
Akhirnya sepasang bibir mereka bertemu, Giok Lan pun tidak bisa tertawa berteriak lagi.
Dia hanya memejamkan matanya menikmati ciuman lembut suaminya.
Seluruh tubuhnya kehilangan perlawanan, dia hanya diam pasrah, kedua tangannya bergerak melingkar di belakang leher Lu Sun.
Tubuhnya perlahan-lahan bergerak mengikuti irama sentuhan lembut Lu Sun ditubuhnya.
Suara desis dan rintihan kecil mulai terdengar.
Saat dia merasa hampir di bawa melayang terbang ke awan.
Tiba-tiba bunyi HP Lu Sun yang terletak tidak jauh dari ranjang, membuat semua perasaan nya yang sedang melayang jatuh terhempas ke bumi dengan sangat keras.
Semua kesenangan dan kenikmatan yang sedang dia rasakan mendadak hilang, terganti dengan perasaan kesal dan kecewa.
Lu Sun menghentikan pergerakan tangannya,dan melepaskan ciumannya dari bibir Giok Lan, lalu dia menjangkau dan meraih HP nya.
Untuk melihat siapa penelponnya, saat di lihat itu adalah panggilan dari Ying Ying, sambil tersenyum tidak enak hati menatap wajah Giok Lan yang sedikit cemberut.
Lu Sun berkata,
"Dari Ying Ying, maaf aku urus sebentar mungkin mau bahas masalah San er.."
Lalu Lu Sun bangkit dari kasur, mengagkat telpon sambil berjalan menghampiri sofa santai yang berada di pinggir jendela kamar.
"Ya sayang, ada apa ?"
tanya Lu Sun lalu duduk di sofa sambil menyenderkan punggungnya.
"Sun ke ke aku sudah memberitahu padanya, satu persatu dosa dan kesalahan yang sudah dia lakukan."
"Kini dia sudah mengakui kesalahannya, dan berjanji akan berubah dan tidak akan mengulanginya lagi."
"Bagaimana menurutmu..?"
Tanya Ying Ying yang ragu ragu memutuskan nya.
Ada rasa kasihan, tapi juga ada rasa kesal dan marah yang ingin menghukum anak nya.
"Begini kamu juga pasti sudah lelah, kamu kembali dulu ke kamar untuk istirahat, kamu sendiri baru terbangun dari tidur panjang."
"Tubuh mu perlu istirahat dan penyesuaian, tenangkan diri mu di kamar.'
"Gunakan waktu ini, untuk mengontrol dan menyeimbangkan tenaga sakti di dalam tubuh mu.""
"Masalah San er serahkan saja pada Aliu dan Afei, sebentar ini aku akan telpon mereka dan mengaturnya."
ucap Lu Sun .
"Tapi Sun ke ke, San er kini sedang menangis sedih menyesali semua kesalahannya.."
ucap Ying Ying ragu.
"Itu cuma trik nya saja, percayalah itu jurus yang biasa dia gunakan pada Giok Lan, kamu jangan tertipu."
__ADS_1
"Sudahlah hal selanjutnya kamu tidak usah pikirkan, serahkan pada ku, biar aku mengurus sisanya."
"Baiklah Sun ke ke, kalau begitu aku kembali ke kamar dulu."
ucap Ying Ying lalu mematikan HP nya.
Lu Sun melihat kearah Giok Lan, tapi Giok Lan kini berbaring memunggunginya.
Melihat lekuk tubuh Giok Lan dari arah belakang, diam diam Lu Sun sampai menelan ludahnya sendiri.
Diam diam di dalam hati Lu Sun harus akui, diantara ketiga istrinya, Giok Lan lah yang paling cantik dan memiliki bentuk tubuh yang paling menggoda.
Lu Sun buru buru menelpon Afei, untuk mengalihkan perhatian nya, dari godaan yang terpampang di depan mata.
"Ya guru.."
ucap Afei menjawab dari seberang sana.
"Kamu ada di mana sekarang ? apa yang sedang di lakukan San er ?"
tanya Lu Sun.
"Aku masih di taman samping guru, kakak San masih sedang berlutut di tempat tadi."
"Apalagi yang sedang dia lakukan ?"
"Kakak San tidak melakukan apa-apa guru, selain berlutut dan menangis."
