KEMBALINYA SANG LEGENDA

KEMBALINYA SANG LEGENDA
SERBUK BUNGA ILUSI


__ADS_3

Lu Sun langsung mempersiapkan serangan sambil menunggu kemunculannya.


Sesuai dugaan Lu Sun dia benar-benar bergerak mengikuti pola yang Lu Sun prediksikan.


Begitu biksu Gandhi muncul di sisi tersebut serangan pedang tanpa wujud langsung menyambutnya.


Biksu Gandhi sangat terkejut, dia pun sadar bahwa Lu Sun ternyata juga ahli formasi Pat Kwa yang handal.


Dengan mati-matian dia menghindar sambil menangkis serangan tersebut.


Jubah biksu Gandhi terbelah dua, kini dia bertelanjang dada.


Berkat tenaga sakti miliknya, serangan Lu Sun hanya merobek jubahnya, tapi kulit dan tubuhnya yang di lindungi tenaga sakti tidak sampai terluka parah.


Dia hanya mengalami luka gores ringan dari perut hingga ke dada dan berakhir di bahu.


Lu Sun tidak menunda-nunda kesempatan itu, dia langsung melancarkan serangan bertubi-tubi kearah biksu Gandhi.


Biksu Gandhi yang tadinya cuma menghindar untuk menguras tenaga Lu Sun, kini dia dengan terpaksa mulai melayani serangan Lu Sun dengan kedua tapaknya.


Yang mengeluarkan angin puyuh yang menangkis serangan Lu Sun, kemudian terus melaju mengejar Lu Sun.


Lu Sun bergerak menghindar tapi dari berbagai arah muncul tornado kecil yang mengepung dirinya.


Meski telah menghindar angin tornado itu seperti punya mata dan terus mengejarnya.


Lu Sun mencoba melepaskan pukulan angin tornado miliknya untuk menghentikan serangan tersebut.


Tapi pukulan angin tornado Lu Sun malah terserap oleh tornado ciptaan biksu Gandhi.


Biksu Gandhi tersenyum senang dan berkata,


"Kamu sungguh hebat tuan Lu, tapi waspadalah..!"


Kini gulungan tornado menutup semua jalan keluarnya, Lu Sun melesat tinggi ke udara.


Tapi gulungan tornado mengikutinya, menjadi semakin besar dan tinggi.


Karena Biksu Gandhi terus menambah kekuatan pengendalian udaranya.


Karena hisapan dari putaran angin itu semakin kuat.


Lu Sun tiba-tiba teringat dengan Tapak es abadi, bisa menghentikan pergerakan angin tersebut dengan membekukan nya.


Lu Sun bergerak berputar-putar dengan sepasang tangan terbuka kesamping kiri kanan tubuhnya.


Melepaskan pukulan es abadi yang bergerak berputar-putar dari atas kebawah.

__ADS_1


Hingga akhirnya terbentuk dinding es beku di sekitarnya.


Baru Lu mendorong salah satu es dihadapan nya hingga hancur berantakan kemudian dia keluar dari kepungan angin tersebut.


Kini Lu Sun tidak melakukan gerakan melepaskan serangannya, tapi dia malah melepaskan sedotan Chi dengan Xi Xing Ta Fa (Ilmu Penghisap Bintang ).


Dengan ilmu ini Biksu Gandhi tersedot mendekatinya, bagaimana pun dia meronta dia tetap tersedot menempel pada sepasang telapak tangan Lu Sun, yang menyedot dengan sangat kuat.


Begitu tertempel oleh tangan Lu Sun Biksu Gandhi matanya terbelalak lebar, dia seperti seekor capung yang terkena jaring laba-laba.


Semakin meronta dia semakin lemah, tenaganya yang dia latih ribuan tahun, membanjiri tubuh Lu Sun.


Saat melihat Biksu Gandhi mulai terkulai lemas Lu Sun melepaskan sedotannya.


Kemudian melontarkan energi yang dia serap di kembalikan ke udara kosong dengan Qian Kun Ta Lo Ih Sin Fa, sehingga tenaga yang tertampung di Lu Sun bisa di lepaskan Kembali ke alam semesta.


Biksu Gandhi terduduk lemah, dia bersyukur Lu Sun tidak serta Merta mengembalikan tenaga itu kediri nya, bila tidak dia pasti akan tewas oleh tenaga membalik miliknya sendiri.


