Apocalypse Regression

Apocalypse Regression
Miracle Root Aisha


__ADS_3

Dua hari kemudian.


Melewati gedung-gedung rusak dimana banyak akar merambat di seluruh jalanan dan dinding, Ark dan kedua rekannya tampak cukup serius. Ditambah kabut yang begitu tebal, tempat seperti itu sangat cocok digunakan oleh binatang-binatang bermutasi bersembunyi.


Khususnya bagi serangga dan reptil.


Bukan hanya di tempat Ark sekarang berada, tetapi seluruh kota kabut ini sangat cocok untuk ditinggali binatang bermutasi seperti serangga, reptil, dan amfibi. Sedangkan jenis mamalia tampaknya lebih sulit ditemukan di sini.


“Benar-benar membosankan~”


Aisha menghela napas panjang dengan ekspresi malas di wajahnya. Menoleh ke arah Ark dan Angelica, wanita itu bertanya.


“Apakah kita harus selalu menjalani hidup seperti ini, Ark? Maksudku, berkeliling, menjelajahi dunia, dan terus bergerak tanpa arah tujuan seperti hantu gentayangan.”


Mendengar pertanyaan itu, Ark menjawab tanpa menoleh.


“Terus bepergian untuk mencari sumber daya dan hal-hal yang dapat digunakan untuk berkembang adalah hal pasti. Namun, bukan berarti kita tidak memiliki tempat untuk kembali.


Walau sulit, tetapi semua harus dilalui demi hasil yang memuaskan. Ya, setidaknya ... kita memiliki tempat yang pantas disebut sebagai ‘rumah’.”


Jawaban Ark membuat kedua wanita itu saling memandang. Meski mereka tidak tahu seperti apa markas utama. Namun mereka benar-benar ingin melihatnya karena itu adalah tempat yang dianggap penting oleh Ark.


“Aku benar-benar tidak sabar untuk pulang ke rumah~”


Aisha berkata dengan senyum di wajahnya.


“Ya.” Angelica mengangguk. “Saya juga penasaran. Ingin pergi ke markas utama sesegera mungkin.”


Terus berjalan ke depan, Ark sedikit mengangkat sudut mulutnya.


“Kalau begitu kalian harus lebih sabar karena banyak hal yang masih perlu diselesaikan di kota ini.”


“Ya, Ketua!” jawab mereka berdua serempak.


Terus berjalan agak cepat, Ark dan kedua rekannya hampir sampai ke tempat tujuan.


Tempat yang mereka tuju adalah perbatasan antara wilayah Golden Maple Group dan Imperial Phoenix. Bukan hanya perbatasan. Lebih tepatnya, mereka pergi ke tempat kedua kelompok pernah melakukan pertemuan.


Sebelum mereka sampai di lokasi, Ark tiba-tiba mengangkat tangan kanan. Memberi isyarat agar kedua rekannya berhenti. Pemuda itu kemudian mengawasi sekitar.


Beberapa saat kemudian, dia berkata.


“Tampaknya ini hari keberuntunganmu, Aisha.”


“Oh?” Aisha langsung mengangkat alisnya.


“Miracle root yang kamu inginkan diantar ke depan pintu.”


Mendengar penjelasan Ark, mata Aisha langsung berbinar. Kemarin, dia mengajak Ark dan Angelica untuk mencari miracle root yang cocok. Namun, bukan hanya hanya bertemu kurang dari lima makhluk level 2, tetapi sama sekali tidak ada miracle root yang cocok untuknya maupun Angelica.

__ADS_1


Sekarang, tanpa dia sangka, miracle root dengan kemampuan unik yang diinginkannya benar-benar di antar ke depan pintu (datang kepadanya tanpa dicari).


“Dimana makhluk yang kamu maksud, Ark?”


Mendengar pertanyaan itu, Ark mengangkat bahu. Melirik ke arah Aisha, pemuda itu berkata.


“Kamu harus mencarinya sendiri. Yang pasti, makhluk itu berada dalam jarak kurang dari 200 meter. Meski aku bisa menyelesaikannya dengan mudah, tetapi lebih baik kesempatan ini kamu gunakan untuk melatih kemampuan melawan monster.


Omong-omong, kamu juga ikut bertarung Angelica. Pertarungan dapat mempercepat perkembangan kemampuanmu.”


Angelica mengangguk serius sambil menjawab, “Dimengerti.”


Sementara itu, Aisha mengerucutkan bibirnya dengan ekspresi tidak puas. Tampaknya tidak senang karena tidak dibantu, tetapi malah disuruh untuk melatih anggota baru.


Melihat ke arah Ark yang tidak bisa diajak main-main, Aisha memutar matanya sebelum berkata.


“Keluarkan pedangmu dan pegang erat-erat, Gadis kecil. Perhatikan sekitar dengan baik dan jangan terlalu gugup.” Aisha mengeluarkan dua pedang pendek sambil melirik Angelica. “Kita pergi sekarang.”


“Baik!”


Angelica mengangguk, lalu mengikuti Aisha pergi mencari ‘partner latihan’ mereka.


Ark sendiri mencari tempat untuk duduk santai. Duduk di atas salah satu akar raksasa, pemuda itu melepas topengnya lalu mengambil sebatang rokok.


