
"Evakuasi! Evakuasi semua orang segera!!!"
Di depan sebuah bangunan terbakar, sosok pria tampan dengan tubuh dipenuhi darah berteriak dengan suara serak. Dia jelas kelelahan, tetapi terus memberi perintah karena situasi jelas tidak baik-baik saja.
Di sekitar pria itu, tampak banyak orang yang menatap bangunan terbakar dengan ekspresi terkejut.
Bangunan yang ada di depan mereka adalah gedung utama kelompok Imperial Tiger, sebuah kelompok yang sebelumnya didirikan untuk untuk mengatasi bencana apocalypse. Namun karena pemerintahan telah melenceng dari jalan, beberapa kelompok lain membuat aliansi untuk menghancurkannya.
Mereka melakukan perang antara kelompok besar. Meski ada beberapa gangguan, tetapi mereka tidak pernah menyangka kalau gedung utama Imperial Tiger tiba-tiba mengalami kebakaran.
Lagipula, ini musim dingin!
"Julian, ini ..."
Sosok pria paruh baya datang ke lokasi dengan bantuan dua orang di sisi kiri dan kanannya. Tubuhnya telah dibalut dengan kain bersih. Dia kehilangan salah satu kakinya dan sedang dalam kondisi lemah, jadi memerlukan bantuan orang lain.
"Aku juga tahu, Joseph. Ini buatan manusia."
"Pasti Hades yang melakukannya," ucap Joseph dengan ekspresi bingung di wajahnya.
"Kita tidak boleh menuduh seseorang tanpa alasan yang jelas, Joseph." Julian menegaskan.
"Tapi selain dia, tidak mungkin ada orang yang bisa melakukannya!"
"..."
Julian terdiam. Dia jelas mengetahui fakta tersebut. Fakta dimana pelakunya jelas Hades dan Dark Caravan. Namun, ada banyak hal yang membingungkan pria tersebut.
'Apa yang dia incar? Apa yang sebenarnya orang itu inginkan?'
'Marah kepada Imperial Tiger dan Third Scars karena lemah lalu kalah dalam taruhan? Tidak, dia bukan orang semacam itu.'
Julian menggelengkan kepalanya. Semakin dia berpikir, semakin dia tidak mengerti. Seolah-olah, sosok pemuda yang dilihatnya diselimuti oleh kegelapan suram dan kelam.
Setelah menghela napas, Julian akhirnya berkata.
"Satu hal yang pasti, Joseph."
"Apa?"
"Hades pasti berada di sisi kita."
"..."
Perkataan Julian membuat Joseph terdiam. Meski tidak membalas, tetapi dia jelas percaya apa yang dikatakan oleh rekannya tersebut. Mungkin, lebih tepatnya ...
Pria tersebut takut membayangkan "orang itu" sebagai musuhnya.
***
Sementara itu, di sebuah bangunan yang terletak cukup jauh dari markas Imperial Tiger.
"Sungguh warna merah yang indah, Bos!"
__ADS_1
Melihat api membara di kejauhan, Leon bersiul. Dia kemudian melihat empat orang berjubah dan bertopeng yang datang membawa dua karung serta beberapa kotak kayu.
"Taruh di tempat aman dan jangan merusaknya."
"Baik, Ketua!"
Setelah itu, sosok bertopeng yang dipanggil ketua atau bos itu melihat ke sudut. Di sana, tampak sosok pria yang setengah sadar dengan empat anggota tubuh yang telah hilang. Dia tidak bisa tidak mengerutkan kening di balik topengnya.
"Beri aku penjelasan, Saito, Draco, Leon ...
Untuk apa kalian membawa orang itu?"
"Bukankah kita harus membawanya untuk diinterogasi, Ketua?" tanya Saito.
"Orang itu tidak penting. Lagipula, aku sudah menyerahkannya kepada Draco dan Leon.
Jadi, kalian berdua, bawa dia pergi! Singkirkan dengan baik dan jangan tinggalkan jejak."
"BAIK!!!"
Melihat dua orang itu pergi dengan nyaman, Ark menggelengkan kepalanya. Membuka topengnya, dia melihat dua orang yang membawa karung lalu berkata.
"Keluarkan mereka."
Mendengar ucapan Ark, Kurona dan Shirona menjatuhkan karung ke lantai lalu membukanya.
Melihat reaksi keduanya, sudut bibir Ark berkedut.
"Jangan membunuh mereka. Orang-orang itu penting."
"Tampaknya pemuda ini hampir mengacaukan rencana kita. Kamu benar-benar dibuat kerepotan kan, Vadim?"
Mendengar pertanyaan Ark, Vadim yang sedang menata kotak kayu menoleh. Dia mengangguk dengan tatapan serius.
