Apocalypse Regression

Apocalypse Regression
Harga Sebuah Perjanjian


__ADS_3

Tiga hari kemudian, di markas Spirit of Fire.


Setelah melakukan latihan fisik seperti lari pagi, angkat beban, dan beberapa latihan lain, Evans berjalan kembali ke kamarnya untuk beristirahat. Sejak diawasi lebih ketat, dia memutuskan untuk bertindak terlalu mencolok. Selain saat melakukan tugas dalam mengumpul makanan dan air di luar, dia hanya keluar dari markas satu minggu sekali.


Saat itu, sebuah berita membuat tubuhnya tiba-tiba membeku di tempat.


“Aku dengar Brian telah kembali! Dia terluka parah!”


“Menurut berita, bukankah dia ditugaskan untuk melacak Sword of Sufferings? Tampaknya dia menemukan mereka!”


“Maksudmu, para petinggi menyuruh Brian untuk menjembatani hubungan antara dua kelompok? Bukankah itu terlalu berbahaya? Maksudku ... mereka Sword of Sufferings yang membantai banyak orang setibanya di kota!”


“Bukankah itu alasan Brian terluka parah? Maksudku, Brian terkenal dengan kemampuannya dalam membuat jalan dan menghindari para zombie atau binatang bermutasi, kan?”


“...”


Evans langsung berbalik dan berjalan ke luar gedung. Dia tampak sangat terburu-buru. Ekspresi gugup tampak di wajah pemuda itu.


Saat keluar dari gedung, dia langsung disambut oleh pemandangan orang yang berkerumun. Mereka mengelilingi Brian yang tampak pucat dengan sebuah luka tebasan silang yang sangat rapi di dadanya. Alih-alih menolong, kebanyakan dari mereka hanya menjadi penonton dengan alasan takut tertular penyakit atau hal-hal semacamnya.


Menggertakkan gigi, Evans langsung menghampiri Brian. Dia mendorong minggir orang-orang yang menghalangi jalan. Saat mereka semua hendak marah, orang-orang itu langsung tutup mulut ketika melihat ekspresi mengerikan di wajah Evans.


“Apa yang terjadi padamu, Brian?!” Evans langsung menolong Brian dengan wajah khawatir di wajahnya.


“Ini cerita yang panjang, Kawan.”


Brian menjawab dengan ekspresi pucat di wajahnya. Pemuda itu jelas kelelahan dan sekarat karena kehilangan banyak darah. Luka tebasan itu benar-benar panjang dan dalam. Merobek daging sampai menunjukkan beberapa tulang rusuknya.


Melihat kondisi sahabatnya, Evans langsung berkata dengan ekspresi serius.


“Bertahanlah, Brian. Aku akan segera membawamu kembali!”


***


Beberapa jam kemudian, dalam tempat tinggal Brian dan Evans.


Melihat luka yang akhirnya berhasil dibalut dengan kain bersih sebagai pengganti perban, Evans menghela napas panjang. Tampaknya lukanya telah berhenti berdarah. Melihat ekspresi Brian yang lebih santai, Evans merasa agak lega.

__ADS_1


Meski keduanya sering bertengkar, Evans menganggap Brian dan enam orang lainnya sebagai saudaranya. Setelah perjalan mereka selama satu tahun lebih, hanya Brian dan dirinya yang masih tersisa. Selain saudara, dia pikir telah mendapatkan kekasih yaitu Beatrice, tetapi ternyata gadis itu mengkhianatinya.


Meski memikirkan kakaknya berada jauh di luar sana, Evans sendiri tidak yakin apakah kakaknya itu masih hidup atau tidak. Jadi, bisa dibilang, Brian sudah seperti satu-satunya keluarga yang tersisa. Lagipula, meski banyak orang di Spirit of Fire, tetapi kebanyakan mereka tidak akrab satu sama lain.


Mungkin lebih tepatnya, Evans takut membuat hubungan baru karena takut dikhianati. Lagipula, dalam satu tahun, banyak sekali pengkhianatan yang dia temui. Beberapa saudaranya juga mati karena itu. Jadi bisa dimaklumi jika Evans takut untuk memulai.


“Hey, aku benar-benar tidak menyangka kalau aku akan bertemu dengamu lagi, Evans.”


“Diam, Brian. Jangan banyak bicara dan istirahat saja.”


“Ini sudah cukup lama, aku merasa ajaib karena bisa selamat dan bertahan di luar. Omong-omong, kenapa rasanya kamu tidak memiliki teman baru? Apakah kamu masih begitu takut? Sikap introvert itu kembali, ya?’ Brian tersenyum.


“Diam.”


