Apocalypse Regression

Apocalypse Regression
Memulai Balas Dendam


__ADS_3

Malam harinya, di tempat singgah sementara.


“Apakah aku benar-benar bisa melakukan itu, Kak Archie?”


Pada saat bersiap, Evans tampak cukup gugup. Pemuda itu jelas belum memiliki pengalaman dalam menyerbuan dan pembunuhan. Jadi merasa gugup seperti sekarnag memang wajar. Lagipula, tidak banyak orang yang merasa biasa-biasa saja ketika akan membunuh orang lain yang bahkan tidak dia kenal, dan tidak diketahui apakah baik atau tidak.


“Kamu sudah memiliki kemampuan cukup untuk sekadar melawan orang-orang di Spirit of Fire.” Ark berkata dengan nada monoton.


Pemuda itu sibuk mengasah pedangnya dengan ekspresi datar di wajahnya. Meski hanya akan melawan Spirit of Fire, entah kenapa dia memiliki firasat kurang baik. Oleh karena itu, Ark mempersiapkan semuanya dengan teliti tanpa sedikit pun kelalaian.


Selain dirinya, Ark juga meminta para bawahannya untuk mempersiapkan diri. Dia juga menjelaskan kalau mereka tidak boleh lengah. Layaknya seekor harimau, mereka juga harus berburu kelinci dengan sekuat tenaga. Mengurangi tindakan main-main atau semacamnya.


Menatap ke luar jendela, Ark memikirkan Saito dan Brian.


‘Mereka berdua ... baik-baik saja, kan?’


***


Malam pada hari berikutnya.


Di markas Spirit of Fire, tampak banyak orang yang sedang sibuk. Sebagian dari mereka berpatroli. Meski merasa enggan dan tidak perlu, Mr Adolf memaksa mereka untuk melakukannya, jadi orang-orang itu tetap melakukan itu meski terpaksa.


Tentu saja, karena terbiasa bersembunyi dengan aman, banyak dari mereka yang memilih untuk tidur tanpa sedikitpun kewaspadaan. Sama sekali tidak peduli apakah ada bahaya yang mengintai atau tidak.


Saat itu, suara langkah kaki terdegar di malam yang begitu sunyi.


Beberapa orang penjaga menatap ke arah satu-satunya jalan masuk, yang merupakan sebuah terowongan di hutan lebat yang penuh dengan duri. Beberapa saat kemudian, siluet seorang pemuda muncul.


Melihat sosok yang berjalan masuk, para penjaga mulai berseru.


“Siapa itu? Katakan identitasmu! Untuk apa datang kemari!”


“Jawablah jika tidak ingin panah para penjaga melubangi kepalamu!”


Saat itu, sosok itu akhirnya keluar dari terowongan dan menampilkan diri. Dia kemudian berdiri di depan terowongan lalu menarik napas dalam-dalam. Hal tersebut membuat semua penjaga di sekitar melihat ke arah pemuda itu dengan ekspresi terkejut.


“Dia adalah Evans yang dirumorkan melarikan diri itu, kan?”

__ADS_1


“Kenapa dia tiba-tiba muncul? Belum lagi, seorang diri? Apakah dia ingin menyerahkan diri atau semacamnya?”


Mengabaikan orang-orang itu, Evans menarik napas dalam-dalam. Dia terus mencoba menenangkan diri. Setelah beberapa saat, pemuda itu akhirnya tenang. Memiliki ekspresi pahit di wajahnya, Evans kemudian berkata.


“Bahkan jika ini dendamku, bukankah menyuruhku membuat pembukaan seperti ini terlalu berlebihan, Kak Archie?”


Evans menarik keluar pedangnya. Tentu saja, bukan pedang pendek usang yang dulu sering dia gunakan. Sekarang dia memiliki dua pedang pendek yang indah, meski hanya menggunakan satu dan yang lain untuk cadangan.


Ekspresi gugup dan masam di wajah pemuda itu berangsur-angsur menjadi lebih tenang. Dia menatap ke arah beberapa bangunan jauh di depannya dengan mata dingin. Sambil berjalan ke depan, pemuda itu terus bergumam.


“Balaskan dendam, putuskan hubungan, mulai hidup baru.”


“Balaskan dendam ...”


“Putuskan hubungan ...”


Mata Evans berkilat dingin.


“Mulai kehidupan baru!”


Melihat sosok Evans yang berlari ke arah mereka sambil membawa senjata, banyak penjaga mencibir dalam hati. Mereka menganggap pemuda itu bodoh dan sembrono. Pemimpin penjaga langsung memberi perintah.


Melihat belasan pemanah membidiknya, Evans masih tampak tenang. Selain skill pedang yang diajarkan oleh kakaknya, skill memanah yang diajarkan oleh sahabatnya adalah salah satu yang paling dia pelajari dengan serius. Bisa dibilang ... sekarang pemuda itu lebih baik daripada para pemanah amatir!


