
Sekitar setengah hari kemudian.
Di tempat rombongan Golden Maple Group dan Sword of Sufferings berada, ekspresi kelelahan dan putus asa terlihat di wajah orang-orang. Setelah menjalani hari-hari di ujung tanduk, mereka tidak lagi optimis bisa selamat dari bencana ini.
Bukan hanya kelompok mereka, tetapi kelompok lain juga mengalami hal yang sama. Bahkan bisa lebih parah. Entah itu Imperial Phoenix yang dipimpin Ascot, Blade of Areia dengan pemimpin baru, Crimson Bull, dan kelompok lainnya.
Jika tidak dihancurkan, kemungkinan besar hanya beberapa orang yang selamat. Jumlahnya jelas tidak lebih dari 30% jumlah anggota sebelumnya. Sedangkan sisanya menjadi santapan para binatang bermutasi atau mungkin diinjak sampai rata menjadi bagian tanah kota ini.
“Apakah tidak ada jalan lain?”
Ekspresi Roxanne dan anggota Sword of Sufferings lainnya tampak suram. Mereka tidak menyangka akan mendapatkan masalah bahkan sebelum satu hari berlalu.
Tidak terlalu jauh dari rombongan mereka, tampak pasukan binatang bermutasi yang hampir memenuhi segala sisi. Ada celah untuk melarikan diri, tetapi tidak bisa dilakukan jika semua orang pergi bersama-sama.
“Dua binatang level 4, empat binatang level 3, dan setidaknya seratus binatang level 2. Dengan barisan kita sekarang, aku rasa hampir mustahil untuk menang.”
Menghitung jumlah dan kekuatan musuh, Jay langsung menghirup napas dingin. Dalam rombongan ini, yang paling kuat sekarang hanya dia dan Roxanne. Namun kondisi Jay tampak tidak menguntungkan.
Kekuatan pria itu belum pulih dan kurang cocok untuk bertarung melawan musuh kuat, khususnya makhluk level 4 ke atas. Jika tidak, dia benar-benar akan ditanam di tempat ini jika masih memaksakan diri.
“Apa yang harus kita lakukan sekarang?” tanya Jay.
“Sepertinya kita benar-benar harus meninggalkan orang-orang dari Golden Maple Group.”
Mendengar ucapan Jay, Aisha berkata dengan nada serius. Tampaknya tidak bercanda karena menyangkut keselamatan mereka semua.
“Aku akan mencobanya.”
Mendengar perkataan Roxanne, semua orang langsung tertegun. Mereka jelas tidak menyangka wanita rasional tersebut mengutarakan ide sembrono semacam itu.
“Tidak, tidak, tidak. Bahkan jika kamu putus asa, aku tidak akan mengizinkanmu melakukan hal sembrono semacam itu. Jika sesuatu terjadi padamu, Ark pasti merasa sangat tidak senang.”
Aisha langsung menolak gagasan Roxanne. Dia tidak ingin orang yang Ark hargai mengalami kecelakaan. Setidaknya tidak di depan matanya.
“Aku sama sekali tidak bunuh diri, Saudari Aisha. Aku bisa menggunakan kemampuan mengonsumsi darah untuk mengembalikan stamina. Jadi, aku rasa aku masih bisa bertahan melawan makhluk level 4 dan beberapa makhluk level 3.”
“Kalau begitu aku akan bertarung dengan makhluk level 4 lain.”
Jay mengatupkan gigi. Meski kondisinya tidak prima dan hampir mustahil menang, dia tidak ingin menyia-nyiakan kebaikan Roxanne untuk memberi waktu rombongan. Lagipula, orang tuanya juga ada di sana.
__ADS_1
Melihat orang-orang yang tampaknya penuh dengan niat bertarung, Aisha tidak bisa tidak mengeluh.
“Kalian benar-benar sudah gila!”
Menyadari ekspresi tegas dalam tatapan Roxanne, Aisha menghela napas panjang. Wanita itu mengangkat bahu lalu berkata.
“Baiklah, kamu pemimpinnya sekarang. Jika kamu ingin melawan, maka aku akan mengikti perintahmu. Namun, katakan padaku ...
Apa rencanamu?”
Mendapatkan persetujuan dari Aisha, Roxanne tersenyum lega. Menarik napas dalam-dalam, wanita itu akhirnya berkata.
“Pertama-tama, kita akan meminta ayah dan ibu Jay untuk memimpin pasukan melewati celah. Segera pergi lewat sana.
Sementara itu, kita akan melawan makhluk-makhluk itu. Karena jika langsung berlari juga tidak pasti bisa lolos, maka kita akan melawannya terlebih dahulu. Setidaknya, dengan begitu kita tidak perlu menyesal jika gagal.
