Apocalypse Regression

Apocalypse Regression
Terlihat Semakin Menyedihkan


__ADS_3

Satu per satu anggota Cursed Berserkers mulai menyadari betapa salahnya mereka. Setelah berjuang mati-matian dengan jumlah dua kali lipat dibanding lawan, tetap saja mereka tidak bisa bergerak maju.


Setiap prajurit dari Sword of Sufferings seperti dinding besi yang tidak dapat mereka tembus.


Marah, benci, tidak terima ... semua perasaan campur aduk muncul dalam diri mereka ketika terus menyerang. Sampai akhirnya, mereka sadar kalau musuh mereka kali ini benar-benar berbeda dari kelompok yang pernah mereka lawan sebelumnya.


“Ini ... Apakah ini masih Cursed Berserkers yang aku kenal?”


Melihat pemandangan dimana Cursed Berserkers menyerang dengan gila tetapi berujung dibantai, Angelica merasa pandangannya tentang dunia berubah total.


“...”


Duduk di dekat Angelica dan menonton pemandangan di luar jendela, mata Aisha menyempit. Berbeda dengan Angelica yang hanya mengandalkan naluri untuk bertahan hidup, dia menyadari kalau prajurit dari Sword of Suffferings tidak hanya memiliki keuntungan kekuatan. Mereka juga dilatih dengan sangat baik.


‘Cara melatih, cara memimpin, dan cara memperkuat organisasi. Dengan kemampuan semacam itu ... kenapa Ark dulu menolak ketika diminta memimpin Reign of Shadow?’


Berbeda dengan Angelica yang hanya kagum atas kehebatan Ark dan pasukannya, Aisha malah bingung. Wanita itu merasa kalau Ark yang dia lihat sekarang sangat berbeda dengan pemuda yang dia kenal sebelumnya.


Meski begitu, Aisha tahu kalau orang yang mengundangnya bergabung memang Ark. Lagipula, sifat aslinya tidak berubah begitu banyak. Dia hanya merasa, pemuda tersebut sudah menjadi lebih dewasa dibandingkan sebelumnya.


‘Waktu memang merubah semuanya.’


Memikirkan itu, Aisha tanpa sadar mengangkat sudut bibirnya.


Sementara itu, di medan pertempuran.


“AARRGGHH!!!”


Crocodile melolong marah. Matanya tampak merah karena sedih, marah, dan tertekan. Pria itu langsung mengayunkan pedangnya dengan sekuat tenaga.


Klang!


Prajurit dari Sword of Sufferings di depannya hanya mengangkat pedang untuk menangkis serangan gila-gilaan dari Crocodile. Tampaknya tidak merasakan tekanan padahal pihak lawan padahal telah menyerangnya dengan putus asa.


Ya. Pada akhirnya, bahkan Crocodile tidak mampu melawan seorang pun prajurit acak. Mungkin mereka dianggap sebagai elit, tetapi jumlah mereka sangat banyak. Jadi, itu bukanlah keberadaan tingkat tinggi di Sword of Sufferings.


Melirik ke arah Crocodile, ada tatapan kecewa yang sama sekali tidak dia sembunyikan.


“Aku akan membunuh kalian! AKU AKAN MEMBUNUH KALIAN SEMUA!”


Melihat Crocodile yang marah, putus asa, dan tampak dipenuh dengan kebencian, Ark menggeleng ringan.


Beberapa saat kemudian, Ark berkata.


“Kamu bilang ingin membunuhku, kan?”


Perkataan Ark yang begitu santai dan tenang langsung menarik perhatian semua orang termasuk Crocodile.


Melihat mata merah Crocodile, Ark kembali berkata.


“Buka jalan untuknya.”

__ADS_1


Mendengar itu, banyak orang merasa ada yang salah dengan telinga mereka.


Salah satu prajurit kemudian berkata.


“Mohon maaf, Ketua! Orang-orang lemah, sampah seperti mereka sama sekali tidak pantas untuk membawakan sepatu anda, apalagi menantang anda.”


“Ya, Ketua! Kami sudah lebih dari cukup untuk mengurus mereka.”


“...”


Orang-orang yang begitu antusias membuat Ark merasa cukup senang. Hanya saja, dia memiliki pikirannya sendiri. Memiliki alasan kenapa menyuruh Crocodile maju.


“Jangan biarkan aku mengulanginya untuk ke dua kalinya.”


Mendengarkan ucapan Ark, para prajurit yang awalnya berbaris di sekitar Crocodile langsung membuka jalan.


Melihat Crocodile yang linglung, Ark masih memasang ekspresi tak acuh di wajahnya. Pemuda itu kemudian berkata dengan nada datar.


“Kamu bilang ingin mengambil nyawaku, kan?”


Ark memiringkan kepalanya.


“Nyawaku ada di sini. Datang dan ambil jika kamu memiliki kemampuan.”


Mendengar ucapan tersebut, banyak orang menatap Ark. Nada suaranya terdengar begitu santai dan malas. Namun entah kenapa, mereka semua malah tertekan karena merasa lebih rendah dibandingkan sosok pemuda yang berbicara seolah-olah tidak menempatkan semua orang di matanya.


Tubuh Crocodile gemetar karena malu dan marah. Pria itu kemudian bergegas ke arah Ark dengan putus asa.


