Apocalypse Regression

Apocalypse Regression
Rumah


__ADS_3

Tanpa terasa, waktu kembali berlalu sampai hari pertama di bulan ke dua musim dingin.


Mengikuti arahan Ark, semua berjalan dengan lancar. Meski menjadi lebih berat daripada sebelumnya, tetapi tidak ada orang yang mengeluh. Lagipula, semua orang percaya kalau itu adalah yang terbaik bagi mereka. Bisa dibilang, kekaguman dan rasa hormat membuat mereka memiliki kepercayaan buta.


Bahkan jika Ark menyuruh mereka membunuh seseorang lalu bunuh diri, orang-orang tidak akan menolak. Mereka akan berpikir kalau ada alasan kenapa Ark melakukan hal semacam itu. Misalnya, mengorbankan sedikit orang untuk menyelamatkan lebih banyak.


Meski begitu, Ark sama sekali tidak merasa puas. Dia bukan Crux of Shadow yang ingin membuat kultus besar dan berpura-pura sebagai utusan Dewa atau Dewi. Pemuda itu memiliki tujuannya sendiri, dan Sword of Sufferings adalah salah satu bagiannya.


Beberapa kereta yang ditarik oleh para husky akhirnya sampai di gudang. Saat itu, beberapa barang akhirnya diturunkan dari kereta.


Dari kantor, Ark melihat barang-barang yang diturunkan sambil berkata.


“Bahan dari binatang buas level 3 lagi? Apakah mereka tidak lelah?”


Mendengar ucapannya, Kurona dan Shirona yang duduk di kanan-kiri Ark menggelengkan kepala mereka.


Apa yang membuat Ark agak terkejut adalah susunan tim pemburu. Ada tiga orang petinggi level 4. Mereka adalah Jay, Lisa, dan ... Saito.


Ark benar-benar tidak tahu sejak kapan Saito dekat dengan dua orang lain. Meski mereka sama-sama kuat, dia merasa agak aneh. Seolah, ada sesuatu yang janggal terjadi.


Benar saja, setelah menyimpan bahan-bahan buruan, ketiga orang itu pergi menemuinya untuk membicarakan sesuatu.


“Jadi, apa yang kalian inginkan?”


Ark duduk bersandar dengan ekspresi malas di wajahnya. Tatapannya menyapu ketiga orang yang ingin berbicara dengannya, membuat mereka agak sulit berbicara. Saat itu, suara Lisa terdengar.


“Kami ingin menukarkan poin yang telah kami kumpulkan!”


“Jadi, kalian berburu demi poin, ya? Jika bukan larangan untuk memburu binatang level 4 karena langka, kalian pasti sudah mulai memburu yang ada di kota. Kalian telah memburu banyak makhluk level 3 dan itu jelas menghasilkan banyak poin.


Biasanya, keculai misi, hal semacam ini tidak boleh dilakukan. Namun, karena kalian tiga orang petinggi di Sword of Sufferings, maka aku akan membiarkannya. Jadi ...


Apa yang kalian inginkan?”


“Potion evolusi level 3!” jawab Jay dan Lisa serempak.


“Kenapa kalian melakukannya? Potion level seperti itu tidak lagi berguna untuk kalian. Tunggu ...” Ark menyempitkan matanya. “Apakah untuk Mona?”


“Ya!” Lisa mengangguk dengan ekspresi serius. “Meski sangat berharga, tetapi berbeda dengan ramuan level 4 yang tidak bisa diseduh setiap saat, kita memiliki beberapa bahan sisa. Aku ingin membeli untuk Kak Mona. Dia tertahan karenaku, dan aku harus bertanggung jawab karena itu.”


“Apakah kamu juga memiliki pemikiran sama, Jay?”

__ADS_1


“Tentu saja. Selain pengurangan poin, aku juga bersedia tertinggal dan tidak mengambil ramuan level 4 untuk sementara waktu. Ini juga tanggung jawabku kepada Mona.”


“Menarik.”


Ark mengangguk ringan. Pemuda itu menggosok dagu lalu berkata.


“Boleh saja. Namun, apakah kalian yakin untuk memberikannya kepada Mona? Ini poin yang banyak, loh.”


“Kami yakin!” jawab Jay dan Lisa serempak.


Mendengar itu, Ark hanya mengangguk ringan. Dia kemudian melihat ke arah Saito lalu bertanya.


“Bagaimana denganmu, Saito? Apa alasanmu sampai-sampai bergabung dengan dua orang menyebalkan ini. Apakah ada sesuatu yang spesial? Katakan.”


Saito mengangguk ringan ketika mendengarkan pertanyaan. Dia kemudian menatap ke arah Ark dnengan ekspresi serius lalu berkata.


“Saya ingin menggunakan poin untuk mengambil liburan, Ketua.”


