
"Apa itu medan perang?"
"Apakah tempat untuk saling memperjuangkan keyakinan?"
"Apakah tempat untuk saling melampiaskan kebencian?"
"Apakah tempat untuk saling memperebutkan keuntungan?"
"Tidak ... Semua itu kurang tepat ..."
Di tanah luas berwarna putih, tetes demi tetes darah yang jatuh dari ujung pedang mengotorinya dengan warna mereka. Melukis kekosongan dengan warna penderitaan dan kepedihan.
Sosok berjubah hitam berjalan perlahan. Ratusan meter di belakangnya, banyak potongan tubuh binatang buas dan zombie yang tak terhitung jumlahnya.
Sosok bertopeng itu menatap langit biru tanpa setitik pun awan. Hanya ada kekosongan biru yang terpantul tepat di matanya.
Sekali lagi, dia kembali bergumam.
"Itu hanya tempat dimana nyawa dibuang ..."
"Tempat yang sebenarnya tidak diperlukan jika "kedamaian" memang ada."
Dua sosok putih terpantul di iris mata pemuda itu.
"Dan jika "kedamaian" di akhir dunia ini memang ada ..."
Pemuda itu kemudian memejamkan matanya.
"Aku juga ingin melihatnya."
***
Sementara itu, di tempat Julian berada.
Memimpin sekitar seratus orang di belakangnya, pria itu menatap lurus ke arah kejauhan. Melihat jumlah musuh sekilas, ekspresinya menjadi lebih berat.
"Setidaknya 300 ... mungkin hampir 400 orang."
Jauh di depan Julian dan pasukannya, memang ada 300 orang dari Imperial Tiger. Selain itu, ada juga bala bantuan dari Third Scars hampir 100 orang. Jika ditotal, jumlah orang di pihak aliansi dua kelompok tersebut empat kali lebih banyak daripada jumlah yang ada di pihak Julian.
Tatapan Julian langsung menuju ke arah tertentu dimana ada pemimpin pasukan pihak musuh. Pemimpin pasukan tersebut adalah seorang lelaki paruh baya kekar dengan tubuh seperti binaragawan. Dia memakai seragam, jelas merupakan anggota Imperial Tiger.
Selain orang itu, ada dua orang lain dengan pakaian berantakan dan ekspresi ganas di wajah mereka. Menurut Julian, keduanya tidak kalah kuat dibandingkan dengan pria yang memimpin pasukan.
"Tiga awakener di sini lawan, sedangkan di pihakku ada lima. Namun ... jumlah musuh terlalu banyak," gumam Julian.
Menurut pembagian, lewat depan ada 5 orang termasuk Julian. Dari kiri, ada 4 orang. Dari kanan, ada 4 orang. Sedangkan dari belakang, ada 3 orang. Alasan Joseph meminta kurang karena dia membawa pasukan dua kali lebih banyak, jadi merasa sungkan terhadap Julian.
"Semua orang, bersiap di tempat kalian!"
"Jangan takut dengan jumlah musuh!"
"Jangan lupakan alasan kenapa kita datang ke tempat ini!"
Julian menarik keluar pedangnya. Orang-orang di belakangnya juga langsung melakukan hal yang sama.
'Zander dan Viper tidak muncul. Mungkinkah mereka menunggu di dalam?'
__ADS_1
Merasa pikirannya teralihkan, Julian menggelengkan kepalanya. Memegang erat pedangnya, napasnya perlahan-lahan menjadi lebih stabil.
'FOKUS ... FOKUS DENGAN APA YANG ADA DI DEPANMU, JULIAN!'
Berbisik pada dirinya sendiri, ekspresi penuh tekad tampak di wajah Julian.
Melihat ke arah orang-orang yang dipaksa untuk menjadi prajurit dan dikirim ke medan perang, dia menggertakkan gigi. Merasa tidak nyaman ketika melihat wajah keragu-raguan musuhnya, pria itu akhirnya berkata.
"BAGI KALIAN YANG DIPAKSA, LEBIH BAIK KALIAN MENYINGKIR DARI TEMPAT INI!
INI BUKANLAH TEMPAT UNTUK MEMBUANG NYAWA KALIAN! SELAMA KALIAN MENYERAH—"
"HAHAHAHA!"
Tawa keras langsung terdengar di sisi lain. Orang yang memimpin pasukan menatap ke arah Julian seolah-olah sedang melihat lelucon.
"JANGAN MUDAH DIBODOHI!"
"MUSUH JELAS MEMILIKI JUMLAH LEBIH SEDIKIT. MEREKA BERKATA SEDEMIKIAN RUPA AGAR MEMBUAT KALIAN KETAKUTAN DAN MENGURANGI JUMLAH ORANG.
UNTUK APA KALIAN TAKUT? MEREKA HANYA SERATUS ORANG!
APAKAH KALIAN TIDAK MEMIKIRKAN APA YANG TERJADI DENGAN KELUARGA DAN TEMAN KALIAN JIKA KALIAN GAGAL DI SINI?!"
Mendengar ucapan orang itu, orang-orang yang tampak ragu mulai menggertakkan gigi. Mereka menatap ke arah Julian dan pasukannya dengan mata merah. Benar-benar memandang musuh dengan tatapan penuh kebencian dan niat untuk membunuh.