Sampai di depan Ark, pria tersebut langsung mengayunkan pedangnya sambil berteriak.


Swoosh!


Pedang berayun dengan cepat, langsung membidik leher Ark. Namun, apa yang terjadi berikutnya membuat mata sema orang terbelalak.


Di mata terkejut semua orang, Ark sama sekali tidak menghindar. Dia bagkan tidak menggunakan sedikitpun kemampuan. Namun, pedang yang diayunkan oleh Crocodile sama sekali tidak bisa memotong leher Ark.


“Kualitas senjata yang buruk. Tingkat kekuatan juga buruk. Belum lagi, tekniknya lebih buruk.”


Ark menatap tepat ke mara Crocodile.


“Jika kamu ingin membunuhku, itu saja tidak cukup.”


“KAMU!”


Crocodile terus menebas dengan gila. Namun dimana pun dia menebas, hasilnya sama saja. Setiap serangan bahkan tidak menggores tubuh Ark.


“Padahal aku memiliki beberapa harapan untukmu. Namun ...” Ark menggeleng ringan. “Kamu benar-benar terlalu menyedihkan.”


CRASH!


Crocodile langsung membanting botol ke wajah Ark. Sebuah botol yang penuh dengan racun kuat.

__ADS_1


Saat itu juga, suara cairan korosif merusak kulit terdengar didampingin dengan kepulan asap yang muncul di kepala Ark.


“HAHAHA! LIHAT ITU! LIHAT BAGAIMANA AKHIRNYA JIKA KAMU MEREMEHKANKU! AKU-“


“Memang racun yang korosif sampai pertahananku tidak bisa menangkal semuanya.”


Pada saat asap menghilang, wajah Ark yang dipenuhi luka bakar muncl di depan mata semua orang. Hanya saja, semua orang tidak fokus ke sana. Sebaliknya, mereka malah fokus kenapa pemuda itu masih begitu tenang, bahkan tidak tampak kesakitan.


Beberapa saat kemudian, kejadian yang tidak masuk akal kembali muncul di depan mata orang-orang.


Wajah Ark yang sebelumnya dipenuhi dengan luka bakar mlai beregenerasi. Mulai sembuh dan kembali ke penampilan pemuda tampan seperti sebelumnya.


“Bingung, takut, putus asa, dan merasa tertekan sampai gemetar serta tidak bisa memegang erat pedangnya. Orang sepertimu ... ingin membunuhku?”


Ark memiringkan kepalanya. Iris mata bak rubi memancarkan kilau dingin. Mata itu mengandung jejak ketidakpedulian. Jelas tidak menempatkan Crocodile di matanya.


Lebih tepatnya, Ark merasa kecewa karena Crocodile sangat berbeda dengan sosok yang dia ingat. Pria itu terlalu menyedihkan dan tidak berguna. Padahal, dia telah menurunkan segala ekspektasi tinggi.


Tetap saja, Ark masih merasa kecewa.


Pejuang ganas yang tidak terikat aturan. Sosok yang bertarung dengan gila, memperebutkan hegemoni dan menganggap dirinya sebagai raja. Pria yang tidak mempercayai siapapun, dan tidak mau tunduk kepada siapapun.


Itulah gambaran Crocodile, pria ganas yang bertarung dengannya di kehidupan sebelumnya.


Bahkan jika masih beberapa tahun, Ark berpikir Crocodile telah tumbuh dengan baik karena sudah membuat kelompoknya sendiri dan menjadi salah satu dari tiga kelompok terbesar di kota ini.


“Kekuatan di kota ini? Hanya begini saja?”


Mendengar ucapan tersebut, banyak anggota Cursed Berserkers merasa malu dan marah. Namun, perasaan itu segera tertutup oleh rasa takut dan tak berdaya di depan Sword of Sufferings.


“KAMU ...” Crocodile gemetar, menatap ke arah Ark dengan ekspresi bingung dan ketakutan. “Kamu itu sebenarnya apa?”


Mendengar pertanyaan itu, Ark menjawab santai. Tidak cepat atau lambat. Tampaknya tidak peduli sedang berada di medan pertempuran atau tidak.


“Jika kamu bertanya aku ini apa? Jawabannya adalah manusia.


Namaku siapa? Jawabannya adalah Ark.


Aku ini siapa? Jawabannya adalah pemimpin Sword of Sufferings.”


“MUSTAHIL! KAMU PASTI BUKAN MANUSIA! KAMU PASTI MONSTER! IBLIS YANG MENYAMAR SEBAGAI MANUSIA!”


Melihat ekspresi gila di wajah Crocodile, Ark menggeleng ringan. Dia kemudian mengulurkan tangan dan menunjuk Crocodile dengan jari telunjuk yang diselimuti energi merah.


SLASH!


Luka mengerikan berbentuk ‘X’ muncul di dada dan perut Crocodile, membuat pria itu langsung jatuh terlentang ke tanah. Menatap ke arah langit dengan ekspresi kosong.


“Berhentilah sombong dan merasa besar, lalu merengek dan menangis setelah melihat fakta kalau kamu hanyalah katak dalam sumur. Sungguh ...”


Ark membersihkan jari yang kotor karena darah tanpa merubah ekspresinya.

__ADS_1


“Itu hanya membuatmu terlihat semakin menyedihkan.”


>> Bersambung.


__ADS_2