Apocalypse Regression

Apocalypse Regression
Musuh Alami


__ADS_3

Kedua gadis itu sama sekali tidak memedulikan orang lain yang menatapnya. Mereka membuang pedang dan bergegas ke arah Ark.


Langsung memeluk pemuda itu dari sisi kiri dan kanan!


Mereka menggosokkan kepala ke lengan Ark lalu mengendus.


"Ini benar-benar kamu, Senior."


Gadis berambut hitam berkata dengan nada datar.


"Kamu benar, Kurona. Kita tidak bermimpi."


Gadis berambut putih menambahkan.


Mengabaikan orang-orang yang tercengang, Ark berkata dengan nada lelah.


"Tidak bisakah kalian menyingkir sebentar. Aku membawa pedang. Kalian bisa terluka."


Kedua gadis itu menggelengkan kepala bersamaan.


"Kenapa?" tanya Ark.


"Jika kami melepaskan pegangan kami, kamu pasti akan menghilang, Senior."


"Ya. Kurona benar, Senior. Kami tidak akan pernah melepaskanmu."


"..."


Ark menarik napas dalam-dalam. Setelah pikirannya menjadi lebih tenang, dia berkata.


"Aku tidak akan pergi ke mana-mana."


Kurona dan Shirona saling memandang. Mereka kemudian menatap ke arah Ark dan membalas.


"Bohong."


Sudut bibir Ark berkedut. Dia kemudian membalas.


"Aku tidak berbohong."


"Dulu kamu meninggalkan kami, Senior."


"Ya. Kurona benar. Kamu meninggalkan kami tanpa bertanggung jawab, Senior."


Mendengar ucapan kedua gadis itu, banyak orang menatap ke arah Ark dengan ekspresi curiga. Sosok Hades yang kejam, dingin, dan tak terkalahkan benar-benar berubah menjadi sosok b-jingan tidak bertanggung jawab yang telah merusak gadis kembar cantik lalu meninggalkannya.


Bahkan Julian juga berpikiran sama dengan mereka!


"Aku pinjam ruang belajarmu sebentar."


Ark berbicara tenang sebelum pergi dengan Kurona dan Shirona. Julian mengambil pedang kedua gadis sebelum akhirnya pergi menyusul mereka.


Dia tidak ingin ruangan pribadinya digunakan untuk melakukan hal-hal kotor!


Sampai di ruangan, Ark menyuruh Kurona dan Shirona duduk di sofa. Dia juga menyuruh Julian duduk setelah mengunci pintu.


Memastikan semua aman, Ark melepas jubah dan topengnya.


Pada saat mereka berdua melihat wajah Ark, Kurona dan Shirona saling memandang dengan ekspresi bersemangat. Tampak seperti penggemar kecil.


Mengabaikan kedua gadis yang bersemangat, Ark menatap ke arah Julian sambil menunjuk ke arah Kurona dan Shirona.


"Mereka itu pembunuh bayaran."

__ADS_1


"Maaf?"


Julian tercengang. Benar-benar tidak begitu paham dengan kalimat yang Ark ucapkan secara tiba-tiba.


Ark menghela napas panjang. Dia kemudian menjelaskan lebih lambat.


"Aku tidak tahu apakah kamu sudah menebaknya atau belum. Sebenarnya, sebelum apocalypse, pekerjaanku adalah pembunuh bayaran.


Aku tidak perlu menjelaskan alasannya. Namun yang pasti, Kurona dan Shirona, kedua gadis ini adalah juniorku. Pembunuh bayaran dalam organisasi yang sama denganku."


"..."


Julian terdiam. Dia tidak menyangka kalau dirinya telah salah paham.


"Jadi, kamu tidak melakukan "hal itu" lalu meninggalkan mereka begitu saja?"


"Cukup lama sejak aku bertemu dengan mereka. Kalau tidak salah, terakhir bertemu mereka masih enam belas, hampir tujuh belas tahun.


Meski sudah cantik, aku tidak akan melakukannya. Belum lagi, mereka adalah juniorku. Bukan kekasihku.


Omong-omong. Tampaknya kamu memiliki pemikiran yang cukup buruk, Julian. Tidak menyangka pahlawan seperti dirimu memikirkan hal semacam itu."


"Itu karena mereka mengatakan kalimat ambigu! Belum lagi kalian bertiga juga berbicara dengan nada datar. Itu terlalu membingungkan!"


Ark diam, sama sekali tidak menyangkal. Sementara itu, Kurona dan Shirona menatap ke arah Julian yang memiliki wajah merah dengan tatapan tertarik.


"Lihat, Shirona. Wajahnya benar-benar merah."


"Kamu benar, Kurona. Mirip kepiting."


Mendengar ucapan kedua juniornya, sebuah ide tiba-tiba muncul dalam kepala Ark. Dia menatap ke arah Julian dan berkata.


"Kamu belum mendapatkan nama panggilan kan, Pahlawan? Bagaimana kalau menyebutmu Mr Crab?"


"..."


