Apocalypse Regression

Apocalypse Regression
Paint It Black


__ADS_3

Sekitar dua jam kemudian.


BLARRR!!!


Tubuh besar ular putih langsung terhempas jauh keluar dari danau. Saat itu juga, Jay tiba-tiba tumbang. Dia memegangi perutnya yang robek dan berdarah dengan ekspresi kesakitan.


“Mati! Aku benar-benar akan mati, Ark!”


“DIAM! Siapa yang menyuruhmu mengacaukan segalanya.”


Di sisi Ark sendiri juga tidak tampak lebih baik. Sekujur tubuhnya penuh dengan darah. Meski luka-lukanya telah menutup, tetapi tangan kirinya menggantung lemas. Tulangnya jelas retak, mungkin hancur. Memerlukan cukup waktu untuk pulih seutuhnya.


“Ini benar-benar menyebalkan! Bahkan sahabatku tidak lagi peduli.”


“DIAM, JAY! Ugh! Siapa yang menyuruhku untuk memiliki sahabat sepertimu? Jika kamu hanya seorang kenalan, aku sudah menendangmu ke mulut ular itu sejak tadi.” Ark yang biasanya tenang berkata dengan nada kasar dan tidak puas.


Bahkan jika mereka berdua kuat, mereka bisa disebut sebagai setengah langkah ke tingkat 4 karena belum menyerap miracle root. Jadi bertarung melawan makhluk semacam itu masih sangat berbahaya. Keduanya benar-benar hampir mati beberapa kali dalam waktu kurang dua jam. Hal tersebut membuat Ark yang tenang tidak bisa tidak marah karena kecerobohan Jay.


Ular putih itu sendiri juga tidak tampak lebih baik. Sekujur tubuhnya dipenuhi luka, bahkan kehilangan salah satu kakinya.


“Siapa yang mengira tanduk naga itu bukan pajangan? Dia benar-benar bisa melakukan regenerasi cepat ketika berada di air. Sedangkan kamu sendiri juga tidak mati setelah dihempaskan berkali-kali. Kalian berdua benar-benar curang!”


Ark merasa ingin meninju wajah Jay, tetapi tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Menggertakkan gigi, pemuda itu berjalan tertatih ke arah ular putih yang sekarat. Melihat leher yang sebelumnya nyaris putus mulai pulih, ekspresinya berubah menjadi lebih buruk.


“Aku akan menyalahkanmu karena menunda rencana, Jay!”


Setelah meneriakkan kalimat tersebut, Ark langsung fokus ke arah ular di depannya. Lengan kanan pemuda itu kemudian diwarnai dengan warna hitam. Warna hitam terus menyebar ke pedangnya, membuatnya menjadi gelap.


Warna hitam begitu gelap seolah-olah menyerap cahaya di sekitarnya. Ark kemudian membuat tebasan sekuat tenaga.


SLASH!


Karena makhluk itu telah terluka parah, kepalanya langsung dipenggal tanpa sedikitpun perlawanan. Pemenang akhirnya diputuskan.


Meski menang, Ark dan Jay menderita cukup banyak kerugian. Ark harus menggunakan kemampuan itu lagi, padahal masih belum mampu mengendalikannya. Namun jika dia tidak mengambil resiko, makhluk itu mungkin sulit dipenggal. Jika sampai regenerasi berhasil, mereka berdua yang akan kalah. Hanya saja, Ark sendiri masih tampak enggan.


Jleb!


Pedang di tangan kanan Ark jatuh ke tanah. Tangan kanannya terkorosi racun yang sangat kuat, hampir membusuk dan tidak bisa digerakkan. Jika itu orang normal, luka semacam itu pasti akan membuat mereka menangis. Belum lagi, jika pemuda itu normal, dia tidak akan bisa bertarung lagi karena kehilangan kedua lengannya.


“Meski hanya sementara, kehilangan dua tangan masih sangat merepotkan.”

__ADS_1


Ark kemudian melihat ke arah Jay yang masih berbaring seperti orang mati. Meski pria itu bisa melakukan regenerasi, tetapi kecepatannya terbilang sangat lambat. Tentu saja, Ark tidak akan membiarkannya begitu saja.


“Berhenti tidur dan urus bagianmu, Pemalas!”


“Beri aku waktu untuk mengambil napas sejenak! Ekor tajam sebelumnya tidak hanya mengaduk ususku, tetapi juga melukai jantungku!” teriak Jay.


“Kamu yang mengambil atau aku yang akan mengambilnya.”


“Ya, ya, ya! Tunggu sebentar! Uhuk!” Jay memuntahkan beberapa suap darah. “Kenapa kamu bertindak seperti gadis yang datang bulan? Benar-benar pemarah.”


“…”


Sudut bibir Ark berkedut keras. Dia ingin memberi sahabatnya pelajaran, tetapi kondisi jelas tidak memungkinkan. Pada akhirnya pemuda itu hanya mencari tempat untuk beristirahat dan memulihkan diri. Setidaknya agar luka-luka yang tidak terlalu parah sembuh dan bisa berjalan dengan normal.