Swoosh! Swoosh! Swoosh!


Belasan anak panah melesat. Melihat itu, Evans langsung memperkirakan lintasannya. Pemuda itu kemudian bergegas maju. Jika hanya satu atau dua, dia akan menangkis dengan pedangnya. Jika lebih banyak, pemuda itu akan memilih menghindarinya.


Setelah jarak mereka kurang dari sepuluh meter, Evans langsung berakselerasi. Dia langsung menggunakan seluruh tenaganya dan menambah kecepatan. Kapten penjaga terkejut ketika melihat sosok Evans tiba-tiba muncul di depannya.


Slash!


Sebuah kepala terlempar ke udara. Mengabaikan ekspresi terkejut dan tidak siap kebanyakan penjaga, Evans langsung menghabisi tim patroli satu per satu tanpa ampun.


Dia kemudian bergegas menuju ke tempat para pemanah berada. Orang-orang itu terus membidik Evans, tetapi panah mereka bisa dihindari. Merasa tidak mungkin mengenai pemuda tersebut, orang-orang itu langsung mengeluarkan belati untuk bertarung, tetapi hasilnya sama. Mereka tidak berhasil melawan Evans dan akhirnya dipenggal.


Akan tetapi, ada satu orang yang tampaknya pengecut dan pertama kali melarikan diri. Dia langsung menuju ke menara penjaga dan membunyikan lonceng.

__ADS_1


Saat itu, semua orang langsung terbangun. Kebanyakan dari mereka terkejut dan panik karena berpikir kalau Crux of Shadow akhirnya menemukan mereka. Lagipula, sejak pindah ke tempat persembunyian, mereka belum pernah mendengar peringatan darurat seperti itu.


Di terowongan yang gelap, Ark dan 22 bawahannya berdiri dengan tenang.


“Apakah kita harus keluar sekarang, Bos?” tanya Leon.


“Seperti yang anda duga, tampaknya Evans kurang baik dalam melakukan penyusupan. Dia membiarkan seseorang membunyikan lonceng peringatan.”


Draco menatap ke arah Ark. Meski sudah tahu kesalahan adiknya, tampaknya pemuda itu ingin Evans mengalami berbagai pengalaman. Menambah pengalaman sehingga bisa menjadi lebih baik ke depannya.


“Ya ... lakukan saja sesuai rencana. Kali ini, kita tidak boleh membunuh secara acak. Kalian mengerti maksudku, kan?”


“Ya, Ketua!” jawab mereka serempak.


Berdasarkan apa yang dikatakan oleh Ark. Itu berarti mereka semua dilarang untuk membunuh wanita dan anak-anak. Selain itu, mereka juga diminta untuk menjatuhkan musuh, tidak membunuh mereka jika tidak terpaksa. Alasannya ... tentu saja karena orang-orang itu masih ‘memiliki kegunaan’ bagi Ark.


Para anggota Sword of Sufferings pun akhirnya menyebar. Segera menjalankan tugas mereka masing-masing!


Sementara itu, di tempat tinggal para tetua, Mr Adolf telah bersiap. Dia kemudian membawa pedangnya untuk keluar. Sosok gadis langsung menghentikannya.


“Aku yakin Evans tidak datang sendiri, Ayah. Apakah kamu tidak bisa menebaknya? Lebih baik kita segera mengumpulkan orang untuk-“


“Tentu saja aku tahu!” ucap Mr Adolf dengan ekspresi serius.


“Eh? Lalu ... lalu kenapa kamu masih mencoba melakukan ini, Ayah? Kamu bisa mati!” teriak gadis itu.


“Aku bertanggung jawab atas lahirnya monster itu, jadi aku juga harus bertanggung jawab untuk menyadarkannya ... atau paling tidak, mengakhiri semua ini.”


“Aku tidak akan mengizinkanmu pergi!”


Gadis itu membuka kedua tangannya lebar-lebar dan menghalangi Mr Adolf untuk lewat. Menarik napas dalam-dalam, pria paruh baya itu menampar putrinya. Pada saat gadis itu terkejut dan hampir jatuh, dia langsung mengambil belakang kerahnya lalu melemparkannya ke dalam kamar lalu menutup pintu.


“Aku tidak mngizinkanmu pergi, Ayah! Ayah!”


Gadis itu mencoba membuka pintu, tetapi pintu terkunci. Pada saat dia dengan panik mencari alat untuk membuka pintu ...


Sosok ayahnya telah menghilang di kejauhan.

__ADS_1


Gadis itu hanya bisa terus mencari alat untuk membuka pintu sambil menangis. Meski dirinya bisa keluar dari sini hidup-hidup, gadis tersebut tahu kalau kemungkinan ayahnya selamat hampir mendekati nol!


>> Bersambung.


__ADS_2