
Tiga hari berlalu begitu saja.
Sementara kelompok Sword of Sufferings begitu tenang, menutup pintu gerbang dan melakukan isolasi … kekacauan terjadi di kota akibat para semut bermutasi yang mulai bermunculan. Banyak survivor yang merasa ketakutan. Dalam posisi yang begitu terpojok dan tertekan, mereka akhirnya mulai meluapkan perasaan mereka ke arah yang bisa dijadikan target.
Ya. Lagi-lagi salah satu sifat busuk manusia.
Di markas Silver Cross, suasana tampak begitu tegang. Banyak anggota kelompoknya mondar-mandir dengan ekspresi cemas di wajah mereka. Hal tersebut disebabkan oleh para warga yang berkumpul di depan markas mereka untuk melakukan protes dan demo. Hal tersebut tentu membuat tekanan pada Silver Cross, khususnya Julian menjadi lebih berat.
Sebenarnya melakukan protes atau demo bukanlah kesalahan, tetapi semua orang juga harus bercermin pada diri sendiri. Lagipula, bahkan jika pemerintahan itu busuk, ada juga bagian rakyat yang busuk.
Contohnya, ada bencana banjir yang selalu menimpa sebuah kota setiap tahunnya. Tentu saja, hal tersebut menjadi masalah besar. Belum lagi jika pemerintah melakukan korup dan menyelewengkan dana yang harus digunakan untuk membangun saluran drainase dan hal-hal lainnya untuk mencegah banjir.
Di sisi lain, bahkan jika pemerintahan tidak korup tetapi masyarakatnya sendiri juga busuk, hal yang buruk tetap akan terjadi.
Misalnya di kota yang sering terjadi banjir sebelumnya. Jika pemerintahan melakukan upaya pembersihan sungai, membangun saluran drainase yang baik, dan hal-hal lainnya tetapi tidak ada perubahan, mungkin ada yang salah dengan warganya. Misalnya hanya melakukan demo dan banyak bicara, tetapi dirinya sendiri membuang sampah sembarangan dan melakukan kontribusi untuk menyebabkan banjir.
Jika ada yang berkata saya hanya buang sampah satu kilo atau alasan lainnya agar mereka tidak tampak bersalah, itu adalah hal bodoh. Anggap saja jika setiap warga membuat alasan yang sama bahwa mereka membuang sedikit sampah sembarangan per bulan.
Jika penduduk kota tersebut dikatakan mencapai satu juta orang, itu berarti satu juta kilogram per bulan, tepat seribu ton! Jika itu satu tahun? 12.000 ton sampah menumpuk di sungai dan saluran pembuangan air. Akan menjadi hal luar biasa jika tidak terjadi masalah setelah penumpukan selama bertahun-tahun.
Padahal, kota-kota besar bisa memiliki jumlah penduduk yang padat, mungkin mencapai 10 juta jiwa! Jadi bisa dibayangkan betapa mengerikannya jika semua itu terus dilakukan hanya atas keegoisan dan sikap tidak merasa bersalah terus dipupuk sampai masa depan.
Ya. Untuk menciptakan negeri yang baik, bukan hanya pemerintahannya yang harus baik dan luar biasa, tetapi para rakyatnya juga harus memiliki kesadaran diri tinggi. Jadi untuk merubah negeri menjadi lebih baik, tidak perlu menunjuk orang lain, tetapi lihat diri sendiri dan perbaiki kesalahan yang pernah dilakukan. Tidak perlu melakukan hal-hal besar secara langsung, karena semuanya bisa dimulai dari hal-hal kecil.
(Semoga bermanfaat.)
Di kantor Silver Cross, Julian duduk dengan ekspresi lelah di wajahnya. Bukan hanya penampilannya yang menjadi lebih buruk, tetapi juga kondisi mentalnya. Pria itu tampaknya sangat tertekan akibat hal-hal yang terjadi akhir-akhir ini.
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan pintu terdengar. Masih bersandar di kursi dengan wajah lelah, Julian berkata.
__ADS_1
“Masuk.”
Pintu kantor terbuka, Berto masuk ke dalam kantor dengan ekspresi lelah yang tidak jauh berbeda dibandingkan Julian.
“Ada apa, Berto?” tanya Julian.
“Apa yang harus kita lakukan sekarang, Ketua? Semua orang menjadi semakin cemas, para warga mulai melakukan hal-hal secara ekstrem. Perilaku mereka kian lama kian menjadi. Apakah sebaiknya kita menggerakkan tangan kepada mereka? Karena jika dibiarkan, mereka akan menjadi lebih keterlaluan.”