"Seperti yang anda katakan, Ketua. Pemuda itu jenius. Dia hampir saja memecahkan resep ramuan yang salah."
Mendengar kata ramuan yang salah, pemuda yang diikat itu terkejut. Dia terus mencoba memberontak, tetapi hasilnya nihil. Pemuda itu sama sekali tidak melepaskan diri dari ikatan.
Merasa kalau perjuangan pemuda itu cukup menarik, Ark memutuskan untuk membuka penutup mulutnya. Ketika dibuka, pemuda itu langsung bertanya.
"Apa maksudmu ramuan palsu?! Ramuan itu jelas bisa membuat orang-orang memecahkan kunci evolusi dan—"
"Mati." Ark berkata dengan nada datar.
"Apa?" tanya pemuda itu dengan ekspresi heran.
"Maksudku, bagaimana bisa orang-orang itu dibunuh dengan mudah oleh Julian dan rekan-rekannya? Mereka lebih lemah.
Setelah banyak tes, kamu seharusnya tahu kalau dalam ramuan itu ada bubuk yang terbuat dari sengat tawon raksasa yang dikeringkan lalu ditumbuk. Selain itu, aku juga menambah beberapa kelopak bunga, sedikit akad pohon akasia bermutasi, dan barang lainnya.
Jujur saja, aku melakukannya hanya untuk mengelabuimu, Stein.
Kamu pasti berpikir kalau racun akan menjadi stimulan kemudian efeknya ditekan oleh bahan lain. Namun kamu salah. Bahan lain hanya menyamarkan efek racun. Setelah racun ditumpuk dalam dosis tertentu dan dipicu dengan evolusi ...
__ADS_1
Boom!
Mereka keracunan dan fisik mereka akan turun secara perlahan. Jadi, bahkan tanpa Julian dan rekan-rekannya, orang-orang itu akan mati di gelombang monster berikutnya."
Melihat ke arah Stein yang tercengang, Ark mengangkat bahu dengan ekspresi tak acuh.
"Apakah aku banyak bicara? Maaf, aku sedikit bersemangat ketika melihat si jenius."
"K-Kamu ..."
Stein berkata dengan ekspresi bingung sekaligus terkejut. Meski cerdas dan dianggap jenius, tetapi sebenarnya pemuda itu sama sekali tidak dianggap oleh para senior. Dia dianggap sebagai junior sok tau yang sombong karena membawa label "jenius" di kepalanya.
"Itulah kenapa kami melakukan proyek "Api Unggun" saat ini. Kamu bisa tenang, semua dokumen berupa catatan, subjek uji coba, dan hal-hal lain telah dimusnahkan.
Jadi kamu tidak perlu khawatir ada orang gila membuat ramuan dari bekas catatan penelitian yang kamu tinggalkan. Mereka tidak akan tersesat dan berakhir bunuh diri."
'ITU SEMUA SALAHMU!'
Stein meraung dalam hati. Saat itu, dia tiba-tiba tersadar.
"Aku hanya peneliti junior. Apa yang kamu inginkan dariku?"
"Tentu saja aku akan memasukkan kamu dalam kelompokku. Lebih tepatnya, membuatmu bekerja untukku!"
"Aku menolak! Siapa yang mau bekerjasama dengan ilmuwan gila sepertimu!"
"Meski kamu bekerjasama dengan para ilmuwan gila di bawah Imperial Tiger?" Ark memiringkan kepalanya.
"Itu ... Itu terjadi karena aku dipaksa!"
"Kalau begitu aku akan memaksamu."
Ark tersenyum ramah. Namun senyum itu tampak mengerikan di mata Stein. Merasa terkejut, dia tidak bisa tidak bertanya.
"A-Apa maksudmu?!"
"Kamu mungkin bisa menipu orang-orang di Imperial Tiger, Stein. Namun kamu tidak bisa menipuku.
Omong-omong, kamu pikir aku membawa wanita cantik ini hanya untuk pajangan? Tentu saja tidak!"
Ark menghampiri sosok wanita cantik yang diikat. Melihat betapa tenangnya wanita itu, dia tersenyum.
"Kamu tidak ingin melihat kakakmu tercinta disiksa di depan matamu kan, Stein?"
"B-JINGAN!!!"
Stein langsung berteriak marah. Namun saat itu, Ark langsung menendangnya sampai terpental dan berguling di lantai.
"Aku senang kamu begitu bersemangat, jadi ..."
Ark berjongkok di depan Stein dengan senyum ramah di wajahnya.
"Selamat datang di Sword of Sufferings, Stein!"
__ADS_1
>> Bersambung.