
Dia boleh kehilangan apapun di dunia ini, termasuk nyawanya sendiri, terkecuali keselamatan anak dan istri nya.
Dan kelihatannya musuhnya yang licik ini, menyadari betul apa yang menjadi kelemahannya ini.
"Katakan apa mau mu keparat...!"
"Sebelum kesabaran ku habis, dan merobek tubuh mu menjadi serpihan-serpihan kecil...!"
ucap Black Panther geram.
"Kamu tenanglah dulu, tiada gunanya kamu mengancam ku.."
"Aku bukan selembar kertas yang semudah itu kamu robek-robek kamu sendiri tahu itu.."
"Istri mu dan anak mu, adalah adik juga keponakan ku, bila tidak terpaksa aku tidak bakalan mencelakai mereka."
"Aku tidak minta banyak, aku cuma minta kamu bekerjasama mensukseskan penelitian ku.."
"Setelah semua selesai aku pasti akan mengembalikan mereka dengan selamat kembali ke sisi mu.."
"Tapi kamu harus bekerja sama dengan baik, jangan pernah punya pikiran macam-macam, atau kamu pasti akan menyesal.."
"Apa mau mu ? cepat katakan jangan bertele-tele..!"
"Baiklah kalau kamu ingin tahu, simpan kekuatan mu itu, silahkan ikut dengan ku kedalam.."
"Patuhi segala protokol di dalam nanti, bila kamu berani macam-macam, maka kamu lah yang menjadi penyebab kematian mereka ingat itu."
ucap Ming Dao lalu membalikkan badannya meninggalkan halaman gedung tersebut.
Sambil berdecak kesal dengan tidak berdaya, Black Panther berjalan mengikuti Ming Dao masuk kedalam gedung tersebut.
Setelah masuk kedalam gudang tua tersebut,. Black Panther tidak melihat ada apa-apa di dalam nya.
Kecuali bekas drum kosong dan berbagai mesin tua yang sudah tidak bisa di gunakan lagi.
Ming Dao terus melangkah menuju sebuah sudut yang tertutup oleh tumpukan drum kosong.
Di balik tumpukan drum kosong ternyata ada sebuah pintu rahasia, yang membawa Ming Dao dan Black Panther menuju sebuah lift kecil sederhana.
Setelah mereka berdua masuk kedalam dan mesin lift mulai di hidupkan, Lift tersebut terus bergerak turun ke bawah, mereka terus menempuh perjalanan menurun.
Beberapa saat kemudian akhirnya lift pun berhenti bergerak, pintu lift terbuka.
Ternyata di tempat ini sangat berbeda dengan suasana di sebelah atas sana yang kotor jorok gelap sedikit remang-remang.
Di bawah sini semua tempat di pasangi lampu biru putih yang bersinar terang benderang.
__ADS_1
Tempat nya juga sangat bersih dan rapi, agak mirip dengan bagian dalam pesawat luar angkasa yang canggih dan elegan.
Ming Dao membawa Black Panther berjalan melewati beberapa lorong yang selalu di batasi oleh pintu-pintu besi baja yang sangat tebal dan canggih.
Setelah melewati beberapa terowongan, yang di batasi oleh pintu-pintu tebal, di mana untuk masuk diperlukan memencet beberapa tombol sandi, baru pintu besi penghalang bisa terbuka dengan otomatis.
Ming Dao membawa Black Panther masuk melewati beberapa pintu penghalang, hingga tiba disebuah ruangan.
Di mana terlihat banyak orang berseragam putih sedang sibuk bekerja.
Tempat itu adalah sebuah ruangan riset yang luas, lengkap dengan berbagai peralatan komputer super canggih.
Di tengah-tengah ruangan terdapat dua buah kursi yang seluruhnya terbuat dari bahan logam Tungsten yang sangat kuat.
Black Panther yang sangat minim pengetahuan modern hanya menatap heran ke seluruh ruangan dan benda-benda serta orang-orang yang hadir di sana.
"Duduklah di bangku yang tersedia di sana, jangan pernah berani mencoba melawan.."
"Lihat lah di di layar monitor di hadapan anda itu.."
