
"Apakah kamu takut untuk kembali, Ark?"
Jay menatap ke arah Ark dengan ekspresi serius di wajahnya. Melihat Ark hanya diam dan mengalihkan pandangannya, pria itu menghela napas panjang.
"Aku tidak tahu apa yang ada di kepalamu. Mereka adalah perempuan cantik dan menawan. Jika aku jadi dirimu, tanpa membuat mereka menunggu ... aku akan segera melakukannya!"
"..."
Melihat Ark masih diam, Jay menggaruk belakang kepalanya.
"Omong-omong, mungkin aku tidak terlalu pintar, tetapi aku tahu suatu hal penting. Sebuah kalimat yang pernah kamu ucapkan kepadaku dulu sekali, saat kita bekerja di kantor yang sama dan mendapatkan banyak masalah merepotkan.
'ITU adalah yang harus kamu hadapi. Walau menghindarinya sekarang, kelak kamu juga harus menghadapi ITU. Jadi daripada menunda-nunda, lebih baik hadapi ITU dan selesaikan semuanya tanpa terlalu banyak mengulurnya.'
Intinya, sebagai laki-laki, kamu harus berani menghadapinya, Ark!"
"..."
Mendengar bagaimana sahabatnya menceramahi dirinya, Ark menghela napas panjang. Meski dirinya tahu kalau menunda sesuatu tidak baik, tetapi batinnya masih belum siap. Pemuda itu belum berani menerima atau menolak karena ada 'hal besar' yang akan terjadi setelah dia melakukannya.
"Bisakah kamu diam sebentar, Jay? Aku benar-benar merasa kalau semuanya terlalu rumit."
"Tolak kalau tidak suka. Terima kalau suka. Bukankah semudah itu?"
"..."
Ark terdiam. Dia melihat ke arah Jay dengan ekspresi heran. Meski ucapan sahabatnya itu cukup sembrono, tetapi pemuda tersebut merasa iri. Karena dengan otaknya yang banyak berpikir, dia selalu memikirkan berbagai hasil yang terlalu jauh di depan, berbagai kemungkinan yang sebagian besar akhirnya tidak terjadi.
Berhati-hati memang baik, tetapi jika terlalu berlebihan ... terkadang kehati-hatian seseorang akan membuatnya terhenti di tempat. Tidak mendapatkan kemajuan dalam hidupnya!
"Daripada mengurus hidupku, lebih baik kamu mengurus gadis itu. Kalau tidak salah namanya, errr ... Mona?"
Ark melirik ke arah Jay dengan ekspresi dingin di wajahnya.
"Mona?" Jay memiringkan kepalanya. "Aku sudah melakukannya."
"Eh?"
Melihat ekspresi polos di wajah Jay, Ark tertegun. Dia kemudian menatap ke arah sahabatnya dengan mata terbelalak. Menunjuk orang itu dengan ekspresi tidak percaya.
***
Sementara itu, di markas tim Violet Sword.
"EEEEEHHH???"
Roxanne menatap ke arah Mona dengan ekspresi tidak percaya di wajahnya.
"Kamu ... kamu benar-benar sudah memiliki hubungan dengan Wakil Ketua?"
"Ya."
Mona mengangguk ringan. Menjawab singkat seolah semua itu tidak ada hubungannya dengan dirinya.
"Kenapa wajahmu merah, Nona?" tanya Mona sambil memiringkan kepalanya.
"Itu ... bukan apa-apa!"
"..."
Mona diam sejenak. Setelah beberapa saat, dia menyadari sesuatu lalu berkata.
__ADS_1
"Saya baru ingat, anda sama sekali tidak memiliki pengalaman soal cinta."
"Eh?"
Roxanne tercengang. Merasa agak tertindas, gadis itu menunjuk ke arah Mona sambil berkata.
"Kamu harus ingat, Mona. Aku pembunuh terbaik dari Golden Rose. Bukan hanya membunuh, tetapi juga merayu!"
"Tapi anda tidak memiliki pengalaman soal cinta. Terlebih lagi ... anda belum pernah melakukan 'itu', kan?"
Mona berkata dengan nada datar. Karena telah terbiasa, dia sama sekali tidak terintimidasi oleh Roxanne.
Wajah Roxanne langsung menjadi merah seperti apel. Dia menunjuk ke arah Mona dengan ekspresi terkejut, marah, dan malu.
"B-Bagaimana kamu membicarakan itu dengan mudah? Hal semacam itu hanya dilakukan setelah menikah!"
Mona menopang dagu sambil menatap Roxanne yang marah dan malu.
"Imutnya ..." ucap wanita itu dengan nada datar.
"Jangan berbicara seperti itu, Mona! Kamu juga-"
"Anda salah, Nona." Mona langsung menyela Roxanne.
"Eh?"
"Bahkan sebelum apocalypse, untuk alasan pekerjaan ... saya telah melakukannya. Hal tersebut termasuk dalam tugas merayu dan mencari informasi. Selain anda, putri polos yang dijaga oleh mendiang ketua ...
Kami semua telah melakukan hal semacam ini."
"Mona, kamu-"
"Jangan terkejut. Sebelum apocalypse, hubungan semacam itu biasa. Khusunya untuk para remaja yang tidak bisa menahan cacing kecil mereka, berbicara soal cinta dan kesetiaan pada gadis polos tak berdaya, tetapi pada akhirnya meninggalkan gadis itu setelah mendapatkan apa yang dia mau.