Menyalakan rokok lalu menghisapnya, pemuda itu menatap ke arah Aisha dan Angelica pergi dengan ekspresi santai. Meski begitu, dia juga tetap waspada untuk memastikan bahwa kedua rekannya tidak mengalami kecelakaan. Lagipula, tidak ada 100% kepastian menang dalam bertarung melawan monster.


Terlalu banyak faktor yang bisa mempengaruhi hasilnya.


“Dasar makhluk terkutuk! Beraninya kamu merusak gaya rambut yang sudah aku rawat baik-baik!”


Mendengar teriakan yang disusul beberapa ucapan kasar, Ark menghembuskan asap dari mulutnya sambil menggeleng ringan. Benar-benar tidak menyangka kalau mulut wanita itu masih sekeras sebelumnya.


Melemaskan otot-otot lehernya, Ark kemudian berdiri. Sayap hitam muncul dari punggungnya lalu mengepak dengan cepat. Pemuda tersebut lalu terbang menuju ke tempat Aisha dan Angelica berada.


Sesampainya di sana, Ark melihat pemandangan dimana Aisha dan Angelica melawan seekor makhluk seukuran motor Harley. Tidak terlalu besar, tetapi juga tidak dianggap kecil


Makhluk tersebut memiliki penampilan seperti chameleon. Bedanya, tubuh makhluk itu kurus dan memiliki empat kaki panjang. Kepalanya tampak sangat besar dengan tiga tanduk. Terlihat aneh, bahkan agak menjijikkan.


Swoosh!


Berbeda dengan chameleon normal yang berjalan tidak begitu cepat, makhluk itu bergerak sangat cepat. Mampu memanjat dinding dan melompat begitu jauh.


Tidak hanya itu, makhluk tersebut juga bisa melakukan kamuflase dengan sangat baik.


‘Bukan hanya mampu melakukan kamuflase, tetapi juga menurunkan suhu tubuhnya. Makhluk di kota ini tampaknya memang menarik.’


Swoosh!


Lidah panjang melesat dengan cepat ke arah pungguh Aisha.

__ADS_1


Slash!


Angelica yang menjaga bagian belakang langsung memotong lidah itu. Dengan kekuatan yang cukup kuat dan peralatan baik, lidah chameleon bermutasi dipotong begitu mudah.


Saat itu juga, Aisha langsung berbalik dan berlari menuju ke tempat makhluk itu berada. Tanpa menunggu lama, dia melemparkan salah satu pedangnya.


Chameleon bermutasi langsung menghindari lemparan pedang. Namun, suara Aisha tiba-tiba terdengar tidak jauh dari tempat dia melompat.


“Kena kau!”


Baru saja mendarat dan belum sempat melompat lagi, chameleon bermutasi melihat sebuah pedang mendekat. Membesar tepat di depan matanya.


Jleb!


Aisha langsung menusuk mata makhluk itu dengan kejam. tidak berhenti di sana, dia mengeluarkan dua pisau lain lalu menusuk sisa mata dan menebas bagian bawah lehernya.


Wanita itu dengan berani melompat ke atas punggung makhluk itu, memegang tanduknya dari belakang sambil terus menusuk lehernya dengan kejam.


Beberapa saat kemudian, chameleon yang awalnya melompat ke sana-sini untuk melarikan diri akhirnya berhenti bergerak. Benar-benar kehabisan napas dan kehilangan nyawanya.


Berhasil membunuh makhluk itu, Aisha mendongak ke arah Ark. Memberi tanda ‘peace’ dengan tangan kirinya sambil tersenyum ceria.


Melihat ke arah wanita yang begitu bersemangat, Ark dan Kinma saling memandang sebelum menggelengkan kepala mereka secara bersamaan.


***


Sekitar lima jam kemudian, Aisha keluar dari sebuah bangunan dengan senyum puas di wajahnya.


“Kemampuan apa yang kamu dapatkan?”


Mendengar pertanyaan Ark, Aisha mengangkat dagu dengan bangga.


“Kekuatan, kelincahan, dan fleksibilitas adalah bonus. Kemampuan utama yang aku dapatkan adalah kamuflase dan memanjat dinding seperti cicak atau tokek.”


“Meski seharusnya chameleon?”


Angelica memiringkan kepalanya. Tampak bingung dan kurang mengerti.


“Siapa yang peduli dengan itu? Yang jelas, itu adalah kemampuanku.”


Setelah mengatakan itu, Aisha mengalihkan pandangannya ke arah Ark.


“Omong-omong, tubuhku semakin bugar dan sangat sangat fleksibel.” Wanita itu mengedipkan matanya. “Mau mencobanya Ark?”


Mengabaikan Aisha yang menggodanya, Ark bangkit lalu berkata.


“Jika sudah selesai, maka kita akan melanjutkan perjalanan. Aku sempat melihat orang-orang dari Imperial Phoenix. Seharusnya kita bisa mendapatkan petunjuk dari mereka.”


Melihat Ark yang langsung pergi dan Angelica yang mengikutinya, Aisha mendecak tak puas. Sambil berjalan, wanita itu mulai menggerutu.

__ADS_1


“Cih! Kamu benar-benar tidak asyik, Ark~”


>> Bersambung.


__ADS_2