
Julian menatap ke arah Darin lalu berkata dengan ekspresi tegas.
"Katakan, apa informasi yang ingin Ark sampaikan."
Merasakan tatapan dari orang-orang dalam ruangan, Darin masih tenang. Dibandingkan dengan hari yang dia habiskan untuk bertarung dengan para zombie, mereka kurang menakutkan.
"Maaf, tapi Ketua memintaku untuk mengatakan kepadamu, Tuan Julian."
"Apa maksud dari perkataanmu? Kami juga anggota dari Silver Cross, jadi kami berhak mengetahuinya."
"Ya. Hanya kelompok kecil, apa yang bisa mereka lakukan. Belum lagi, dia hanya datang sendiri. Pukul saja dan suruh dia untuk mengatakannya."
Sementara kebanyakan orang diam, tampak dua orang yang tidak puas dengan Darin.
Ekspresi Darin masih tenang seperti sebelumnya. Masih memegang erat tombak di tangan kanannya, pemuda itu berkata dengan nada tenang.
"Bahkan jika aku sendiri dan hanya memiliki satu tangan, aku sama sekali tidak takut dengan kalian. Jika kalian ingin bertarung ..."
Mata Darin berkilat dingin.
"Majulah."
Banyak orang terkejut dengan momentum Darin. Setelah beberapa saat, dua orang yang sebelumnya berbicara tampak marah. Namun sebelum mereka membalas, Julian mengangkat tangannya. Menyuruh mereka diam.
"Meski enggan mengakuinya, Ark juga membantu kami dengan menyumbang senjata di tahap awal sehingga perkembangan kami lancar.
Meski aku tidak suka dengan cara dia melakukan sesuatu. Harus aku akui ... aku menghormati sosok kuat seperti Ark. Karena tidak ingin memperburuk hubungan kami, aku akan menyetujui permintaanmu. Toh, menyebarkan berita itu nanti juga tidak ada ruginya."
Julian berkata dengan ekspresi santai di wajahnya. Hal tersebut membuat dua pria sebelumnya menjadi marah dan tampak enggan.
"Tapi, Ketua—"
"Sudah cukup, Alvaro ... Donzel. Lebih baik kalian pergi untuk mengganti suasana hati kalian. Darin sama sekali tidak berniat untuk menantang Silver Cross atau semacamnya. Dia hanya ingin menyampaikan informasi rahasia dari Ark untukku. Tidak lebih dari itu."
"Kami mengerti."
Meski kesal, Alvaro dan Donzel masih menjawab bersamaan. Mereka menganggukkan kepala sebelum pergi meninggalkan ruangan dengan ekspresi kesal.
Saat itu, suara penuh keraguan terdengar.
"Anu ..."
Yonas mengangkat tangannya dengan ekspresi ragu. Semua orang langsung menatap ke arah pria tersebut dengan ekspresi penuh tanda tanya.
"Ada apa, Yonas?"
"Kalau boleh tahu, Tuan Ark itu orang macam apa, Ketua? Kenapa namanya agak aneh?"
"Itu hanya nama panggilan. Aku tidak tahu nama aslinya. Sedangkan untuk penampilannya, dua kata cukup untuk menggambarkan dirinya ..."
Julian menatap ke arah Yonas dengan ekspresi serius, lalu berkata dengan tegas.
"B-jingan Sengit!"
"..."
Yonas dan beberapa anggota lain yang belum pernah melihat Ark langsung tercengang. Sedangkan yang telah melihatnya, mereka mengangguk dengan ekspresi serius.
Melihat ekspresi serius di wajah orang-orang itu, Yonas dan beberapa anggota yang belum pernah melihat Ark langsung membayangkan.
__ADS_1
Pria besar dengan tinggi nyaris dua setengah meter. Tubuh berotot dengan warna kulit tembaga dengan banyak luka di sekujur tubuhnya. Rambut hitam agak panjang acak-acakan. Wajah tampan dengan beberapa bekas luka, tetapi memiliki seringai kejam dan menatap lawan-lawannya seperti binatang buas yang ingin memangsa.
