Apocalypse Regression

Apocalypse Regression
Orang Yang Suka Menghitung


__ADS_3

“Oh? Apakah kamu menemukan sesuatu yang bagus Ark?”


Mendengar pertanyaan itu, Ark mengangguk ringan. Dia kemudian pergi mengambil sesuatu dari tumpukan barang.


Melihat benda yang Ark ambil, ekspresi Aisha tampak aneh. Apa yang pemuda itu ambil bahkan lebih aneh dari apa yang diambil sebelumnya.


Apa yang Ark bawa adalah ... sebuah batu bulat tak sempurna hampir seukuran bola voli.


“Batu?” Aisha memiringkan kepalanya.


“Ya. Ini sebuah batu, tetapi bukan sembarang batu.”


“Batu bulat? Bahkan bulatnya tidak sempurna? Apa yang spesial dari batu itu?”


Aisha mendekat lalu mengambil batu dari tangan Ark. Setelah mengamati sebentar, dia sama sekali tidak melihat perbedaan kecuali warna kusam dan beratnya yang sedikit membedakan dari batu acak di pinggir jalan.


“Aku menyebut benda ini sebagai batu penggilingan.”


“Batu penggilingan? Jenis yang digunakan untuk menghaluskan? Membuat tepung?”


“Bukan.” Ark menggelengkan kepalanya.


“Lalu?”


“Kamu seharusnya juga mempelajarinya. Ada beberapa spesies binatang herbivora yang dengan sengaja memakan batu dan menyimpannya dalam organ pencernaannya.


Batu itu sengaja ditelan untuk membantu mereka menggiling rerumputan yang mereka makan.”


“Maksudmu, ini adalah batu yang mereka muntahkan? Direndam dalam jus lambung begitu lama?”


“Ya.” Ark mengangguk.


Mendapatkan respon positif dari pemuda itu, Aisha langsung menatap ke arah batu di tangannya dengan ekspresi jijik. Benar-benar tidak menyangka batu acak itu ternyata memiliki peran seperti itu.


Hanya saja, Ark tidak mengatakan semuanya.


Jika dalam kondisi normal apa yang ditelan adalah batu biasa, maka setelah mutasi dunia apa yang ditelan adalah bijih logam tertentu.


Belum lagi, setelah direndam dengan asam begitu lama dan digunakan sebagai penggilingan, bijih tersebut mengalami perubahan kualitas. Bahkan bisa dibilang telah mengalami mutasi tertentu.


Jika belum melihat dengan mata kepala mereka sendiri dan hanya mendengar rumor, orang-orang tidak akan percaya kalau batu acak itu adalah salah satu bahan untuk menempa senjata terbaik.


Selain salah satu pedangnya sendiri di kehidupan sebelumnya, Ark ingat kalau pedang Siegfried yang digunakan untuk membunuh ‘Naga’ juga dibuat dengan campuran bahan ini. Digunakan oleh ‘Lone Star’ dan ‘Dragon Slayer’, itu sudah membuat orang-orang di kehidupan sebelumnya mengetahui seberapa penting bahan tersebut.

__ADS_1


Jadi, Ark merasa cukup puas karena mendapatkan salah satu bahan untuk membuat senjata yang sangat baik. Setidaknya menjadi salah satu senjata utama yang tidak perlu diganti-ganti!


Saat itu, Aisha langsung mengembalikan ‘batu giling’ itu kepada Ark.


“Sungguh, kenapa kamu suka hal-hal aneh seperti itu.”


Aisha bergumam pelan, tampaknya menganggap Ark aneh karena suka mengoleksi benda-benda yang bisa dibilang ... unik. Melihat pemuda yang tidak bisa menyembunyikan kegembiraan dalam tatapannya, wanita itu hanya bisa menggelengkan kepala.


***


Sekitar satu jam kemudian, Ark dan Aisha meninggalkan gudang,


“Datang dengan tangan kosong, kembali dengan tas penuh. Aku tidak menyangka kamu orang semacam itu Ark.”


Meski mengatakan itu, senyum mekar di wajah Aisha. Bukan hanya mengambil beberapa bahan baku dari gudang, sebelumnya mereka juga telah mengambil beberapa bahan ramuan tingkat tinggi.


Tidak peduli bagaimana melihatnya, Ark dan Aisha sama sekali tidak datang dengan niat baik.


“Setelah ini kita akan pergi kemana Ark?”


“Bagaimana kalau berkeliling untuk mengamati? Mungkin kita bisa bertemu dengan beberapa orang tingkat tinggi yang dapat dicurigai.”


Mendengar jawaban Ark, Aisha memiringkan kepalanya. Wanita itu tidak bisa tidak bertanya.


Ark menoleh ke arah Aisha ketika mendengar pertanyaan tersebut. Pemuda itu kemudian bertanya dengan nada asal-asalan.


“Apakah kamu pikir aku orang yang seperti itu?”


