
RROOAAARRR!!!
Zombie merah itu mengaum, langsung bergegas ke arah Darin. Tampaknya marah ketika melihat pemuda itu sama sekali tidak takut kepada dirinya.
"Aku akan menahannya, kalian menyerangnya dari arah lain!"
Swoosh!
Zombie itu langsung mengepalkan tinju lalu mengayunkannya dengan kuat.
Darin jelas mengetahui bahwa menahannya bukanlah pilihan terbaik. Dia langsung memutar tubuhnya lalu mengayunkan tombak di tangannya secara horizontal.
Ekspresi pemuda itu langsung berubah ketika melihat mata pisau pada kepala tombak tidak bisa memotong tangan zombie itu. Sebaliknya, Darin merasakan tolakan kuat. Hanya menggunakan tangan kanannya, dia merasa bahwa kekuatannya kurang. Tangannya terus gemetar ketika menahan serangan zombie tersebut.
Saat itu, Yonas dan Vadim menyerang dari sisi kiri dan kanannya. Zombie itu tidak bodoh. Dia langsung memutar tubuhnya dan menangkis serangan Vadim dengan punggung tangan kirinya. Namun saat itu, Yonas menebas dari sisi kanan zombie dengan kuat.
Slash!
"Tsk! Kurang dalam!"
Terkena tebasan, zombie merah itu langsung menoleh ke arah Yonas lalu memukul dengan kejam. Langsung mengabaikan Darin yang ada di depannya.
BRUAK!!!
Zombie itu langsung memukul Yonas dengan kejam. Pria itu berhasil menangkis, tetapi langsung terpental mundur.
Memanfaatkan kesempatan yang Yonas buat, Darin langsung menusukkan tombak ke leher zombie, tetapi kepala tombaknya langsung dicengkeram oleh tangan kiri zombie.
Vadim yang berada di sisi kiri memanfaatkan kesempatan itu untuk menikam bagian perut kiri. Namun sayangnya, tikaman itu kurang dalam.
Dipukul mundur, bangkit, serang, dipukul lagi ... ketiga orang itu bertarung seperti orang gila melawan zombie yang ada di depan mereka.
Ketiganya mencoba untuk menyerang titik terlemah zombie itu, tetapi makhluk tersebut bisa menjaga titik terlemah dengan baik. Jadi pada akhirnya, mereka bertiga bertarung hanya berdasarkan dengan tekad mereka saja.
Crack!
Suara retakan yang terdengar tidak nyaman langsung membuat ekspresi ketiga lelaki itu berubah menjadi buruk.
Setelah penggunaan berkali-kali tanpa perawatan, pedang di tangan Yonas patah ketika dicengkeram oleh tangan zombie merah. Saat itu, zombie tersebut memutar tubuhnya.
Slash!
"ARRGGHHH!!!"
Vadim yang mencoba menyerang tiba-tiba jatuh mundur. Dia berusaha menghindar, tetapi masih terlambat. Luka tebasan yang cukup dalam tampak di mata kirinya. Darah terus mengalir ketika pria itu berguling di aspal.
"Vadim!!!" teriak Yonas.
Berbeda dengan Yonas, Darin langsung menusuk tepat ke jantung zombie merah dengan tombaknya. Tombaknya menusuk cukup dalam, tetapi belum menembus jantung makhluk itu.
"YONAS!!!" teriak Darin menyadarkan Yonas.
__ADS_1
Karena tombak yang menancap di dadanya, zombie itu memegang tubuh tombak dengan kedua tangannya. Mencoba melepas atau mematahkannya. Sementara itu, Darin terus mendorong tombak, berusaha menghabisi makhluk itu.
Yonas yang tersadar langsung memegang erat pedang patah di tangannya dengan erat lalu menebas ke leher zombie dengan sekuat tenaga.
Slash!
"AYOLAH!!!" teriak Yonas yang melihat pedang patah menebas leher zombie tersebut. Namun bukannya terpotong seluruhnya, pedang hanya memotong setengah jalan.
Saat itu juga, Vadim entah sejak kapan telah bangkit. Meski wajahnya penuh dengan darah. Dia masih bergegas menuju ke arah zombie merah dari belakang. Memegang pedang di tangannya, dia juga menebas leher zombie dari belakang. Hanya saja, sesuatu yang aneh terjadi.
Zombie merah itu tampaknya mengencangkan semua otot-otot di tubuhnya. Kedua pedang yang hendak memotong terhenti, tombak yang menusuk juga tidak bisa menembus lebih jauh.
"AYOLAH!"
"JANGAN BERCANDA DENGANKU!"
"MATI SAJA!"
Ketiga lelaki itu berteriak gila. Mengerahkan semua sisa tenaga mereka.
BRUK!
Sebuah kepala zombie disusul oleh tubuh zombie berwarna merah akhirnya jatuh ke tanah.