Mendengar ucapan Berto, Julian mengerutkan kening. Pria itu tampaknya masih kurang setuju. Seolah-olah ragu, dia kembali berkata.
“Jika kita melakukan semuanya dengan kekerasan dan menekan mereka, apa bedanya kita dengan Imperial Tiger dan Third Scars?”
“Tentu saja kita berbeda, Ketua.”
Berto tersenyum pahit. Dia merasa sakit kepala karena sikap ketuanya yang terlalu lembut dalam menghadapi orang-orang. Pada saat pria itu hendak mengatakan sesuatu, pintu kantor tiba-tiba didorong terbuka dan suara seorang gadis yang agak celaka terdengar.
“Yo! Sudah lama tidak berjumpa, para bebek yang berbaris menuju kehancuran! Aduh!”
“Bisakah kamu bersikap lebih sopan? Kita sedang bertamu,” ucap Stacy dengan tenang. “Lagipula, siapa yang mengajarimu kata-kata semacam itu.”
“Darin yang mengatakannya.”
“Darin? Sejak kapan lelaki itu menjadi lebih cerdas dan bijaksana?”
“Mungkin dia belajar tentang filosofi saat mengajar anggota baru.”
Lisa mengangkat bahunya. Gadis itu kemudian memelototi Stacy karena telah memukul kepalanya.
“Kalian?” Julian tampak agak bingung.
“Namanya Lisa, atau biasa disebut Tamer. Sedangkan namaku Stacy. Alasan kami datang ke tempat ini adalah menyampaikan pesan Tuan kepadamu.”
__ADS_1
Stacy berkata dengan nada santai, sama sekali tidak menunjukkan gelar hormat kepada orang lain. Sementara itu, Lisa mengangkat bahu, tampaknya tidak begitu peduli dengan hal semacam itu.
“Ark, dia …” Julian mengerutkan kening. Setelah beberapa saat, pria itu tertawa. “Apakah dia mengejekku karena tidak bisa melakukannya dengan baik? Tampaknya orang itu juga merasa kalau aku tidak becus dalam menangani pemerintahan.baru ini. Sudah aku bilang, seharusnya dia saja yang melakukannya! Kalian berdua, apakah kalian bisa menyampaikan-“
“Tidak.” Stacy langsung membantah dengan tegas. “Tugas kami adalah menyampaikan pesan. Namun bukan hanya menyampaikan pesan, kami juga akan melakukan pengumuman penting.”
Julian terdiam sejenak. Setelah beberapa saat, dia menghela napas lalu bertanya, “Apa yang Ark ingin sampaikan?”
Mendengar pertanyaan itu, Stacy langsung melirik Lisa dan meminta gadis itu menjelaskan. Lisa kemudian pura-pura batuk sebelum berkata.
“Sebenarnya banyak hal yang ingin Ketua ingin sampaikan, tetapi aku akan meringkasnya agar menjadi lebih mudah dimengerti.
Pertama, ke dua, dan ke tiga … Julian, kamu terlalu baik, lembek, dan tidak bisa diandalkan.”
Semua orang dalam ruangan langsung tertegun, tidak menyangka gadis itu tiba-tiba mengutuk orang ketika ingin menjelaskan sesuatu. Sebelum ada yang sempat merespon, gadis itu kembali berbicara.
“Cara memerintahmu sebenarnya sudah baik, tetapi kamu terlalu lembut. Hal semacam itu akan membuat oknum-oknum tertentu membuat masalah. Bukan hanya menjadi penyakit dalam pemerintahan yang sulit disingkirkan, tetapi mereka juga bisa membuat kepercayaan rakyat menjadi runtuh.
Kamu sebenarnya sangat dihormati dan disayangi oleh banyak orang. Masalahnya, banyak hal menjadi kacau. Mereka yang awalnya percaya mulai bingung dan akhirnya disesatkan. Bisa dibilang, mereka menjadi benci kepadamu.
Mungkin memerintah dengan kelembutan juga baik, tetapi ada waktunya kamu menjadi tegas. Orang-orang itu bisa kamu anggap sebagai itik dan kamu adalah pemiliknya. Para itu berbaris bersama dan berjalan dengan seragam. Untuk mengirim mereka pulang dengan selamat, kamu juga memerlukan tongkat dan kata-kata keras.
Jika tidak, mereka akan tertesat karena mengikuti barisan depan yang dianggap benar, padahal hanya akan dibawa pergi ke jalan ramai untuk bunuh diri.
Intinya, kamu harus menjadi lebih tegas dan menggiring mereka dengan baik. Ya …”
Lisa menggaruk belakang kepalanya.
“Meski sekarang hampir terlambat karena kepercayaan orang-orang mulai runtuh.”
>> Bersambung.
__ADS_1