
"Kamu jangan tertipu dengan senyumnya yang ramah, menurut cerita, dia berjuluk Dewa Sadis, keturunan setengah siluman setengah manusia."
"Dia bisa membunuh orang sambil tersenyum, seperti sedang memencet semut."
"Kesaktiannya seperti dewa, makanya di beri julukan Dewa sadis.."
"Ayo kita lanjutkan kedepan.."
ucap Lu San menutup pembicaraan..
Cherry mengangguk dan berkata,
"Baiklah,..ayo kita lanjutkan.."
Mereka kembali melanjutkan perjalanan, kini mereka melewati deretan arak Hang Zhou simpan Lu Sun yang berjejer rapi..
Arak ini,... ? banyak banget,.. ? keluarga mu juga bisnis arak..? dari wanginya seperti arak Hang Zhou..?"
tanya Cherry heran.
"Gak sih,. ini semua koleksi ayah ku saat mama Ying Ying meninggal.."
ucap Lu San tenang.
"Loh meninggal ..? bukannya mama mu baik baik saja ?"
tanya Cherry heran.
Lu San menghela nafas panjang, lalu berkata.
"Itulah anehnya keluarga ku, sebenarnya beberapa tahun yang lalu mama Ying Ying sempat meninggal karena di celakai orang jahat mobilnya masuk ke jurang."
"Tapi baru baru ini, ayah menggunakan cairan ajaib berhasil menghidupkan ibu lagi."
"Begitulah ceritanya..."
ucap Lu San.
"Ayah mu waktu itu pasti sangat bersedih ya ? hingga mengoleksi begini banyak orang untuk menghilangkan rasa sedihnya.."
ucap Cherry bersimpati.
Lu San mengangguk dan berkata,
"Begitulah ayah, di depan semua orang dia berusaha terlihat baik baik saja dan gembira."
"Tapi begitu semua orang sudah tertidur, dia akan kemari minum arak sambil menangis di depan jasad mama Ying Ying yang dia awetkan dengan mutiara es abadi.."
"Sehingga senantiasa selalu terlihat seperti orang sedang tidur panjang."
"Lalu bagaimana cara ayah mu, menghidupkan ibu mu yang sudah meninggal beberapa tahun."
tanya Cherry heran.
"Dengan airmata mahluk bernama Siau Yu, yang sebentar lagi kamu juga bisa berkenalan dengan nya.."
ucap Lu San sambil tersenyum.
"Bila benar airmata itu bisa hidupkan orang meninggal, kenapa ayah mu tidak mencobanya pada mu, ? siapa tahu sembuh.."
__ADS_1
"Nah kalau itu aku juga kurang tahu, mungkin cairan itu hanya efektif pada tubuh orang yang meninggal atau gimana aku juga kurang ngerti.."
"Tujuan ku mengajak mu kemari memang ingin, kamu membantu ku mencobanya.."
ucap Lu San sedikit bersemangat.
"Kalau begitu ayo kita segera mencobanya, tunggu apalagi, di mana letak cairan itu..?"
tanya Cherry sambil mendorong kursi roda Lu San menuju kearah taman.
Lu San pun menunjukkan arahnya sambil berkata,
"Di sebelah sana...hanya saja saat di siramkan ketubuh ku, aku tidak boleh mengenakan pakaian sama sekali.."
Cherry tersenyum dan berkata,
"Bukan masalah tenang saja, aku akan membantu mu.."
"Ayo..kita kesana.."
ucap Cherry cepat.
Tapi saat mereka tiba di taman sesuai petunjuk Lu San, Cherry terpesona oleh kecantikan dan pemandangan di taman rahasia yang sangat indah dan sempurna
Seperti sedang berada di negeri dongeng saja.
Suara Lu San akhirnya membuyarkan lamunan nya,
"Ayo kak kesebelah sana..kok jadi bengong di sini..?"
"Ohh ya, maaf kakak terlalu kagum dengan pemandangan di sini yang begitu spesial..
Seperti sedang berada di negeri dongeng."
Akhirnya mereka tiba di dekat makam Xue Yen, Lu San menunjuk sebuah guci dan berkata,
"Itu guci nya, yang sebelah kiri itu, warna guci nya agak tua dan jelek.."