Jika bisa mengalahkan musuh, kita akan mengalahkan mereka. Jika tidak, maka kita hanya akan menunda waktu sebelum melarikan diri lewat celah lain yang lebih sempit.
Dengan begitu pasukan musuh akan terpisah, tetapi kemungkinan Golden Maple Group dan Sword of Sufferings selamat hanya 50:50. Tidak lebih dari itu.”
Mendengar penjelasan Roxanne, Aisha tahu kalau wanita itu takut mendapatkan pukulan mental. Lagipula, jika mereka melarikan diri terlebih dahulu tetapi akhirnya terkejar dan dipaksa melawan musuh, itu sama saja. Hanya membuat mereka menyesal kenapa sebelumnya tidak menyelamatkan orang-orang.
“Jadi, lawan mana yang akan kalian pilih?” tanya Aisha sambil memandang Roxanne dan Jay.
“Biarkan aku memberi pendapat.”
Roxanne mengangkat tangan sambil menatap Jay, lalu melanjutkan.
“Kak Jay, aku pikir kamu harus melawan Raja Serigala bermutasi level 4 dan Ratu serigala bermutasi level 3. Meski mereka cepat, tetapi pertahanan mereka tidak kuat. Dengan kondisi yang tidak prima seperti saat ini, seharusnya kamu masih bisa melukai mereka.
Aku sendiri akan melawan Raja Banteng bermutasi level 4 dan tiga kadal dengan punggung mirip gergaji level 3. Seharusnya darah Raja Banteng bisa membawa manfaat bagiku. Meski agak berat, seharusnya aku masih bisa melawan mereka semua.
Sedangkan untuk sisanya, kalian boleh memilih lawan masing-masing sesuai dengan kemampuan kalian. Jika bisa, gunakan kemampuan yang membatasi lawan-lawan sehingga pertarungan tidak akan menjadi begitu berat.”
Mendengar ucapan Roxanne, mereka semua mengangguk.
“Dimengerti!” jawab mereka serempak.
“Kalau begitu, tolong atur Golden Maple Group agar segera pergi, Kak Jay. Aku akan pergi untuk menarik perhatian makhluk-makhluk itu terlebih dahulu.”
__ADS_1
Setelah mengatakan itu, sepasang sayap kelelwar raksasa berwarna hitam muncul di punggung wanita cantik itu. Ditambah mata merah delima dan taring yang muncul di sudut bibirnya membuat Roxanne benar-benar mirip vampir dalam legenda.
Wanita itu kemudian mengeluarkan tiga tongkat pendek yang dibuat dari bahan khusus. Dia kemudian menyambungkan tongkat-tongkat tersebut dengan pedang pendek miliknya.
Bersama dengan suara ‘klik’, tombak panjang berwarna putih seperti tulang muncul di tangannya.
Melihat ke arah rekan-rekannya, Roxanne segera terbang menuju ke tempat para binatang bermutasi dengan senyum di wajahnya.
Berniat melakukan pertempuran dengan caranya sendiri!
***
Sekitar empat jam kemudian.
Setelah melakukan pertempuran yang berlarut-larut, pertarungan akhirnya terselesaikan. Tampak banyak sekali tubuh binatang bermutasi yang berserakan di mana-mana dengan berbagai ukuran, dari yang kecil sampai yang besar.
“Ugh! Ini sebabnya aku tidak ingin bertarung terlalu serius. Benar-benar tidak sesuai dengan harganya.”
Melihat ke arah Roxanne yang pingsan karena kelelahan dalam pelukannya, Aisha tersenyum masam. Melihat senyum bahagia di wajah wanita itu, dia tidak bisa tidak menggelengkan kepalanya.
Bukan hanya Roxanne, tetapi hampir semua anggota Sword of Sufferings hampir pada batas mereka. Sebagian besar tidak bisa menggerakkan tubuh mereka. Hanya menyisakan Aisha, Angelica, dan beberapa orang lain yang masih bisa bergerak meski sudah sangat kelelahan.
Melihat ke arah tubuh binatang buas yang mereka habisi, Aisha kembali berkata.
“Syukurlah kita masih bisa mengalahkan mereka dalam keadaan utuh. Dengan begini, setidaknya jalur mundur kita akan lebih mudah.”
Setelah menyelesaikan ucapannya, Aisha memindahkan Roxanne. Dia juga meminta Scorpio yang masih sadar membantu Jay.
Pada saat mereka semua sudah bersiap untuk mundur, suara yang begitu lembut dan familiar terdengar di telinga mereka.
“Ke-te-mu!”
Mendengar suara itu, Aisha dan rekan-rekannya menoleh ke arah yang sama.
Di sana, tampak sosok Chelsea yang tersenyum ke arah mereka. Walau terlihat manis dan cantik, tetapi entah kenapa ...
Senyum itu membuat mereka merasakan bahaya.
>> Bersambung.
__ADS_1