
Berjalan keluar dari bangunan, Ark mendongak ke atas.
Di langit, tampak ribuan burung gagak terbang. Ukuran mereka sebesar burung elang emas. Memiliki berat dari tiga sampai sembilan kilogram, jelas bukan ukuran kecil untuk seekor burung.
Puluhan ribu bulu hitam berguguran. Melayang di udara, membuat orang-orang kagum sekaligus takut ketika memandangnya.
Sementara orang-orang berhamburan, kabur karena panik, Ark berjalan dengan tenang.
Sosok pria berjubah hitam dan bertopeng berjalan di bawah langit penuh gagak, entah kenapa hal tersebut malah terlihat begitu cocok.
"Ketua!"
Melihat Ark muncul membuat Darin, Yonas, dan Vadim merasa lega. Meski ukuran para gagak tidak begitu besar dibandingkan para serangga bermutasi, entah kenapa mereka bertiga merasakan ancaman berbahaya. Kedatangan Ark jelas membuat mereka lebih tenang.
"Mereka memang merepotkan."
Melihat kondisi tiga orang yang cukup bingung, Ark berkata santai.
"Kenapa kamu tampak begitu tenang, Ketua?"
Darin merasa heran. Saat dia bertanya, para gagak di langit terjun dengan cepat. Ratusan gagak langsung menyerang beberapa orang yang berlarian jauh terpencar dari kelompok.
"Tolong! Tolong! Selamatkan aku!"
Sosok pria tersandung lalu jatuh. Saat itu, puluhan gagak mengerumuninya. Cakar mereka langsung merobek daging pria tersebut. Para gagak juga mulai mematuk.
Apa yang orang-orang bisa lihat hanyalah puluhan gagak yang menutupi sosok pria itu sampai tidak lagi terlihat. Pria itu berjuang dan berteriak beberapa saat sebelum akhirnya diam.
Sekitar tiga menit, para gagak dengan paruh dan cakar dinodai darah mulai terbang. Hanya menyisakan mayat tak utuh penuh darah. Kulit, daging, dan organ dalam hampir sepenuhnya dihilangkan. Tersisa tulang, sedikit daging, dan darah yang berceceran.
Tampak lebih mengerikan daripada dicabik-cabik oleh piranha!
Lebih parahnya lagi, bukan hanya satu atau dua, kejadian itu hampir terlihat di mana-mana.
Suara teriakan marah dan putus asa terdengar. Ada juga suara tangisan. Berbagai suara bercampur memenuhi indera pendengaran, membuat suasana menjadi lebih kacau dan menakutkan.
Hanya saja, saat itu Darin, Yonas, dan Vadim yang berada di kereta tampak bingung.
Kejadian di tempat itu benar-benar kacau. Namun anehnya, sama sekali tidak ada gerombolan gagak yang menyerang Dark Caravan.
"K-Ketua?" panggil Darin dengan nada gugup.
Ark berdiri di jalanan sambil melihat pemandangan di depannya dengan tenang. Pemuda itu bahkan tidak mengeluarkan senjatanya. Sangat berbeda dengan tiga anggota lain yang memegang senjata dengan gugup.
"Apakah kamu tahu julukan gagak pada masa normal?" tanya Ark.
"Utusan kematian?" balas Yonas ragu.
"Pembawa kabar buruk?" ucap Vadim dengan ekspresi aneh.
Darin tidak langsung menjawab karena julukan mitos semacam itu jelas bukan hal yang ditanyakan oleh Ark. Setelah beberapa saat, ekspresi di balik topengnya berubah ketika bercanda.
"Salah satu burung paling pintar?"
"Ya."
__ADS_1
Ark mengangguk ringan. Pemuda itu menarik napas dalam-dalam sebelum melanjutkan.
"Bukan hanya pintar. Mereka memiliki ingatan kuat. Terlebih lagi, mereka pendendam."
"Lalu apa hubungannya dengan semua ini, Ketua?" tanya Yonas.
"Sudah kubilang, mereka pintar.
Mereka bisa mengetahui kalau kelompok kita tidak mudah dipusingkan. Debby binatang buas tingkat dua, aku dan Darin juga menyelesaikan tahap itu. Kalian menyelesaikan tahap awal.
Kecuali para gagak itu memiliki kekuatan cukup atau memang sudah sangat kelaparan, mereka tidak akan bertindak begitu sembrono.
Itulah perbedaan kelompok kita dan kelompok lain."
Analisis Ark yang begitu tenang membuat Darin, Yonas, dan Vadim merasa bingung. Mereka bertiga tidak tahu harus bertindak bagaimana, jadi akhirnya salah satu dari mereka kembali bertanya.
"Apa yang harus kita lakukan, Ketua?"
"Lebih baik kalian duduk diam dan menonton."
"Kita tidak akan membantu mereka???"
"..."
Ark sama sekali tidak menjawab, tetapi artinya sudah jelas.
Pemuda itu melihat banyak orang mati dengan tenang. Namun tidak semua orang berlarian dengan bodoh. Ada juga yang melawan dengan senjata mereka. Bahkan ada tim yang bisa membunuh beberapa gagak.