Belum lagi saat apocalypse seperti ini. Saya tidak akan heran jika banyak perempuan remaja sampai dewasa menjual jasa hanya untuk mengisi perut mereka atau sekadar mencari tempat berteduh. Lagipula, menurut informasi yang dikatakan oleh Kak Jay, sekarang banyak kelompok kejam yang bahkan melakukan perdagangan manusia."
"Itu ... itu ..."
"Ya. Keputusan anda untuk mengikuti Ketua adalah keputusan paling tepat, Nona. Mungkin anda hanya berpikir kita menghindari kehancuran kelompok dari serangan zombie dan binatang buas. Namun pada kenyataannya, kita juga bisa menghindari menjadi target orang-orang jahat itu.
Aku bisa membayangkan seperti apa jadinya jika kita sampai tertangkap."
"Lalu kenapa ... kenapa kalian diam saja?!"
"Karena kami akan terus mengikuti anda." Mona tersenyum lembut. "Bahkan jika harus jatuh ke neraka."
"KALIAN GILA!!!"
"..."
Melihat Mona diam saja, Roxanne semakin marah. Dia menunjuk ke arah wanita itu sambil berkata.
"Kalian bukanlah boneka atau hiasan semata, jadi kalian memiliki hak untuk berbicara!
Lain kali, jika kalian memiliki pemikiran tertentu, kalian harus mengatakannya. Aku bukanlah perempuan yang sempurna dan memiliki banyak kekurangan, jadi jangan hanya mengikuti apa yang aku katakan secara membabi-buta!
Apakah kalian mengerti?"
"Lalu saya ingin bertanya sesuatu," ucap Mona sambil mengangkat tangan kanannya.
"Apa?"
__ADS_1
"Kapan anda akan mengaku kepada Ketua?"
"Eh?"
"Kapan anda akan mengaku kepada Tuan Ark?"
"EEEEHH??!"
Wajah Roxanne kembali berubah menjadi merah. Dia ingin mengatakan sesuatu, tetapi malah menggigit lidahnya karena terlalu gugup.
"Sungguh. Dibandingkan dengan wanita di sekitar Ketua, anda tampak mempesona, Nona. Selain kombinasi Kurona dan Shirona, selama anda berusaha, seharusnya anda bisa mendapatkan pengakuannya."
"K-Kenapa kamu malah membanding-bandingkan kami?"
"Ini hanya pengamatan saya. Namun saya percaya anda memiliki kesempatan besar untuk memenangkan hati Ketua karena memiliki banyak keunggulan.
Sayangnya, saya merasa anda masih tidak bisa melawan si kembar. Maksud saya ... siapa lelaki yang tidak senang ketika melihat dua wanita cantik di kanan dan kirinya ketika membuka mata.
Selain itu, saya merasa kalau Tuan Ark akan menerima banyak wanita. Bukan hanya Tuan Ark, tetapi Kak Jay juga memiliki beberapa wanita."
"Eh? Bagaimana bisa?"
Ekspresi terkejut tampak di wajah Roxanne. Sebagai perempuan cantik tanpa pengalaman cinta dan masih terikat dengan aturan dunia lama, dia benar-benar bingung.
"Semua lelaki itu binatang buas. Khususnya mereka yang kuat dan berdiri tinggi di masa kacau ini."
"Maksudmu ..."
"Seperti zaman kuno dimana kaisar, raja, sultan, khan, dan para pemimpin lama ... saat ini banyak lelaki yang suka mengumpulkan wanita sebagai kekasih, mungkin disebut selir di masa lalu.
Lebih buruknya lagi, banyak lelaki jahat yang benar-benar menjadi binatang buas. Bukan hanya mengumpulkan wanita, mereka memperlakukan para wanita seperti barang atau hewan peliharaan. Cukup mengenaskan, bukan?"
"Tapi-"
"Itulah kenyataannya, Nona. Mungkin saat ini kita cukup kuat, tetapi dibandingkan dengan kita ... para perempuan di luar sana berbeda. Bahkan jika ada beberapa yang mengetahui bela diri, kebanyakan sisanya hanyalah perempuan lemah.
Sosok yang dirugikan pada masa kacau dimana kekuatan yang paling utama."
"Tetap saja, apakah kamu benar-benar mau membagi kekasihmu dengan orang lain, Mona?!"
Roxanne menatap ke arah Mona dengan tegas. Melihat senyum di wajah wanita itu, dia akhirnya mengerti. Bukannya dia tidak mau menjadi satu-satunya, tetapi tidak bisa. Lebih tepatnya, takut dianggap meminta sesuatu yang berlebihan dan akhirnya dibuang karena banyak perempuan yang memiliki pemikiran lebih fleksibel.
Mengetahui kenyataan pahit semacam itu, Roxanne hanya bisa diam sambil mengepalkan erat kedua tangannya!
***
Sementara itu, di luar area aquarium raksasa.
"Ayolah, Ark! Kamu tahu, bukan? Aku dan Mona juga butuh privasi. Izinkan kami menggunakan salah satu rumah. Itu tidak akan mempengaruhi-"
"Tidak."
"Kenapa?"
"Sangat banyak alasan dan aku tidak ingin menjelaskan semuanya. Yang terpenting, jawabannya adalah tidak."
"..."
Melihat sosok Ark, sudut bibir Jay berkedut. Dia kemudian berjalan di samping sahabatnya sambil terus mencoba membujuknya.
Sementara itu, Ark mengabaikan Jay. Dia malah fokus melihat ke arah kereta yang ditarik oleh Black Doberman di kejauhan. Memikirkan apa yang akan terjadi ketika dia kembali, pemuda itu menghela napas panjang.
__ADS_1
'Sungguh ... kuharap semua bisa berjalan lancar sesuai dengan rencana!'
>> Bersambung.