
Cindy kemudian melanjutkan berkata,
"Apa kakek sudah punya rencana bagaimana menghadapi mereka ?"
"Bagaimana pun mereka ber 6 kalaupun kita bekerja sama sekalipun kita hanya berdua, kekuatan kita tidak akan cukup melawan mereka."
Kakek Xie tertawa dan berkata,
"Cindy kamu jangan lupa, kita ada di gelap mereka ada di terang."
"Lagipula yang paling mereka inginkan saat ini adalah bagian mu itu."
"Tapi setelah apa yang mereka lakukan pada mu tentu mereka akan mencurigai mu kek.."
ucap Cindy memancing.
Kakek Xie tertawa dan berkata,
"Tentu saja bukan aku yang menghubungi mereka, ada mata-mata ku yang menjadi kepercayaan mereka, yang akan memberikan mereka informasi ini."
"Kalau boleh tahu apa rencana yang akan kakek atur buat mereka.?"
"Di laut timur ada sebuah pulau kosong yang berada di jalur bebas milik dunia.
Tidak ada negara manapun yang memilikinya, aku akan menggunakan pulau itu sebagai umpan agar mereka mau ke sana."
"Untuk menghilangkan kecurigaan mereka dalam waktu dekat ini aku akan mengundurkan diri dari Group Xie."
"Tunggu..! bagaimana cara kakek mengatur umpan agar mereka tertarik mau pergi kesana.?"
potong Cindy ingin tahu.
Sambil tersenyum kakek Xie berkata,
"Umpan yang paling cepat dan tepat tentu adalah kakak mu dan kamu."
"Kamu harus membantu ku pergi kesana, dua hari sebelum berita kepergian mu tersebar."
"Aku akan menyebarkan berita kamu ke sana, karena kakak mu sedang terluka parah dan berada di sana."
"Tapi meski mereka kesana, dengan kekuatan mereka berenam ditambah dengan pengawal yang mereka bawa tanpa kakak kita tetap bukan lawan mereka kek ?"
potong Cindy mencoba menggali info lebih dalam.
Kakek Xie tersenyum yakin dan berkata,
"Kamu tenang saja, pertama mereka tidak akan berangkat sendiri-sendiri membawa pengawal banyak."
"Karena mereka takut saling mendahului mencuri kesempatan, jadi akan berangkat dalam satu kapal."
__ADS_1
"Mereka juga tidak akan membawa orang banyak, agar rahasia tidak bocor."
"Soal kekuatan mereka, kamu jangan khawatir aku akan gunakan Hua Kung San di makanan mereka, aku masih punya stok obat itu."
"Taruhlah kita berhasil membunuh mereka, tapi kita tidak tahu mereka menyimpan harta mereka di mana dan bagaimana cara mengambilnya."
Pertanyaan Cindy kali ini membuat kakek Xie terdiam dan terlihat tidak bisa menjawabnya.
Melihat kakek Xie terdiam, Cindy pun berkata,
"Begini saja kakek pikirkan dulu matang-matang, ini urusan besar tidak boleh di buat main-main."
"Sekali maju tidak punya jalan mundur, aku juga harus memikirkan nya dengan baik-baik.."
Lalu Cindy menutup telpon nya, kemudian dia buru-buru menelpon ke Lu Sun tap Lu Sun tidak mengangkatnya.
Cindy kemudian mengirim pesan singkat ke Lu Sun, setelah itu dia pun mengajak Maya meninggalkan Mall tersebut.
Cindy terlebih dahulu mengantar Maya pulang ke rumahnya, baru dia pulang ke apartemen nya.
Sementara kakek Xie setelah Cindy menutup telpon nya, duduk termenung memikirkan kata-kata Cindy tadi.
Kakek Xie yang termenung berpikir sambil menatap lukisan di dinding tiba-tiba tersenyum lebar dan berkata,
"Pil kejujuran...! benar itu kuncinya...! "
kakek Xie menjentikkan jarinya dengan sangat gembira.
Dia buru-buru memutar penutup lampu kuno di mejanya, hingga lukisan yang tergantung di dinding terbuka dengan sendirinya.
Kemudian dia buru-buru berdiri menghampiri brangkasnya, memasukkan kode sandi untuk membuka brangkasnya.