"Maaf Biksu Gandhi, telah menyusahkan anda, saya permisi dulu melanjutkan perjalanan ku.."


"Terimakasih atas informasinya.."


ucap Lu Sun kemudian berjalan santai meninggalkan tempat tersebut.


Lu Sun awalnya berjalan lambat kemudian semakin lama semakin cepat, akhirnya melesat menghilang dari arah pandangan Biksu Gandhi.


"Tapi dari kemampuannya aku yakin dia adalah termasuk salah satu manusia abadi."


Setelah melewati Padang rumput pendek, Lu Sun mulai berjalan memasuki sebuah hutan yang sangat lebat.


Semakin ketengah hutan, suasana semakin remang-remang,.hutan tersebut sangat sepi .


Bahkan suara burung pun tidak terdengar, yang ada hanya suara berkresakkan daun dan dahan-dahan yang berkesempatan tertiup angin.


Lu Sun melangkah dengan hati-hati memasang pendengarannya yang tajam untuk merasakan pergerakan di sekitarnya.


Meski tidak melihat dan mendengar ada pergerakan mahluk apapun di dalam hutan ini.


Tapi Lu Sun dapat merasakan ancaman yang setiap saat bisa mengancam jiwanya.


Hanya saja dia tidak tahu ancaman apa yang kira-kira bisa mengancam dirinya.


Lu Sun terus melangkah kedalam hutan dengan penuh kewaspadaan.


"Sun er kamu kah itu ? Sun er kemarilah ibu sangat merindukan mu.."


ucap sebuah suara dengan lembut dari balik hutan.

__ADS_1


Lu Sun seperti terhipnotis mendengar suara tersebut dia segera melangkah menerobos semak belukar dan masuk ke bagian lebih dalam.


Lu Sun tiba-tiba melihat seorang wanita yang sangat cantik dan seorang pria yang bentuk tubuhnya sangat mirip dengan dirinya.


Kedua orang itu berdiri bergandengan tangan mesra, sedang tersenyum lembut menatap nya.


Kemudian mereka melambaikan tangannya kearah Lu Sun dan kembali berkata,


"Sun er anak kami, kasihan kamu tumbuh tanpa kami mendampingi mu."


"Kemarilah anak ku, biar Ibu dan Ayah bisa memeluk dan melihat mu dari dekat."


"Kamu sungguh tampan anak ku, Ahh tidak di sangka kamu sudah sebesar ini."


"Ayo kemarilah anak ku.."


Lu Sun berdiri bengong, dia sampai beberapa hari mengucek matanya.


Tapi kenyataan itu tidak berubah, dia masih tetap melihat ayah ibunya sedang menatapnya dengan lembut dan terus melambaikan tangan memanggilnya.


Lu Sun dengan sedikit ragu-ragu melangkah maju, pikiran warasnya memberitahu padanya, kedua orang tua nya sudah lama meninggal, tidak mungkin bisa hidup kembali.


Ini pasti cuma tipuan ilusi, tapi kerinduan terhadap kasih sayang ayah ibunya, terus mendorong dia bergerak maju


Meski hanya sedetik meski itu adalah jebakan ilusi, Lu Sun ingin merasakan pelukan hangat itu sesaat.


Meskipun bahaya besar kemungkinan sedang menanti dirinya.


Tapi keinginan untuk. berkumpul dengan kedua orang tuanya mengalahkan akal sehatnya.


Lu Sun kemudian tanpa pikir panjang lagi, langsung bergerak pergi merangkul kedua orang tuanya.


"Ahh anak ku,"


seru Diao Chan berlinang airmata.


Lu Sun juga turut memeluknya dengan haru dan berkata,


"Sun Er kamu sungguh telah tumbuh dewasa dan gagah, ayah bangga sekali pada mu nak.."


Bagi penglihatan Lu Sun kedua orang yang ada di hadapannya sedang memeluknya dengan erat adalah kedua orang tuanya.


Tapi bila ada orang lain yang melihatnya, mereka tentu sangat terkejut.


Melihat kondisi Lu Sun yang sedang memeluk dua batang pohon, dengan seluruh tubuh penuh di lilit oleh akar tanaman dan tumbuh-tumbuhan.


Bahkan kini 4 buah bunga pemakan daging, kini sedang mekar dengan indahnya, kemudian bagian intinya terbuka lebar kelopaknya.

__ADS_1


Seakan-akan ingin mencaplok tubuh Lu Sun.


__ADS_2