
Pagi di hari berikutnya.
Baru saja menyelesaikan sarapannya, Ark melihat sosok Jay yang mengikutinya sampai ke kantor. Masuk ke dalam ruangan, pria itu langsung menghampirinya dengan wajah bingung dan sedih.
“Ark ...”
“Ada apa?” balas Ark datar seperti biasa.
“Apa yang kamu katakan kepada Mona?”
“Hah?”
Melihat ekspresi Jay yang kuyu seperti pecandu obat tertentu, Ark mengangkat alisnya. Dia memikirkan beberapa hal sejenak. Tidak bisa menemukan apa-apa, pemuda itu pun kembali berkata.
“Aku sama sekali tidak mengatakan sesuatu yang tidak perlu pada Mona. Selain mengawasinya, biasanya dia akan ditemani para perempuan dari Golden Rose.”
“Benarkah?”
Jay memandang Ark. Menyadari kalau sahabatnya tidak gugup, bahkan juga sedikit bingung membuatnya melepaskan rasa curiga.
“Tentu saja benar. Seharusnya kamu tahu kalau aku tidak memiliki waktu untuk melakukan hal-hal yang tidak perlu.”
“Itu benar.”
Setelah mengatakan itu, Jay duduk di kursi berseberangan dengan Ark sambil menghela napas panjang.
“Apakah ada yang salah?” tanya Ark.
“Ya! Sebenarnya, semalam aku berbicara pada Mona. Hanya saja, pembicaraan sama sekali tidak berjalan dengan lancar.”
“Berbicara ...” gumam Ark. Pemuda itu memiringkan kepalanya. “Perihal kamu menginginkan gadis lain? Mencontoh Vadim untuk mendapatkan banyak istri?”
“Uhuk! Uhuk!”
Jay langsung tersedak. Dia sama sekali tidak menyangka kalau sahabatnya akan mengetahui pemikiran kecilnya. Namun, sekarang bukan saatnya untuk membicarakan hal tersebut.
“Bukan. Maksudku bukan hal itu,” balas Jay dengan nada agak panik.
“Lalu?”
“Aku ingin mengajak Mona pergi ke Golden Maple Group untuk bertemu dengan orang tuaku.”
“...”
Ark diam sejenak. Setelah beberapa saat, dia berkata dengan ekspresi serius.
“Apakah kamu bodoh?”
“EH? Kenapa tiba-tiba kamu berkata seperti itu, Bung?!”
Jay benar-benar tercengang, sama sekali tidak menyangka sahabatnya akan mengatakan hal tersebut dengan ekspresi serius dan lurus.
“Kesampingkan alasan lain. Pertama-tama, apakah kamu pikir kami, para pembunuh tidak memiliki rasa takut dan rasa malu?”
“Bukankah itu tidak?” balas Jay dengan wajah bingung.
__ADS_1
“Tentu saja kami memilikinya. Hanya saja, kebanyakan ‘profesional’ mampu menyembunyikan hal tersebut dengan baik.
Kamu dan keluargamu membenci pembunuh bayaran. Bukankah Mona tahu itu?”
“Ya.” Jay mengangguk ringan. Setelah beberapa detik, dia tercengang lalu berkata dengan ekspresi bingung. “Bagaimana kamu mengetahuinya?”
“Kamu tidak menganggapku bodoh, kan? Ingat pertama kali aku berkata kalau aku adalah pembunuh bayaran? Kamu bereaksi kalau pekerjaan itu tampaknya tidak nyata dan bertanya dengan ceria.
Hanya saja, reaksimu berlebihan. Itu sudah mencurigakan. Ditambah kamu selalu menghindari tatapan langsung, itu kebiasaan yang kamu lakukan ketika gugup. Jadi, kemungkinan besar kamu berbohong.”
“HAH? Kamu serius?”
Jay bersandar di kursinya dengan ekspresi pahit. Dia memang mengatakan beberapa hal tentang pembunuh bayaran pada Mona, tetapi tidak pada Ark karena takut sahabatnya mengira dia membenci para pembunuh sepertinya.
“Sungguh? Kamu sudah menebak sejak lama hanya karena detail sekecil itu? Apakah Mona tidak mengatakannya kepadamu?”
“Aku sudah mengetahuinya sejak awal.”
Ark mengangkat bahu dengan ekspresi datar. Namun, dia berkata dalam hati.
‘Mona juga mengatakan sesuatu yang penting. Sesuatu yang tidak kamu ketahui. Bahkan sebaiknya tidak pernah kamu ketahui, Jay.’
Jay menggaruk kepalanya dengan frustrasi.
“Jadi dia tidak mau datang karena takut orang tuaku membencinya? Kalau begitu aku akan membujuknya!”
Melihat Jay yang begitu bersemangat untuk mengajak Mona, Ark menggeleng ringan.
“Sebaiknya kamu hentikan pemikiran tidak bisa diandalkan semacam itu.”
“T-Tidak bisa diandalkan? Maksudmu, kamu juga menentang Mona ikut denganku, Ark?” Jay terkejut.
“Kenapa?”
“Lupakan apakah kamu bisa meyakinkan kedua orang tuamu atau tidak. Sekarang, coba pikirkan baik-baik.
