
Sore harinya, Ark dan pasukannya yang sedang beristirahat di gedung terdekat melihat kedatangan dua pasukan lain dari arah berlawanan.
Berbeda dengan penampilan mereka sebelumnya, ekspresi berat tampak di wajah orang-orang itu. Meski tidak begitu terlihat, tetapi jumlah mereka juga berkurang. Sebagian dari mereka juga terluka cukup serius.
Sementara itu, Ark dan pasukannya sendiri tampil lebih baik. Selain perbedaan kekuatan, hal itu bisa terjadi karena mereka semua lebih bersatu. Tentu saja, masih ada yang terluka, tetapi tidak ada yang begitu parah atau sampai harus mati. Bahkan, orang-orang itu sekarang sedang berbaring santai untuk mengistirahatkan tubuh dan pikiran mereka sembari menunggu kedatangan dua pasukan lain.
Melihat ekspresi buruk Joseph dan Julian di kejauhan, jelas mereka tidak hanya kehilangan orang, tetapi juga mendapatkan masalah. Ark bergumam pelan dengan suara yang hanya bisa dia dan orang-orang di belakangnya dengar.
“Ingat, setelah keluar dari kota, lakukan apa yang aku katakan sebelumnya.”
Orang-orang di belakang Ark, para petinggi Sword of Sufferings yang ikut dalam pertempuran itu mengangguk dengan ekspresi serius di wajah mereka.
“Akhirnya kalian tiba. Suruh mereka beristirahat, kalian juga beristirahat terlebih dahulu. Kita bisa membicarakan sisanya nanti.”
Joseph dan Julian sedikit terkejut dengan keramahan Ark. Mereka kemudian mengangguk dengan tenang, memilih untuk mengikuti apa yang dikatakan pemuda tersebut. Lagipula, saat ini mereka semua juga sangat kelelahan.
Waktu mengalir perlahan, malam akhirnya tiba.
Dengan api unggun besar yang menerangi gelapnya malam, orang-orang makan bersama. Kebanyakan dari mereka tampak lelah dan cukup putus asa. Sepertinya telah kehilangan semangat mereka untuk bertarung.
Di tempat yang cukup jauh dari keramaian, tiga pemimpin berkumpul bersama.
“Tampaknya kamu baik-baik saja, Hades?” tanya Julian dengan senyum pahit di wajahnya.
“Begitulah.” Ark menjawab datar. “Apa yang terjadi?”
“…” Julian hanya diam.
“Seperti biasa, orang-orang yang ketakutan membuat kekacauan, korban menjadi lebih banyak daripada perkiraan karenanya.” Joseph memilih untuk menjelaskan.
“Kalian harus menghukum mereka,” ucap Ark.
“Kami sudah melakukannya. Namun semuanya sia-sia karena rasa takut tampaknya telah mengakar dalam hati mereka.” Joseph menggelengkan kepalanya.
“Kalau begitu cabut akar itu dengan paksa. Kirim mereka ke barisan paling dekat dengan kematian, pastikan mereka tidak bisa mundur. Biarkan mereka memilih dalam keputusasaan, entah mati atau bertarung.” Ark menjelaskan dengan nada tak acuh.
“Aku juga sudah memikirkannya. Hanya saja, dengan cara seperti itu, aku takut akan terlalu banyak korban.”
“Banyak korban mati? Maka jadilah itu.” Ark membalas tak acuh. “Jika mereka tidak bertarung atau mengembangkan diri, orang-orang itu akhirnya juga akan mati. Jadi lebih baik gunakan kesempatan untuk memilih orang-orang yang pantas dikembangkan.”
Mendengar metode kejam Ark dalam menyaring bakat, mereka berua kehilangan kata-kata. Namun saat itu Julian mengingat sesuatu.
__ADS_1
“Tampaknya pasukanmu melakukannya dengan baik? Apakah korbannya sangat sedikit?” tanya Julian.
“Nol.”
“Hah?!” Julian dan Joseph langsung terkejut.
“Kamu … kamu memilih untuk melindungi mereka?” tanya Julian dengan ekspresi heran.
“Kurang lebih seperti itu,” ucap Ark santai.
“Huh …” Julian menghela napas panjang. “Aku tidak menyangka kalau kamu juga memiliki sisi lembut seperti ini, Hades.”
Jika pasukan Ark mendengar apa yang dikatakan oleh pemimpin mereka, orang-orang itu pasti sudah marah. Mereka mengingatnya dengan jelas. Daripada melindungi, rasanya Ark benar-benar mendorong mereka ke tepi untuk bertarung dengan para monster itu seolah-olah sengaja meminta mereka untuk mati. Ditambahkan dengan kata-kata beracun seperti otak udang, bebek tersesat, kaki kura-kura, dan sebagainya … mereka jelas ‘sangat disayangi’ oleh Ark. Saking sayangnya, mereka hampir disamakan dengan kelemahan berbagai binatang.
“Apakah kita benar-benar harus melakukannya, Hades?” tanya Joseph.