Begitu pintu terbuka dia berdiri mematung melihat isi brangkasnya yang kosong.
Kakek Xie memejamkan matanya sepasang tangannya mengepal, bahunya bergetar seperti orang menggigil.
Dia membungkuk mengambil pulpen yang tergeletak di atas lantai, kemudian dia dengan sekuat tenaga melempar pulpen tersebut kelantai hingga hancur berantakan.
"Xie Lung kalian yang memulainya jangan salahkan aku bila berbuat kejam."
Kakek Xie berjalan ke mejanya, membuka laci mejanya mengambil sepucuk pistol pendek dia mengokang mengecek isi pelurunya.
Kemudian dia berjalan menuju pintu, tapi saat tangannya mau membuka pintu.
Dia menghentikan langkah dan tangannya, kemudian dia kembali lagi kemejanya dan bergumam,
"Tidak aku tidak boleh gegabah, aku harus sabar..."
"Mereka sengaja meninggalkan bukti itu untuk memancing kemarahan ku."
__ADS_1
"Mereka tidak akan bodoh menunggu aku menembaknya mereka pasti sudah menyiapkan jebakan untuk ku."
Kakek Xie menyimpan pistolnya kembali kedalam laci meja dan menutupnya kembali, sambil bergumam,
"Hampir saja...hampir saja..., untung aku tidak langsung terpancing emosi."
"Xie Lung kalian tunggu saja pembalasan dari ku nanti. ?"
ucap Kakek Xie geram.
Baru saja dia hendak duduk bersandar, terdengar bunyi HP nya yang di letakkan di atas meja berbunyi.
Kakek Xie pun mengangkatnya, tapi saat mendengar kronologi yang di ceritakan oleh seorang karyawan wanita dari seberang sana soal klub pribadi nya.
Kakek Xie kemudian menutup telponnya, dan berkata dengan geram,
"Kalian semua lihat saja, hutang lama dan baru akan ku hitung sekalian semua nya."
Kakek Xie kemudian terlihat menyeduh teh, sehabis menikmati tehnya.
Dia pun merapikan semua barang-barang nya, kemudian dia menelpon Xie Lung mengabarkan keputusan nya mengundurkan diri dari perusahaan.
Xie Lung tentu sangat terkejut mendengar hal itu, tapi di dalam hati dia sangat senang.
Sambil pura-pura perhatian dan sedih dia mengucapkan selamat jalan kepada kakek Xie.
Kakek Xie hanya menanggapinya dengan dingin.
Tak lama kemudian ke 5 saudaranya yang lain menelponnya mengucapkan selamat jalan sebagai basa-basi.
Kakek Xie sangat geram mendengar ucapan mereka yang penuh kepalsuan, tapi dia menahan gejolak emosi nya.
Demi aksi balas dendam yang akan dia lakukan pada mereka nantinya, dia sekarang harus bersabar.
Setelah menutup telpon dia menikmati tehnya sampai habis, setelah mencuci dan membersihkan teko dan cawan tehnya, lalu mengeringkannya dengan kain khusus secara hati-hati.
Baru dia menyimpan semua peralatan itu dengan rapi di dalam kotaknya.
Setelah itu kakek Xie terlihat berjalan meninggalkan ruangan kantornya sambil membawa barang-barang pribadi miliknya dalam sebuah kotak kardus.
Sekretaris nya sudah mengetahui perihal pengunduran diri kakek Xie melalui teman-temannya yang bekerja di tetua yang lainnya.
Dia hanya memberikan anggukan kepala sebagai kesopanan, Setelah itu dia pura-pura tidak tahu dan tidak melihatnya.
Kakek Xie tersenyum kecut, sambil berjalan meninggalkan tempat itu menuju lift.
Begitu Kakek Xie keluar dari lobby gedung dia hanya berjalan seorang diri tanpa ada yang perduli dengan nya.
Hanya sopir setia nya yang menyambutnya, membantu dia membawa kotak kardus ke bagasi mobil.
__ADS_1
Kemudian mobil pun bergerak membawa kakek Xie meninggalkan gedung kantor, pulang menuju kediaman kakek Xie.