KEMBALINYA SANG LEGENDA

KEMBALINYA SANG LEGENDA
KEMUNCULAN SARAH DAN HENRY


__ADS_3

"Tidak usah banyak bacot, serahkan atau tidak sekarang.."


ucap Si rambut biru dingin sambil mengulurkan tangannya kearah Willy.


"Setiap satu jam tidak mendapatkan telpon dari kami, anak buah kami akan memotong satu bagian anggota tubuh mereka.."


ucap Si rambut merah yang pertama kali buka suara.


"Sekarang tinggal 5 menit lagi genap satu jam..kamu boleh mencobanya bila ingin bukti.."


ucap si rambut merah kembali tanpa ekspresi.


"Kau...kau...kau...!!"


ucap Willy emisi sambil menunjuk wajah si rambut merah.


Tapi akhirnya dia tidak bisa melanjutkan kata-katanya, selain menghela nafas panjang sambil tertunduk lesu dia berkata.


"Aku ingin bertemu mereka dulu, tanpa bertemu mereka kamu boleh bawa jasad ku menemui Alberto.."


"Tapi ingat setelah aku mati, semua kejahatan Alberto akan terbongkar.."


"Kalian boleh mencobanya.."


ucap Willy mengancam balik.


Kedua orang itu saling pandang sejenak, kemudian si rambut biru melakukan panggilan telepon.


Tak lama kemudian dari arah danau muncul sebuah perahu, yang di dalamnya ada 6 orang.


Di dalam perahu terlihat ada 4 pria bertubuh besar bermata sipit, dengan lengan dan leher penuh tato, sedangkan dua lainya adalah seorang wanita cantik dan seorang gadis kecil 3 tahun yang lucu.


Wanita cantik dan gadis kecil itu terlihat menangis ketakutan, masing-masing diposisi telinga kiri mereka tertutup perban.


Saat melihat Willy gadis kecil itu langsung berteriak sambil menangis.


"Papa tolong..! papa..! Nana takut Pa..tolong..!"


Wanita cantik itu buru buru menarik gadis kecil tersebut kedalam pelukannya.


Mencoba menenangkan anaknya agar jangan ribut..


Melihat hal itu Willy langsung berlari ketepi danau dan berkata,


"Nana jangan takut sayang..! Papa pasti akan membebaskan kalian..!"


"Istri ku sabar ya .jangan takut..aku pasti akan membebaskan kalian.."


Teriak Willy dari pinggir danau dengan penuh emosi.


Istrinya mengigit bibir erat erat dan menganggukkan kepalanya.


Dia terus menatap kearah Willy dengan wajah pucat dan bercucuran air mata.


Sesaat kemudian terdengar dia berkata,


"Suami ku.. lakukan yang terbaik menurut mu .!"


"Kami percaya padamu, bila hari ini harus mati.. di kehidupan berikutnya kami.. tetap berharap kembali..menjadi..anak dan istri mu..!"


Mendengar ucapan istrinya Wily langsung kembali terjatuh lemas, berlutut di tepi danau.

__ADS_1


"Baiklah... baiklah..! kalian lepaskan mereka berdua, aku akan berikan semua yang kalian minta sekarang juga..!"


ucap Willy tak berdaya.


Si rambut merah memberi kode kearah anak buahnya.


Perahu pun perlahan-lahan merapat ketepi danau, dua orang pria melompat ke tepi danau.


Lalu mereka menarik tali pengikat perahu, hingga perahu menepi.


Membantu menurunkan Istri dan anak Willy dari perahu ketepian.


Kemudian melepaskan mereka berlari menghampiri Willy.


Keluarga kecil itu pun berkumpul kembali, mereka berpelukan sambil menangis.


"Cukup sandiwara mu Willy, cepat tepati janji mu atau kamu bisa melihat akhir yang lebih fatal lagi.."


Willy melepaskan pelukannya dan berbisik pada istrinya,


"Sayang kamu bawa Nana menjauh dari sini, apapun yang terjadi jangan kembali..kamu mengerti."


Istrinya menggelengkan kepalanya dan berkata,


"Tidak kami akan bersama mu.."


"Mati hidup kita sekeluarga harus bersama.."


"Sayang aku mohon tolong, sekali ini jangan membantah ku..boleh..?"


ucap Willy sambil tersenyum sedih.