Merasakan itu, ekspresi Julian perlahan berubah. Awalnya dia tampak enggan, tetapi beberapa saat kemudian ... seluruh keraguannya menghilang.
Julian menatap ke arah musuh-musuhnya dengan ekspresi dingin. Tampaknya berbeda dengan dirinya yang biasa.
Pria itu langsung menunjuk dengan pedangnya dan berteriak sekuat tenaga.
***
Sementara itu, di tempat Joseph berada.
"Aku tidak menyangka kita akan kembali bertempur seperti sekarang, Zander."
Joseph menarik keluar pedangnya. Memimpin dua ratus orang, dia menatap Zander dan lebih dari empat ratus orang di sisi lain. Bukan hanya jumlah mereka dua kali lebih banyak ...
Jumlah orang yang telah menyelesaikan evolusi pertama juga lebih banyak!
Selain Zander, ada dua orang lain dengan seragam sama. Ditambah dua orang dari Third Scars, jumlah mereka ada lima orang. Hal tersebut jelas membuat Joseph menjadi lebih serius.
"Memang. Aku juga tidak menyangka kalau kita akan bertarung bersama, Joseph. Sayang sekali, kita harus bertarung di pihak berlawanan.
Oleh karena itu, aku sudah menyiapkan hadiah spesial untukmu.
Lima orang prajurit super dan pasukan empat ratus dua puluh orang ...
Aku harap kamu menyukainya, Joseph!"
Zander menyeringai. Meski jumlah pasukan normal dibagi hampir merata, tetapi jumlah "awakener" dibagi tidak merata. Di tiga sisi lain, ada 1 orang dari Imperial Tiger dan 2 orang dari Third Scars, total 3 orang. Sedangkan di tempatnya sendiri, ada total 5 orang.
"Jumlah bukanlah segalanya, Zander!"
Melihat moral pasukan sedikit menurun, Joseph langsung berkata dengan ekspresi tegas. Dia jelas tidak ingin orang-orang menjadi kurang percaya diri dan lengah saat bertarung.
__ADS_1
Melihat pemandangan tersebut, Zander tersenyum puas.
"Aku sudah bosan berbasa-basi, Joseph."
Setelah mengatakan itu, Zander menarik napas dalam-dalam lalu berteriak.
"PIHAK MUSUH EMPAT KALI LEBIH SEDIKIT DIBANDINGKAN KITA! TIDAK PERLU TAKUT!
BUNUH! BUNUH TIGA PRAJURIT SUPER DI PIHAK MUSUH! BUNUH DENGAN SEGALA CARA DAN KITA AKAN MENYELESAIKAN SISANYA DENGAN MUDAH!"
Mendengar ucapan Zander, orang-orang dadi Imperial Tiger dan Third Scars langsung menatap ke arah Joseph dan dua orang lainnya.
Merasakan tatapan ratusan orang diarahkan kepadanya, Joseph menggertakkan gigi.
"B-JINGAN INI ..."
***
Sementara itu, di tempat Siegfried berada.
"Jangan terlalu gugup, Siegfried."
Sosok pria kepercayaan Joseph menepuk pundak Siegfried. Pria paruh baya itu tersenyum hangat kepada pemuda tersebut. Mencoba meyakinkan kalau semuanya akan baik-baik saja.
"Jangan pesimis tentang dirimu sendiri, Sobat. Muda tidak berarti lebih buruk daripada yang tua."
"Ya. Kamu harusnya lebih percaya diri karena Mr Joseph memilihmu. Jangan khawatir, kami semua akan mendukungmu."
Bala bantuan dari Silver Cross juga tersenyum ke arah Siegfried. Selain lima orang termasuk Julian dari depan dan empat orang termasuk Berto di sisi lain, dua orang lain membantu Siegfried di sini.
Mendengar ucapan orang-orang, Siegfried menarik napas dalam-dalam. Ekspresi tegang diwajahnya perlahan-lahan menjadi lebih tenang. Namun ketika melihat barisan musuh, jantungnya kembali berdegup kencang.
'Kenapa dia berada di sini? Tidak menahan di depan atau belakang?'
Di sisi lain, sosok dengan seragam militer melirik dua pria di sampingnya.
"Selain jumlahnya sedikit, tampaknya pemimpinnya juga tidak terlalu bisa diandalkan. Ini akan menjadi kemenangan mudah.
Viper, kamu akan memimpin orang-orangmu untuk—"
"Berisik!"
Viper langsung menyela dengan ekspresi tidak puas di wajahnya. Dia menatap ke arah Siegfried dan seratus orang di belakangnya dengan ekspresi tak acuh.
"Oi, Black Ox!" panggil Viper.
Sosok pria berkulit hitam dengan tubuh tinggi dan penuh otot langsung membalas, "Ada apa, Ketua?"
"Rencana sedikit ditunda."
"Maksud anda?" Black Ox tampak terkejut.
"Tentu saja kamu tahu apa yang aku maksud."
Melihat ke arah Siegfried, Viper menjilat bibirnya lalu menyeringai kejam.
"KITA AKAN MENGAJARI ANAK-ANAK POLOS INI APA ITU KEKEJAMAN ...
__ADS_1
KEMUDIAN MELANJUTKAN SESUAI DENGAN RENCANA!"
>> Bersambung.