Evans menghela napas panjang. Meski dia merasa agak senang melihat Brian kembali. Namun pemuda itu merasa kalau kondisi sahabatnya terlalu buruk. Saat itu juga, dia mengingat bekas potongan rapi lalu mengingat sosok berjubah hitam yang menangkis serangannya dengan mudah dengan sebuah belati.


“Apakah luka itu karena serangan anggota Sword of Sufferings, Brian?”


“...”


“Kenapa kamu diam saja?”


Mendengar itu, ekspresi Evans menjadi gelap. Dia ingin memukul kepala sahabatnya, tetapi akhirnya menyerah setelah melihat kondisi buruk Brian. Setelah menghela napas, pemuda itu akhirnya berkata.


“Tampaknya bergabung dengan Sword of Sufferings memang ide yang buruk. Maksudku, mereka adalah sekelompok orang gila, Brian! Kamu tidak tahu, sebelumnya aku juga bertemu dengan salah satu dari mereka.


Aku berjuang keras tetapi tidak bisa mengalahkannya. Selain itu, tampaknya pria itu mengenal kakakku. Maksudku, ayolah! Kakakku hanya pekerja kantoran yang sering pergi ke luar negeri. Sejak kapan dia memprovokasi wanita dan pria gila seperti mereka?”


“...”


Melihat Evans yang terus mengeluh, Brian berkedip. Dia benar-benar ingin mengatakan sesuatu, tetapi sama sekali tidak bisa karena akan mengacaukan semuanya. Jadi akhirnya pemuda itu hanya bisa mengeluh dalam hati.


‘Orang-orang gila yang kamu maksud adalah sekelompok bawahan kakakmu, bahkan kakakmu sendiri pemimpin dari Sword of Sufferings, Ok?’


“Lain kali jangan bertindak begitu sembrono, Brian. Enam saudara kita telah pergi, kamu tidak bisa mati begitu saja.”


Evans berkata dengan ekspresi jengkel di wajahnya. Dia menatap ke arah sahabatnya dengan ekspresi jengkel. Namun pemuda itu hanya tersenyum ke arahnya.

__ADS_1


Melihat ke arah Evans dan memikirkan enam sahabat lain, Brian berpikir.


‘Maafkan aku, Evans. Aku mungkin tidak bisa memenuhi permintaanmu. Lagipula, aku sudah membuat sebuah perjanjian dengan kakakmu. Jika aku sampai gagal dalam misi ini, itu berarti aku akan benar-benar mati. Namun ...


Aku yakin kalau dendamku juga akan terbalaskan. Juga, Tuan Hades pasti akan menjagamu. Jadi, aku sama sekali tidak akan mati dengan menyesalan.’


“Kenapa kamu menatapku dengan cara seperti itu? Aku sama sekali tidak tertarik dengan laki-laki!” ucap Evans kesal.


“...”


Sudut bibir Brian berkedut. Meski merasa marah, tetapi dia juga masih agak lega ketika mendengar kata-kata beracun dari mulut sahabatnya. Itu berarti pemuda itu masih baik-baik saja.


Tok! Tok! Tok!


Saat itu, suara ketukan pintu terdengar. Mendengar itu, Evans tampak bingung. Sementara itu, Brian memejamkan matanya dan berpikir.


‘Sudah waktunya, kah?’


Evans datang untuk membuka pintu. Namun saat pintu sedikit terbuka, pemuda itu langsung terkejut ketika sebuah pedang langsung menusuk ke arahnya.


Swoosh!


Evans langsung melompat mundur. Saat itu, beberapa orang dengan senjata lengkap langsung masuk. Dua orang langsung menyeret Brian lalu meletakkan bilah pedang di leher pemuda itu. Suara pria paruh baya langsung terdengar.


“Jangan coba-coba melawan jika tidak ingin sahabatmu mati, Evans!”


Saat itu, tiga dari beberapa tetua Spirit of Fire masuk ke dalam ruangan. Melihat mereka, ekspresi Evans langsung berubah menjadi buruk. Dia juga mengingat apa yang sempar Brian katakan kepadanya sebelum mereka berpisah.


“Semua bukti telah dikumpulkan, Evans. Kamu telah menimbun makanan dan air sendiri, kamu juga sering keluar untuk melakukan hal-hal yang tidak diketahui. Ditambah bukti dimana kamu memiliki kekuatan yang sama dengan miliki para anggota Crux of Shadow.


Sekarang kamu telah dianggap sebagai pengkhianat!”


“Aku sama sekali bukan pengkhianat!” teriak Evans dengan ekspresi marah.


“Jika kamu bukan pengkhianat dan ingin sahabatmu selamat ...”


Pria paruh baya gemuk dan pendek tersenyum menjijikkan.

__ADS_1


“Katakan pada kami bagaimana kamu mendapatkan kekuatan itu, Evans?!”


>> Bersambung.


__ADS_2