kaku tanpa ekspresi, sepasang mata mereka tajam dan selalu waspada menatap kearah sekitarnya.
Pemuda itu menatap Ying Ying dan Xue Yen tanpa berkedip, dia melemparkan senyum kearah mereka.
Dia juga memberi salam dengan tangan di letakkan didepan dada lalu membungkukkan sedikit badannya.
Xue Yen dan Ying Ying pura-pura tidak melihat dan membuang muka kearah lain.
Pemuda itu tidak menyerah, sambil tersenyum percaya diri, dia memberi kode agar salah satu pengawalnya mendekat.
Dia lalu membisikkan sesuatu kepada pengawal nya.
Lalu pengawalnya mengundurkan diri dari sana.
Tak lama kemudian pintu ruangan Lu Sun di ketuk dari luar, sebelum Lu Sun sempat membuka suara mempersilahkan orang di luar untuk masuk, Lu Sun dan kedua Istrinya baru saja menoleh kearah pintu.
Pintu ruangan telah terbuka dari luar, seorang pria berpakaian seragam militer masuk tanpa ijin membawa dua ikat bunga mawar berukuran besar.
Tanpa basa-basi dia langsung berjalan mendekat kearah Ying Ying dan Xue Xue, lalu meletakkan dua ikat bunga ditangan nya di hadapan kedua gadis itu.
__ADS_1
Dengan bahasa Inggris yang kaku dia berkata,
"Ini dari pangeran Ahmed Husein harap diterima.."
Setelah itu dia tanpa memperdulikan reaksi Lu Sun langsung berjalan meninggalkan ruangan tersebut.
Lu Sun menghela nafas panjang menahan sabar, kemudian dia sambil tersenyum berkata,
"Lihat kalian berdua begitu cantik dan mempesona, sampai-sampai pangeran repot-repot mengirim kan bunga kemari.*
"Cih..!"
Decih Ying Ying dan Xue Yen kompak.
"Siapa yang butuh bunga seperti ini,"
ucap Xue Yen mengambil bunga didepan nya dan melemparnya ke tong sampah.
Ying Ying pun melakukan hal yang sama dan berkata,
"Asalkan bunga itu dari Sun ke ke, sekalipun di dapat kan dari pinggir jalan aku tetap akan lebih menghargainya.."
Xue Yen mengangguk setuju.
Melihat sikap kedua istrinya, Lu Sun menarik mereka berdua kedalam pelukannya dan mendaratkan ciuman di pipi mereka.
Sikap Lu Sun yang menarik dan mencium istrinya, membuat Pangeran Ahmed Husein menatap tajam ke Lu Sun dengan penuh emosi.
Lu Sun yang tahu pangeran yang menempati ruangan di seberangnya sedang marah dan kesal.
Dia memilih pura-pura tidak tahu dan tidak memperdulikan nya.
Tak lama kemudian acara lelang mulai di buka oleh pihak penyelenggara pelelangan.
Yang menjadi pembawa acara adalah seorang pria berdaster putih ditemani oleh beberapa orang wanita yang semua nya mengenakan pakaian gerombyongan tertutup rapat seluruh tubuhnya, hanya menyisakan sepasang mata saja yang tidak ditutup.
Barang yang pertama dilelangkan adalah sebuah batu safir berwarna merah darah.
Begitu lelang di buka, para pengunjung mulai meneriakkan harga di atas harga pembukaan lelang.
Batu safir merah itu di buka dengan harga penawaran 5000 USD, dalam sekejap mata harganya telah mencapai 15.000 USD .
Ini adalah harga yang sangat fantastis, pantas saja dunia selalu mengatakan kota ini adalah pusat berkumpulnya orang-orang kaya.
Yang tidak tahu bagaimana cara menghabiskan uang mereka karena uang mereka sudah tak terukur dan terlalu banyak.
__ADS_1