“...”


Setelah ucapan Saito terdengar, mereka semua langsung terdiam. Benar-benar merasa telah salah mendengar.


“Apa kamu bilang, Saito? Bisakah kamu mengulanginya?”


Mendengar itu, Ark terdiam sejenak. Dia melihat ke arah Saito lalu berkata.


“Katakan alasannya.”


“Saya ingin menghabiskan waktu lebih lama dengan Nami. Lagipula, setelah musim semi tiba, kita akan pergi ke luar kota.”


Melihat ekspresi tulus di wajah Saito, Ark menghela napas panjang. Menopang dagu, pemuda itu membalas dengan santai.


“Ditolak.”


“Eh?” Saito, Jay, dan Lisa langsung terkejut.


“Aku pikir kamu gila kerja, jadi tidak pernah mengatakannya. Kamu telah melakukan tugas baik dalam misi menyusup ke Crux of Shadow dan mencari informasi. Kamu juga sering dalam bahaya, dan itu membuatku semakin menghargai usahamu.


Saito, kamu diberi liburan musim dingin sampai malam tahun baru. Tidak perlu poin, aku langsung memberikannya padamu sebagai hadiah. Selain itu, jika kamu memang memikirkan Nami, tukarkas saja poin dengan ramua evolusi level 2.


Sekarang dia berada di level 2, kan? Setidaknya biarkan dia naik ke level 3, jadi kamu akan tenang ketika pergi ke luar kota untuk melaksanakan misi.”

__ADS_1


“Ketua ...” Saito tertegun. Benar-benar bingung harus mengatakan apa. Pada akhirnya, kalimat singkat terucap dari mulutnya. “Terima kasih.”


Mendengar itu, Ark bersandar pada kursi sambil memejamkan mata. Pemuda itu kemudian membalas dengan senyum ringan di wajahnya.


“Sama-sama.”


“Bagaimana dengan kami, Kak? Bagaimana?” tanya Lisa dengan ekspresi bersemangat.


“Tentu saja aku tidak buta. Mona telah melakukan hal baik, karena kalian mau menebus poin, aku akan membiarkannya. Tentu saja, tidak perlu poin penuh. Hanya perlu separuh.”


Jawaban dari Ark membuat Jay menghela napas lega. Dia sama sekali tidak menyangka kalau semua akan berjalan begitu lancar. Rasanya, sahabatnya tidak seperti biasanya. Padahal, biasanya pemuda itu sulit untuk diajak bicara.


‘Apakah ini efek musim dingin? Rasa dingin dan kantuk membuatnya malas? Apakah karena itu?’


Sementara Jay bingung dan bertanya dalam hati, Lisa langsung berdiri lalu bertanya dengan ekspresi penuh semangat.


“Liburan! Kami berdua juga mendapatkan liburan, kan?”


“Kenapa aku memberi kalian liburan? Cara kalian menyelesaikan misi biasa saja, tidak ada sesuatu yang spesial atau di luar perkiraanku. Juga, jumlah latihanmu tetap sama.


Jangan gunakan ini sebagai alasan agar tidak latihan!”


“...”


Lisa langsung kembali duduk dengan ekspresi kosong di wajahnya. Benar-benar merasa tertekan karena dia adalah satu-satunya yang tidak mendapatkan keuntungan di sana.


Selesai berbicara dengan mereka bertiga, Ark pulang ke rumahnya. Sampai di rumah, dia langsung melepas jubah dan sepatunya. Kemudian, pemuda itu melihat Nathan dan Nala yang sedang belajar. Natasha belum kembali, dan Abigail sibuk di dapur. Tampaknya menyiapkan makan malam dan juga membuatkan teh untuknya.


Ark langsung pergi menuju ke ruang santai. Pergi ke sofa empuk tidak jauh dari perapian lalu duduk bersandar. Saat itu juga, dua sosok langsung duduk di sisi kiri-kanannya.


Melihat Kurona dan Shirona yang menempel padanya, Ark tidak bisa menghela napas lalu berkata.


“Memangnya tidak ada kursi lain?”


“Seperti ini lebih hangat, Senior.”


“Kurona benar, Senior. Lebih hangat.”


Melihat kedua gadis itu memejamkan mata, Ark sama sekali tidak mengusir mereka. Mengingat bagaimana orang-orang memperlakukannya, kemudian hubungannya dengan para petinggi Sword of Suffering membuatnya merasakan sesuatu yang hampir dia lupakan. Suatu hal penting, tetapi sering kali diabaikan.


Ark merasa kalau sekarang dia memiliki keluarga besar dan orang-orang yang menunggunya kembali ketika dia pergi.

__ADS_1


Suatu tempat dimana dia bisa kembali, dan pantas menyebutnya sebagai ... rumah.


>> Bersambung.


__ADS_2