"Afei kamu berani berbohong pada ku, demi melindungi kakak mu itu ?"
"Murid tidak berani guru,... kakak San...kakak San...dia...memang sedang berlutut dan menangis guru.."
ucap Afei gugup dan langsung menjatuhkan diri berlutut.
"Kamu sengaja, mengurangi laporan mu, kakak mu itu, pasti sedang menyumpah dan mengutuk ku kan,? melampiaskan kekesalannya..benar tidak..!?"
"Gu...guru...maaf guru,.. Ba.. bagaimana Guru bisa tahu..?"
ucap Afei gugup.
"Kamu berdirilah, aku tidak menyuruh mu berlutut, dia putra ku,.. tentu aku mengenal betul tabiatnya.."
"Baik guru,.."
jawab Afei sambil celingukan melihat ke kiri dan ke kanan.
Afei berpikir dalam hati, mereka sedang berbicara di telpon, bagaimana gurunya tahu, dia sedang berlutut, sedangkan Lu San sedang memaki dan mengutuk ayahnya.
"Dengarkan baik baik Afei kamu dan Aliu secara bergantian mengawasinya, sebelum tiga hari, dia tidak boleh meninggalkan tempat itu."
"Dia hanya boleh makan sehari sekali dua potong roti dan segelas air."
"Bila dia berani memaksa dan melawan jangan sungkan hajar dia sampai nurut "
"Kalau perlu patahkan saja kakinya.."
__ADS_1
ucap Lu Sun tegas.
"Ba...baik..guru.."
jawab Afei ngeri bercampur gugup.
Bila itu orang lain, Afei tentu akan tanpa pikir dua kali, dia akan jalankan perintah gurunya.
Tapi yang kini di hadapi nya, adalah Lu San yang sudah dia anggap seperti kakak sendiri.
Dia mana sampai hati dan tega melakukan nya.
Bila dia lakukan, dia takut kakak nya akan membencinya seumur hidup.
Afei menjadi bingung, yang satu kakak yang satu.lagi guru sekaligus ayah angkatnya.
Afei hanya bisa berdoa dalam hati, agar kakak nya tidak bandel dan keras kepala.
Giok Lan yang sedang memunggungi Lu Sun karena ngambek, langsung menoleh ke belakang menatap Lu Sun dengan tatapan penuh teguran.
Anak kesayangan nya, ingin di patahkan kakinya, tentu saja dia tidak bisa menerimanya.
Tapi Lu Sun pura-pura tidak melihatnya, setelah memutuskan panggilan dengan Afei, dia langsung melakukan panggilan ke Aliu.
Aliu tanpa banyak bicara, langsung menyanggupi permintaan Lu Sun.
Setelah berpesan pada Aliu, Lu Sun pun memutuskan panggilan telepon nya.
Lalu dia kembali mendekati Giok Lan dan pelan pelan berbaring di sebelah nya.
"Sun ke ke, kamu memerintahkan Afei dan Aliu mematahkan kaki anak kita, apa otak mu sedang terganggu.?"
ucap Giok Lan keki.
"Lan Mei, kamu tenang saja, aku hanya ingin melatih mental anak kita, dan rasa tanggung jawab nya "
"Kalaupun patah aku bisa menyambungnya kembali."
ucap Lu Sun sambil memijat mijat punggung Giok Lan dengan lembut.
Mendapatkan pijatan Lu Sun, Giok Lan pun langsung tengkurap dan memejamkan matanya.
Dia menikmati dengan relax, pijatan yang Lu Sun berikan padanya.
Sesaat kemudian dia pun tertidur pulas, melihat Giok Lan sudah tertidur pulas.
Lu Sun pun kembali ke kamarnya, melihat keadaan Ying Ying.
Saat masuk kedalam kamar, Lu Sun melihat Ying Ying sedang duduk bermeditasi dengan tubuh melayang di udara.
Lu Sun tersenyum dan mengangguk kan Kepalanya dengan puas.
Lalu dia sendiri juga ikut duduk bersila dan berlatih Wu Ming Sen Kung menurut pemahamannya sendiri dari gambar gambar yang ada di dinding.
Baru beberapa tarikan nafas, Lu Sun sudah mulai merasakan khasiat dan perubahan luar biasa di tubuhnya.
__ADS_1