Apocalypse Regression

Apocalypse Regression
Bukan Ksatria, Apalagi Pahlawan


__ADS_3

Di kereta, Darin yang melihat sosok Ark menghilang membuka mulutnya.


"Apakah kalian berdua mengetahui apa maksud Ketua?"


"Errr ... pamer?" ucap Yonas ragu.


"Tentu saja tidak, Bodoh!"


Darin memijat keningnya dengan ekspresi lelah. Melihat dua rekannya, dia kemudian berkata.


"Ketua hanya memeriksa. Melihat musuh yang harus dihadapi dan memastikan kita baik-baik saja."


"Itu membuatku terkejut."


Ekspresi Yonas berubah. Bukan hanya dia, tetapi Vadim juga terkejut. Tidak menyangka kalau ketua yang dingin itu masih memikirkan mereka.


"Jangan senang dulu."


Darin langsung membuat kedua temannya menghilangkan fantasi lucu di kepala mereka.


"Dari apa yang dilakukan Ketua, aku bisa mengerti sedikit.


Ketua memiliki dua jenis penilaian. Jadi aku harap kalian juga harus memahaminya."


"Maksudmu?"


"Dari apa yang aku lihat, ketua menilai orang dari dua kondisi.


Pertama, apakah orang itu teman atau lawan. Terakhir ... Apakah orang itu berguna atau tidak!"


Darin menatap Yonas dan Vadim dengan serius.


"Kita bisa lolos ujiannya, jadi dia menganggap kita sebagai rekan. Kita terus melakukan latihan dan bisa mencapai "standar" yang dia inginkan, jadi kita bertahan. Itu alasan kenapa Ketua peduli kepada kita.


Jika kita masuk ke dalam kategori tidak berguna, aku tidak heran jika Ketua akan membuang ... membuat kita mati dalam pertempuran."


"K-Kamu terlalu berlebihan kan, Darin?"


"Tidak!" Darin menjawab tegas. "Aku mengatakan ini karena aku peduli pada kalian. Apakah kalian mengerti?"


"Jika ketua memang seperti itu, apakah kamu memiliki rencana untuk—"


"Hentikan pikiran bodoh itu, Yonas. Kita hidup baik dalam Sword of Sufferings. Bahkan jika kita bisa melihat bagaimana Ketua bertindak, kita tidak perlu berpura-pura menjadi pintar.


Melarikan diri, membelot, atau mencoba melakukan kudeta. Aku yakin Ketua telah memperhitungkan semua itu. Bahkan ...


Entah kenapa aku yakin, pria itu bahkan menyembunyikan trik dimana bahkan jika seluruh anggota Sword of Sufferings membelot dan mencoba membunuhnya ... dialah yang pada akhirnya membunuh kita semua.


Seperti yang Ketua katakan di awal. Kita hanya perlu melakukan hubungan timbal balik saling menguntungkan. Tentu saja, kita sendiri harus menambahkan dua poin agar kita tetap aman.


Pertama, jangan memikirkan hal bodoh dan tetap setia.


Terakhir ... jangan sampai tertinggal dan akhirnya dibuang."


Tangan mereka bertiga mengepal erat. Meski benci mengakuinya, mereka memang sangat membutuhkan Ark.


Alasan kenapa mereka ingin kabur bukan karena mereka tidak suka. Mereka bertiga hanya takut tertinggal dan akhirnya terbuang. Namun karena mereka telah memutuskan untuk terus tinggal ...


Mereka harus terus berlari mengejar punggung pria itu!


Tidak membiarkannya menjauh, apalagi menghilang!


***


Sementara itu, dalam sebuah ruangan di lantai satu.


"Kenapa kamu melakukan hal bodoh semacam itu, Nami?!"

__ADS_1


Melihat sosok wanita cantik yang dipenuhi luka berdiri untuk melindunginya, Saito merasa dadanya sesak.


Jelas, bahkan jika tidak terus bertarung, Nami bisa pergi ke tempat aman untuk berlindung. Akan tetapi, wanita itu malah memilih untuk tinggal dan melindunginya. Hal tersebut membuat Saito merasa bingung.


"Kamu telah bersumpah untuk tidak mengangkat pedang dan melukai sejak Paman Kaito meninggal, bukan?


Kamu tidak ingin membuat masalah untuk orang lain. Aku mendukung keputusanmu, Saito. Oleh karena itu ...


Biarkan aku yang melindungimu."


Nami yang tubuhnya penuh dengan luka menoleh ke arah Saito. Tersenyum menawan tanpa sedikitpun rasa menyesal di wajahnya.


Para gagak tidak hanya mengamuk di luar. Mereka bahkan memecahkan jendela dan mengacau dalam gedung. Tentu saja, mereka lebih mudah dihadapi karena berada di ruangan lebih sempit sehingga para burung itu tidak bisa terbang bebas.


Jumlah mereka juga terbatas, itulah kenapa di dalam gedung lebih aman. Hanya orang-orang bodoh yang berlari ke luar dan berusaha melarikan diri karena panik.


"Ayo pergi dari sini, Saito."


Berhasil membunuh dua gagak dengan usahanya sendiri, Nami langsung mengajak Saito pergi. Namun karena terluka dan lelah, wanita itu tiba-tiba tersandung.


Sebelum roboh, Saito memeganginya. Melihat senyum di wajah Nami, pria itu merasa tidak punya wajah. Dia menunduk sambil bergumam.


"Maafkan aku, Nami."


Menatap tepat ke mata Saito dan melihat perubahan pada pria itu, Nami tersenyum lebih lebar.


"Setelah bertahun-tahun, kamu akhirnya sadar, Bodoh~"


"Maaf," ucap Saito dengan ekspresi menyesal.