“Kamu memang bukan orang yang suka ikut campur urusan orang lain. Itulah kenapa aku merasa aneh. Kenapa kamu ingin berurusan dengan para pengkhianat dari Golden Maple Group dan Imperial Phoenix?”


“Bukankah jawabannya jelas?”


“Maksudmu?”


Ark lanjut berjalan sambil bergumam dengan suara yang hanya dia dan Aisha bisa dengar.


“Mereka telah membuat Jay lepas kendali. Untung saja orang itu tidak terus menerobos ke pusat kota dimana banyak makhluk level 4. Jika tidak, dia akan ditanamkan (dikubur) di sana walaupun bisa tersadar pada saat-saat terakhir.


Lebih buruk lagi, mereka hampir membuat Jay menjadi monster seutuhnya. Itu berarti bukan hanya menyakiti rekanku, tetapi juga hampir membuat ‘investasi’ yang aku lakukan sebelumnya sia-sia.


Bukankah alasan semacam itu sudah cukup untuk membuatku memusnahkan dua kelompok itu?”


Setelah mengatakan itu, Ark kembali melirik Aisha. Memiliki senyum ‘ramah’ di wajahnya, pemuda itu melanjutkan.

__ADS_1


“Namun aku tidak melakukan hal itu karena cukup kejam. Sebagai gantinya, aku ingin mereka ikut masuk ke dalam permainan dan ikut menikmatinya.


Bukankah aku memperlakukan mereka dengan baik hati? Penuh dengan belas kasih?”


Mendengar ucapan Ark, Aisha tidak bisa tidak menghirup napas dingin. Walau sudah lama tidak berjumpa dengan pemuda itu, tetapi dia masih mengetahui beberapa kebiasaan buruk yang suka dilakukannya.


Menurut Aisha, Ark adalah orang yang suka ‘menghitung’.


Apa yang dimaksud dengan ‘menghitung’ bukanlah pertambahan, pengurangan, perkalian, atau pembagian. Namun, menghitung apa yang akan terjadi pada musuhnya.


Pemuda itu akan menempatkan orang-orang dalam papan catur. Gunakan mereka sebagai pion, lalu gerakkan mereka di belakang layar. Pilih siapa yang maju atau mundur, siapa yang akan mati di awal dan di akhir.


Benar-benar menjadi dalang yang memainkan mereka seenaknya.


Seingat Aisha, Ark sebelumnya bukan orang semacam itu. Pemuda tersebut adalah jenis orang yang melakukan semuanya dalam diam. Mengeksekusi tugas dengan rapi tanpa melibatkan masalah perasaan atau ‘hobi khusus’ yang menyimpang.


Namun, sejak dijebak dan ditangkapnya Anya, pemuda itu mulai berubah. Dengan otaknya yang dianggap jenius (karena bisa mempelajari semuanya dengan mudah), dia mulai memiliki hobi khusus.


Bukan menyiksa atau mengotori seperti orang lain, Ark menggunakan otak dan keterampilannya untuk ‘menghitung’ akhir orang lain. Metode yang bahkan bisa lebih parah dibandingkan dua hobi sebelumnya.


“Apakah itu yang disebut mata balas mata, gigi balas gigi?” tanya Aisha dengan senyum di wajahnya.


“Bisa saja.” Ark mengangkat bahu dengan ekspresi datar.


“Sama seperti biasanya, kamu benar-benar tidak bisa mengungkapkan isi hatimu dengan jujur.”


Aisha menghela napas. Meski sedikit menyesal, tetapi wanita itu tampak telah terbiasa dengan jawaban semacam itu.


Pada saat itu, Ark dan Aisha tiba-tiba mendengar suara gaduh tidak terlalu jauh dari mereka. Keduanya saling memandang lalu mengangguk ringan.


Mereka berdua kemudian menampilkan keterampilan kamuflase dengan sangat teliti sebelum mendekat.


Ark dan Aisha melompat dari atap satu gedung ke gedung lainnya. Mereka kemudian menyusup lewat jendela lalu mengendap-endap ke salah satu ruangan sumber suara tersebut berasal.


Sampai di sana, sedikit kejutan muncul di wajah Aisha. Sebagai salah satu prajurit terkenal dari Cursed Berserkers, wanita itu tentu saja cukup mengenal beberapa orang terkenal di kota ini.


Orang-orang yang berkumpul dalam ruangan adalah para petinggi dari Imperial Phoenix. Namun, ada sosok yang paling mencolok di antara mereka.


Cassandra, wanita cantik yang merupakan ketua dari Imperial Phoenix.


Bukan hanya cantik, tetapi dia juga terkenal atas kekuatan dan kecerdasannya. Dan sekarang, tampaknya wanita tersebut sedang memarahi dan mengutuk orang-orang dalam ruangan.


Benar-benar menunjukkan sisi berbeda, tidak sama dengan sosok yang dingin dan tenang seperti biasanya!

__ADS_1


>> Bersambung.


__ADS_2