‘Untung saja Finn dan Michi mengalihkan perhatian makhluk-makhluk di sekitar.’


Ark menghela napas panjang. Jika bukan karena kedua peliharaan itu, mungkin para binatang buas di sekitar akan tertarik oleh bau darah. Dengan kondisi saat ini, bertarung melawa beberapa binatang buas tingkat tiga jelas sangat merepotkan. Pemuda itu bersyukur atas kerja keras Dinn dan Michi. Benar-benar membantu dia dan sahabatnya untuk menghindari krisis lain.


Menatap ke arah langit, Ark menghela napas panjang.


***


“Kamu benar-benar bisa makan benda seperti itu?”


Jay menatap ke arah Ark dengan ekspresi tidak percaya. Setelah menyerap miracle root, Jay memiliki tugas untuk mengambil kulit ular, tanduk, ekor, dan dua taring. Selain itu, Ark juga menyuruhnya mengambil empedu dan beberapa potong daging. Menyuruh sahabatnya untuk menyuapi dirinya karena tidak bisa makan dengan dua tangan yang lumpuh sementara.


Jika ada beberapa wanita dengan pikiran bengkok, mereka pasti akan menganggap gambar semacam itu sebagai adegan romantis.


“Kamu bisa mencobanya sendiri.” Ark berkata dengan nada datar.


“Aku masih tidak ingin mati karena keracunan, Bung!” bantah Jay dengan ekspresi tidak berdaya.


“Kalau begitu lebih baik kamu tidak telalu banyak protes.”


“Hey, tanganmu benar-benar bisa sembuh, kan?”


“Apakah kamu menyumpahi agar aku tidak sembuh?” Ark berkata dengan nada kesal. “Jika tidak bisa sembuh, pada saat kita terpojok, aku akan menendangmu ke mulut ular lalu melarikan diri.”


“Hahaha! Itu lucu, Ark. Aku yakin kamu tidak akan membiarkan hal semacam itu terjadi.”


‘Jika kamu tidak mengorbankan diri, aku pasti tidak segan untuk melakukannya.’

__ADS_1


Pikir Ark ketika melihat Jay yang tertawa. Dia hanya menggeleng ringan. Meski kejam, pemuda itu bukanlah sosok yang tidak tahu balas budi. Baik ke orang-orangnya dan kejam ke musuh-musuhnya, begitulah cara Ark bertindak.


“Kemasi semuanya, Jay. Kita akan kembali.”


Mendengar itu, Jay mengangguk dengan senyum di wajahnya. Dikarenakan tubuhnya telah pulih dan menjadi semakin kuat setelah menyerap miracle root, pria itu yang mengurus sisanya saat Ark hanya diam dan mengikuti tanpa melakukan pekerjaan lain.


***


Malam harinya, dalam rumah Ark.


“Bisakah kalian tenang? Ini bukan sesuatu yang serius.”


Melihat ke arah para wanita yang khawatir, lalu ke arah Nathan dan Nala yang menangis membuat Ark tersenyum masam. Meski begitu, dia juga merasakan sedikit kehangatan dalam hatinya ketika melihat orang yang mengkhawatirkan dan mempedulikan dirinya.


“Apakah kamu benar-benar tidak apa-apa, Tuan Ark?” tanya Nathan sambil memegangi pakaiannya.


“Apakah itu menyakitkan? Apakah Nala bisa membantu?” tanya Nala yang berindak sama seperti saudaranya.


“Tenang saja, aku baik-baik saja. Lagipula, aku adalah Hades yang ditakuti orang-orang, kan? Ark menjawab dengan senyuman. Berusaha menghibur kedua anak itu agar tidak khawatir.


Sementara Ark sedang menghibur Nathan dan Nala, orang-orang yang ada di rumah mulai berdiskusi.


“Karena Tuan tidak bisa menggunakan tangannya, maka aku yang akan mengurusnya.” Stacy berkata dengan ekspresi serius.


“Kenapa kamu? Bukankah aku dan Shirona yang lebih pantas melakukannya?” tanya Kurona dengan nada monoton.


“Ya! Kurona benar. Seharusnya aku dan Kurona yang melakukannya.”


“Kalian tidak bisa melakukan banyak hal kecuali membunuh.” Stacy mendengus tidak puas.


“Kamu juga tidak bisa memasak dan melakukan pekerjaan rumah dengan baik.” Mata Kurona menjadi lebih dingin.


“…”


Melihat mereka semua berdebat, Ark benar-benar terdiam. Meski merasa cukup bersyukur karena diperhatikan oleh para perempuan cantik, tetapi dia merasa ada yang salah. Pemuda itu mempertanyakan sesuatu dalam hatinya.


‘Bukankah kalian fokus pada hal yang salah? Bukannya memikirkan agar aku sembuh lebih cepat, kenapa aku merasa kalau kalian ingin kedua tanganku benar-benar lumpuh secara permanen?’


‘Bukankah pikiran kalian menjadi semakin tidak normal?’


>> Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2