
Saito Ishigami, seorang pria tidak dikenal yang muncul begitu saja.
Itulah yang paling Ark ingat tentang dirinya.
Di kehidupan sebelumnya, pada tahun-tahun awal tidak ada yang mengenal sosok Saito. Baru setelah umat manusia terus mengalami krisis bertahun-tahun kemudian, dia muncul entah dari mana.
Seorang yang muncul entah dari mana dan mulai membantai banyak zombie dan binatang mutan.
Tidak ada yang mengenal jelas dirinya ketika muncul. Saito hanya memperkenalkan diri sebagai keturunan terakhir klan Ishigami. Pengguna gaya satu pedang, Jalan Angin.
Saito adalah salah satu tokoh terkenal yang Ark tantang untuk menyempurnakan ilmu pedang miliknya. Dari banyaknya orang yang dia tantang, pria itu adalah salah satu sosok berkesan kuat dalam kepalanya.
Jika digambarkan, hanya ada satu kata cocok untuk Saito ... cepat.
Meski gaya berpedang Saito memiliki nama Jalan Angin, tetapi sama sekali tidak ada hubungannya dengan pengendalian udara atau teknik pelepasan energi pedang. Pria itu tidak memiliki bakat semacam telekinesis. Hanya saja, pedangnya sangat cepat sampai-sampai sempat memotong kedua tangan Ark.
Jika bukan karena Ark memiliki pemulihan kuat yang membuat anggota tubuh terpotong bisa dengan mudah menyambung kembali, pemuda itu pasti sudah dipotong sampai mati oleh Saito.
Siapa yang menyangka, ketika Ark bertanya dari mana asal Saito, pria itu berkata kalau dulu mereka dari kota yang sama.
(Karena kota runtuh beberapa tahun setelah apocalypse, warga kota pergi. Ark sendiri mulai mengembara.)
Setelah mencari berbagai informasi, Ark akhirnya mengetahui siapa Saito sebelumnya. Seorang pewaris dojo kendo yang telah ditutup. Seorang jenius yang ternyata sempat berhenti memegang pedangnya.
Ark sendiri tidak tahu alasan apa yang membuat Saito kembali memegang pedangnya. Namun dia mengakui bahwa bakat pedang pria itu sangat kuat.
Itulah kenapa Ark mencoba mencari dan menarik pria tersebut ke dalam kelompoknya di kehidupan sekarang!
Hanya saja, Ark sekarang malah bingung.
"Apakah kamu memberi informasi yang salah, Joseph?"
Mendengar penjelasan Joseph, Ark merasa kalau pria paruh baya itu sedang main-main dengannya.
"Informasi ini benar-benar akurat, Mr Hades. Jika kamu ingin, aku bisa membicarakan ini dengan ketua Jade Scorpion.
Tidak tahu dendam apa yang kamu pendam kepada pria bernama Saito ini, dia jelas akan melepaskan pria yang hidup seperti parasit itu dengan mudah."
"..."
Ark diam. Dia masih mencoba mencerna informasi yang Joseph berikan kepadanya.
__ADS_1
Menurut informasi yang Joseph dapatkan, Saito memang pewaris dojo kendo. Namun dojo itu sendiri telah tutup bertahun-tahun lalu sebelum masa apocalypse.
Saito adalah pria berusia pertengahan dua puluhan. Penampilannya mirip dengan versi muda dari sosok yang Ark kenal. Akan tetapi, mereka juga jauh berbeda.
Dibandingkan dengan ahli kendo yang bangga atau sosok yang diam-diam menyembunyikan kekuatannya, Saito sebelum masa apocalypse adalah pria yang tidak bersemangat dalam hidupnya.
Belum lagi ketika apocalypse tiba. Bukan hanya tidak berjuang dengan kekuatannya sendiri, dia malah bergantung kepada seorang gadis, teman masa kecilnya. Kebetulan gadis itu adalah adik dari istri wakil ketua kelompok Jade Scorpion.
Bukan hanya mengandalkan bantuan gadis itu, b-jingan tersebut bahkan tidak mau membantu kelompok. Hanya menjadi parasit yang ikut menyerap jerih payah Jade Scorpion. Ketua dan wakil ketua kelompok itu ingin berurusan dengannya, tetapi entah keberuntungan macam apa yang dia peroleh, istri wakil ketua dan adiknya benar-benar berusaha mati-matian untuk melindunginya.
Jika pria yang semacam itu ada di Sword of Sufferings, Ark sudah membunuhnya lebih awal. Dia akan memotong tubuhnya lalu membuangnya ke sarang zombie. Biarkan makhluk-makhluk itu memakannya secara hidup-hidup!
Tipikal beban tidak berguna yang Ark benci dalam hidupnya!
"Bahkan ketua Jade Scorpion berkata ingin mengirimnya kepadamu tanpa harus menukarnya dengan apa-apa.