"Berhentilah meminta maaf seperti itu!"


"..."


Keduanya saling memandang lalu tersenyum. Saito membantu Nami untuk berjalan. Mereka keluar dari ruangan untuk pergi ke tempat persembunyian yang diketahui oleh Nami.


Namun saat mereka berdua keluar dari ruangan tersebut, keduanya langsung mematung.


"Setelah hitungan mundur ... kamu harus segera lari, Saito."


Tidak hanya tidak mundur, Saito yang mendengar ucapan Nami langsung menggendong wanita itu layaknya seorang putri lalu berbalik untuk melarikan diri.


Melihat mereka melarikan diri, makhluk itu mulai mengejar dengan berhati-hati.


Pada saat makhluk itu maju, sosoknya akhirnya terungkap.


Dia adalah salah satu binatang yang muncul di Afrika. Makhluk yang sangat dibenci bahkan dianggap sebagai hama. Mereka suka berburu secara berkelompok. Mereka biasanya merampok toko, mencuri makanan, memakan sampah, bahkan terkadang membunuh manusia.


Binatang yang melawan singa tanpa takut, bahkan terkadang bisa mengalahkannya dengan jumlah kelompok.


Ya ... Hyena.


Seekor hyena yang memiliki ukuran dua kali lebih besar daripada aslinya. Jika seekor hyena besar biasanya memiliki tinggi satu meter dan panjang dua meter, makhluk ini memiliki tinggi lebih dari dua meter. Panjangnya hampir empat setengah meter!


"Lari! Cari ruangan sempit agar dia tidak bisa masuk!"


Pada saat sebuah ide muncul di kepala Saito, ide itu langsung sirna ketika melihat sosok hyena lain yang mencegatnya dari depan.


Hyena adalah salah satu binatang cerdas. Bukan hanya cerdas, tetapi juga terkenal karena ketamakan, kelicikan, dan kekejaman mereka!


"Turunkan aku. Aku akan berusaha menahan mereka sehingga kamu bisa—"


"Diam!" ucap Saito tegas.


Pada saat itu, suara cekikikan keras terdengar. Hal tersebut langsung membuat Saito dan Nami terkejut.


Suara hyena yang mirip tawa iblis menggema di lorong, bahkan seluruh gedung.

__ADS_1


Ditambah penampilan mereka yang lebih mengerikan daripada aslinya, kedua orang itu menjadi lebih putus asa!


Saito mengigit bibirnya sampai berdarah, merasa marah sekaligus putus asa ketika direndahkan oleh dua sosok hyena tersebut.


Pria itu langsung berlari ke satu-satunya jalan yang tersisa, dan akhirnya keluar dari gedung.


Keluar dari gedung dan sampai di halaman belakang, Saito mematung di tempatnya. Karena di sana ... ada satu lagi hyena yang tampaknya telah menunggu.


Dua hyena sebelumnya mengejar keluar dari gedung. Ketiga binatang buas itu mengelilingi Saito dan Nami sambil membuat suara cekikikan. Rasanya sedang mengejek dan menertawakan kedua manusia bodoh di depan mereka.


"Saito—"


"Maaf. Karena aku, kamu harus berakhir seperti ini."


"Aku sama sekali tidak menyesal!"


Nami memegang wajah Saito lalu menciumnya. Keduanya saling memandang. Tampaknya mereka akhirnya mengerti perasaan masing-masing, tetapi juga menyesal karena terlambat mengakuinya.


"Sungguh romantis."


Suara tak acuh terdengar. Dua orang itu terkejut lalu melihat ke arah sumber suara.


Entah sejak kapan, ada sosok berjubah hitam dan bertopeng duduk di jendela lantai dua sambil memandangi mereka.


Melihatnya, ekspresi terkejut dan penuh syukur tampak di wajah Saito.


"Hades ... Kamu ..." Merasa tersentuh, dia menyeka air mata haru. "Terima kasih!"


Mendengar ucapan Saito, Ark memiringkan kepalanya.


"Hah? Kenapa?"


"Eh???"


Pertanyaan Ark membuat kedua orang itu terkejut. Tiba-tiba mereka berdua merasakan firasat buruk.


"Datang untuk menyelamatkan kalian? Pfft ..."


Ark menutup wajah (topeng) dengan tangannya. Tubuhnya sedikit gemetar karena menahan tawa.


"Kalian pikir kalian siapa?"


"..."


Pertanyaan Ark membuat Saito dan Nami terdiam. Tubuh mereka gemetar karena marah dan putus asa.


"Bukankah ini menarik? Maksudku ...


Menonton kalian bertarung dan berjuang. Saling menjaga dengan kekuatan cinta? Pfft ..."


Tidak lagi bisa menahan tawa, Ark mendongak sambil tertawa lepas.


"HAHAHAHA!!!"


Suara tawa seperti iblis menggema. Mata dingin menatap ke arah Saito dari balik topengnya.


"BUKANKAH KAMU BERPIKIR AKAN MENJADI TOKOH UTAMA? SOSOK HEBAT KETIKA DUNIA KACAU INI TIBA?


LALU MARI KITA LIHAT!"


Ark kembali tertawa dengan kejam.


"MARI KITA LIHAT APAKAH KAMU BENAR-BENAR MUNCUL SEBAGAI PAHLAWAN ATAU SEBALIKNYA ...


KARENA KESOMBONGAN DAN KEBODOHAN ..."


Ark membuka kedua tangannya lebar-lebar.

__ADS_1


"KAMU SEKALI LAGI AKAN KEHILANGAN ORANG YANG KAMU SAYANG!"


>> Bersambung.


__ADS_2