
Di sore harinya, dalam ruang rapat.
"Apakah yang kamu ucapkan benar, Kak?"
Lisa menatap ke arah Ark dengan ekspresi heran di wajahnya. Dia merasa terkejut ketika mendengar kekacauan di luar area Sword of Sufferings. Belum lagi perihal bencana yang akan datang.
"Aku tidak akan bercanda tentang hal semacam ini, Lisa." Ark menggelengkan kepala.
"Lalu apa yang akan kita lakukan? Haruskah kita menyebarkan informasi ini ke dunia luar?" tanya Jay dengan ekspresi khawatir.
"Tidak." Ark menjawab singkat.
"Kenapa? Jika banyak orang yang tahu, pasti akan ada lebih banyak orang yang selamat!"
Jay menatap ke arah Ark dengan ekspresi tidak percaya. Dia benar-benar tidak menyangka kalau sahabatnya bisa begitu tak acuh dengan kehidupan banyak orang.
"Dalam penjemputan anggota berikutnya, kita akan memberitahu informasi ini kepada Black Panther dan Silver Cross. Apakah mereka percaya atau tidak, apakah mereka menyebarkannya atau tidak ...
Itu urusan mereka."
Ark berkata dengan ekspresi datar. Jelas, pada petinggi Sword of Sufferings lain tidak mengerti apa yang coba dilakukan orang itu. Yang pasti, lelaki tersebut tidak begitu dingin sampai-sampai menyimpan informasi untuk dirinya sendiri.
"Lalu, apa yang akan kita lakukan selanjutnya, Ark?" Old Franky mengelus jenggotnya dengan tenang.
"Kita melanjutkan semuanya seperti biasa."
"Apakah tidak ada perubahan yang berarti?"
"Tidak." Ark menggelengkan kepalanya. "Kita telah membuat bantal serta selimut. Kita juga telah menyimpan banyak minyak, kayu bakar, dan persediaan makanan. Kita tidak akan mati kelaparan atau kedinginan. Itulah sebabnya ... kita harus terus memanfaatkan waktu untuk mengasah pedang sampai saat menggunakannya tiba."
"Pertanyaannya adalah ..." Old Franky menatap tepat ke mata Ark. "Kapan?"
Ark menopang dagu dengan tangannya. Dia tampak tak acuh dan sedikit malas. Tatapan pemuda itu menyapu orang-orang dalam ruangan sebelum berkata.
"Ketika para zombie serta binatang buas akhirnya tidak tahan lagi ..."
"Ketika mereka mulai mengacaukan kota secara gila."
***
Beberapa hari kemudian, di markas cabang tempat Dark Caravan menerima dan melatih anggota.
"Maaf membuatmu kerepotan, Kak Jay, Lisa."
Darin berkata dengan senyum di wajahnya. Karena suatu masalah, mereka tidak bisa menggunakan kereta. Dark Caravan membawa barang dengan bantuan Debby dan dua husky tanpa kereta.
"Sama-sama." Jay mengangguk. "Ingat untuk memastikan tetap hangat. Cuaca menjadi semakin buruk akhir-akhir ini."
"Di mana aku harus meletakkan persediaan ramuan?" tanya Lisa.
"Biarkan aku membantu."
Vadim keluar dari markas dengan senyum lembut di wajahnya. Di belakangnya, Yonas juga muncul.
"Aku juga akan membantu. Terima kasih atas kerja keras kalian."
"Bantu saja aku membawa barang-barang ini." Lisa tampak lelah.
"Apakah ada sesuatu yang membuat lelah di markas, Nona Lisa?" tanya Vadim sambil membawa kotak berisi beberapa stok makanan yang akan dijual.
"Ketua menjadi semakin gila setelah tahu badai akan segera tiba. Semua diatur lebih ketat. Benar-benar menyebalkan."
Lisa tidak bisa tidak mengeluh. Dia melirik ke arah Vadim dan Yonas.
"Berjalan lebih cepat, Kakak-kakak!
