
Sementara itu, di tempat lain.
Pada lantai dua sebuah toserba yang terbengkalai, Evans mengintai. Dia melihat belasan zombie di kejauhan dengan ekspresi serius. Dari empat belas zombie, ada dua zombie level dua. Tentu saja, pemuda itu hanya mengenalnya sebagai zombie dengan peringkat lebih tinggi.
‘Jika sebelumnya aku pasti melarikan diri, sekarang berbeda. Dengan kekuatanku saat ini, seharusnya aku bisa melawan mereka, kan?’
Evans menarik napas dalam-dalam. Dia kemudian berjalan menuju ke tempat dimana dirinya bisa membidik dengan mudah. Meski sebagian musuhnya lebih lemah dibandingkan dirinya, mereka masih kalah jumlah. Selain itu, ada juga dua zombie yang membuatnya merasakan ancaman.
Sampai di tempat yang tepat, Evans mengambil anak panah. Dia kemudian menggunakan busur di tangan kirinya, menari tali busur dengan tangan kanannya lalu membidik zombie.
Swoosh! Jleb!
Sebuah anak panah langsung menembus mata dan merusak otak makhluk itu. Zombie tersebut langsung meronta-ronta. Namun tidak mempedulikan zombie tersebut, Evans langsung membidik zombie lain.
Dua, tiga, empat ... dua belas zombie benar-benar berhasil terkena panah Evans. Meski tidak langsung terbunuh, tetapi makhluk itu kehilangan sebagian kekuatannya karena fokus pada rasa sakit di otaknya.
Memanfaatkan kesempatan, Evans langsung mengambil pedang pendek. Mencengkeram erat pedangnya, dia langsung melompat dari jendela lantai dua dan mendarat di atas atap sebuah mobil rusak.
Para zombie langsung tertarik dengan suara yang dibuat oleh Evans. Pada saat para zombie bergegas ke arahnya, dia juga langsung berlari ke arah para zombie. Sepenuhnya siap bertarung, tidak seperti dirinya dulu yang selalu memilih melarikan diri.
Slash! Slash! Slash!
Memiliki ekspresi dingin dan kejam di wajahnya, Evans langsung memenggal satu per satu zombie yang dia anggap lebih lemah. Satu, dua, tiga ... semakin banyak leher yang pemuda itu potong. Namun dia terus maju dan menyerang, tidak berniat berhenti sebelum berhasil memenggal semua zombie.
Pada saat kepala zombie ke dua belas jatuh dan Evans hendak menyerang ke arah zombie berikutnya, ekspresinya langsung berubah. Dia memilih untuk berhenti lalu melompat mundur.
Bang!
Sebuah cekungan besar muncul di tempat sebelumnya Evans berdiri. Di sana, tampak salah satu dari zombie tingkat dua yang mendarat. Zombie tingkat dua lain juga datang, menatap ke arah Evans dengan ekspresi ganas di wajahnya.
Melihat dua makhluk yang mengancam nyawanya, Evans memaksakan diri untuk tersenyum sambil berkata.
“Berikutnya adalah kepala kalian berdua.”
***
Sekitar satu jam kemudian.
__ADS_1
Evans sudah tidak bisa lagi berdiri tegak. Dia menarik napas dalam-dalam. Pemuda itu jelas tampak sangat kelelahan. Evans kemudian berjalan terhuyung lalu duduk di anak tangga depan salah satu gedung.
Setelah beberapa saat beristirahat dan merasa mendingan, Evans terkjut mendengar suara orang lain. Dia langsung berdiri dan memasang posisi bertarung, tampak sangat waspada.
“Sangat menarik ... kamu benar-benar menembus tingkat dua?”
Pertanyaan tersebut membuat Evans yang baru saja memulihkan sebagian tenaganya terkejut terkejut. Terus menatap ke arah sumber suara, dia melihat sosok berjubah hitam dan bertopeng muncul dari kegelapan.
Kedua orang saling memandang. Evans terkejut dengan kemunculan sosok misterius tersebut. Sementara itu, sosok dalam balutan jubah, Saito juga memandang ke arah Evans dengan ekspresi terkejut. Meski sudah mengawasinya beberapa waktu dan cukup yakin dengan penampilan pemuda itu, tetapi melihatnya dari dekat jelas memiliki dampak visual berbeda.
“Apakah kamu pernah mendengar nama Ark, atau ... Archie?”
Mendengar ucapan dari mulut Saito, mata Evans terbelalak. Melihat sosok ke arah sosok berjubah hitam dan bertopeng yang muncul dari ketiadaan seperti iblis, pemuda itu mengutuk dalam dalam hati.
‘Kamu sebenarnya siapa, Kak? Setelah wanita gila, sekarang ada hantu yang muncul entah dari mana untuk menanyakanmu! Sekarang aku merasa kalau memiliki wajah tampan sepertimu itu benar-benar lebih mirip kutukan!’
