Apocalypse Regression

Apocalypse Regression
Hidangan Utama


__ADS_3

Beberapa jam berlalu begitu saja.


Jika pertarungan sengit menggambarkan kejadian di dua lokasi sarang zombie, maka kata kekacauan lebih cocok untuk menggambarkan kondisi pusat pemerintahan baru.


“Tahan! Tahan dan jangan biarkan satu pun zombie menerobos!”


Julian berteriak sambil menggertakkan gigir. Dia, Berto, dan Siegfried melawan beberapa zombie level 3. Setelah berusaha keras, zombie ke tiga berakhir dijatuhkan. Meski begitu, hal tersebut masih jauh dari kata selesai karena ...


Masih ada empat zombie level 3 lain yang perlu mereka habisi!


Melihat belasan pejuang level 1 berusaha mati-matian untuk mencegah satu zombie, mata Julian menjadi merah. Pria itu benar-benar merasa sangat marah. Dia, Berto, dan Siegfried telah menyerap miracle root ke dua.


Julian menyerap miracle root dari serigala bermutasi level 2. Berto menyerap miracle root dari seekor monyet bermutasi level 2. Sedangkan Siegfried menyerap miracle root dari jenis kadal bermutasi yang tampak aneh level 2.


Meski tidak begitu spesial dibandingkan apa yang Ark pilih untuk para jenderal Sword of Sufferings di bawahnya, tetapi kualitas miracle root mereka memang cukup bagus. Selain itu, karakteristiknya memang cocok dengan mereka. Setidaknya, mereka tidak akan kalah dan bisa bersaing dengan pejuang dari Sword of Sufferings.


“Kenapa?! Kenapa hal semacam ini harus terjadi?”


Melihat satu lagi rekannya tumbang, Julian meraung marah. Rambut panjangnya berkibar tertiup angin. Tubuhnya sedikit membengkak, otot-ototnya menjadi lebih kencang. Dengan dua tangan yang berubah menjadi cakar serigala, pria itu langsung bergegas menerjang ke arah tim yang membutuhkan bantuan.


BRUAK!


Julian langsung menghajar wajah zombie level 3 dengan keras sampai berguling-guling di tanah. Saar hendak bangkit, dia bergegas maju lalu kembali menghajarnya. Meski begitu, karena perbedaan level, pria tersebut tidak bisa dalngsung menghabisi zombie level 3.


Ya ... bahkan jika itu hanya zombie biasa.


Melihat pemandangan seperti itu, Berto langsung membantu untuk melawan musuh. Sementara itu, Siegfried mengambil napas dalam-dalam. Setelah sedikit tenang dan luka-lukanya pulih perlahan, barulah dia ikut membantu.


Siap untuk bertarung dengan sisa zombie level 3 lainnya!


***


Di dalam stadion, tampak sosok Jay dan Lisa yang berdiri di atas tumpukan mayat zombie. Keduanya berdiri dengan tubuh berlumur darah zombie yang gelap dan bau. Melihat tumpukan mayat menumpuk layaknya bukit, keduanya saling memandang.


“Lumayan.”

__ADS_1


Kedua orang itu berkata bersamaan.


Sementara mereka mengacaukan bagian dalam secara gila-gilaan, ratusan prajurit mengelilingi stadion sambil terus memburu para zombie yang keluar dari berbagai jalan. Sama sekali tidak mengizinkan mereka untuk lolos. Mona memimpin dari depan, dan Natasha memimpin dari belakang.


Setelah mengatur napas, Lisa dan Jay berjalan menuju ke lokasi sebelumnya zombie paling padat. Tempat dimana beberapa zombie kuat tampaknya berkumpul. Lokasi yang mereka tuju adalah tempat para penonton VIP berada.


Di sana, tampak beberapa zombie dengan penampilan mengerikan. Berbeda dengan manusia, kulit mereka memiliki berbagai warna dan tampak pucat. Tubuhnya tidak memiliki luka, tetapi mereka juga tidak memiliki rambut. Sebaliknya, mereka memiliki mata seperti binatang buas dan mulut penuh dengan taring tajam.


Mereka adalah ... para zombie spesial level 3!


“Tampaknya sudah saatnya berurusan dengan hidangan utama.”


Jay berkata dengan seringai di wajahnya. Melihat belasan zombie level 3, dia sama sekali tidak takut. Sebaliknya, pria itu malah bersemangat. Namun, saat itu suara Lisa juga terdengar.