Aku harus menyelesaikan semuanya sesegera mungkin lalu kembali. Meski tidak membunuhku, cuaca dingin ini sangat menyebalkan."
"Baik!" jawab mereka berdua dengan senyum masam di wajah mereka.
Selesai memindahkan barang, mereka semua meminta anggota baru untuk bersiap. Mereka semua akan pergi ke markas utama. Di siang hari, Black Panther dan Silver Cross akan datang dengan anggota baru yang akan dipilih Darin.
Setelah kepergian Jay, Lisa, dan anggota yang selesai dilatih, Darin menghela napas panjang.
__ADS_1
"Beberapa hari lagi akan menginjak bulan tiga musim dingin. Setelah satu bulan, kita akhirnya bisa kembali."
"Tampaknya kamu benar-benar merindukan Shani." Vadim tertawa.
"Tentu saja aku merindukannya. Aku hanya bisa kembali satu minggu sekali. Itu tidak cukup untuk melepas rindu." Darin menghela napas panjang.
"Hey, aku bahkan tidak bisa bertemu dengan adikku sendiri!" Yonas menepuk pundak mereka berdua.
Melirik ke arah Yonas, mereka pun akhirnya tertawa.
***
Dua hari berlalu begitu saja, cuaca menjadi semakin buruk daripada sebelumnya.
"Aku ragu bisa kembali." Darin menghela napas panjang. "Untung saja Kak Jay telah membawakan jatah potion untuk latihan minggu ke dua."
Darin tersenyum masam. Dia benar-benar merasa lelah. Tidak menyangka kalau cuaca menjadi lebih buruk. Bahkan berubah cukup ekstrem.
Jelas, dugaan Ark cukup tepat. Mungkin dia tidak bisa kembali minggu ini!
"Tahan saja. Itu hanya dua minggu."
Yonas duduk di sofa sambil menguap. Merasa mengantuk karena suhu udara tidak cocok untuk beraktivitas.
"Aku telah memberi makan Sansa."
Vadim masuk ke dalam ruangan. Melihat ekspresi lelah di wajah dua temannya, dia tidak bisa tidak bertanya.
"Apakah kita harus terus melakukan ini?"
"Apa maksudmu tiba-tiba bertanya seperti itu, Vadim?" tanya Darin dengan ekspresi dingin di wajahnya.
"Tidak ada apa-apa. Aku hanya bingung, apakah Ketua benar-benar peduli dengan kita atau tidak.
Maksudku, akan terjadi badai salju yang kuat tetapi dia tidak menyuruh kita kembali. Hal tersebut membuatku semakin ragu apakah kita sebenarnya dianggap manusia atau—"
BRUAK!
Darin langsung meninju wajah Vadim sampai pria itu berguling di lantai.
Vadim duduk di tanah sambil menyeka mulutnya yang berdarah.
"Kamu harus ingat, Vadim. Ketua yang menyelamatkan kita dan memberi kita kekuatan. Tanpa Ketua, mungkin kita sudah pergi ke alam baka.
Kita hanya menjalankan tugas. Dia telah mempersiapkan kebutuhan kita dari makanan, selimut, dan bantal. Kita seperti tentara yang bertugas di luar negeri.
Meski agak lama, pasti kita akan kembali."
Darin menunjuk ke arah Vadim dengan ekspresi dingin.
Vadim hanya menunduk. Rambutnya yang agak panjang dan berantakan menutupi matanya yang berkilat dingin. Tangannya sedikit mengepal.
"Tentu saja aku akan selalu mengingat itu."
"Tenang, kalian berdua! Kita tidak bisa memulai konflik internal seperti ini, bukan?" Yonas langsung melerai dengan panik.
Saat itu juga, suara ketel berbunyi. Vadim bangkit sambil menyeka mulutnya.
"Aku akan membuat teh."
Setelah itu, Vadim pergi.
"Kamu agak berlebihan kan, Darin?"
"Maaf." Darin menghela napas panjang. "Aku hanya khawatir dia kehilangan kendali dan menempuh jalan yang salah. Aku tidak ingin kehilangan sahabatku sendiri."
