
“Apa yang sebenarnya terjadi di sini?”
Pada saat keluar dari ruang rapat, Caroline, kakaknya, dan beberapa orang lainnya langsung terhalang oleh orang-orang yang memenuhi lorong. Kebanyakan dari mereka saling berdesakan dan mendorong untuk melarikan diri. Bisa dibilang, pemandangannya benar-benar kacau.
“KAKAK!”
Caroline langsung melihat ke arah kakaknya. Hanya saja saat itu pria tersebut tidak memperhatikan dirinya. Sebaiknya, dia malah melihat ke arah lain. Pandangan gadis itu juga ikut beralih ke arah kakaknya memandang.
Di depan pintu pada ujung lorong yang gelap, sosok pria berjubah hitam berdiri dengan tenang sambil memandang mereka. Namun, mereka merasa sedang ditatap oleh seekor binatang buas yang sangat berbahaya. Rasanya …
Mereka hanyalah mangsa yang diamati oleh predator mereka.
“Ketua dari Emerald Goshawk?”
Mendengar pertanyaan itu, mata Caroline menyempit. Dia melirik ke arah kakaknya dengan ekspresi gugup. Gadis itu ingin membisikkan sesuatu, tetapi sang kakak langsung berkata dengan lantang.
“Ya. Namaku Mattias, ketua dari Emerald Goshawk.”
“Begitu …”
Draco mengangguk ringan. Dia kemudian berjalan ke depan dengan ekspresi tenang.
“Semuanya! Bersiap untuk bertarung!”
Selain orang-orang yang bergegas melarikan diri, Mattias, Caroline, dan sebagian orang lain langsung memegang senjata. Mereka menatap ke arah Draco dengan ekspresi serius. Namun langsung terkejut saat melihat pria itu tiba-tiba menghilang dari tempatnya.
Swoosh! Slash!
Beberapa kepala langsung melayang lalu jatuh ke lantai dengan keras. Saat mereka masih terkejut, sosok Draco sudah masuh ke dalam kerumunan.
Swoosh! Klang!
Ekspresi agak tertarik muncul saat Draco melihat serangannya ditangkis oleh Mattias. Meski dia tidak mengerahkan seluruh kemampuannya, tetapi serangan normalnya sudah sangat kuat dan sulit ditahan oleh orang normal. Draco memiringkan kepala, lalu menendang tubuh Mattias dengan keras.
BANG!
Pada saat Mattias dihempaskan beberapa meter, sosok Caroline bergegas dari samping Draco. Gadis itu kemudian menebas dengan belati di kedua tangannya. Hanya saja, Draco menghindarinya dengan mudah. Dia kemudian memukul Caroline dengan bagian belakang tombak.
BRUAK!
“Bunuh dia! Jangan biarkan dia terus merajalela!”
“Ya! Bunuh dia!”
“…”
Melihat banyak orang yang bergegas ke arahnya, Draco sama sekali tidak panik. Sebaliknya, dia masih memasang ekspresi tenang seolah tidak menghadapi bahaya sedikitpun. Tubuhnya langsung memancarkan tekanan yang lebih sengit dibandingkan dengan sebelumnya.
__ADS_1
Slash!
Kepala beberapa orang sekali terbang dan jatuh berserakan di lantai. Pemandangan tersebut jelas membuat orang yang sebelumnya bersemangat untuk bertarung menjadi agark takut dan ragu. Mereka jelas merasakan kalau apa yang mereka lawan bukan lagi manusia biasa.
Melihat banyak rekannya mati, Mattias langsung bergegas maju dengan mata merah. Dia menebas ke arah Draco terus-menerus dengan ekspresi kejam di wajahnya.
Klang! Klang! Klang!
“Kenapa?! Kenapa kamu membunuh mereka?!”
Mendengar pertanyaan itu, Draco yang dengan santai menangkis setiap serangan dari Mattias menjawab santai.
“Aku hanya menyelesaikan tugas.”
“Tugas?!”
Mendengar itu, Mattias terkejut. Berawal dari keterkejutan, panas membara muncul dalam hatinya. Ya, itu adalah sesuatu yang disebut dengan kebencian.
“Kamu membunuh mereka hanya karena tugas? Kami bahkan tidak mengenal kalian! Dasar orang gila!”
Klang! Klang! Klang!
Draco sama sekali tidak menyerang. Sebaliknya, dia hanya menangkis setiap serangan dari Mattias. Tampaknya tidak begitu peduli dengan amarah pria itu.
“Entah kalian mengenal kami atau tidak, aku hanya melakukan tugas. Juga … bukankah kamu seharusnya mengerti kenapa hal semacam ini terjadi?”
“Sword of Sufferings?”
“Ya!”
BANG!