Istri Willy menggelengkan kepalanya dengan tegas dan berkata,


"Kita jadi begini, karena salah ku yang suka judi dan menarik mu terlibat sampai sejauh ini.."


"Bila hari ini terjadi sesuatu pada mu, bagaimana aku bisa melanjutkan hidup ku menanggung dosa rasa bersalah ku bila aku tetap hidup ."


"Tidak aku tidak mau..mengenai Nana, dia anak kita hidup matinya ikut kita..titik.."


ucap istri Willy tegas.


Willy menatap anak istrinya dengan penuh haru, ada rasa bahagia haru tapi juga ada rasa sedih dan cemas di matanya.


Tapi dia sadar dia tidak bisa menundanya lagi atau mereka semua akan celaka.


Willy membalikkan badannya berjalan menghampiri si rambut biru dan merah, yang menatapnya dengan wajah dingin tanpa ekspresi.


Willy mengeluarkan sebuah pisau silet dari kantongnya, kemudian dia membuka baju luarnya.


Willy lalu mengiris lengannya sendiri, mengeluarkan sebuah benda hitam kecil sebesar kancing.


Benda itu terbungkus rapi dalam sebuah plastik kecil yang berlepotan darah.


Willy melempar nya kearah Si rambut biru sambil berkata.


"Di dalam sana ada berisi semua file master rekaman, juga kunci untuk mematikan akses penyebaran otomatis ke media .."


"Apa kami boleh pergi sekarang..?"


tanya Willy menatap kedua orang itu dengan berani.

__ADS_1


"Tunggu dulu, bersabarlah, kami harus mengeceknya dulu, bila ok kamu baru boleh pergi bersama keluarga mu.."


ucap si rambut merah dingin.


Sedangkan si rambut biru terlihat sibuk menyambungkan alat itu kesebuah laptop mini.


Setelah melakukan pengecekan beberapa saat, dia pun memberi tanda ok kearah si rambut merah sambil tersenyum senang.


Melihat kode dari temannya sambil tersenyum sadis sirambut merah menatap kearah Willy dan keluarga nya.


Kemudian dia berkata,


"Baiklah sekarang aku akan mengantar kalian bertiga pergi.."


"Kau...!"


teriak Willy emosi sambil menunjuk wajah si rambut merah.


Willy bergerak mundur sambil membentang sepasang tangannya ke kanan kiri, seperti ingin melindungi anak istrinya.


Sirambut merah mengalirkan energi nya sepasang tangannya berubah merah dan di selimuti api, dia bersiap melepaskan pukulan mematikan.


Sambil terus melangkah maju mendekati Willy dan keluarga nya yang tidak berdaya dan berdiri ketakutan di sana.


Sirambut merah tersenyum sadis, dia seperti sangat menikmati pertunjukan di hadapannya.


Seperti seekor kucing sedang mempermainkan tikus, mangsanya yang sudah tidak berdaya.


"Hanya orang mati yang tidak akan membuka mulut .*


ucap nya sambil bersiap menghabisi Willy dan anak istrinya.


Sementara itu Sarah yang bersembunyi di balik pohon tanpa memperdulikan kode larangan dari Henry.


Melihat situasi sudah genting, dia langsung segera bergerak maju, menodongkan pistolnya kearah sirambut merah


sebelum sirambut merah sempat melaksanakan niatnya.


Henry dengan terpaksa mengikuti dari belakang menodongkan pistol nya kearah sirambut biru.


Sarah langsung berteriak begitu keluar dari persembunyiannya.


"Berhenti diam di tempat,..!"


"Atau kami akan menembak..!"


Teriak Sarah memberi peringatan


Dia terus bergerak cepat maju menghampiri posisi Willy, dengan pistol terarah ke si rambut merah.


Sedangkan Henry menyusul di belakangnya dengan pistol terarah ke si rambut biru.


"Kalian semua ditahan..jangan bergerak..!"


teriak Sarah kembali memberi peringatan.


Tiba-tiba terdengar suara ledakan pistol,


"Door...!!"


Tapi sesaat kemudian, yang roboh adalah Henry dengan telapak tangan berlubang penuh darah dan sepasang tulang lutut nya remuk.

__ADS_1


Dia jatuh berlutut meringkuk disana menahan sakit, sambil memegangi tangan nya yang berlumuran darah.


Di belakang Sarah terlihat muncul sesosok tubuh tinggi besar yang bayangan nya menutupi bayangan tubuh Sarah.


__ADS_2