Apocalypse Regression

Apocalypse Regression
Kehilangan Kendali


__ADS_3

“Apa yang harus kita lakukan sekarang, Ketua? Haruskah kita membantu Crux of Shadow sekarang?”


Salah satu petinggi dari Golden Crown langsung bertanya pada ketua mereka.


Mendengar pertanyaan itu, ekspresi pria paruh baya yang merupakan ketua dari Golden Crown berubah. Dia jelas telah membawa beberapa orang terpercaya dan seratus prajurit terbaik. Namun saat melihat pertempuran sengit antara Sword of Sufferings dan Crux of Shadow, dia akhirnya mengerti sebuah fakta. Dibandingkan dengan Golden Crown yang dianggap paling kuat di kota ini …


Kedua kelompok berisi para monster itu memiliki level yang jauh berbeda.


“Kita tidak perlu ikut campur dalam pertarungan ini,” ucap pria paruh baya itu.


“Tapi, bukankah kita telah berjanji untuk membantu Crux of Shadow, Ketua?”


“Kita hanya berjanji untuk membuat aliansi. Kita berjanji mengirimi mereka anak-anak yang bisa dibesarkan dan dilatih, bukan berjanji untuk bertarung bersama dengan mereka. Jika kamu ingin mati, kamu bisa pergi bertarung bersama dengan mereka.”


Mendengar ucapan sang ketua, semua orang diam. Meski mereka juga memiliki keinginan untuk bertarung, tetapi mereka sama sekali tidak memiliki keberanian. Lagipula, pertarungan antara dua kelompok itu berada di intensitas lain. Bahkan jika mereka bersemangat, mereka sama sekali tidak bodoh.


Tanpa kesadaran untuk menghadapi bahaya, mereka tidak akan pernah bisa menjadi kelompok terbaik di kota ini. Selain kekuatan mereka, alasan kenapa Golden Crown sendiri bisa bertahan sampai di sini jelas karena kehati-hatian mereka.


BANG!


Sosok Renal dan Draco bertabrakan dengan keras. Udara di sekitar mereka tercabik-cabik saat senjata mereka bertabrakan. Ekspresi ganas tampak di wajah Draco dan ekspresi gila tampak di wajah Renal. Keduanya benar-benar bertarung secara seimbang.


Sementara itu, sosok yang berhadapan dengan Saito adalah pemuda jangkung dengan rambut cokelat bergelombang. Di tangannya, tampak sebuah rapier tipis yang tidak cocok dengan bentuk tubuhnya. Meski begitu, ekspresi Saito menjadi serius karena mengetahui bahwa lawannya juga adalah seorang ahli pedang nyata.


“Nama?” ucap Saito tenang.


Mendengar pertanyaan Saito, pria itu memberi salam layaknya seorang bangsawan saat berkata.


“Yang satu ini adalah satu dari sepuluh Jenderal Crux of Shadow, George.”


Setelah mengatakan itu, dia menatap ke arah Saito dengan senyum elegan di wajahnya.


Saito menatap ke arah pria itu dengan ekspresi tegas lalu menjawab dengan tenang.


“Saito … Saito Ishigami.”

__ADS_1


Keduanya langsung menghilang dari tempat mereka. Rapier tipis dan katana bertabrakan. Namun karena gerakan George sangat pas, rapier di tangannya tidak patah. Bukan hanya tidak patah, tetapi bisa dia gunakan untuk membelokkan serangan Saito berkali-kali.


Swoosh! Klang!


“Apa tujuanmu datang ke tempat ini?” ucap Saito dengan ekspresi tenang.


“Jika kalian datang untuk memulai penaklukan, kami datang untuk membawa perdamaian. Kami adalah orang-orang terpilih yang bertugas untuk membimbing survivor lemah sekaligus melindungi mereka.”


“Membodohi mereka agar masuk ke dalam sekte sesat dimana kalian berada?” ucap Saito dengan nada monoton.


“Tolong jaga mulut anda, Mr Saito. Anda sudah tersesat telalu jauh, jadi tidak bisa melihat keindahan Crux of Shadow. Meski aku tidak suka membunuh orang dan lebih suka membujuk mereka, kali ini berbeda.


Anda telah tersesat dan menjadi pengikut iblis jahat. Oleh karena itu, izinkan saya untuk membersihkan anda. Biarkan anda pergi dalam kedamaian.”