Draco langsung menendang Mattias sampai menabrak dinding dengan keras. Pria itu memuntahkan seteguk darah, tetapi masih bangkit dan memandang ke arah Draco dengan ekspresi heran.
“Ini semua salah paham! Aku bahkan tidak tahu kalau Cobra melakukan hal semacam itu!”
“Apakah itu salah paham atau tidak, apakah kamu mengelak dengan berpura-pura tidak tahu atau hanya berbohong … aku sama sekali tidak peduli.”
Mendengar ucapan Draco yang datar, Mattias tertegun. Dengan wajah pucat, dia bertanya dengan nada tidak percaya. Jelas, sebagai ketua kelompok besar, pria itu tidak bodoh. Dia menebak sesuatu yang gila, jadi memilih untuk bertanya.
“Kamu pikir … apa alasan Tuanku untuk melakukan sesuatu konyol seperti mengumumkan penaklukan Crimson Jackals secara terbuka?”
Melihat ekspresi pucat Mattian, Draco memiringkan kepalanya.
“Tampaknya kamu sudah mengerti? Ya. Dia memang memancing dengan umpan besar.
Tuanku menunggu beberapa orang sombong dan percaya diri di salah satu kelompok besar untuk membuat masalah dengan kami, Sword of Sufferings. Dengan begitu … kami memiliki alasan untuk menyerang dan membunuh. Setelah malam ini, semua orang di kota akan mengetahui kekuatan Sword of Sufferings dan tidak lagi memiliki beberapa ide konyol terhadap kami. Bisa dibilang …
__ADS_1
Ini hanyalah tindakan pencegahan.
Bisa dibilang, sejak awal, kelompok kalian … hanyalah pion.”
“KALIAN GILA!” teriak Mattias dengan mata merah.
“Gila?” Draco bertanya dengan nada monoton.
“Kalian membunuh ratusan orang hanya untuk memberi peringatan. Apakah kalian tidak melihat dengan mata kalian?! Banyak dari mereka remaja konyol dan orang-orang tidak bersalah! Kalian bahkan membunuh perempuan lemah tanpa senjata!
Apakah kalian tidak memiliki belas kasihan?!”
JLEB!
Draco menusuh bahu kiri Mattias, membuat pria itu menjerit kesakitan.
“MATI KAU, IBLIS!!!”
Caroline yang mengambil pedang langsung menebas dari belakang Draco dengan sekuat tenaga. Saat itu juga Draco menghindar. Dia kemudian memutar tubuhnya lalu menendang perut Caroline dengan keras sampai terhempas lebih dari tujuh meter.
BRUAK!
“PAPA! PAPA!”
Saat itu, sosok gadis kecil keluar dari sebuah ruangan dengan panik. Dia memiliki penampilan seperti Caroline, tetapi lebih imut. Namun tubuhnya tampak sedikit kotor dan kurus.
Gadis kecil itu berlari ke arah Mattias dengan air mata di wajahnya. Melihat gadis itu, ekspresi Mattias langsung berubah menjadi lebih pucat.
“Jangan ke sini Sarra! Pergi! Pergi kembali ke Mama!”
Saat itu juga, sosok wanita keluar dari kamar dengan panik. Dia segera mengejar gadis kecil bernama Serra. Ekspresinya penuh ketakutan dan penyesalan. Menyesal karena tidak memegangi putrinya dengan erat sebelumnya.
Serra kecil melihat banyak darah dan tubuh berserakan dengan ekspresi takut. Namun saat melihat ayahnya, dia masih berlari sambil menangis. Saat melihat sosok berjubah yang melakukan ini semua, tangisannya semakin keras, tetapi dia terus bergegas maju sambil mengangkat tangan kecilnya.
“Pergi kamu, Monster Jahat! Jangan sakiti Papa dan teman-teman Papa! Pergi!”
Dia langsung menarik jubah Draco dan memukuli kakinya. Namun gerakannya jelas tidak membuat pria itu kesakitan. Sebaliknya, orang itu menancapkan tombaknya ke lantai. Dengan satu tangannya, dia langsung mengambil kerah Serra lalu mengangkatnya tinggi-tinggi.
“Seharusnya kamu tidak ada di tempat ini, Anak Kecil.”
“Aku tidak takut padamu, Monster Jahat! Aku tidak takut!”
Serra kecil terus mengayunkan tinju kecilnya. Sambil menangis, dia terus berusaha memukul Draco. Saat itu juga, suara dingin yang membuat semua orang di tempat itu pucat dan menggigil kedinginan terdengar.
“Jika kamu ingin menyalahkan, kamu harus menyalahkan orang tuamu yang tidak bisa melindungimu atau …”
“Dunia yang telah menjadi gila ini.”
__ADS_1
>> Bersambung.