Apakah kamu sudah akrab dengan semua anggota Golden Maple Group?
Apakah kamu sudah tahu seberapa kuat mereka?
Apakah Mona bisa beradaptasi dengan mereka?
Apakah tempat itu benar-benar lebih aman dibandingkan Sword of Sufferings, tempat Mona memiliki banyak teman sekaligus pengawal yang melindunginya?
Jika kamu memikirkannya baik-baik. Seharusnya kamu sadar, Jay. Walaupun Golden Maple Group adalah tuan rumah yang akrab dengan kota ini. Tidak ada tempat lebih aman dibandingkan dengan Sword of Sufferings.”
Mendengar berbagai pertanyaan yang keluar dari mulut sahabatnya, Jay benar-benar terpana. Pria itu termenung di kursinya. Sama sekali tidak mengatakan sepatah kata untuk waktu yang lama.
Beberapa waktu pun berlalu begitu saja. Jay tiba-tiba menghela napas panjang lalu berkata.
“Apa yang kamu katakan benar, Ark. Hanya saja, aku tidak ingin membuat Mona khawatir. Aku juga ingin dia bertemu dengan kedua orang tuaku. Sungguh, aku cukup egois karena tidak memperhatikan perasaannya.”
“Kamu mencoba mendapatkan istri lain saja sudah dianggap egois, Jay.”
Ketika suara datar itu terdengar, sudut bibir Jay berkedut. Dia mencoba bertindak serius, tetapi benar-benar langsung disela oleh sahabatnya dengan cara seperti itu. Merasa tidak terima, pria itu berkata.
__ADS_1
“Bagaimana denganmu?! Kamu memiliki hubungan baik dengan banyak perempuan, kan? Sampai kapan kamu akan menggantung mereka seperti itu?”
“Aku?” Ark menunjuk dirinya sendiri. “Maksudmu ... hubungan dengan Natasha, Lisa, Stacy, Roxanne, dan lainnya?”
“Jika tidak?” Jay mengangkat alisnya.
“Aku sama sekali tidak memiliki hubungan yang kamu pikirkan dengan mereka.”
“Bagaimana dengan Kurona dan Shirona?”
“Tetap sama.” Ark berkata datar.
“Ark. Kamu ... benar-benar sudah keterlaluan. Tidakkah kamu mengetahui perasaan mereka?”
Melihat Jay tiba-tiba marah, Ark mengerti. Pemuda itu tahu apa yang dia lakukan itu jahat dan kejam kepada para perempuan tersebut. Hanya saja, Ark tampak tak begitu peduli.
“Aku tahu itu, Jay. Tentu saja aku tahu kalau mereka menyukaiku, bergantung padaku, bahkan mencintaiku.”
“LALU KENAPA?! KAMU LEBIH PARAH DARI VADIM, BUNG!” teriak Jay.
“Karena itu mengganggu rencanaku.”
“EH? Kamu-“
“Sebaiknya kita berhenti membicarakan ini, Jay. Lebih baik kamu memikirkan urusanmu sendiri terlebih dahulu.”
Jay bangkit dari kursinya. Melihat ke arah sahabatnya dengan ekspresi rumit, dia berkata.
“Kamu akan menyesal jika mereka pergi, Ark.”
“Aku merasa lega jika mereka bisa menemukan pengganti, Jay.”
Ark bergumam pelan. Melihat Jay yang pergi meninggalkan ruangan, dia masih tampak tak acuh. Pemuda itu kemudian bersandar di kursinya sambil memejamkan mata.
‘Setidaknya, dengan begitu mereka bisa bahagia tanpa harus ikut merasakan beban berat yang ada di pundaku, Jay.’
‘Aku rasa ... itu sudah cukup.’
***
Sementara itu, di kamar Roxanne.
Roxanne memeluk lembut Mona yang memiliki ekspresi sedih di wajahnya. Mendengar cerita dari wanita itu, dia merasa rumit. Ada rasa bersalah, tetapi tidak tahu harus berkata apa.
“Tenanglah, Kak Mona. Semuanya akan baik-baik saja. Hal-hal di masa lalu tidak bisa dilacak kembali. Sudah tersapu oleh datangnya apocalypse. Lebih baik kamu melupakannya karena Wakil Ketua juga tidak menyadarinya.
Hiduplah dengan bahagia.”
Mendengar Roxanne yang mencoba menghiburnya, Mona menggeleng ringan sambil menahan air mata.
“Masa lalu tidak bisa dihapuskan, Roxanne. Aku benar-benar takut. Aku sangat takut jika sampai Jay mengetahuinya.”
Roxanne melihat ke Mona dengan ekspresi rumit. Dia ingin menghibur, tetapi tidak ada kata yang keluar dari mulutnya. Hanya saja, wanita itu tidak pernah menyangka kalau kejadian bertahun-tahun lamanya muncul sebagai dinding yang menghalangi jalan Mona.
Dia sama sekali tidak menyangka ...
__ADS_1
Salah satu orang yang dibunuh oleh Mona adalah Kakek Jay, kakek dari kekasih Mona sendiri!
>> Bersambung.