“Bodoh.”


Dua orang kembali menghilang dari tempat mereka. Suara dentingan logam terus-menerus terdengar saat kedua senjata bertabrakan. Terkadang dengan ritme cepat, terkadang dalam ritme lambat. Hanya saja, meski dibilang lambar, orang-orang normal hampir tidak bisa melihat gerakan tangan kedua pria itu.


Hanya saja, saat itu gerakan semua orang terhenti tiba-tiba. Mereka kemudian melihat ke arah tertentu secara serempak.


‘BUNUH! BUNUH! BUNUH! BUNUH! BUNUH!’


Suara teriakan terngiang dalam kepala Draco. Dia menatap ke arah Renal dengan ekspresi marah, benci, dan penuh dengan rasa sakit. Saat itu, sosoknya langsung menghilang dan muncul di depan Renal.


Tombak di tangannya langsung berayun dengan kuat.


Melihat itu, Renal langsung menyilangkan pedangnya untuk menangkis. Hanya saja …


BLARRR!!!


Kekuatan luar biasa meledak. Sosok Renal langsung terhempas puluhan meter jauhanya. Saat itu juga, Draco langsung meraung.


“BUNUH … BUNUH MEREKA YANG MENGHALANGI JALAN!”


Mendengar raungan dan ucapan serak dari mulut Draco, orang-orang langsung merinding. Saito sendiri langsung merespon.

__ADS_1


“Semua anggota Sword of Sufferings, mundur ke tempat aman!”


Pada saat mendengar perintah Saito, orang-orang langsung memutar tubuhnya dan menendang lawan dengan keras. Alih-alih menyusul untuk menghabisi mereka, lima belas orang dari Sword of Sufferings langsung mundur dari area pertempuran.


Tekanan kuat meledak dari tubuh Saito saat menebas George. Pada saat lawan lengah, dia langsung membanting katana dengan kuat, membuat George langsung mundur belasan meter untuk menjaga jarak. Saat itu juga, Saito langsung bergegas ke arah Draco.


BANG!


Sosok Draco terpental mundur beberapa meter saat menerima serangan dari Saito.


“Hentikan itu, Draco! Berhenti melakukan hal bodoh! Jangan kehilangan kewarasanmu!”


“UGH!”


Mendengar ucapan Saito, Draco langsung menancapkan tombaknya ke tanah lalu mengacak-acak rambutnya dengan ekspresi tertekan. Dia berguling di tanah beberapa kali sebelum bangkit, langsung mengambil tombak dan menyerang Saito dengan gila.


“BUNUH! AKU AKAN MEMBUNUHMU!”


KLANG!


Kedua senjata berbenturan. Melihat Draco akan mengeluarkan skill lain, ekspresi Saito langsung berubah menjadi dingin. Tekanan kuat langsung keluar dari tubuhnya. Dia kemudian langsung menebas dengan kejam.


BLARRR!!!


Sosok Draco langsung terhempas lebih dari dua puluh meter dan menabrak pohon besar dengan keras. Melihat sosok Draco yang napasnya naik-turun dan mengangkat tangannya ke arahnya, Saito menghela napas panjang. Dia kemudian melirik ke sisi lain dimana George telah menggendong Renal yang terluka cukup parah.


Selain George, anggota Crux of Shadow lain juga sudah bergegas mundur. Sementara itu, orang-orang dari Golden Crown berlari ketakutan dengan cara yang lebih memalukan. Alih-alih meminta bawahannya untuk menyerang, Saito meminta mereka untuk diam di tempat. Dia melihat George, Renal, dan orang-orang dari Crux of Shadow mundur dengan ekspresi tenang.


Memastikan kalau musuh benar-benar sudah mundur, Saito langsung menghampiri Draco.


Melihat luka tebasan yang begitu dalam dari bahu kiri sampai perut bagian kanan di tubuh Draco, Saito menghela napas panjang. Dia sama sekali tidak berniat untuk menyakiti Draco. Namun jika tidak melakukannya, Saito yakin kalau Draco mungkin tidak berhasil disadarkan.


Melihat ke arah salah satu rekan terbaiknya di Sword of Sufferings, Saito berkata.


“Meski aku juga tidak ingin melakukannya, tetapi aku harus melaporkanmu kepada Ketua, Draco.”

__ADS_1


>> Bersambung.


__ADS_2