Melihat ke arah tubuh zombie yang beberapa kali berkedut sebelum akhirnya diam kaku, ketiganya mengembuskan napas lega. Rasa lelah dan sakit yang tertahan karena adrenalin di tubuh mereka akhirnya terasa. Mereka ingin menjatuhkan diri ke jalanan dan beristirahat. Namun mereka tahu, mereka tidak boleh berdiam diri di sana.
Sementara para zombie fokus untuk mengejar ratusan anggota Silver Cross di gedung, mereka harus segera bersembunyi.
Sampai di sana, mereka tidak menemukan zombie karena sudah sering dibersihkan oleh para anggota Silver Cross yang lewat sekitar sini saat patroli.
Menemukan ruang bawah tanah, mereka tampak lega.
Memeriksanya dan menyadari selain bau tidak sedap karena lembab dan jamur tidak ada makhluk lain yang bersembunyi di sana, mereka berempat langsung masuk. Setelah menutup pintu, mereka kemudian menggunakan sisa tenaga mereka untuk memindahkan lemari dan barang-barang untuk menghadang pintu.
Setelah itu, mereka bertiga pun akhirnya jatuh ke lantai. Benar-benar tampak lelah dan sekarat.
"Apakah kamu baik-baik saja, Vadim?"
Yonas bertanya.
"Tentu saja tidak baik-baik saja. Namun syukurlah, aku masih hidup, Kapten."
Vadim membalas dengan santai. Memang benar, satu matanya tidak mungkin dikembalikan. Namun, dia memang bersyukur bahwa dirinya masih bisa lolos dari kematian.
"Kalian terlalu ceroboh dan bodoh. Benar-benar memilih untuk kembali."
Darin mengeluh. Dalam gelap, tidak ada yang tahu bahwa dirinya memiliki senyum lembut penuh syukur di wajahnya. Setelah menghela napas panjang, pemuda itu menambahkan.
"Namun, terima kasih ... tanpa bantuan kalian, aku pasti tidak akan bertahan."
"Kamu bodoh, Darin. Jika tidak ada kamu, kami mungkin juga akan mati. Jadi kita impas."
__ADS_1
"Apa yang kapten katakan benar, Darin. Kami sangat bersyukur atas bantuanmu."
Mendengar ketiga lelaki yang terus mengobrol padahal sudah begitu lelah dan tubuhnya penuh dengan luka, Shani langsung berkata.
"Saya tahu kalian senang. Namun kalian harus beristirahat! Saya tidak ingin melihat tiga pahlawan yang mati karena kelelahan dan terlalu berpuas diri atas pencapaian mereka."
Mendengar sindiran Shani, ketiganya tertawa bersama.
Tanpa sadar, hubungan mereka menjadi membaik setelah melewati krisis kematian bersama.
***
Beberapa jam kemudian, tidak jauh dari markas Sword of Sufferings.
Sang fajar terbit dan pertarungan telah berakhir.
"Tampaknya kita kurang beruntung, Ark. Dari ratusan zombie, benar-benar tidak ada zombie spesial."
"..."
Mendengar keluhan Jay, sudut bibir Ark berkedut.
"Tentu saja, aku tahu mereka (zombie spesial) tidak sebanyak kubis di pasar. Namun, ayolah ... ini ratusan zombie!"
Plak!
Ark memukul belakang kepala Jay dengan santai.
"Untuk apa pukulan itu?!" Jay langsung memprotes.
"Jangan bahas soal zombie spesial."
"Eh? Bukannya kita tidak perlu menyembunyikannya lagi? Lagipula, sebelumnya kamu pamer, kan?"
Merasa difitnah, Ark terdiam. Alasan kenapa pemuda itu menggunakan kekuatannya di depan ketiga wanita bukan karena ingin pamer. Hanya saja, ketika penyatuan dunia tahap dua ... Ark merasa bahwa dirinya bisa mendapatkan skill lamanya.
Jika dalam novel kultivasi atau semacamnya, mungkin apa yang Ark rasakan bisa dianggap sebagai pencerahan.
Jika Ark berlatih teknik pedang itu sendiri, dia perlu mengulanginya dari awal. Membuat seluruh tubuhnya terbiasa, melatih memori otot, dan sebagainya. Prosesnya cukup lama untuk mencapai puncaknya lagi.
Hanya saja, karena pertarungan sebelumnya, Ark hampir mendapatkan seluruh teknik pedang itu kembali tanpa mengulang dasar-dasarnya. Bisa dikatakan, senjata telah dibuat dan tinggal mengasah untuk mempertajam senjata tersebut.
"Omong-omong, apakah pemuda itu akan selamat, Ark?"
Pertanyaan Jay membuat Ark sadar dari lamunannya. Menoleh, dia melihat Jay, Stacy, Natasha, dan Abigail.
"Tenang saja. Semuanya akan baik-baik saja."
Pemuda itu berkata dengan tenang. Seolah telah memprediksi apa yang terjadi.
>> Bersambung.
__ADS_1