Black Panther menatap dengan wajah pucat kearah apa yang tersaji di layar monitor besar itu.
Di sana dia melihat Monica dan putrinya Sani, masing-masing di kurung dalam sebuah kapsul kaca.
Tapi suara mereka dapat terdengar jelas oleh Black Panther melalui layar kaca.
"Keparat apa yang kamu lakukan cepat lepaskan mereka..!"
"Ayah...ayah...tolong Sani...ayah...!"
terdengar suara teriakan putri nya.
"Sayang bunuh saja dia...jangan pedulikan kami..!"
teriak Monica emosi bercampur cemas.
Ming Dao menanggapinya dengan tersenyum dan berkata,
"Asal kamu menurut dan bekerja sama dengan baik, aku jamin mereka akan baik-baik saja.."
"Tapi bila kamu berani macam-macam, Zat racun akan segera di aktip kan dan di masuk kan kedalam tabung tersebut."
"Tidak sampai 5 detik nasib mereka akan sama dengan tabung kecil yang terisi tikus putih itu."
Ming Dao memberi contoh ke Black Panther, bagaimana nasib seekor tikus putih menerima kabut asap berwarna hijau yang memenuhi tabung tersebut.
Tidak sampai 5 detik tikus putih tersebut sudah jatuh terkapar tidak bergerak sama sekali.
__ADS_1
Melihat hal itu, Black Panther kemudian menatap kearah Monica Sun, sambil tersenyum lembut dia berkata,
"Maafkan aku sayang... untuk sekali ini aku tidak bisa memenuhi permintaan mu.."
"Kamu dan Sani harus hidup dengan baik dan bahagia.."
"Kamu tahu sendiri, bagaimana pentingnya keselamatan kalian bagi ku.."
Lalu Black Panther menoleh kearah Ming Dao dan berkata,
"Ingat janji mu, atau aku menjadi hantu sekalipun akan datang mengejar mu.."
Ming Dao tersenyum dan mengangguk sambil berkata,
"Jangan khawatirkan itu.."
Black Panther berjalan menuju kursi tersebut kemudian dia duduk di sana.
Sambil tersenyum lembut dia terus menatap kearah Monica, yang seolah-olah ingin menatap sepuas-puasnya wajah istri dan anaknya untuk terakhir kalinya.
Dia seolah-olah ingin menyimpan sebanyak-banyaknya memori tentang wajah anak istri agar saat dia pergi dia tidak akan pernah lupa dengan wajah mereka.
Dengan bercucuran air mata Monica terus berteriak sambil memukul-mukul kaca kapsul di hadapannya..
"Jangan...jangan...jangan..Liong ke ke..jangan lakukan itu...kamu sudah berjanji pada ku...!"
"Kamu tidak boleh pergi meninggalkan kami begitu saja...!"
"Jangan... jangan..sayang...ku mohon jangan..kami tidak bisa hidup tanpa dirimu..!"
"Keparat...kamu Ming Dao... manusia berhati bintang.. lepaskan dia jangan lakukan itu padanya..'
"Lupakah kamu ? demi diri mu dia sampai rela mengorbankan jarinya untuk mu..? Dasar kamu memang binatang biadab..!"
"Aku tidak punya kakak seperti mu,...aku sungguh menyesal memintanya menolong mu dulu..dasar binatang.."
Monica Sun berteriak teriak seperti orang gila.
Tapi Ming Dao tidak memperdulikannya sama sekali, Dia sambil tersenyum senang ikut berjalan menuju kursi yang satunya lagi, lalu ikut duduk di sana.
Kini baik lengan kaki dan leher Black Panther maupun Ming Dao.
Mulai di borgol oleh logam Tungsten yang tebal dan sangat keras dan kuat itu.
Setelah tubuh mereka terborgol kuat, berbagai peralatan canggih yang di gerakkan oleh robot mulai menusukkan jarum besar ke beberapa titik di kepala Black Panther yang kemudian di hubungkan ke seperangkat komputer.
Baru dari sana di alihkan ke tubuh Ming Dao.
__ADS_1
.
.