Pria itu berpakaian seperti berandal dengan dua pedang besar di punggungnya. Dia menaiki seekor Husky mutan yang lebih besar daripada serigala. Suka menghabisi orang-orang yang menentangnya sampai-sampai ketua mereka ... Julian sakit kepala karenanya!
Glup!
Orang-orang itu langsung menelan ludah.
Melihat ke arah Yonas dan teman-temannya, Darin tercengang. Dia buru-buru berkata.
"Aku tidak tahu sosok siapa yang kalian bayangkan. Namun, aku rasa Ketua tidak seperti yang kalian bayangkan.
Dia itu sedikit lebih tinggi daripada aku. Kulitnya putih bersih. Tubuhnya tidak besar, tetapi terlatih dengan sangat baik. Wajahnya tampan, tetapi memiliki ekspresi lumpuh ... maksudku, ekspresinya selalu datar. Matanya berwarna hitam seperti jurang gelap, tampak kosong dan hampa. Dia juga sering berpakaian rapi."
Mendengar penjelasan Darin membuat orang-orang itu merusak bayangan sosok ganas di kepala mereka. Sebagai gantinya, mereka malah melihat sosok pemuda kantoran tampan yang tampak putus asa, dihancurkan oleh beban kerja dan ditampar oleh realita.
"Kenapa aku merasa Tuan Ark ini tidak mengerikan sama sekali?"
"Itu karena kalian belum melihatnya dengan mata kalian sendiri."
Julian berkata dengan nada santai. Banyak orang mengangguk karena setuju dengan ucapannya. Melihat ke arah orang-orangnya lalu ke arah Darin, pria itu akhirnya berkata.
"Kalau begitu kalian keluar dulu. Karena ini permintaan dari Ark, aku akan menghormatinya. Lagipula, tidak mungkin orang itu mengirim rekannya begitu jauh hanya untuk main-main dengan kami."
Orang-orang saling memandang. Setelah beberapa saat, mereka akhirnya setuju.
"Kami mengerti."
Setelah mengatakan itu, orang-orang mulai pergi meninggalkan ruangan. Hanya menyisakan Julian dan Darin.
"Darin, kan? Duduklah. Lalu katakan, apa yang sebenarnya orang itu inginkan."
"Sebelum itu, saya memiliki permintaan pribadi, Tuan Julian."
"Apakah ada masalah?" Julian mengangkat alisnya.
"Tidak. Hanya saja, alasan saya mau datang ke sini sebenarnya juga untuk menemukan seseorang."
"Hah? Apakah kamu yakin orang itu di sini?"
"Dia di sini, dan Ketua sendiri yang mengatakannya. Orang itu mantan penghuni kelompok Reaver. Tentu saja, bukan anggota kelompok inti mereka."
"Lalu kenapa Ark tidak membawanya pergi?"
"Ketua telah memberinya kesempatan untuk bergabung, tetapi dia malah mengabaikannya. Seperti yang anda ketahui ... Ketua agak keras. Dia tidak ingin menerimanya karena pernah memilih untuk tidak bergabung."
"Benar-benar gaya orang itu," ucap Julian dengan nada tidak puas.
"Jadi ... bisakah saya menemuinya?"
"Huuh ..." Julian menghela napas panjang. "Orang itu pikir tempat ini adalah kantor dinas sipil?! Benar-benar menyebalkan."
"..."
Darin tidak menyela. Sebaliknya, dia terus mendengar dalam diam.
Puas marah-marah, Julian menatap ke arah Darin lalu berkata dengan ramah.
"Tentu saja boleh."
__ADS_1
"Terima kasih, Tuan Julian."
"Sama-sama."
Setelah mendapatkan persetujuan dari Julian, Darin kemudian berkata.
"Soal informasi yang ingin Ketua sampaikan, sebenarnya ada tiga.