Anggap saja sebagai niat baik mereka untuk berteman!"
"..."
Sudut bibir Ark berkedut.
'Mengirim parasit kepada orang dan berbicara soal pertemanan? Ada yang salah dengan kepala pria itu!'
"Bagaimana dengan yang lain?"
Mendengar pertanyaan itu, Joseph menggelengkan kepalanya.
"Ilmuwan muda bernama Stein, kami belum menemukannya. Jika orang itu memang ada di kota ini, ada tiga kemungkinan.
Pertama, dia sudah mati. Kedua, pria itu bersembunyi di tempat terpencil dan tersembunyi. Terakhir, dia berada di bawah Imperial Tiger sehingga kami tidak bisa mencari informasi tentang dirinya."
Ark mengangguk ringan. Meski dia ingin segera menemukan orang-orang yang cukup penting dalam rencananya, tetapi semua tidak semudah kelihatannya.
"Imperial Tiger ... benar-benar merepotkan," gumam Ark.
Saat mereka berdua berbicara, ada sosok yang mendekati mereka dengan ekspresi gugup.
"Lapor, Pak! Tampaknya Sir Thomas memilih untuk kembali ke markas terlebih dahulu tanpa menunggu kita. Jika itu terjadi, kita akan kekurangan personel untuk membawa pasokan makanan dan air."
Ark menoleh. Dia melihat sosok pemuda tampan dengan kulit putih bersih, rambut pirang bergelombang dan mata bak zamrud. Dia tampak kurus dan lemah, tetapi cukup bersemangat.
__ADS_1
"..."
Melihat pemuda itu, sebuah kenangan muncul dalam benak Ark.
***
Awan gelap menutupi langit. Hujan lebat turun membasahi bumi.
Tampak sebuah pedesaan luas dengan banyak bangunan roboh. Tempat itu tampak begitu gelap, lembab, dan suram.
Di antara rumah-rumah rusak, tampak sebuah gubuk kecil yang masih berdiri. Di sana, tampak nyala api kecil yang menjadi sumber cahaya sekaligus kehangatan di tempat gelap dan dingin ini.
Dalam gubuk kecil yang reyot dan nyaris runtuh, tampak sosok pria yang mengenakan jubah bertudung duduk di dekat kompor kecil. Di atas kompor kecil tersebut, tampak sebuah teko tanah liat.
Kepulan asap muncul, menandakan air telah mendidih. Pria itu membuka penutup lalu memasukkan beberapa daun dan bunga yang tampak aneh kemudian kembali menutup teko. Beberapa saat kemudian, aroma harum dan menyegarkan mulai menyebar.
Saat itu, suara langkah kaki terdengar dari kejauhan. Suara sepatu logam menginjak bebatuan nyaris tidak terdengar dalam derasnya hujan. Beberapa saat kemudian, sosok pria tinggi yang memakai armor layaknya ksatria dengan sebuah pedang besar di punggungnya terlihat.
Hujan deras mengguyur pria tersebut, tetapi tidak ada perubahan dalam ekspresinya. Dia sama sekali tidak tampak kedinginan.
"Siapa yang menyangka kalau Ark, Lone Star yang dianggap sebagai salah satu pendekar pedang terbaik benar-benar melarikan diri ke daerah pesisir terpencil seperti ini.
Tampaknya rumor yang mengatakan kalau kamu ketakutan lalu melarikan diri memang benar."
Pria dalam gubuk yang sedang membuat teh menoleh.
Ark melihat sosok pria dengan rambut panjang yang basah oleh hujan. Mata berwarna zamrud memancarkan kilau berbahaya. Memantulkan warna kemerahan dari satu-satunya sumber cahaya di sana.
"Apakah kamu tahu, di masa lalu, ada sebuah cerita dimana pernah ada tempat bernama Oahu. Di sana, hujan turun selama 247 hari lamanya.
Tempat ini mungkin mirip tempat yang disebutkan itu. Menjadi sebuah negeri hujan dimana langit selalu gelap, terus menangis seolah bersedih karena dunia yang menjadi semakin gila dan kacau ini.
Ah! Maaf, aku tahu kamu tidak datang untuk mendengarkan ceramah seniormu ini. Apakah kamu datang untuk menikmati teh sambil membicarakan kehidupan?"
"..."
Melihat pria di sisi lain menarik keluar pedang besar di punggungnya, Ark tersenyum lembut. Dia menghela napas panjang.
Dua pasang mata saling memandang. Kilatan dingin tampak di mata bak zamrud dan safir mereka.
Menuruni anak tangga, hujan mulai jatuh membasahi tubuh Ark. Sembari menarik pedangnya, sepasang mata biru dengan pupil vertikal menatap ke arah sosok lawannya.
__ADS_1
"Ya ... Mana mungkin Siegfried, The Dragon Slayer datang jauh-jauh ke sini untuk minum teh, bukan?"
>> Bersambung.