“Apakah kamu ingin pindah dan meninggalkan kota, Joseph?” Bukannya menjawab, Ark malah balik bertanya.
“Tentu saja tidak!” tegas Joseph.
“Kalau begitu jawabannya adalah harus melakukannya!” ucap Ark.
“Apakah kita tidak bisa menundanya, Hades?” tanya Julian.
“Kenapa?”
“Karena hal tersebut malah membuat kita semakin rugi. Sementara manusia akan berkurang sedikit demi sedikit karena harus melawan banyak makhluk lain, para semut tidak hanya tidak berkurang. Sebaliknya, mereka akan tumbuh lebih banyak dengan waktu yang cepat.
Jika kita melewatkan kesempatan, seluruh isi kota bisa saja dimusnahkan oleh pasukan semut bermutasi.”
Membayangkan adegan semacam itu, Julian dan Joseph langsung menghirup napas dingin. Mereka benar-benar tidak menyangka, semut, makhluk yang sebelumnya dianggap sepele benar-benar bisa menjadi teror yang sangat mengerikan dalam masa apocalypse ini.
“Kalau begitu sudah diputuskan!” ucap Julian dengan ekspresi tegas.
Ark dan Joseph mengangguk. Bahkan jika sebenarnya mereka enggan, tetapi mereka memang harus melakukannya.
***
Keesokan harinya.
Setelah sarapan, semua orang langsung berbaris dengan rapi. Dipimpin oleh masing-masing pemimpin, tiga pasukan berjalan menuju ke luar kota.
__ADS_1
Sesampainya di sana, mereka semua langsung disambut oleh pemandangan yang sangat mengejutkan. Tidak jauh di luar kota, mereka semua melihat banyak pepohonan dan rerumputan yang dibersihkan. Mereka bahkan bisa melihat jalan yang lurus menuju kejauhan
Bagi orang-orang yang memiliki jarak pandang sangat jauh setelah menyerap miracle root, mereka bisa melihat kalau di ujung hutan, ada sebuah gurun dengan pasir kuning setelah hutan. Saat itu juga, mereka sadar kalau dunia menjadi semakin tidak normal. Rasanya setiap kota dipisahkan satu sama lain, celah-celah tersebut kemudian ditambal dengan medan aneh seperti hutan, bahkan saat ini ada juga gurun pasir.
“Dunia ini benar-benar sudah gila,” ucap salah satu anggota Sword of Sufferings.
Bukan hanya dirinya, tetapi seluruh orang yang bisa melihat pemandangan di kejauhan juga memiliki pemikiran yang sama.
Saat itu, suara melengking terdengar, langsung membangunkan orang-orang dari lamunan mereka.
Jalan tanah yang awalnya sepi mulai dipadati oleh semut. Para semut keluar dari hutan satu per satu, berubah menjadi puluha, dan dalam sekejap menjadi ratusan. Itu semua tidak berhenti bahkan ketika jumlah semut yang muncul menjadi lebih dari seribu. Belum lagi, selain para semut pekerja kecil dan besar, para ksatria semut juga mulai bermunculan.
Dua ribu? Tiga ribu? Baru kemudian menunjukkan tanda melambat, tampaknya hampir berhenti.
“Apakah kita benar-benar akan bertarung dengan mereka?
Pertanyaan tersebut seperti sebuah batu yang jatuh ke danau tenang. Langsung membuat riak dalam setiap hati orang. Namun, sebelum mereka terjerumus ke dalam rasa putus asa, suara yang begitu santai dan tenang terdengar.
“Tidak ada jalan untuk kembali.”
“Jika kalian berhenti di sini dan melarikan diri, hasilnya masih sama … karena kalian akan mati.”
“Jumlah semut terus bertambah dan tidak akan berhenti jika tidak dimusnahkan.”
“Kota ini adalah rumahku, dan di sini aku akan terus berada. Jika jawabannya sama-sama kematian, maka aku memilih mati dalam memperjuangkan rumahku dibandingkan mati secara menyedihkan sebagai pengecut.
Jumlah banyak? Lalu apa? Bukankah kita juga banyak?”
“Aku siap untuk mati dalam pertempuran ini. Jadi … bagaimana dengan kalian?”
Mendengar pertanyaan itu, mata orang-orang menjadi merah. Mereka memegang senjata di tangan mereka dengan erat. Orang-orang itu menggertakkan gigi, benar-benar tidak berniat untuk mundur dan melarikan diri lagi.
Melihat ekspresi orang-orang, Ark kembali berbicara.
“Kalian tidak perlu menjawabnya. Aku mengetahui apa yang sedang kalian rasakan. Aku mengetahui rasa sakit dan panas yang terbakar di dalam sana, jadi …”
SWOOSH!
Ark mengunus pedangnya. Ekspresinya menjadi lebih dingin, bahkan juga lebih keras dibandingkan biasanya.
“ANGKAT KEPALAMU DAN PEGANG ERAT SENJATAMU, REKAN SEPERJUANGANKU. HARI INI …”
__ADS_1
“AKU BERTARUNG DAN TERUS BERTARUNG BERSAMAMU.”
>> Bersambung.