Gagak bermutasi memang cukup besar, tetapi sebenarnya tidak kuat. Khususnya para gagak yang datang sekarang, mereka hanya ada di level satu. Apa yang perlu diwaspadai dari mereka adalah cakar, paruh tajam, kecepatan, dan jumlah mereka.
"APA YANG KALIAN LAKUKAN! KENAPA KALIAN HANYA DIAM!
TOLONG KAMI! APAKAH KALIAN HANYA AKAN MENONTON?!"
Sosok pria paruh baya yang ketakutan melihat kelompok Ark dengan ekspresi marah. Melihat Dark Caravan diam dan menonton, dia langsung bergegas ke sosok berjubah hitam yang berdiri di jalan lalu hendak meraihnya.
Namun saat itu, ekspresinya berubah ketika melihat Ark mengeluarkan pedangnya.
"Aku peringatkan. Lebih baik kalian tidak mendekat dan urus urusan kalian sendiri."
"A ... APA YANG KAMU KATAKAN?! BUKANKAH DARK CARAVAN TELAH BEKERJASAMA DENGAN JADE SCORPION?!
KALIAN MASIH TIDAK MEMBANTU?! KAMI ANGGOTA JADE SCORPION! JIKA KALIAN TIDAK MEMBANTU—"
Ekspresi pria itu berubah dari keterkejutan menjadi ketakutan ketika melihat pedang Ark telah menembus perutnya.
Ark mencabut pedangnya lalu menendang pria itu. Setelah mengibaskan pedangnya untuk membuang noda darah, dia kembali menyarungkan kembali pedangnya.
Saat itu, puluhan gagak langsung turun dan bergegas mencabik-cabik pria tersebut. Suatu teriakan marah dan tangisan putus asa terdengar beberapa saat sebelum berhenti.
Puluhan gagak yang telah menikmati makanan mereka menoleh dan melihat ke arah Ark. Sepasang mata menatap mereka dengan tenang. Setelah beberapa saat, mereka mengepakkan sayap lalu terbang dari sana.
Benar-benar meninggalkan Ark sendirian.
Tentu saja, pemandangan itu terlihat di mata banyak anggota Jade Scorpion. Mereka sebenarnya marah, tetapi merasa tidak berdaya. Mereka benar-benar heran ketika melihat para gagak tidak menyerang Dark Caravan.
__ADS_1
"Jangan berpaling. Lihat dan ukir jelas dalam kepala kalian.
Itulah yang akan terjadi jika kalian lemah."
Ark kembali melihat langit. Memastikan tidak ada gagak bermutasi level dua, dia kembali berkata.
"Pastikan untuk tidak menyerang secara acak. Terus bertahan dan jaga barang-barang kita.
Kalian juga bisa melepaskan ikatan Debby~"
"Eh? Anda ingin pergi ke mana, Ketua?"
Darin langsung bertanya kepada Ark ketika melihat sosok pemuda itu berjalan kembali ke arah markas Jade Scorpion.
"Pergi untuk memastikan sesuatu."
Alasan kenapa Ark keluar hanya untuk memeriksa apakah Debby dan tiga anggota lain aman. Mengetahui kalau semua tidak semengerikan yang dia bayangkan, pemuda itu merasa lega.
"Apakah tidak apa-apa? Itu tampak kacau dan berbahaya."
Mendengar Darin yang khawatir, Ark berhenti berjalan dan menjelaskan.
"Jika berakhir hanya karena ini, itu berarti mereka tidak bisa diandalkan. Lagipula, apa yang mereka lawan hanyalah sampah."
"Eh? Sampah?" Darin terkejut.
"Para gagak buangan, sampah lemah yang tidak mendapatkan jatah makan di sekitar rumah mereka dan akhirnya terpaksa pergi jauh untuk mencari makan.
Apakah kalian pikir para gagak ini para elit dari raven tower? Heh~
Lelucon yang tidak lucu."
Setelah mengatakan itu, Ark kembali berjalan. Namun ketika sampai di tempat yang kacau dimana banyak orang berlarian atau bertarung, tampak seekor gagak cukup besar yang bergegas ke arahnya.
Swoosh!
Seekor gagak melesat. Namun Ark melihatnya dengan jelas. Pemuda itu mengulurkan tangannya. Tangannya bergerak cepat dan menangkap kepala gagak itu dari samping.
Ya. Bukan leher, tetapi kepala. Gagak itu berusaha untuk mematuk dan mencakar. Namun Ark benar-benar tidak membiarkannya, malah membuat cengkeraman lebih kuat.
Beberapa detik kemudian ...
CRACK!!!
Suara berderit lalu diakhiri dengan suara renyah terdengar.
Ark melepaskan cengkeramannya, membuat seekor gagak seukuran elang dengan kepala hancur jatuh ke atas aspal.
Pemuda itu kemudian kembali berjalan.
Tampaknya keluar dari bangunan hanya untuk melihat, sebelum kembali dengan tenang.
Seolah kekacauan di sekitarnya tidak pernah terlihat di matanya.
>> Bersambung.
__ADS_1