"..."


Melihat ke arah Julian yang tampaknya hampir meledak karena malu dan marah, Ark tidak lagi menggodanya. Dia malah bangkit dan berkata.


"Lupakan. Sebenarnya aku ingin kembali setelah memeriksa. Namun siapa sangka aku benar-benar bertemu dengan mereka berdua.


Aku akan pergi dan membawa mereka berdua. Kamu tidak keberatan, kan?"


Tanpa menunggu Julian menjawab, Ark kembali memakai jubah dan topeng. Dia bangkit lalu pergi dengan dua gadis yang mengikuti di belakangnya.


Melihat Ark yang meninggalkan ruangan, Julian yang tidak lagi menahan diri berteriak.


"LEBIH BAIK LAIN KALI KAMU MENGUTUS ORANG LAIN! JANGAN DATANG LAGI!"


Ark yang baru saja keluar menjawab dengan nada datar seperti biasa.


"Okay! Lain kali aku akan datang dengan lebih banyak barang."


Mendengar kalimat tersebut, Julian pun terdiam.


***


Kembali ke kereta, Ark disambut dengan dua tatapan heran dan satu tatapan sengit.


Stacy menatap ke arah Kurona dan Shirona dengan ekspresi dingin, tampak tidak senang dengan kehadiran mereka.


"Mereka berdua siapa, Tuan?"

__ADS_1


Kurona dan Shirona yang merasakan tatapan sengit Stacy menarik jubah Ark dengan lembut.


"Wanita itu tampaknya tidak baik, Senior. Lebih baik kamu mengusirnya."


"Kurona benar, Senior. Kamu harus mengusirnya."


Ketiga gadis itu saling memandang. Tampaknya ada percikan kilat yang begitu dahsyat ketika tatapan mereka bertemu. Hal tersebut membuat Lisa tidak bisa berkata-kata.


"Stacy sama sekali tidak jahat. Dia hanya khawatir karena aku membawa anggota baru."


Ark menepuk kepala kedua gadis itu sambil membela Stacy. Setelah mereka agak tenang, dia mulai memperkenalkan mereka.


"Kurona dan Shirona adalah Junior tempat aku sebelumnya bekerja. Kami sudah mengenal cukup lama. Dulu mereka sering mengikutiku. Ya ... mirip dengan adikku sendiri."


Ketika mendengar kata tempat kerja, Darin dan Stacy mengangguk. Mereka tahu kalau Ark dulunya pembunuh bayaran. Jadi mereka juga tidak membahasnya. Belum lagi mendengar kalau kedua gadis itu mirip seperti adiknya. Hal tersebut membuat Darin merasa aman, sementara Stacy tampak lega.


"Omong-omong, apakah kamu juga bertemu Kak Anya, Senior?"


"Ya. Sudah lama kami tidak melihat Kak Anya."


"..."


Mendengar ucapan kedua gadis tersebut, suasana tiba-tiba menjadi lebih dingin.


Ark diam cukup lama. Pemuda itu menarik napas dalam-dalam. Setelah itu, dia berkata tanpa banyak menjelaskan.


"Lain kali aku akan membawa kalian ke makamnya."


"..."


Kurona dan Shirona terkejut. Mereka tampak sedih, jadi Ark hanya bisa menghela napas panjang sambil mengelus kepala mereka.


"Kita bicarakan semuanya nanti dalam perjalanan. Naik ke kereta. Kita akan pergi."


"Dimengerti!" jawab tiga anggota tim lama serempak.


Jadi setelah berkemas, mereka pun melanjutkan perjalanan.


Lebih tepatnya ... mengambil rute memutar untuk kembali ke markas.


***


Beberapa jam setelah kereta berangkat.


"Bolehkah kita bertukar tempat, Mr Hades?"


Suara Lisa terdengar dari dalam kereta. Karena mereka kembali dengan muatan hampir penuh, Ark duduk di kursi depan. Tempat kusir bersama dengan Darin.


Sementara itu, keempat gadis beristirahat di dalam kereta.


"Apakah ada masalah?"


"Um ... aku tidak bisa menjelaskannya. Intinya, aku ingin bertukar tempat!"


Lisa berkata dengan nada keras kepala.


Gadis itu merasa sangat tertekan. Di dalam kereta, Stacy, Kurona, dan Shirona saling memandang dengan tatapan bermusuhan tanpa mengucap sepatah kata.


Sebagai gadis yang suka kebebasan dan cukup ceria, Lisa benar-benar merasa tertekan ketika dipaksa melihat kontes saling menatap yang mereka bertiga lakukan. Rasanya terlalu dingin dan tidak menyenangkan!


'Mereka benar-benar mirip musuh alami! Sama sekali tidak cocok satu sama lain!'


Pikir Lisa yang meminta bertukar tempat. Sama sekali tidak berniat membicarakannya karena takut akan ditikam sampai mati oleh ketiga gadis itu.

__ADS_1


Benar-benar merasa sangat tertekan!


>> Bersambung.


__ADS_2