Jika dahulu Evans merasa cukup bangga dengan penampilannya yang agak mirip dengan Ark, sekarang dia merasa sedih karenanya. Pemuda itu jelas tidak memprovokasi siapapun, tetapi bekali-kali ada ‘kenalan’ kakaknya yang datang untuk ‘mengetuk pintu’. Itu benar-benar menyebalkan dan agak menakutkan!
‘Seharusnya aku melarikan diri. Seharusnya aku lari, tapi ...’
Swoosh!
Klang!
Bukannya mengeluarkan katana miliknya, Saito mengeluarkan belati pendek untuk menangkis serangan Evans. Melihat dirinya tidak bergerak sedikitpun dari tempatnya, ekspresi penuh kejutan muncul di wajah Evans.
Evans langsung melompat mundur beberapa meter lalu menatap ke arah Saito dengan ekspresi serius. Memegang pedang pendek di tangan kanannya dengan erat, pemuda itu menarik napas dalam-dalam lalu berteriak.
“Apa hubunganmu dengan wanita gila itu? Kenapa kalian semua terus mencari Kak Archie? Dasar orang-orang gila!”
Melihat kebingungan di mata Saito, Evans langsung memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menyerang dengan sekuat tenaga. Dia langsung melesat ke arah Saito lalu menikamnya dengan sekuat tenaga.
Klang!
Melihat Saito menangkis serangannya dengan santai, Evans yang sedikit terpental karena dampak memutar tubuhnya di udara. Dia kemudian meluncurkan tendangan keras ke arah leher lawannya, tetapi sekali lagi Saito mengangkat tangannya dan menangkis tendangan tersebut.
Mengetahui tidak ada kesempata, Evans yang menggertakkan gigi langsung melemparkan sebuah benda bulat tepat ke wajah Saito. Pria langsung menebasnya dengan ekspresi tenang, tetapi.
__ADS_1
POOF!!!
Benda bulat itu meledak dan sebuah asap putih langsung memenuhi area sekitar. Saito sedikit terkejut, tetapi segera kembali tenang. Saat itu juga, dia melihat sebuah pisau yang dileparkan, dan nyaris mengenai wajahnya.
Ding!
Saito menangkisnya dengan tenang. Dia juga mendengar langkah kaki terburu-buru menjauh. Pria itu jelas mengetahui kalau Evans melarikan diri, tetapi sama sekali tidak memilih untuk mengejar.
Lagipula, alasan kenapa Saito datang ke tempat ini adalah mencari keberadaan kelompok Spirit of Fire yang terkenal karena menentang Crux of Shadow. Menurut rumornya, mereka berada di daerah sekitar sini, tetapi tidak ada yang tahu pasti berada di mana.
Melihat penampilan Evans dan peralatan yang dia miliki, pemuda itu seharusnya tergabung dengan kelompok tersebut. Jadi Saito tidak repot-repot membawanya kembali karena dia tidak tahu apa yang direncanakan oleh Ark. Pria itu berniat melapor kepada ketua dan membiarkannya untuk memberi tugas berikutnya.
Untuk saat ini, Saito malah lebih tertarik dengan apa yang dilakukan oleh Evans sebelumnya.
‘Jenis tepung dari tumbuhan tertentu yang digiling tetapi tidak bisa dimakan, kah?’
Menggosok tepung dengan dua jarinya, Saito berpikir dengan ekspresi tertarik. Dia kemudian melirik ke arah pundaknya. Meski tidak terluka, pria itu melihat sedikit luka sayatan pada jubahnya.
Saito tersenyum. Dia jelas terlalu meremehkan Evans. Namun sekarang pria itu sadar, bahkan jika tidak sekuat kakaknya, adik Ark itu pasti juga bukan lelaki sembarangan.
“Saya ingin melihat bagaimana ekspresi anda ketika mendengar kalau adik anda tumbuh begitu banyak tanpa bantuan anda di dunia gila ini, Ketua.”
Mengatakan itu, Saito menatap ke arah langit dengan senyum di balik topengnya.
Sementara itu, beberapa kilometer jauhnya dari tempat itu.
Evans terus melarikan diri. Mengetahui betapa mengerikannya sosok berjubah itu, dia sama sekali tidak berani melambat. Berdasarkan penampilannya, pemuda itu tahu kalau lawannya sebelumnya jelas dari kelompok Sword of Sufferings yang baru-baru saja muncul.
‘Silvia dan Crux of Shadow ...’
‘Pria misterius dan Sword of Sufferings ...’
Evans menggertakkan gigi. Memiliki tekad membara dalam hatinya, dia bergumam.
“Lain kali ... Lain kali aku tidak akan kalah dengan kalian!”
>> Bersambung.
__ADS_1