Pertama, setelah pergantian bulan, yaitu besok ... kemungkinan besar kejadian seperti, atau mungkin lebih parah dari purnama pertama yang terjadi setengah bulan lalu. Oleh karena itu, Ketua menyuruhku untuk datang agar anda bersiap."
"Apakah informasi itu bisa diandalkan?"
"Saya tidak tahu." Darin menjawab jujur. "Namun, jarang sekali prediksi Ketua meleset. Dia juga telah menduga akan ada hal aneh ketika bulan purnama dan itu benar-benar terjadi."
Mendengar penjelasan Darin, Julian agak pucat. Pada purnama pertama, dia mengalami kemunduran karena banyak anggota yang gugur dalam pertempuran itu. Jika memang besok akan ada gelombang yang lebih parah, pasti korban yang berjatuhan lebih banyak daripada sebelumnya. Lagipula, sekarang Silver Cross masih dalam proses pemulihan. Sama sekali tidak dalam kondisi maksimal.
"Lalu ... apa pesan lainnya?"
"Informasi soal makanan."
Mendengar itu, Julian terkejut. Saat itu, Darin melanjutkan.
"Menurut penelitian Ketua, setelah kepala zombie dibongkar, ada sebuah bagian daging putih bersih menempel pada otak. Bagian itu bisa dimakan. Meski jumlahnya sedikit, makan satu di pagi dan satu di malam hari membuat seseorang bisa beraktivitas seperti biasa."
"Bagaimana Ark bisa melakukan itu?! Zombie awalnya adalah manusia, mereka—"
"Mereka awalnya manusia, tetapi sekarang bukan manusia." Darin langsung menyela. "Jika ingin bertahan, hal ini bisa dilakukan. Meski ada perasaan bersalah, di dunia ini ... hal semacam itu tidak akan membuat Anda kenyang, Tuan Julian."
"..."
Julian hanya diam.
"Daging kebanyakan binatang buas beracun, tidak disarankan untuk memakannya. Daging anggota tubuh lain dari zombie juga beracun, jadi jangan ceroboh ketika mulai memanennya.
Selain itu, bahkan jika daging zombie bisa dimakan, satu orang kira-kira perlu membunuh dua zombie untuk makan sehari. Jujur saja, bagiku, kebanyakan orang tidak begitu berani dan kuat seperti itu.
Bisa atau tidak, itu bukan urusan kami. Itulah yang Ketua katakan. Sword of Sufferings telah membantu kalian dengan informasi penting ini, jadi kami harap kalian mengingat ini.
Juga, Ketua tidak peduli apakah kamu akan membocorkan informasi ini. Lagipula, tidak semua orang bisa memburu zombie."
"Lalu ... aku akan mengingat bantuan ini selama aku masih hidup!"
Julian berkata dengan tegas. Menatap ke arah Darin, dia kemudian bertanya.
"Lalu, apa pesan terakhir dari Ark?"
Darin menatap ke arah Julian. Menarik napas panjang, dia kemudian berkata.
"Tolong dengarkan ini baik-baik, Tuan Julian.
Kamu boleh menjadi pahlawan. Kamu boleh menolong orang yang membutuhkan. Kamu boleh menyelamatkan orang yang kesulitan. Kamu boleh menjaga mereka semua di bawahmu. Namun, jangan terlalu lengah dan mudah dimanfaatkan karena ...
Daripada menjadi pahlawan umat manusia, kamu mungkin mati di sudut, membusuk, dan dilupakan oleh sejarah."
Mendengar ucapan Darin, ekspresi Julian langsung menjadi gelap. Dia tampak suram. Namun pria itu tahu bukan Darin yang memberi pesan tersebut, tetapi Ark.
Memikirkan sosok pemuda yang membunuh orang dengan mudahnya, Julian bertanya-tanya dalam hati.
'Apa yang sebenarnya kamu inginkan dariku dan dari Silver Cross ... Ark?'
__ADS_1
>> Bersambung.