"..."
Mendengar itu, Yonas hanya bisa menghela napas panjang dengan senyum pahit di wajahnya.
Beberapa saat kemudian, Vadim kembali dengan tiga cangkir teh. Dia meletakkan dua cangkir di atas meja dan membawa cangkirnya sendiri duduk di sofa.
"Maaf," ucap Vadim sebelum meminum tehnya.
__ADS_1
Perkataan Vadim membuat ekspresi Darin menjadi lembut. Pemuda itu akhirnya mengambil cangkir teh dan membalas.
"Aku juga minta maaf. Tidak seharusnya aku bersikap begitu emosional."
Melihat keduanya, Yonas tersenyum. Dia mengambil cangkir lalu berkata.
"Bagus! Tidak seharusnya kita saling menyakiti! Kita adalah trio yang diakui kekuatannya oleh Ketua.
Bersulang untuk masa depan yang lebih baik!"
Darin dan Vadim saling memandang lalu mengangkat cangkir mereka.
"Cheers!" ucap keduanya.
Setelah meminum teh, tiga orang duduk bersama. Hanya saja, saat itu ada sesuatu yang salah.
"Hey, apakah kalian juga merasa pusing?" Yonas berkata dengan ekspresi lelah di wajahnya.
BRUAK!!!
Sebuah tendangan tiba-tiba langsung mengenai dadanya, membuat Yonas menabrak dinding dengan keras.
Darin hendak merespon, tetapi saat itu juga Vadim tiba-tiba merangkulnya. Sebuah pisau langsung menusuk tepat di perutnya.
"VADIM, KAMU!"
BRUAK!
Darin langsung memukul Vadim sampai terpental mundur beberapa meter. Dia memegangi perut dengan luka berdarah dengan ekspresi tidak percaya.
"Seperti yang diharapkan dari salah satu jenderal Sword of Sufferings. Masih begitu kuat meski diracuni.
Omong-omong, kamu tidak perlu menunggu Sansa. Dia juga sudah aku racuni. Anak-anak baru juga telah tertidur lelap."
"KENAPA?!!" tanya Darin dengan mata merah.
"Sebenarnya aku ingin mengajak kalian, tetapi kalian benar-benar sudah tidak terselamatkan. Kalian seperti burung yang suka tinggal dalam sangkar."
Setelah mengatakan itu, Vadim mengambil tombak Darin tanpa tergesa-gesa.
"Tombak yang bagus," gumam Vadim.
"VADIM, KAMU TIDAK AKAN—"
JLEB!
Ujung tombak sekali lagi melukai perut Darin. Saat itu, suara Vadim terdengar.
"Kamu terlalu lembut, Darin. Karena kalian berdua adalah sahabatku ... aku tidak akan membunuh kalian.
Meski kuat, racun itu bisa disembuhkan. Namun, apakah kalian sempat atau tidak ... itu tergantung dengan keberuntungan kalian.
Aku hanya memberi kesempatan."
Vadim langsung berlari maju dan menendang Darin di dadanya dengan kuat.
PYARRR!!!
Jendela di lantai dua pecah saat sosok Darin melesat jatuh ke halaman dengan salju tebal.
Saat Vadim hendak pergi, dia terkejut ketika merasakan tangan mencengkeram pergelangan kakinya.
"Meski tulang rusuk patah dan terkena racun kuat, kamu benar-benar masih ulet ... Yonas."
"KATAKAN KEPADAKU, KENAPA KAMU MELAKUKAN INI?!"
Mendengar itu, Vadim melepaskan cengkraman Yonas dengan mudah. Berjalan keluar dari ruangan sambil memunggungi pria itu, dia berkata.
"Karena setiap orang memiliki ambisi masing-masing, Sahabatku."
Setelah mengatakan itu, Vadim akhirnya menghilang. Pergi meninggalkan tempat itu dengan kotak berisi banyak potion.
Benar-benar meninggalkan Sword of Sufferings secara terbuka.
__ADS_1
>> Bersambung.