“Tenang saja, Paman. Mulai sekarang ... ini adalah panggungku!”


Mengatakan itu, Lisa langsung membuang jubahnya. Di balik jubah, tampak armor yang terbuat dari kerapas kelabang hitam raksasa. Meski bukan full-plate armor, tetapi jelas telah menutupi sebagian besar tubuhnya.


Saat itu juga, uap panas muncul. Zat aneh muncul dari pori-pori dan membentuk exo-skeleton. Namun anehnya, exo-skeleton milik Lisa menyatu dengan baik pada armornya. Mungkin karena terbuat dari bahan yang sama, dan memiliki hubungan satu sama lain.


Melihat sosok luar biasa itu, Jay terpana. Dibandingkan dia yang masih setengah-setengah, teknik gabungan Lisa yang mewujudkan bentuk lengkap benar-benar tampak luar biasa.


“Lisa, The Black Knight siap bertugas!” ucap gadis itu dengan nada percaya diri.


Mendengar itu, sudut bibir Jay berkedut. Jelas, gadis ini sedang pamer padanya. Melihat penampilan Lisa, pria itu akhirnya hanya bisa menggertakkan gigi dan mengakui kekalahannya.


‘Tunggu saja! Aku pasti akan membalas ini!’


Jay langsung penuh semangat juang. Berencana untuk membalas Lisa, pamer di depan gadis itu dengan penampilan lebih keren dan mendominasi.


BRUK!


Saat itu, tiga sosok merah dan empat sosok hijau gelap dengan tubuh penuh otot jatuh belasan meter dari mereka berdua. Mendengar geraman mereka, Lisa dan Jay menoleh lalu berkata serempak.


“Maaf! Kami hampir melupakan kalian!”

__ADS_1


***


Di tempat Saito berada.


BLARRR!!


Sosok Leon terhempas menabrak dinding dengan keras lalu meledakkannya. Mengabaikan kepulan asap dan debu, pria itu langsung bangkit dan meraung marah.


Saat itu, dua sosok zombie spesial level 3 dengan tubuh hijau gelap seperti raksasa berlari ke arahnya dengan ganas. Leon yang memiliki tubuh tidak kalah besar dan garang dibandingkan mereka juga langsung berlari maju.


BRUAK!


Leon membanting satu zombie lalu bergegas ke arah zombie lainnya. Dia langsung meraih sebuah pilar rusak lalu mengayunkannya tepat ke kepala zombie tersebut. Bersamaan dengan suara retak, sosok makhluk hijau itu terhempas. Daging di wajahnya juga banyak mengalami kerusakan. Hanya saja, beberapa saat setelah jatuh, kedua makhluk itu kembali bangkit. Luka-luka mereka mulai beregenerasi.


Melihat itu, Leon membuat geraman rendah. Tampaknya penuh dengan niat bertarung.


Draco sendiri juga tidak tampak lebih baik. Dia sedang dikepung oleh dua zombie spesial, satu hijau kurus dan satu merah penuh dengan dengan otot. Musuhnya adalah zombie tipe kecepatan dan kekuatan.


“Kombinasi kekuatan dan kecepatan ... ini benar-benar merepotkan.”


Melihat musuh yang menyerang secara bergiliran, Draco yang bertarung hanya dengan satu tangan dan tombak cukup kewalahan.


PYARR!!


Saat itu, suara kaca pecah terdengar dari lantai empat. Dua sosok melesat, satu jatuh ke lantai pertama di tengah mall dengan keras. Sosok itu adalah zombie spesial level 3 tipe kecepatan yang telah dipenggal kepalanya. Sedangkan satunya sama sekali tidak jatuh.


Ya ... sosok itu melayang di udara dengan tenang.


Saito memegang pedang di tangan kanannya dan menatap ke arah tertentu dengan ekspresi serius. Di belakang punggungnya, tampak sepasang sayap bangau besar, tetapi bukan berwarna putih, melainkan hitam dengan sedikit garis putih di ujung bulu-bulunya.


Melihat Saito yang berhasil membunuh zombie spesial level 3, Leon meraung. Sementara itu, Draco sendiri tersenyum masam.


“Astaga. Tampaknya kami benar-benar akan tertinggal jauh jika tidak berusaha sekuat tenaga.”


Setelah mengatakan itu, dia mencengkeram erat tombaknya. Sambil menatap ke arah lawan-lawannya, tubuhnya pun mulai berubah.

__ADS_1


>> Bersambung


__ADS_2