Cherry mengangguk, kemudian bantu mengambilnya, ternyata isinya masih cukup banyak, dia segera membawanya kedekat Lu San.
"Kak bantu lepaskan dulu seluruh pakaian ku."
Ucap Lu San penuh semangat.
"Kan yang cedera tangan dan kaki mu, bagaimana bila kita tetes di tempat cederanya saja.."
tanya Cherry memberi usul.
"Boleh saja coba aja, tidak ada salahnya,.."
ucap Lu San cepat.
Cherry pun buru-buru menggulung kedua lengan baju Lu San keatas hingga bahunya kelihatan.
Dia juga menggulung celana Lu San hingga batas pangkal paha..
Lalu perlahan-lahan dengan hati-hati Cherry membuka tutup guci, lalu mulai menuangkan nya kearah bahu lengan paha hingga kaki Lu San.
Mereka berdua menunggu beberapa saat, tapi setelah beberapa waktu berlalu tanpa reaksi
__ADS_1
Akhirnya Cherry kembali mencoba melepaskan seluruh pakaian Lu San, dan menyiramnya dengan hati-hati dari ujung kepala hingga kaki.
Lalu Cherry membantu Lu San mengenakan kembali pakaiannya dan mereka berdua kembali menunggu reaksi dari khasiat airmata Siau Yu.
Tapi setelah beberapa jam berlalu tanpa hasil, Cherry dan Lu San mulai sadar cairan itu tidak bisa membantu sama sekali.
Lu San dan Cherry secara bergantian menghela nafas kecewa.
"Sudahlah kita sudah maksimal, mungkin ini memang sudah takdir ku, terima sajalah.."
ucap Lu San putus asa.
"Lebih baik kita berkeliling keliling saja,"
ucap Lu San.
Pertama tama mereka mengunjungi kolam lele dan Siau Yu, Siau Yu tidak terlalu perduli dengan kehadiran Lu San.
Karena dari awal dia memang tidak akrab dengan Lu San.
Dia selalu merasa di tubuh Lu San ada sejenis hawa yang menyeramkan ingin mengintimidasi dirinya.
Dan dia selalu merasa kurang nyaman, bila berdekatan dengan Lu San.
Makanya Siau Yu selalu memilih menjauhi Lu San.
Sebaliknya terhadap Lu Dan dan Lu Fei bahkan Afei sekalipun Siau Yu cukup akrab dengan mereka.
Tapi Lu San sendiri tidak terlalu menanggapi sikap Siau Yu padanya.
Setelah dari kolam ikan,. mereka, melanjutkan menuju air terjun yang memiliki air yang manis alami.
Setelah minum puas mereka kini menuju deretan pohon bodhi darah, setelah melewatinya, mereka menuju deretan pohon buah persik Dewa yang buahnya sangat lebat dan banyak.
Melewati pohon itu, mereka menemukan deretan buah Bodhi, yang bentuknya seperti seorang Buddha kecil sedang meditasi.
Bentuknya sangat lucu dan unik.
Cherry sampai cukup terkagum kagum di sana, hingga enggan berlalu.
Dari deretan pohon buah Bodhi berbentuk Buddha kecil.
Kini mereka menuju pohon Berbuah Ginseng Neraka, bentuknya mirip seorang kakek berjanggut merah.
Setelah itu mereka pun menemukan sebatang pohon bodhi yang super besar dan Tua.
"Sayang nya, pohon tersebut hanya berbiji tinggal, dan terletak di puncak paling tinggi.
Setelah mengelilingi taman hingga Habis', sambil duduk santai di bawah pohon bodhi tua Lu San berkata,
"Kak saya sangat berterimakasih, kakak mau temani saya di sini.."
"Kak saya mau minta bantuan dari kakak boleh tidak, kak ?"
"Bantuan apa katakan saja, asal kakak bisa kakak pasti akan membantu mu.."
ucap Cherry sambil menatap Lu San dengan serius.
Setelah diam beberapa saat, Lu San pun berkata.
__ADS_1
"Kak tolong petikan buah itu itu itu dan itu satu satu aja kemari bisa tidak kak.."
"Yang terakhir itu yang agak ribet, tempat nya, jauh tinggi di atas sana."